Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Tamu


__ADS_3

Irna melangkah keluar dari mall menuju mobilnya, meninggalkan Fredian di sana.


Fredian berlari kecil mengikuti dari belakang. Irna langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa buru-buru pulang?" Tanya Fredian sambil menggenggam tangan Irna.


"Sudah malam, besok harus mengulang pemotretan lagi di Reshort." Ujar Irna sambil mendelik ke arah Fredian.


Pria itu malah tersenyum sambil bersiul-siul menatap ke arah lain sambil mengemudikan mobilnya.


Sampai di rumah Irna masuk ke dalam kamarnya diikuti Fredian.


"Apa kamu berencana untuk tinggal di sini? berapa lama?" Tanya Irna sambil melemparkan sepatunya. Lalu berlari ke kamar mandi.


"Sampai kamu menerimaku kembali." Ujar Fredian sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kamu tidak tidur di sini?" Tanya Fredian melihat Irna melangkah keluar dari kamarnya turun ke lantai bawah.


"Oh, sejak kapan kamu berada di sini?" Ujar Irna tersenyum cerah melihat Rian santai menikmati kopi di ruang tengah.


"Baru tiga puluh menit yang lalu, apa ada masalah? biasanya tidak terkejut melihatku ada di sini." Ujar Rian melihat wajah Irna seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Lima menit kemudian Fredian turun ke lantai bawah, memakai baju tidur.


"Apa itu?" Tanya Rian sambil menunjuk ke arah Fredian.


"Ha ha ha ha, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, bukan karena tidak mau. Tapi kalian bisa ngobrol dan membicarakannya sendiri. Aku akan mengambil beberapa camilan di dapur." Seloroh Irna menghilang di balik pintu dapur.


"Apakah mereka akan bertengkar lagi? sudah berlalu dan sudah sangat lama, huft semoga tidak terjadi apa-apa!" Bisik Irna sambil membawa nampan ke ruang tengah.


Mereka berdua terlihat serius membicarakan sesuatu. Dan Irna tidak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan.


Irna meletakkan nampan berisi makanan ringan di atas meja.


Fredian duduk berhadapan dengan Rian, sedang Irna mengambil tempat duduk di antara keduanya.


Irna dengan santai menikmati kopinya.


"Apa yang kalian bicarakan barusan? kelihatannya begitu serius?" Irna mencoba membuka percakapan, karena begitu Irna muncul mereka berdua terdiam seketika.


"Jangan sampai kalian melibatkanku ke dalam masalah kalian lagi! atau aku tidak akan segan-segan lagi!" Hardik Irna melotot ke arah mereka berdua, sambil menyambar segenggam makanan ringan di atas meja, kemudian memenuhi mulutnya dengan makanan.


"Kenapa kamu tiba-tiba berfikir seperti itu?" Tanya Rian sambil tersenyum melihat wajah Irna hawatir.


"Tentu saja! kalian saling melempar, saling menyalahkan, lalu saling minta maaf. Mengerikan sekali segalanya tersembunyi rapat di balik wajah tampan kalian, lebih baik sejak awal aku melarikan diri."


Gerutu Irna sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa henti, sampai makanan jatuh ke mana-mana dan mengotori meja saat dia sedang bicara.


"Alangkah baiknya jika ada wanita lain, ya gadis lain yang kalian ributkan." Irna mengusap tengkuknya yang tiba-tiba bergidik mengingat peristiwa heboh di antara mereka bertiga beberapa tahun yang lalu.


"Ding dong!" Bel pintu gerbang berbunyi.


"Apa kamu janjian dengan orang lain selain kami!?" Serempak Fredian dan Rian bertanya bersamaan.


"Ha ha ha, lihat wajah kalian lucu sekali. Memangnya kalian kemari setelah janjian denganku terlebih dahulu?!" Ujar Irna sambil berkacak pinggang cemberut menatap mereka berdua.


Reynaldi masuk ke dalam rumah Irna membawa berkas di tangannya.


"Ha ha ha! apa yang kalian lakukan di sini? apa kalian sedang arisan atau semacamnya?!" Reynaldi tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah konyol Rian dan Fredian yang menatap ke arahnya.


Irna berdiri menghampiri Reynaldi mengambil berkas dari tangannya.


"Apa ini?" tanya Irna sambil mencermati berkasnya.


