
Karena Fredian terlahir sebagai vampir usianya sempat tertahan dua ratus tahun pada masa kecilnya sebelum pertempuran kerajaan terjadi, saat segel masih belum terpasang. Dia tumbuh sebagai seorang manusia karena segel tersebut, tapi tetap saja dia pada bulan purnama berubah kembali sebagai monster.
****
Pada akhirnya Fredian memutuskan untuk menyusulnya, dimana gadis itu berada sekarang.
Ferdian meluncurkan mobilnya menuju ke lokasi klub malam tersebut. Sesampainya di sana Fredian melihat ada beberapa pria berada di sekitar Irna.
Mereka adalah para dokter muda rekan satu tim Kaila Elzana. Para pria itu bekerja di dalam satu rumah sakit yang sama dengan Irna.
Mereka terlihat sangat akrab Angelina mulai menikmati statusnya sebagai seorang dokter, mendengar para pria di sekitarnya itu berceloteh panjang lebar mengenai keunggulan dirinya dan kehebatan seorang Kaila Elzana di dalam rumah sakit. Terutama saat menangani proses operasi pada para pasiennya.
Ferdian menyibak kerumunan orang yang sedang berjingkrak-jingkrak di lantai meliuk-liukkan tubuhnya menari di bawah cahaya lampu.
Fredian melihat Irna duduk di kursi bar bersama banyak pria. Dia segera melangkah mendekat ke arah mereka.
Irna terlihat tidak sedang mabuk. Gadis itu tertawa tawa seperti layaknya sedang ngobrol bersama para sahabatnya.
Awalnya Fredian sempat berpikir Gadis itu telah mendapatkan ingatannya kembali tapi melihat baju yang dipakainya, dia menjadi ragu karena wanita yang dicintainya tidak mungkin memakai pakaian seperti itu di depan umum.
"Apakah aku boleh bergabung bersama kalian?" Tanyanya kepada mereka semua.
Para pria, yang bekerja sebagai dokter muda tersebut terkejut. Ketika melihat Ferdian ada disana, bahkan dia saat ini mendekati Irna secara terang-terangan setelah rumor tentang mereka menjadi topik utama. Menjadi bahan pembicaraan beberapa bulan yang lalu.
Rumor tersebut menceritakan tentang perpisahan Irna bersama Rian adalah ulah dari Fredian. Karena dia terhitung sebagai pria ketiga yang terlibat, hadir di antara hubungan harmonis Irna dengan Rian Aditama.
"Oh Presdir Fredian silakan duduk." Ucap salah seorang dokter tersebut membiarkan Ferdian ikut bergabung bersama mereka semua.
"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru sekali?" Menghenyak-kan tubuhnya, duduk di kursi.
Menyapukan pandangannya pada mereka semua, pria itu menatap wajah satu persatu para dokter yang sedang berada di sebelah Irna secara bergantian.
"Ah kami hanya menceritakan tentang hal-hal di rumah sakit belakangan ini. Sudah tiga hari dokter Kaila tidak masuk bekerja. Kami pikir dia sakit, tapi ternyata dia bilang sedang tour ke Belanda berapa hari lalu." Jelas salah satu dari mereka.
"Benarkah?" Ujar Fredian berlagak terkejut dengan ucapan dokter muda tersebut.
Irna cuek sekali, dia malah meraih gelas minuman di atas meja. Kemudian mulai menenggaknya sedikit demi sedikit. Dia tersenyum simpul ketika melihat wajah terkejut pria yang masih terasa asing, didepannya itu. Wajah Fredian.
"Pasti sebelumnya dia berpikir aku telah ingat kembali!" Bisiknya dalam hati sambil melirik dengan ekor matanya ke arah Fredian.
Pria itu mengerjapkan matanya berkali-kali melihat Irna menatap mantanya dengan tatapan seperti itu.
__ADS_1
Ada rasa gelisah dan canggung karena Irna tidak pernah menatap dirinya seliar itu. Dari situ dia tahu kalau wanita di depannya itu bukan Irna tetapi adalah Angelina.
Fredian juga memesan minuman, pria itu ikut menikmati beberapa gelas untuk menemani Irna di sana.
"Kenapa kamu menyusulku kemari?" Tanya Irna pada Fredian setelah beberapa dokter muda yang bersamanya pamit undur diri untuk kembali pulang.
Kini tinggal dirinya bersama Ferdian menikmati minuman tersebut. "Kenapa aku tidak boleh menyusul kemari? Bukankah kamu kemarin sudah memutuskan bahwa kita memiliki hubungan yang sangat dekat!" Dengan sengaja menekankan pada kalimat yang terakhir.
Dia begitu karena Irna sebelumnya terlihat sumringah, malah ramah tamah bersama para dokter yang tadi menemaninya di dalam klub tersebut.
"Kamu pria pencemburu!" Ucap gadis itu dingin, dia menuding pria itu secara langsung.
Dia sangat berbeda, tidak seperti Irna yang selalu mengalah dan menyerah karena terus terusan diinjak olehnya.
"Jangan-jangan kamu lupa kalau kamu hanyalah pria simpananku!" Ucapnya sambil menatap matanya dengan tatapan mengejek.
