
Irna melambaikan tangannya menghentikan bus. Kemudian naik ke dalam bus tanpa memperhatikan Fredian yang masih berdiri di jalan menendang batu disekitarnya dengan wajah kesalnya.
Irna turun di halte yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Dia berjalan kaki setelah turun dari halte.
"Oh, bukankah itu mobil Rian?" Ujar Irna melihat Rian melambaikan tangan ke arahnya sambil bersandar di depan mobilnya.
Irna melemparkan senyum getir yang tersisa dari kesedihannya.
"Ada apa kamu kemari? apa laboratorium libur hari ini?" Ujar Irna ikut bersandar di sebelahnya.
Rian menatap leher Irna yang terluka, menyentuhnya dengan jarinya. Untuk meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya itu adalah darah.
"Ikut aku!" Rian menyeret tangan Irna masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dia naik duduk di belakang kemudi.
Fredian melihat Irna pergi bersama Rian dari dalam mobilnya. Dia memutar mobilnya mengikuti mereka dari kejauhan.
"Kamu membawaku kemana?" Tanya Irna sambil melihat ke jalan.
"Kamu akan tahu nanti." Ujar Rian sambil tersenyum kearahnya.
Rian membawa Irna ke laboratorium tempat dia bekerja.
"Wah kantormu di sini juga hampir sama besarnya dengan yang ada di London." Ujar Irna takjub, sambil melihat sekeliling.
Rian membuka sebuah pintu dan membawa Irna masuk ke dalam ruangan.
"Apa yang dilakukan mereka berdua di dalam ruangan??!" Fredian mulai geram dengan Irna dan Rian.
"Duduklah." Perintah Rian pada Irna.
Gadis itu kemudian duduk di atas tempat tidur pasien.
Rian mengambil benang, perlengkapan obat, dan obat bius.
"Apa kamu mau mengoperasiku?!" Tanya Irna terkejut melihat Rian membawa perlengkapan menaruhnya di atas meja sisi tempat tidurnya.
"Tahan sebentar ini akan sedikit sakit." Rian membuka kancing baju Irna, membuka bajunya yang menutupi luka di lehernya, kemudian mengambil alat suntik lalu mengambil obat bius dan disuntikkan di dekat luka Irna.
Kemudian mulai menjahit robekan luka di lehernya.
"Apakah sakit?" Tanyanya pada Irna sambil tersenyum melihat gadis itu menggigit bibir bawahnya.
"Ha ha ha mana ada, ini seperti digigit semut." Ujar Irna sambil tersenyum.
Fredian tidak tahan mendengar suara mereka dari luar pintu kemudian menerobos masuk ke dalam.
Wajah Irna dan Rian sama-sama terbengong melihat wajah marah Fredian. Fredian melihat Rian sedang menjahit luka di leher Irna.
Lalu mengambil kursi dan duduk melihat mereka berdua.
Setelah selesai menjahit luka, Rian menempel plester di atas jahitan.
"Mungkin ini akan berbekas dan agak lama pulihnya." Ujar Rian lagi sambil mengemasi kembali peralatan di atas meja.
"Oh, iya." Ujar Irna sambil menyentuh plester yang menempel di lehernya.
"Dia pasti menarik paksa kalungnya, kalung dari keluarga Derrose, kalung yang tidak bisa dilepas lagi, kecuali nyonya Derrose sendiri yang melepaskannya." Ujar Rian dalam hatinya setelah mengobati luka di leher Irna.
"Apakah sudah selesai? jika sudah aku akan membawanya pergi." Menarik lengan Irna turun dari tempat tidur pasien membawanya keluar ruangan.
"Tinggu sebentar! aku ingin bicara dengannya sebentar." Rian meraih tangan Irna yang satunya. Fredian terlihat marah menatap Rian yang memegang tangan Irna.
"Maksud kedatanganku di rumahmu tadi, aku sebenarnya ingin berpamitan. Aku akan kembali ke London dalam beberapa waktu. Dan kamu bisa menghubungiku nanti jika membutuhkan sesuatu." Bisik Rian di telinga Irna sambil tersenyum menatap wajah Irna yang terkejut.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak tadi?" Ujar Irna merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku melihat lukamu, aku jadi lupa dengan tujuanku."
"Hati-hatilah, aku akan pulang dulu, jika tidak dia akan mengomel seperti anak kecil." Ujar Irna sambil melirik Fredian.
