Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Darahku, memanggilmu untuk menyelamatkanku!


__ADS_3

"Duduklah aku akan mengambilkan kotak obat!" Ujar Irna hawatir melihat kaki Rian banyak mengeluarkan darah.


Fredian masih mendengarkan percakapan mereka melalui telepon.


Irna mengambil kotak obat, berjalan ke arah Rian meletakkan ponselnya di atas meja bersebelahan dengan kotak obat tersebut.


"Coba aku lihat kakimu?" Ujar Irna lagi.


Rian menggelengkan kepalanya, dengan jengkel Irna menarik kaki pria itu ke pangkuannya.


Gadis itu menuang antiseptik, kemudian mengoleskan salep. Dan menutup lukanya dengan plester.


"Apakah masih terasa sakit?" Tanyanya kemudian.


Rian hanya terdiam menatap wajah gadis itu yang sedang serius merawat luka di kakinya.


"Kamu terlalu baik, kamu begitu baik Irna.." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Rian. Irna tersenyum ke arahnya.


Gadis itu melihat Rian di sebelahnya dengan wajah cerah.


"Jika saja bisa, aku ingin memutar waktu. Mengambil dirimu sebagai kakak atau sahabat terbaikku... jika saja kita sebelumnya tidak terlibat hubungan yang rumit." Akhirnya Irna mengeluarkan isi hatinya. Gadis itu tersenyum.


Fredian tersenyum mendengar suara Irna berkata demikian melalui ponselnya.


"Aku percaya padamu gadisku... aku percaya padamu..." Fredian menutup teleponnya.


"Ah biarkan aku mengemas barangmu, besok aku juga ke proyek nanti aku bawakan sekalian bagaimana?" Ujar Irna melihat ke arah Rian menunggu jawaban.


"Tidak usah, biarkan saja. Lagi pula itu terlalu berat. Lain kali saja aku akan mengepaknya lagi."


"Ah, ya sudah. Apa kamu membutuhkan sesuatu? aku akan mengambilnya untukmu" Ujar Irna lagi.


"Tidak, aku tidak membutuhkan apapun."


Irna masih melihat ke arah kaki Rian, melihat wajahnya masih sedikit pucat pasti sakit sekali. Kuku jari kakinya hampir terlepas.


"Tidurlah di dalam aku akan memapahmu" Ujar Irna membantu Rian berjalan tertatih menuju kamarnya.


Irna mengambil obat anti nyeri untuknya, dan segelas air putih. Rian mencoba menutup kedua matanya.


Gadis itu berjalan ke dapur, membuat bubur untuk Rian.


Seseorang memeluknya dari belakang. Irna mencium aroma parfumnya. Spontan sendok buburnya jatuh ke lantai.


Irna berbalik, dengan wajah ketakutan menatap pria di depannya.


"Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam rumahku?"


Pria itu tersenyum licik menunjukkan kunci di tangannya memainkan di depan muka Irna.


"Pria gila!" Geram Irna lagi.


Reyfarno menarik pinggang Irna kedekatnya. Mendongakkan dagu Irna.


"Kenapa? kamu tidak senang aku datang kemari?" Ujarnya masih memeluk tubuh Irna.


"Aku tidak menyukaimu! berhenti memelukku!" Teriak Irna hingga membuat Rian terbangun.


Rian berjalan tertatih-tatih menuju asal suara.


Sesampainya di sana dia melihat Reyfarno mengulum bibir Irna. Gadis itu berusaha melepaskan diri.


Irna menjambak rambut Reyfarno hingga membuat pria itu menjauhkan wajahnya. Dan mendorongnya ke belakang.

__ADS_1


"Oh kamu ada di sini?" Ujar Reyfarno santai sambil tersenyum mengejek mengusap ujung bibirnya.


"Hari ini cukup sampai di sini saja, aku akan pergi dulu." Menyentuh rambut di pipi Irna membuat gadis itu menepis tangannya.