"Jangan coba-coba untuk terus menghinaku! Aku tidak akan membiarkan kamu berkata seperti itu untuk kesekian kalinya!" Teriak Fredian yang tidak bisa menahan kemarahannya menghadapi wanita liar di depannya sekarang.
"Ternyata selain pencemburu kamu juga temperamen! Pantas saja wanita tua itu mengatakan padaku agar tidak kembali padamu atau menyelamatkan nyawamu!" Yang dimaksud Irna wanita tua adalah Ratu Holland.
"Iya aku memang seperti itu lalu kamu mau apa?" Hatinya benar-benar meradang diejek terus menerus. Hingga dia tidak dapat menepis kenyataan tersebut.
"Apa kamu akan menggunakan alasan itu untuk pergi lagi! Maka pergilah lagi!" Dia mengakui segala pernyataan yang diungkapkan oleh Irna secara terang-terangan di depan wajahnya.
Setelah sekian lama sama-sama terdiam, Irna memutuskan untuk melakukan sesuatu padanya.
"Setelah ini kamu mau kemana?" Akhirnya Fredian melemparkan pertanyaan kembali untuk mengawali suasana mencekam tersebut.
"Ke kastil!" Jawabnya singkat.
"Kembali bersamaku saja, pulanglah bersamaku." Ujar Fredian pada gadis itu.
"Untuk apa?" Tanya Irna.
"Apa untuk kembali melakukan itu denganmu?" Ucapnya seraya meletakkan tangan kanannya di atas paha Fredian.
Fredian tersenyum mendengar ucapan wanita di sebelahnya itu, dia menjadi sangat berani.
"Kamu berani memancing ku?" Fredian menyambar gelasnya lalu meneguk minumannya, dia tidak peduli ketika tangan Irna mengusap lembut pada area dimana senjata berada.
Tanpa menunggu lagi dia segera meraih kepala Irna memagut bibirnya, mereka berpagutan di kursi bar tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba ada desiran di dalam kepala Irna seperti angin yang sedang bermain-main di rongga saraf otaknya.
Gadis itu meronta merasakan pagutan lembut bibirnya, dia telah kembali pada ingatannya mengenai dirinya! setelah bereinkarnasi menjadi Irna Damayanti, tapi juga tidak mengubur ingatan masa lalunya mengenai Angelina wanita sadis, hebat, dan panas di tempat tidur.
Tatapan Irna semakin liar karena kini bahkan jemari tangan Fredian mulai bermain di bawah rok mininya.
Irna merasa kedinginan karena penampilannya sekarang sangat terbuka dia tidak biasa memakai pakaian seperti itu.
Gadis itu juga terkejut karena melihat dirinya berada di dalam sebuah klub malam.
"Benar-benar wanita yang liar! Sangat liar!" Umpat Irna dalam hatinya. Beberapa menit kemudian dia melepaskan ciuman bibir Fredian dengan mendorong tubuhnya ke belakang.
Fredian sangat terkejut, karena sebelumnya Irna begitu menikmatinya. Bahkan wanita itu sebelumnya sengaja melebarkan kedua kakinya agar dia leluasa memainkan jemari tangannya di bibir area sensitifnya.
Irna masih belum menarik tangan Fredian dari dalam roknya, dia juga merasakan organ bawah tubuhnya terasa basah karena lendir.
Gadis itu menatap lekat-lekat wajah suaminya, "Sayang kamu ingin melakukannya?" Tanya Irna pada Fredian, dia berniat untuk melanjutkan aktingnya tetap menjadi Angelina.
Irna menarik lengan Fredian menuju ke toilet yang ada di dalam bar tersebut, sampai di sana dia mengunci pintunya dari dalam, lalu berbalik memagut bibirnya.
Fredian merasakan perbedaan antara Irna dan Anggelina, dia tahu wanita di hadapannya sekarang ini adalah Irna.
"Kita pulang saja!" Fredian menarik kedua tangan Irna yang masih bergelayut manja dari belakang tengkuknya.
"Kenapa? Aku tidak semenyenangkan Angelina?! Sial! Apakah aku mencemburuinya!" Geram Irna sambil berkacak pinggang, lalu mengibaskan rambut panjangnya ke belakang punggungnya.
Gadis itu melengos mendahuluinya pergi keluar dari dalam toilet tersebut.
"Irna tunggu aku!" Fredian setengah berlari mengejarnya.
"Naik apa kamu kemari tadi?" Tanyanya setelah bisa berjalan bersebelahan dengan Irna.
Irna enggan menjawab pertanyaan dari Fredian, dia hanya terus berjalan sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya sendiri.
"Pakai ini kamu pasti kedinginan!" Ujarnya sambil memakaikan jasnya untuk menutupi punggung mulus istrinya.
Irna menatap jas di atas bahunya, lalu melepaskan itu kembali kemudian melemparkannya ke muka Fredian.
"Aku tidak butuh ini! Bruuuuk!"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like sebelum pergi, vote juga ya untuk dukung author terus berkarya? Tunggu episode selanjutnya... Terima kasih sudah membaca...