"Ya pergilah." Rian tersenyum melambaikan tangannya.
Irna juga tersenyum melambaikan tangannya.
Fredian masih menyeret tangannya keluar dari laboratorium, mendorongnya masuk ke dalam mobilnya.
"Kalian seperti akan berpisah selamanya saja, terus melambaikan tangan seperti itu!" Gerutu Fredian saat berada di dalam mobil.
"Kamu masih cemburu padaku, itu sangat jelas terukir di wajah surammu!" Ujar Irna santai.
Beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah.
Irna terkejut saat melihat pria yang duduk bersandar di depan mobil. Menunggu kedatangannya di depan rumah sambil terus melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Pria gila itu ngapain tiba-tiba berselancar ke Jerman?!" Teriak Fredian di telinga Irna. Membuat Irna segera menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Aku tidak tahu." Ujar Irna sambil mencari ponselnya dari dalam tasnya.
"Rin, kenapa Arya Ardiansyah tiba-tiba berada di depan rumahku?"
"Dia menangis sepanjang hari di kantor Bu, maafkan saya karena klien lain sangat terganggu, gara-gara ulahnya jadi saya terpaksa memberikan alamat ibu di Jerman." Ujar Rini pada Irna.
"Tapi bukankah proyek taman hiburan sudah selesai tiga tahun lalu?" Tanya Irna pada Rini.
"Iya Bu, sudah beres. Tapi ibu tahu sendiri pak Arya klien yang sedikit tidak, pokoknya seperti itu Bu." Ujar Rini, hampir saja bilang kalau Arya tidak waras.
"Ah, baiklah aku mengerti." Irna mengakhiri panggilan telepon.
Fredian masih geram menatap pria tampan maskulin yang bersandar di depan mobilnya menunggu istrinya.
"Bagaimana bisa wajahnya masih terlihat muda dan tidak berubah sama sekali selama tiga tahun terakhir???!" Gerutunya sambil terus melotot ke arah Arya dari dalam mobil.
Irna tersenyum tipis melihat Arya menatapnya melalui kacamata hitamnya.
"Ada apa sampai-sampai anda mengambil penerbangan ke Jerman?" Tanya Irna setelah melangkah mendekat dan berdiri di depan rumah.
"Saya ingin mendiskusikan proyek baru." Ujarnya sambil mendahului Irna masuk ke dalam rumahnya.
"Astaga pria ini! apa dia pikir ini rumahnya!" Gerutu Irna tanpa peduli.
Fredian turun dari mobil melangkah lebar masuk ke dalam rumah sengaja menabrak Arya membuat pria itu hampir jatuh jika tidak berpegangan pintu.
Arya menoleh ke arah wajah kesal Irna.
"Aku tahu kamu menggerutu di belakang punggungku." Ujarnya sambil menoleh Irna yang berdiri di belakangnya.
"Tapi anda harus menunggu karena aku sedikit sibuk hari ini, aku harus mengangkat jemuran, dan mandi." Ujarnya lagi tanpa mempersilahkan pria itu duduk.
"Ya tidak apa-apa, lakukanlah pekerjaanmu. Aku akan menunggu di sini." Ujar Arya sambil berjalan ke dapur mengambil air minum.
Dia melihat Fredian menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Arya hanya meliriknya tanpa peduli sama sekali.
"Bagaimana menurutmu? bukankah pria satu ini sangat luar biasa sekali!?" Gumam Fredian di telinga Irna saat gadis itu menenteng handuk di atas kepalanya.
"Ha ha ha! dia adalah pria gila, yang akan membuat kita berdua jadi gila!" Ujar Irna sambil menahan tawanya, memegang bahu kanan Fredian dengan tangan kanannya.
"Aku mendengar apa yang kalian bicarakan." Ujar Arya santai tersenyum manis menatap mereka berdua. Sambil meneguk segelas air di tangan kirinya.
"Apa kamu tahu aku siapa?!" Tanya Fredian pada Arya sambil duduk di kursi meja makan.
"Aku tidak tahu, tapi melihat caramu menatap wajahnya kamu sangat mencintainya, dan kamu sedang cemburu padaku." Ujar Arya santai.
__ADS_1
"Lalu jika kamu tahu aku cemburu kenapa kamu seenakmu berada di sini?" Geram Fredian melihat wajah santai pria di depannya.
