
Staf karyawan tersebut akhirnya melangkah pergi, kembali ke ruangan presiden. Dia mengatakan semuanya yang dikatakan kepadanya oleh Irna.
"Maaf Presdir, dokter Irna bilang kalau kakinya sakit. Dia tidak bisa memeriksa pasien lagi." Ujarnya pada Rian. Pria itu akhirnya berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya untuk menghampiri Irna.
Gadis itu terlihat masih duduk di lorong Rumah sakit tersebut. "Apa yang kamu lakukan? kenapa malah tidak memeriksa pasien dan duduk di sini?!" Tanyanya pada Irna.
Irna hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu darinya. "Apa kamu tidak lihat kakiku sakit sekali? sudah hampir empat jam aku berdiri memeriksa pasien di sana. Kamu tahu berapa banyak pasien yang sedang keluar masuk?!" Ucapanya dengan sedikit marah pada Rian.
"Jadi kamu ingin istirahat? Oke kalau begitu, aku akan memberikan kamu libur, tidak cuma sehari tapi selamanya!" Tandasnya tegas pada Irna, sambil menyeringai. Pria itu terlihat santai seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hahaha, Dokter Rian aku sangat terkejut mendengarnya! kamu berkata seperti itu, bahkan tidak ragu-ragu menggunakan status Presidenmu untuk memberhentikanku sekarang." Mengucapkan kata tersebut dengan kesal. Berulang kali ia menghela nafas panjang dia benar-benar lelah hari itu.
"Tentu saja! aku menginginkan dokter yang profesional dalam bekerja! untuk apa aku membayarmu banyak, jika kamu hanya malas-malasan dan duduk disini dengan alasan kakimu sakit?!" Sindir lnya dengan nada mengejek.
"Lihatlah mereka para dokter di sana! mereka tetap kerja seperti biasanya. Tidak perduli kakinya sakit atau tidak, mereka tetap bekerja selain itu juga tetap profesional dalam tugasnya menangani para pasien." Ujarnya lagi.
"Sepertinya ini tidak akan selesai, jika aku terus berdebat denganmu! oke oke, aku akan tetap memeriksa pasien!" Sahut Irna malas-malasan gadis itu segera berdiri dari tempat duduknya.
Gadis itu melangkah kembali ke ruangan ICU bersiap memeriksa pasien.
"Jika aku sampai melihatmu lagi malas-malasan aku tidak segan-segan memberikan surat resign ke atas meja kerjamu!" Teriak Rian, ketika ia sedang melangkah pergi menuju ruangan ICU.
Gadis itu tidak berbalik, masih tetap memunggunginya. Kemudian mengangkat sebelah tangannya melambaikan ke arahnya, menunjukkan ibu jarinya dia setuju dengan perkataanya.
Melihat itu, Rian menarik kedua ujung sudut bibirnya tersenyum ringan melihat tingkah laku mantan istrinya tersebut begitu lucu.
Masih terbayang jelas bagaimana kebersamaan dengannya pada masa beberapa tahun yang telah lalu, begitu banyak cerita yang telah dia ukir bersamanya.
Dalam waktu yang tidak singkat, pria itu telah mengenalnya dengan sangat baik.
Saat ini sepertinya dia sengaja memperlakukannya dengan tegas untuk membuat celah antara dirinya dan Irna. Demi menepis segala kesalahpahaman fredian terhadap dirinya belakangan ini.
Di sisi lain, Ferdian sedang sibuk di dalam kantornya. Pria itu telah menyelesaikan meeting dengan beberapa client.
Dia melihat Karin kembali melangkah mendekat ke arahnya masuk ke dalam ruangannya. Gadis itu tidak bosan-bosannya mengganggu pekerjaannya, serta berusaha mendekatinya sepanjang waktu.
__ADS_1
"Hai, Fred?" Sapanya dengan nada lembut.
"Karin- Karin, kapan sih kamu bakal nyerah? tidak lihat aku sedang sibuk-sibuknya bekerja sekarang?" Ujarnya kembali mengamati beberapa berkas di atas meja.
"Lihat kok, makanya aku bawain makanan buat kamu, kita makan sama-sama ya?" Ucapnya sambil merayu. Tapi Fredian kelihatan tidak tertarik sama sekali padanya.
Pria itu mengacuhkannya, kemudian dia memanggil Nira melalui telepon di atas meja kerjanya. "Halo Nira, kamu ke ruanganku sebentar, ada beberapa berkas yang harus kamu tandatangani untuk menggantikanku. Sepertinya aku harus meeting lagi keluar kantor siang ini." Ujarnya pada Nira melalui telepon.
"Oke, Siap Presdir." Sahut gadis itu pendek. Nira masih berada di lobby hotel Dia sedang berbicara dengan Maya mengenai proyek yang akan mereka tangani minggu ini.
"May, kayaknya aku harus segera ke ruangan Presdir." Ujarnya pada Maya. Nira dia tidak ingin Gadis itu mengetahui yang sebenarnya tentang identitas dirinya, dia sengaja memanggil Fredian dengan sebutan nama presiden di hadapan publik.
"Oke! kamu kesana! nanti aku menyusul." Sahutnya padanya, akhirnya Nira pun meninggalkan Maya di lobby.
