
Di sisi lain...
"Nia aku boleh pinjam buku tugasmu?" Tanya Mira teman sebangkunya itu.
Mereka bersama-sama datang hari itu karena Kania menginap di tempat Mira. Alasannya hanya satu karena Royd.
"Tentu saja." Ujarnya dengan wajah cerah seperti biasanya. Dia selalu bersama dengan sahabatnya itu. Gadis yang selalu menemaninya saat dia ingin berbelanja. Pergi menonton film.
"Kania aku naik duluan." Mira melihat Royd Carney tersenyum berdiri di bawah di sebelah tangga. Gadis itu tahu dosennya itu memiliki sesuatu pada sahabat karibnya itu yang dia sendiri sulit untuk melukiskannya.
"Kenapa kamu cemberut?" Tanya Royd sambil memegangi lengan Kania. Menahan gadis itu agar tidak naik ke atas sekarang, menuju kelasnya.
"Pak dosen ini di kampus!" Kania menarik lengannya dari genggaman tangan pria tampan di sebelahnya.
"Kamu kemarin sepakat kita pacaran! Tapi kenapa sekarang mendadak berubah lagi?"
Royd bingung dengan sikap Kania yang tiba-tiba berubah. Dia tidak mengerti, sudah tiga malam Kania memilih tinggal bahkan bermalam di tempat Mira.
"Bukan apa-apa, aku hanya bosan saja! Aku bosan denganmu!" Kania menatap sinis ke arah Royd.
Pria itu terasa terhempas badai di pagi itu, pagi yang harusnya cerah seperti cuaca yang sedang berlangsung sekarang! Tapi mendadak terasa mendung dan bagai akan menurunkan badai petir baginya!
"Aku akan naik ke atas, jangan lupa untuk mengisi jadwal hari ini! Pak dosen!" Ujarnya sambil menepuk bahu pria di sebelahnya itu.
"Maafkan aku Royd!" Bisik Kania di dalam hati kecilnya, matanya mendadak berkaca-kaca hampir mengeluarkan air mata yang sudah ditahannya sejak tiga hari lalu.
Sejak tuan Carney mendatangi dirinya. Mengancam akan menghabisi nyawa putranya satu-satunya sendiri menggunakan tangannya.
"Lebih baik kamu patah hati! Tapi aku masih bisa melihatmu! Dari pada aku mendapatkan cintamu, tapi membuatmu mati di depan mataku!" Ucapnya sambil mendongakkan kepalanya mengusap air mata yang hampir jatuh di atas pipinya.
"Aku sangat mencintaimu Royd, aku sangat mencintaimu." Bisiknya di dalam hati kecilnya sebelum masuk ke dalam kelasnya.
Selama pelajaran hari itu berlangsung, pria di depannya itu mengajar dengan penuh emosi.
Beberapa kali dia berteriak-teriak hanya karena salah satu mahasiswa di kelasnya ijin pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Jika kalian bermain-main di saat pelajaran berlangsung, kalian tidak perlu mengikuti kelasku mulai hari ini! Braaakkkk!" Teriaknya sambil menggebrak meja di depannya.
Kania tahu itu adalah akibat ulahnya, gara-gara dirinya seluruh kelas terkena amukan pria itu.
"Kania, menurutku dia aneh sekali! Bukankah tadi dia tersenyum, kenapa sekarang malah marah-marah begini?" Tanya Mira sambil menyodok lengan sahabatnya itu dengan siku kirinya.
"Entahlah, mungkin dia sedang puber ke dua!" Bisik Kania pelan sambil tersenyum.
Royd Carney meremas bolpoin di tangannya, pendengaran istimewa yang dimiliki olehnya bisa mengetahui apa yang sedang Kania bicarakan dengan Mira teman sebangkunya itu. Bolpoin di genggaman tangannya sudah patah menjadi tiga bagian.
Kania menegakkan punggungnya, melihat suasana yang semakin lama semakin mencekam. "Biar saja, lebih baik aku melihat dia marah-marah daripada melihat mayatnya di depan mataku!" Kania malah merebahkan kepalanya di atas meja sambil menatap wajah geram pria di depan kelasnya.
"Kania! Angkat kepalamu dari atas meja!" Teriaknya tiba-tiba.
"Meletakkan kepala di atas meja-pun salah???" Bisik Reno Tan sekelas Kania yang duduk di bangku belakang punggungnya.