"Aku kemari bukan untuk membuatmu cemburu, jadi bersikaplah sedikit dewasa!" Ujar Arya sambil merapikan jasnya kembali.
Irna sudah selesai mandi dan mengambil kursi duduk di antara mereka.
Mereka berdua menatap Irna bersamaan.
"Oke, saya akan mulai. Presdir Arya, proyek apa yang ingin anda bicarakan tadi?" Ujar Irna memulai percakapan.
"Alasan proyek bilang saja ingin dekat-dekat dengan Irna!" Sahut Fredian dengan wajah kesalnya.
"Wah anda terlewat percaya diri! gadis ini sama sekali bukan selera saya! ha ha ha lihat badannya yang kurus kering itu! ha ha ha! wajahnya juga agak kusam! rambutnya juga acak-acakan seperti habis terbakar! ha ha ha!"
Ujar Arya sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian tiba-tiba diam melihat wajah geram Irna. Dia kembali merapikan rambutnya sendiri.
"Ha ha ha iya benar sekali! sudah puas menghinaku?!" Sergah Irna melotot ke arah Arya.
Fredian melihat mereka berdua dengan bingung.
"Mereka bekerja sama dengan saling membenci dan saling mengatai satu sama lain?!" Ujar Fredian dalam hati sambil meneguk air di atas meja.
"Cepat katakan proyek apa yang membawamu sampai kemari?" Tanya Irna lagi.
Arya kemudian mulai mengeluarkan berkas dari dalam tasnya.
"Aku ingin membangun sebuah pusat perbelanjaan, ini lokasinya." Ujar Arya menatap wajah Irna serius.
Lalu Irna mengambil kertas menggambarkan sketsa ringkas secara garis besarnya dan menyerahkan kepada Arya.
"Bagaimana jika seperti ini, kita akan membuatnya tiga sampai empat lantai, dan kita akan membuat taman bermain anak-anak di lantai paling bawah sebelah sini, dan di sisi luar kita bangun taman kecil yang cantik. Dan seterusnya.." Sekitar dua jam Irna memberikan penjelasan pada Arya, pria itu juga mengamati apa yang dikatakan Irna dengan wajah serius.
"Oke deal!" Arya mengulurkan tangannya.
"Ya, deal!" Irna menjabat tangan Arya tanda setuju bekerja sama.
"Ah detail skemanya aku akan membuatnya besok, dan proses pembangunan sisanya akan dikerjakan oleh sekretarisku." Ujar Irna pada Arya.
"Saya masih di Jerman selama satu minggu, saya akan membahas proyek ini secara detail. Apakah kamu masih punya kamar kosong?" Ujar Arya membuat mata Fredian dan Irna terbelalak kaget.
"Aku cuma punya satu kamar dan tidak ada kamar lagi!" Ujar Irna tersenyum sambil menghalangi pintu kamar.
"Ah aku tidak keberatan tidur di sofa!" Ujarnya sambil melangkah menuju ke sofa.
"Ah, ini tempat tidurku! kamu pergi ke hotel saja!" Ujar Fredian langsung berbaring di sofa.
"Bukankah kalian suami istri? kenapa tidur terpisah?!" Ujar Arya santai sambil mendorong tubuh Fredian menyingkir dari sofa.
Irna dan Fredian saling bertukar pandang.
"Ah itu, itu, aku sedang tidak ingin di ganggu jadi aku ingin tidur sendiri. Bisakah anda menginap di hotel saja Presdir Arya Ardiansyah!!" Ujar Irna sambil berkacak pinggang.
"Ya saya akan kembali besok, wah aku tidak percaya wajah tampan ini akan diusir!" Ujarnya santai membawa tasnya keluar dari rumah Irna menuju mobilnya.
"Ya pergilah semoga hari anda menyenangkan!" Ujar Irna melambaikan tangannya.
Fredian menggigit jari jempolnya berdiri di depan pintu.
"Kemasi bajumu dan pergi dari rumahku!" Ujar Irna sambil memandang wajah Fredian dengan serius.
"Aku tidak akan pernah pergi dari sini, apalagi ada laki-laki gila itu." Ujarnya sambil memeluk pinggang Irna dari belakang.
Irna melepaskan tangan Fredian dari pinggangnya. Lalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
"Ya tidurlah di sofa, aku tidur dulu. Aku lelah sekali! dan jika kamu besok tidak berkemas aku akan melemparkan kopermu ke luar pintu!" Teriak Irna dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Bersambung...