Reyfarno melambaikan tangan dan pergi ke luar, tiba-tiba dia berbalik melemparkan kunci di tangannya ke arah Rian.


Rian baru ingat kalau dia kehilangan kunci rumah Irna.


"Ah, aku membuatkan bubur untukmu duduklah." Irna membantu Rian untuk duduk di meja makan, tapi Rian menepiskan tangan Irna.


"Berapa kali kakakku pergi menemuimu?" Tanyanya sambil menyuap bubur ke dalam mulutnya.


"Baru kali ini," Ujar Irna mencoba tampil senormal mungkin. Berusaha menahan air matanya.


"Apakah dia benar-benar berfikir aku dan kakaknya bermain di belakang punggungnya?" Bisik Irna dalam hatinya.


Irna berbalik memunggungi Rian, diam-diam mengusap air matanya yang menetes tanpa bisa di cegahnya lagi. Gadis itu buru-buru mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Irna bersembunyi di bawah gemercik tetesan air, menyembunyikan Isak tangisnya bersama suara berisik air yang memukul jatuh ke lantai.


"Kenapa aku bisa sesedih ini melihat tatapan jijik di matanya.. kenapa hatiku begitu sakit! aku hanya ingin menjadi teman, tapi sepertinya itu sangat mustahil!" Bisik Irna sambil memeluk kedua lututnya di sudut kamar mandi yang dingin.


Ketika gadis itu keluar dari dalam kamar mandi, Rian sudah pergi dan semua barang-barangnya. Sudah tidak ada di sana.


Rian meninggalkan kunci rumah di atas meja makan.


Irna bersandar di dinding, rasanya kakinya lemas dan tidak mampu berdiri. Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan tertidur di sana.


"Triiing!" Irna terjaga ketika bunyi ponselnya membangunkannya.


"Kenapa Rin?" Tanya Irna masih membuka separuh matanya. Dirinya belum tersadar sepenuhnya.


"Tadi perusahaan NGM tiba-tiba menelpon, ada sesuatu yang penting dan menunggu anda untuk segera ke sana."


"Sekretaris Presdir Rian Bu" Jawab Rini.


"Baiklah aku akan ke sana." Ujar Irna mengakhiri panggilan telepon.


"Aku ingin menelpon Rian, jika benar-benar ada sesuatu yang penting. Tapi melihat wajahnya semalam kelihatannya dia tidak ingin menerima telepon dariku." Ujar Irna sambil bersiap-siap hendak pergi ke NGM.


Sesampainya di sana Irna menuju resepsionis, bertanya padanya.


"Apakah Presdir mengundangku kemari tadi pagi?" Tanya Irna masih agak ragu.


"Iya, silahkan ke ruangannya." Ujar resepsionis tersebut.


Irna melangkah menuju laboratorium di mana biasanya Rian duduk di sana.


Irna mengetuk pintu kemudian membukanya dan melangkah masuk ke dalam.


Rian sedang sibuk bekerja, mengenakan kacamata dan juga masker. Di tangannya ada sebotol cairan, dia memeriksa beberapa sampel menggunakan mikroskop kemudian membuat catatan.


Rian mengenakan baju dokter, dan sedang serius bekerja.


Irna duduk di sisi meja kerja Rian, karena terlalu lama menunggu dia meletakkan kepalanya di atas meja, masih menunggunya. Sampai terkantuk-kantuk Irna memejamkan matanya.


"Dia bahkan tidak ingin bicara apapun, hanya mengacuhkanku di sini. Jadi untuk apa dia memintaku datang kemari??"


Irna ingat kaki Rian terluka, tapi sepertinya kakinya baik-baik saja sekarang.


"Apakah mungkin sudah sembuh? dia bahkan memakai sepatunya?" Bisiknya.


Irna terkejut karena Rian sudah tidak ada di sana. Tapi seseorang berdiri di belakang punggungnya. Kepala Irna masih diletakkan di atas meja.