"Kontrak iklan, jika kamu setuju setelah melihat kontraknya kamu berikan kabar padaku." Jelas Reynaldi sambil menjelaskan beberapa hal yang ada di dalam kontrak tersebut.


"Kita bicarakan di depan saja." Ujar Irna sambil melangkah ke ruang depan di ikuti Reynaldi dari belakang.


"Kenapa jadi dia yang selalu berada di sekitarnya, setiap hari?" Tanya Fredian sambil mengambil camilan di atas nampan.


"Dia managernya, tentu saja selalu bersama. Bahkan kamu cemburu padanya?" Sergah Rian sambil menggelengkan kepalanya tersenyum tidak percaya.


"Irna selalu tidak suka melihat wajah cemburu yang membabi buta. Aku sudah pernah mengalaminya, dan kamu?" Ujar Rian sambil tersenyum.


"Aku juga sama. Apa kamu masih menginginkannya?" Fredian mengusap wajahnya menatap serius ke arah Rian.


"Entahlah, yang pasti aku akan tetap berdiri di sampingnya. Aku hawatir jika dia sendirian, aku tidak bisa berhenti memikirkannya saat dia terluka! aku tidak bisa melihat air matanya."


"Rasa ini sejak awal tidak berubah! tidak akan pernah bisa berubah. Bukan rasa yang ingin memilikinya lagi, tetapi rasa yang bahagia ketika melihatnya bahagia. Rasa sakit ketika melihatnya sakit dan terluka." Ujar Rian dengan air mata yang tertahan.

__ADS_1


Fredian segera menyahut ungkapan perasaan Rian, dia berkata.


"Aku merasa tidak hidup, dan tidak mati saat berhenti melihat wajahnya, aku merasakan sakit dan kehilangan jiwaku ketika dia mengabaikanku."


"Apakah kamu sedang berkompetisi lagi denganku?!" Ujar Rian sambil tersenyum.


"Memangnya kamu tahu siapa yang ada di hati gadis itu sekarang?" Tanya Fredian penasaran.


"Kamu setiap hari bersamanya dan membuntutinya, kenapa tidak kamu tanyakan langsung?" Rian balik bertanya.


"Masalahnya Irna tidak membuka hatinya sama sekali, dia hanya akan mengatasi masalah yang aku buat! aku sendiri bingung, apakah dia masih memiliki perasaan denganku atau tidak. Dia lengket karena aku yang memaksanya, dan menahannya." Fredian menggaruk keningnya.


"Apakah dia protes dengan tindakan yang kamu lakukan?" Tanya Rian lagi.


"Dia terus menggerutu sepanjang hari, dan menjauhiku." Fredian menggigit ujung ibu jarinya.


"Wajah Irna tetap seperti itu itu saja, apakah dia tidak bisa menua? kamu dokter pribadinya juga, pasti kamu tahu." Ujar Fredian penasaran.


"Dia sejak awal memiliki kelainan dalam sel-sel darahnya. Tapi tidak berdampak pada kesehatannya. Hanya saja ketika sel-sel darahnya kembali memecah sewaktu-waktu dia harus berada di dalam air dingin."


"Suhu tubuhnya akan meningkat, itulah alasannya dia tetap terlihat sama seperti usia dua puluh tahun. Aku menyarankan untuk membuat kolam air untuk merendam tubuhnya ketika hal itu terjadi, aku juga terkejut ketika tubuhnya mengeluarkan hawa panas dan membuat air di sekitarnya mendidih."


Di ruang depan Irna mencermati berkas kontrak iklan, di sana tertulis dia akan menjadi bintang iklan produk parfum. Perusahaan Grey light.


"Ini jika aku setuju langsung ditanda tangani, atau masih harus meeting dengan perusahaan dahulu?" Tanya Irna pada Reynaldi. Biasanya ada yang ingin membahas beberapa hal dengan dirinya, ada juga yang langsung setuju begitu saja.


"Langsung ditandatangani dan langsung menuju lokasi pemotretan, skenario iklan akan aku kirimkan menyusul setelah kamu menyetujuinya." Ujar Reynaldi lagi.


"Lima milyar? perusahaan memberikan harga lima milyar untukku? bukankah ini terlalu tinggi, jika hanya mempromosikan produk parfum?" Tanya Irna lagi tidak mengerti kenapa perusahaan tersebut memberikan padanya harga yang begitu besar.


