Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Fluctuation


__ADS_3

"Fred? aku sepertinya akan lembur malam ini. Ada pasien penting yang... Tut! Tut! Tut!" Fredian memutuskan telepon darinya.


"Akh! sialan! Duk! Duk!" Irna membenturkan kepalanya di atas meja ruang kerjanya. Irna tidak tahu apa yang akan Fredian lakukan padanya ketika di pulang ke rumah nanti.


"Apa aku kabur saja? tidak usah pulang lagi? atau selamanya tidak pulang saja? Fredian benar-benar menakutkan ketika marah." Gumamnya pada dirinya sendiri.


Irna kembali melihat ke arah jam di pergelangan tangannya, kemudian berdiri memeriksa pasien yang tadi ditangani olehnya.


Fredian di dalam ruangan kerjanya, mengacak-acak berkasnya di atas meja lalu melangkah keluar dari Resort menuju ke arah parkiran mobilnya. Pria itu kesal sekali, bahkan Irna tidak akan pulang malam ini.


Fredian melarikan mobilnya menuju ke sebuah club malam. Pria itu duduk di sebuah kursi bar, menenggak minumannya. Beberapa gadis datang menghampirinya. "Apakah tuan tampan membutuhkan layanan?" Tanyanya seraya meraba lehernya.


Fredian menyeringai, mencekal tangan wanita tersebut. Dia sengaja menariknya lebih dekat ke arahnya. Saat Fredian memperlihatkan sinar mata amarahnya. Wanita itu buru-buru menarik tangannya kembali dan berlari menjauh darinya dengan wajah penuh ketakutan. Dan wanita yang satunya masih berada di sekitar Fredian, dia memeluknya dari belakang punggungnya.


Sebelum menepisnya, sialnya ada wartawan yang mengeksposnya saat itu. Mereka mengambil foto kemesraan Fredian di sebuah club malam dengan para wanita itu.


Irna duduk di kursi lorong rumah sakit, dia bahkan belum sempat menelan apapun hari itu. Dia sudah tidak bisa merasakan lapar di dalam perutnya. Pikirannya masih kalut tidak karuan.


Dia sendirian di sana, menunggu jadwal tugasnya selesai berganti dengan shift berikutnya. "Sejak kapan rumah sakit ini kekurangan dokter? Kenapa dia tidak meminta fellow saja, tapi malah memforsir diriku mati-matian! Rian sialan! awas saja kamu!" Umpatnya lagi sebelum tertidur di kursi lorong.


Seorang pria duduk di kursi sebelahnya, Irna menjatuhkan kepalanya di bahu pria tersebut. Dia sudah tertidur pulas di bahunya.


"Aku sangat membencimu Irna.." Gumamnya pada gadis yang sekarang merebahkan kepalanya di atas bahunya.


"Presdir! Anda tidak pulang?" Tanya seorang karyawan saat melalui mereka berdua.


Rian memberikan isyarat agar stafnya tersebut tidak bicara keras-keras. Tapi terlambat, Irna sudah membuka kelopak matanya. Dia mencium parfum Rian di sebelahnya. Merasakan sesuatu yang nyaman Irna kembali menutup matanya dan tertidur lagi.


Gadis itu lupa jika Fredian pasti akan marah seribu kali lipat dari sebelumnya ketika mengetahui dirinya sedang bersama siapa sekarang.


Irna terjaga saat seseorang membangunkannya, "Sudah waktunya ganti shift dokter." Ujarnya sambil tersenyum.


Irna segera bangkit, dia mendapati jas Rian di atas tubuhnya. Pria itu menyelimutinya sebelum pergi.

__ADS_1


Irna berniat mengembalikan itu ke ruangan kerjanya, tapi ketika tiba di luar pintu ruangan Rian, dia masih bingung mau masuk atau tidak. Akhirnya dia hanya mondar-mandir di luar pintu ruang Presdir.


Rian membuka pintu ruangan, bersiap untuk pulang ke rumah. Melihat Irna membawa jasnya dia segera mengambilnya dari genggaman tangan Irna lalu pergi begitu saja.


Irna hanya bisa mengerjapkan matanya, mematung di tempatnya. Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya itu.


Dia menyelimutinya, lalu mengabaikannya. Dia juga memberikan jadwal yang sangat padat untuknya.


"Hah! sudahlah aku harus pulang, aku lelah sekali."


Irna melarikan mobilnya menuju Resort Fredian. Dia berharap-harap cemas, takut Fredian marah lagi padanya. Wajah Irna benar-benar kuyu dan layu karena kelelahan.


Saat masuk ke dalam ruangan kerjanya Irna terkejut melihat berkas milik suaminya acak-acakan, dan berserakan dimana-mana.