Seluruh mahasiswa dan mahasiswi serentak segera menarik tangan dan tubuhnya ke belakang menjauh dari meja. Mereka lebih takut kena hukuman karena fakultas kedokteran Jerman tersebut sangatlah mereka inginkan untuk menuntaskan studi terakhir mereka semua.
Mereka tidak ingin mendapatkan hukuman atau skorsing.
Suasana mencekam itu berlangsung selama dua jam, tapi bagi mereka para mahasiswa di dalam kelas itu merasakannya bagai berpuluh-puluh jam.
"Akhirnya selesai juga pelajaran hari ini." Desah Mira teman sebangkunya sambil menarik nafas dalam-dalam dan panjang.
"Kamu terlihat santai? Tidak takut dikeluarkan oleh pak Royd?"
"Mamaku akan mendiskuilifikasi-nya dari bidangnya jika dia berani mengeluarkan-ku dari kampus tanpa alasan apapun."
Jelas gadis itu santai sambil menyambar tasnya lalu melangkah keluar sambil menggandeng tangan Mira.
"Kamu mau nginep lagi di tempatku? Tempatku kan sempit! Gak seluas apartemen milikmu?" Mira menggelengkan kepalanya karena Kania terus menempel sambil memeluk bahu temannya itu.
"Apa aku beli rumah di sebelah-mu saja ya? Supaya kita bisa barengan terus setiap harinya?" Ucapnya pada Mira.
Royd mendengar pembicaraan mereka berdua, "Awas saja! Kamu berani-beraninya menjauhiku??!" Geram pria itu sambil mengepalkan tangannya menahan amarah terpendam.
__ADS_1
Dia tidak tahu kenapa Kania tiba-tiba berubah menjadi seperti itu. Royd berpikir pasti ada pria lain yang menarik Kania hingga merubah sikapnya terhadap dirinya secara mendadak. Apalagi dia mendengar gadis itu bilang dia sudah bosan padanya. Apalagi yang ada di dalam benaknya Royd Carney kalau bukan karena pria lain?
Royd kembali pulang ke apartemen miliknya. Saat dia melihat pintu tertutup di sebelah pintu miliknya angannya tentang Kania kembali membayang di pelupuk matanya.
Gadis itu selalu merajuk padanya di balik pintu tertutup itu. Selalu memintanya untuk tidak pergi, memintanya untuk memeluk erat tubuhnya.
"Sialan! Braakkkk!" Royd penuh amarah menendang pintu apartemen miliknya sendiri. Tiba-tiba pintu di sebelah kamarnya itu terbuka.
"Kania?!" Panggilnya dengan mata berbinar-binar.
"Anda memanggil saya? Kania?" Ucap Laura rekan satu timnya, dia adalah bawahan tuan Carney. Pria tua itu yang meminta kunci apartemen milik Kania tiga hari lalu.
Tuan Carney berniat menjodohkan putra satu-satunya itu dengan gadis yang ada di depan Royd Carney sekarang.
Walaupun Kania sendiri sebenarnya bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan membawa nama ibunya. Tapi dia tahu kondisi ibunya sedang tidak stabil sekarang.
Kania mendapatkan kabar dari para klan vampir yang sekarang menjaga dirinya. Mereka selalu memberitahukan apapun yang terjadi di London.
"Kamu ngapain tinggal di sebelah kamarku? Kemana pemiliknya?" Tanya Royd pada wanita cantik dan seksi di depan matanya itu.
"Dia sepertinya sudah bosan denganmu, Royd. Menikah saja denganku, aku bisa memuaskan-mu di atas tempat tidur! Daripada kamu bersama gadis ingusan yang tidak tahu apa-apa itu!" Rayunya pada Royd Carney.
Royd sama sekali tidak tertarik mendengar tawaran wanita di sebelahnya itu. Hasratnya untuk bercumbu juga sudah sirna lenyap tak bersisa, ketika gadis itu mencampakkan dirinya. Baginya yang menarik untuk diciumnya hanyalah bibir mungil Kania.
Bersambung...
Like! Like dong?? Pelit amat?? Like dong...ayolah..like ????
"Author kumat gilanya??!" Readers tersenyum bingung.
"Iya maksa-maksa nyuruh like! " Sahut readers lainnya.
"Mau ditimpuk sendal nih Thor??!" Ucap salah satu Readers yang pakai baju warna abu-abu.
"Nggak deh makasih.. makasih ya sudah baca sampai Episode ini.. aku mau lanjut nulis lagi.. daaa... "
__ADS_1