"Mereka tahu kualitas Irna Damayanti, segala hal yang dipakai Irna Damayanti menjadi produk utama di pasaran. Selain itu kontrak tersebut terikat selama satu tahun. Jadi mereka akan tetap menggunakanmu sebagai bintang iklan produk mereka dalam waktu setahun, setahuku tidak hanya parfum tapi produk kecantikan lainnya." Jelas Reynaldi lagi.


Irna hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Reynaldi.


"Kapan pemotretan iklannya?" Tanya Irna lagi.


"Setelah kamu menyelesaikan pemotretan di Reshort." Jawab Reynaldi santai.


"Sebenarnya pemotretan selesai hari ini, jika Presdirnya tidak membuat masalah. Kamu tahu sendiri bagaimana mood Fredian selalu naik turun tidak terduga." Ujar Irna sambil melempar senyum.


"Aku rasa cuma kamu yang bisa menjinakkannya besok, cepat selesaikan!" Bisik Reynaldi lagi sambil berdiri memegang bahu kanan Irna, melangkah keluar dan melambaikan tangannya.


Irna berdiri membawa berkasnya masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Aku akan pulang, tapi sepertinya sekretarisku sudah tidur sekarang." Sahut Fredian sambil nyengir.


"Aku akan pulang sekarang, sampai jumpa besok." Ujar Rian meneguk kopinya dan berdiri masih terus tersenyum.


"Kamu bawa dia pulang sekalian, mau bagaimanapun dia bukan suamiku lagi." Ujar Irna sambil mendorong Fredian untuk mengikuti Rian pulang.


"Tapi aku ingin di sini!" Fredian memasang wajah memelas.


"Kamu harus pulang, dan selesaikan masalah pernikahanmu. Aku tidak ingin kamu terus tinggal di sini sementara ada wanita lain yang menunggumu." Ujar Irna sambil mendorong Fredian keluar kemudian menutup pintu depan.


"Aku akan menyelesaikan segalanya, apakah aku boleh tinggal di sini setelah selesai?" Teriaknya dari luar pintu.


"Tidak boleh! kita tidak boleh tinggal bersama!" Ujar Irna dari dalam.


Fredian melangkah gontai masuk ke dalam mobil Rian.


"Apa yang dia katakan? kenapa wajahmu terlihat lesu seperti kurang cairan? ha ha ha!" Rian tergelak melihat Fredian manyun di sebelahnya.


"Dia mengusirku lagi!" Geram Fredian.


"Irna tidak menerima pria tinggal di dalam rumahnya kecuali keadaan darurat! dia bukan Irna yang dulu, dia sangat berbeda." Rian mencoba meredakan amarah Fredian.


Rian melajukan mobilnya menuju rumah Fredian dan menurunkan dia di sana. Kemudian pulang ke rumah megahnya sendiri.


Keesokan harinya Irna sudah berada di Reshort, kembali menyelesaikan pemotretan hari itu.


Fredian terlihat normal, dan tidak membuat masalah untuknya. Sehingga segalanya berjalan dengan lancar.


"Ini hari terakhirku pemotretan di sini, aku akan pergi ke kantor Presdir sebentar. Kalian pulanglah dahulu." Ujar Irna pada para kru yang membantunya, dia ingin berpamitan dengan Fredian sebelum pergi.


"Tok! tok! tok!" Irna mengetuk pintu kantor Fredian.


"Masuklah." Ujar Fredian masih menandatangani berkas berjibun di atas meja kerjanya, karena kemarin sudah seharian bersama Irna.


"Apa ada masalah?" Fredian agak terkejut Irna mendatangi kantornya. Karena biasanya gadis itu selalu tidak ingin mendekat padanya.

__ADS_1


Irna duduk di kursi depan meja kerja Fredian.


"Aku ingin berpamitan sebelum pulang, dan ini adalah hari terakhir aku melakukan pemotretan di sini." Ujar Irna agak sedikit tidak enak untuk mengatakannya, mau bagaimanapun dia tahu bagaimana perasaan pria di depannya itu.


"Kunjungi aku, sehari sekali saja! agar aku tidak menggila dan bunuh diri." Ujar Fredian tanpa ekspresi, dan tidak menoleh ke arah Irna sama sekali. Dia terus menandatangani berkasnya.


"Kamu memintaku secara pribadi, untuk terus mendatangi kantormu?" Tanya Irna tidak mengerti.


"Iya, hanya untuk mendengar suaramu dan melihatmu." Ujar Fredian sambil meremas bolpoin di tangannya.