__ADS_1


Dia sangat takut mengangkat kepalanya.


"Sepertinya aku terlibat masalah lagi!" Bisiknya pelan.


Irna mengangkat kepalanya dan benar saja sebuah ciuman mendarat di pipi kirinya.


"Cup!"


Pria itu masih memakai baju dokter dan kacamata. Maskernya diturunkan kebawah dagunya.


"Reyfarno!" Ujar Irna dengan geram.


"Pria ini sudah sangat tidak waras, bahkan membajak sekretaris Rian agar menghubungi kantornya." Desis Irna sudah tidak sabar.


Irna mengusap pipi kirinya dengan tissue, membersihkan seperti ada noda yang melekat di sana.


Membuat pria di depannya kalap dan mendorong tubuhnya, hingga punggung Irna menabrak dinding. Menahan Irna di sana.


Tubuh Irna sedikit lemas pagi itu, bahkan tidak cukup tidur.


"Rey! apa kamu sudah gila?! apa yang kamu lakukan!" Teriak Irna ketika pria itu kembali mengulum bibirnya.


Rian menunggu Irna di proyek, dia tidak tahu jika gadis itu di kantornya sekarang. Berjuang menyelamatkan dirinya.


"Adakah yang akan menolongku? siapa saja..." Bisiknya dalam hati. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Pria itu masih mengulum bibirnya dan menahan kedua tangannya.


Irna mengangkat kakinya melayangkan satu tendangan ke tulang kering Reyfarno. Tidak cukup keras tapi membuat pria itu menghentikan aksinya.


Irna terengah-engah mengusap air mata, mengambil tas, dan pergi keluar dari ruangan. Meninggalkan Reyfarno.


Sampai di luar pintu, pria itu menarik tangannya membawanya kembali masuk.


"Ah!" Pekik Irna ketika punggungnya membentur meja di belakangnya.


"Biarkan aku pergi, kenapa kamu melakukan ini padaku?" Tanyanya mencoba berdiri, punggungnya terasa sakit luar biasa sepertinya berdarah.


Irna mengusap punggungnya dan melihat darah di tangannya.


"Bagus sekali! ha ha ha!" Tiba-tiba Irna tertawa dengan penuh amarah.


"Apakah kamu sangat putus asa, sampai tertawa seperti itu?" Tanya Reyfarno pada Irna, sambil kembali mengangkat dagunya.


Irna menambah robekan luka di punggungnya dengan kuku tangannya mengambil darahnya yang mengalir dengan telapak tangan. Mengusapkan ke pipi Reyfarno.


"Satu, dua, tiga, empat, lima!" Gadis itu menghitung dengan jarinya yang penuh dengan darah.


Tersenyum misterius menatap wajah terkejut Reyfarno.


"Traak! Traak! traaak! praang!" Jendela kaca pecah di sisi ruangan pecah, mahluk berkuku panjang terbang mengerubungi mereka berdua.


Reyfarno berdiri dengan kaki gemetar, berjalan mundur. Irna tertawa melihat wajah ketakutan Reyfarno. Irna mendekat ke arahnya. Kembali membaluri leher Reyfarno dengan darah dari luka di punggungnya.


Mahluk hitam menyeramkan berterbangan menyerbu ke arahnya. Kesempatan yang bagus itu digunakan Irna untuk kabur.


Reyfarno sibuk, menghalau mahluk itu dari tubuhnya. Ketika kuku mahluk itu mencakar tubuhnya, membuat darahnya bercampur dengan darah Irna.


Tubuh Reyfarno mendadak mengejang sesaat, tiba-tiba luka di tubuhnya mendadak mengering dan sembuh.


Karena sudah tidak mencium aroma darah.


Mahluk-mahluk itu berhenti dan pergi melalui kaca jendela yang pecah.


"Irna adalah iblis, gadis itu tidak normal!" Teriaknya dengan geram.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2