"Dia pasti marah sekali padaku.." Irna terduduk lesu di lantai. Gadis itu memunguti kertas yang berceceran di lantai. Kemudian meletakkan di atas meja.


Setelah selesai dia mendengar pintu terbuka, ketika dia menoleh Irna melihat Fredian melangkah sempoyongan karena mabuk.


Irna segera berlari memapahnya berjalan menuju kamar. Irna merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. "Berapa bnyak kamu minum Fred? Kenapa kamu tidak pernah mempercayaiku?" Gumam Irna sambil melepaskan sepatunya.


"Akkkhhh! mmmmhhh!" Fredian menarik lengannya dan mencium bibirnya dengan kasar.


"Freddd akkhhh.. sakit..akkh." Pekik Irna saat Fredian menarik bajunya sampai acak-acakan, kemudian melemparkannya ke lantai.


Tanpa menunggu lagi pria itu langsung menerjang masuk ke area sensitifnya, menghujamkan senjata miliknya bertubi-tubi.


"Akkkhhhh, Fred... mmmhhh... ahhh..." Permainan kasarnya membuat Irna kewalahan melayaninya, gadis itu terus menerus memekik menggigit bahu suaminya.


"Apakah kamu puas sekarang.." Bisiknya di telinga Irna. Irna tidak bisa menjawabnya karena sibuk mengatur nafasnya.


Fredian menggunakan ritme yang sangat cepat, memporak-porandakan belahan di antara kedua pahanya. Membuat Irna semakin membukanya lebar-lebar menikmati hujaman bertubi-tubi darinya.


"Fredd... mmmhhh... akkkhhhh.." Mendengar rintihan Irna Fredian tahu, gadis itu sangat menyukai permainannya. Membuatnya terus menerus menciumi lehernya seraya terus berayun, hingga suara decakan-decakan antara kedua area sensitifnya memenuhi ruangan kamarnya.

__ADS_1


"Freddd... mmmhhh.. akkkhhh.." Irna benar-benar menikmatinya, gadis itu memeluknya erat sekali, dia tidak ingin melepaskan suaminya.


"Fred, aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu.. akkkhhh..akkk..ahhh.." Pekikan terakhir Irna karena meraih klimaks membuat Fredian tersenyum, melihat Irna benar-benar telah terpuaskan malam itu.


"Jangan memintaku untuk berhenti, aku ingin lebih lama bermain.." Bisiknya di telinga Irna.


Fredian tersenyum, terus berayun hingga tiga jam. Irna merasakan nyeri pada pinggulnya, tapi dia tidak berani memarahi suaminya. Dia melihat Fredian sudah terlelap di sebelahnya.


Irna mencoba turun dari tempat tidurnya, dia ingin berendam sebentar untuk melepaskan penatnya.


Setelah selesai dia kembali tidur memeluk pinggang Fredian.


Keesokan harinya...


Berita tentang Fredian tersebar luas, waktu itu Irna sedang mengunyah sarapannya, gadis itu duduk di sofa ruang kerja Fredian.


Saat melihat berita itu dia sedikit terkejut, tapi dia melihat pakaian dan tubuh suaminya pulang ke Resort begitu bersih. Bahkan tidak ada aroma wanita sama sekali. Dia tidak ambil pusing dengan berita tersebut.


"Kamu tidak marah padaku?" Tanya Fredian, pria itu sedang mengancingkan bajunya. Irna segera berdiri untuk membantunya.


"Aku pasti sangat mencemburuinya!" Ujar Irna sambil cemberut pura-pura marah padanya.


"Apa kamu pikir aku menyukai wanita sembarangan?" Dengusnya kesal.


Mendengarnya mendengus Irna segera menyambar bibirnya dengan ciuman, pagutan bibir Irna membuat Fredian memejamkan matanya menikmatinya.


"Presdir! maaf saya salah masuk! braaak!" Maya buru-buru menutup pintu sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


Irna melepaskan ciumannya, Fredian masih tetap menahan pinggangnya. "Kamu akan terlambat meeting.." Desahan Irna di telinga Fredian membuat pria itu gemas, kemudian mengangkat tubuhnya ke atas meja kerjanya.


"Aku ingin lagi..." Bisiknya di telinga Irna seraya menelungkupkan jemarinya ke dalam rok Irna memilin-milin benjolan kecil di sana.


"Akkkhhh... ngghhhh.. ahhh..." Irna meremas-remas punggung Fredian. Tubuhnya terguncan-guncang merasakan tusukan jemari tangan Fredian semakin cepat mengaduk-aduk area sensitifnya.

__ADS_1


Bersambung....


Tinggalkan like sebelum pergi, thanks for reading...


__ADS_2