"Jika aku menolak?" Tanya Irna sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya di atas meja.


"Aku akan memaksamu!" Fredian berdiri berjalan mendekat, pria itu berjongkok memegang sandaran kursi di punggung Irna. Menatap wajah Irna lekat-lekat.


"Apakah kamu ingin aku memaksamu lagi?" Ujar Fredian sambil mengangkat dagu Irna menghadap ke arahnya.


"Aku tidak bisa berjanji padamu untuk mendatangimu, karena aku kadang ada pemotretan sampai malam." Ujarnya sambil memalingkan wajahnya karena wajah Fredian begitu dekat.


"Telepon aku, bisakah kamu melakukannya?"


Bisiknya lagi, sambil menempelkan ujung hidungnya di daun telinga Irna.


"Iya, aku akan menelepon." Irna memejamkan matanya rapat-rapat saat Fredian mendekatkan bibirnya untuk menciumnya.


"Ha ha ha." Fredian tertawa melihat Irna tiba-tiba memejamkan matanya. Dan batal menciumnya.


"Kenapa kamu menertawaiku?" Irna bertanya dengan wajah masam.


"Cup!" Ciuman mendarat di bibir gadis itu begitu saja. Irna terkejut, dan buru-buru menutup bibirnya dengan telapak tangannya.


"Sudah selesai, pulanglah, jangan lupa aku mencintaimu!" Ujarnya pada Irna, Fredian kembali berdiri sambil tersenyum.


Irna berdiri dan meninggalkan kantor Fredian.


"Apa yang dilakukan pria itu barusan! astaga aku tidak percaya sikapnya berubah rubah sepanjang waktu." Irna memegangi keningnya merasa sangat aneh.


Irna berjalan menuju mobilnya diparkir.


"Ke empat bannya kempes! Frediaaaaaaannn!" Irna berteriak sekencang-kencangnya menahan amarahnya.


Irna melihat Antoni duduk di tempat tak jauh dari mobilnya. Irna berjalan mendekat ke arahnya.


"Kenapa tiba-tiba ban mobilku jadi kempes semua begini?!" Tanyanya sambil berkacak pinggang dengan wajah geram.


Antoni tidak menjawab, dia berlari menuju kantornya. Irna segera mencari ponsel dari dalam tasnya.


"Astaga, bagaimana aku bisa kehilangan ponselku di saat seperti ini!"


Dia ingat Fredian menyentuh sandaran kursi di belakang punggungnya, dan tasnya ada di belakang punggungnya.


"Apakah dia yang melakukan ini padaku?" Gadis itu melangkah kembali, masuk ke dalam kantor Fredian.


Tanpa mengetuk pintu, melongok ke bawah meja Fredian, memeriksa kursi dan meja mencari ponselnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Fredian tidak mengerti.


"Kamu mencuri ponselku, dan membuat ban mobilku kempeeeees!" Teriak Irna marah-marah.


"Aku sejak pagi di kantor, bagaimana mungkin aku mencari masalah denganmu di luar?" Ujar Fredian masih menandatangani berkas yang masih tersisa sepuluh lembar.


"Tunggulah sebentar aku selesaikan ini dulu, lalu akan mengantarmu, dari sini kamu mau kemana?" Tanya Fredian.


"Aku tidak tahu, aku harus menelepon Reynaldi untuk mengetahui jadwal lain, tapi ponselku hilang!" Ujar Irna sambil duduk di atas sofa ruang kerja Fredian.


"Pakailah ponselku, dan hubungi dia." Fredian meletakkan ponselnya di atas meja.


Irna segera mengambilnya, dilihatnya foto Alfred di layar utama ponselnya. Putranya sedang berselfie bersama Fredian.


Wajah mereka berdua benar-benar sangat mirip. Alfred seperti Fredian versi mini.


Irna tidak menghubungi Reynaldi tapi malah membuka galeri foto di ponsel Fredian.


Alfred memakai baju seragamnya dalam gendongan neneknya, dia juga naik sepeda, meniup gelembung, berlarian di taman.


Air matanya tiba-tiba mengalir membasahi kedua pipinya.


Fredian tersenyum berjongkok di depannya mengusap air matanya yang terus menerus mengalir.


"Kapan kamu libur, kita akan ke Jerman untuk menemuinya." Ujar Fredian sambil tersenyum.

__ADS_1


Irna hanya mengangguk dan terus menangis.


Bersambung....


__ADS_2