Gadis itu segera melangkah menuju kantor Ferdian, saat membuka pintu dia tidak terkejut melihat ada Karin di sana.
Karin menatap penuh amarah ke arah Nira. Gadis itu seolah-olah tidak terima jika Fredian memanggil Nira ke sana, pada saat dirinya berada di sana.
"Ngapain sih, kamu manggil dia ke sini? kan kamu tahu aku sedang di sini bersamamu?" Ujarnya mengucapkan protes ada fredian.
"Dan kamu? bukannya proyek antara kita sudah selesai?" Tanya Fredian pada gadis itu.
"Memang sudah selesai sih." Sahutnya.
"Kalau begitu untuk apa kamu masih di sini?" Berbicara tanpa rasa bersalah sama sekali Fredian sengaja mengusir Karin melalui sendirian ucapannya.
"Hahaha! aku baru tahu kalau kamu begitu peduli dengan kebersamaan kalian! aku pikir wanita itu hanyalah simpananmu! kamu jangan lupa, kalau kita memiliki status pertunangan di depan publik. Aku bisa menggunakan itu untuk kepentinganku!" Ancamnya pada Fredian.
"Oh, kamu sedang mengancamku?" Tanya Fredian balik tanpa rasa takut sama sekali.
"Mana ada, aku mencintaimu, mana mungkin aku mengancammu sayang." Karin mengulurkan tangannya tangannya meraih kerah baju pria itu, memainkan jemari lentiknya di sana.
Tapi ditepis boleh Fredian, "Tak! Singkirkan tanganmu dari tubuhku!" Perintahnya pada Karin.
"Aku tidak percaya kamu menolak wanita cantik sepertiku?" Celotehnya penuh rasa percaya diri.
__ADS_1
"Woi Kariin! gue di sini! gue di sini!" Sahut Nira penuh rasa kesal.
"Kamu nggak lihat ada mukaku di sini?!" Pura-pura bertanya sambil nyengir ke arah Karin.
"Lihat kok! kamu kan gadis bodoh yang kemarin!" Sahutnya tak kalah menyakitkan.
"Wah wah wah! berani kamu bilang aku gadis bodoh? aku bisa menendangmu keluar dari dalam ruangan ini sekarang juga, jika aku mau. Tapi sayang, aku masih ingat kamu adalah salah satu klien penting Resort ini, jadi tidak akan berlaku kasar padamu."
"Aku harap kamu mau bersikap lebih sopan lagi dan jangan sembarangan bicara!" Tandasnya tegas pada Karin.
"Oke aku akan segera keluar dari dalam ruangan ini, kamu terlalu banyak bicara! membuatku pusing untuk mendengarnya terus-terusan!" ujarnya seraya melangkah santai keluar ruangan melepaskan Kiss bye kepada Fredian melalui tangannya.
"Wanita macam apa dia? menjijikkan sekali!" Keluh Nira dalam gumaman.
Di sisi lain...
Kania masih sibuk melarikan diri dari Royd. Gadis itu akhirnya menuju kembali ke apartemen miliknya, dan tentu saja Royd Carney mengikutinya ke sana.
Gadis itu masuk ke dalam apartemen miliknya mengunci seluruh pintu. Dia harap pria pemburu itu tidak bisa masuk ke dalam sana. Seperti dugaannya tidak ada suara ketukan ataupun suara aneh yang menunjukkan bahwa pria itu menelusup masuk, menyusup kedalam apartemen miliknya.
Kania sedikit merasa tenang tidak mendengar suara Royd lagi. Kania melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ketika dia keluar dari dalam kamar mandi. Dan hanya menggunakan selembar handuk. Dia sangat terkejut melihat pria itu sudah berbaring santai di atas sofa. Sudah berada di dalam apartemen miliknya.
"Astaga! bagaimana mungkin kamu bisa masuk kemari?!" Tanya Kania. Gadis itu kaget sekali, pria itu membuka matanya perlahan-lahan, melemparkan senyuman manis ke arah Kania.
"Tentu saja raja pemburu sepertiku tidak akan memiliki kesulitan sama sekali, hanya dengan pintu yang terkunci." Ujarnya ringan.
"Bagaimana kamu bisa menyelinap masuk tanpa membuka pintuku? kamu lewat genting? atau jangan-jangan kamu mencongkelnya!" Tanyanya lagi.
"Tidak!" Jawabnya pendek. "Mana mungkin aku mencongkel pintu apartemen?" Ujarnya pada Kania.
"Lalu bagaimana caramu masuk kemari?" Tanya Kania padanya, "Tentu saja aku tidak kesulitan masuk, kamu lupa aku adalah raja pemburu?!" Kembali mengingatkan Kania tentang identitas dirinya.
"Royd tolonglah berhenti bertindak seperti ini! aku sangat lelah sekali, aku tidak ingin terlibat lagi denganmu! aku juga tidak ingin melukaimu. Aku harap kamu mengerti dan jangan protes lagi padaku jangan memintaku untuk melakukannya." Jelasnya panjang lebar pada pria itu.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like sebelum pergi thank you for reading... kemungkinan akhir bulan Juni aku berhenti ending season ini.. season 2 langsung chat Author dan silahkan masuk ke dalam grub.. untuk pemberitahuan lebih lanjut.. Kemana dan akan saya tulis di mana novel seri "misteri gadis pemikat" ini...