
Kania merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, kini dia melihat satu buket bunga mawar segar di atas meja. Juga sebuah cincin.
"Apa ini? Lamaran? Dasar pengecut!" Umpatnya sambil menggenggam cincin tersebut. Lalu dia membuka telapak tangannya, bukan karena keinginannya. Tapi ada yang memaksanya.
Dan memasukkan cincin tersebut ke jari manisnya. Dia ingin sekali melepaskan cincin tersebut tapi tidak bisa.
"Triiing.. triiing!" Ponsel Kania tiba-tiba berdering nyaring. Gadis itu segera menyambar ponselnya yang ada di atas meja. Tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang tidak terlihat di depan matanya.
Dia segera menggenggam nya dan meraba sosok tidak terlihat tersebut seperti orang buta yang sedang meraba-raba di tempat gelap. Dia merasakan rambut ikal, hidung mancung, kulit halus, bibirnya tipis.
Dan tubuhnya juga atletis, Kania mengendus kan hidungnya. Dia mencium aroma bunga melati. Dari sana dia tahu orang itulah yang semalam mengangkat tubuhnya ke lantai atas.
"Kamu siapa? Kenapa tidak menunjukkan dirimu padaku? Apa yang salah padaku? Dan cincin ini kenapa kamu memberikannya padaku? Aku tidak akan menikahimu! Jodohku bukan dirimu."
"Kamu adalah pengantinku! Kita sudah dijodohkan sejak lama!" Terdengar suara pria itu sayup-sayup menjauh. Kania tahu pria itu marah mendengar pernyataan darinya barusan. Dia pergi meninggalkannya, sendirian di atas tempat tidurnya.
Kania mengabaikan dering ponselnya, gadis itu melangkah menuju ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya. Setelah selesai bersiap-siap dia kemudian melangkah keluar dari dalam kamarnya.
Dia sangat terkejut karena di luar pintu kamarnya dia disambut oleh banyak pelayan berseragam rapi.
"Selamat pagi putri Kania." Sapa mereka serempak.
"Kalian? Dari mana asal kalian? Aku tidak pernah memesan pelayan rumah." Ungkapnya sambil berlalu dari hadapan mereka, dan turun ke lantai bawah bersiap untuk menuju ke kampus.
"Pantas saja aku merasa nyaman, ternyata mereka memang bukan manusia." Bisiknya dalam hati saat menoleh ke lantai atas dan para pelayan tadi sudah menghilang bagai asap begitu saja.
"Ah sudahlah, aku harus segera ke kampus." Ujarnya sambil melompat masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin lalu melaju menuju rumah Mira.
Gadis itu masuk ke dalam mobilnya, dia terkejut melihat cincin pernikahan di jemari Kania.
"Nia? Jangan bilang cincin itu adalah! Pemberian hantu yang menghuni rumah itu?!" Mira ketakutan karena ada pantulan sinar merah dari cincin emas yang membingkai jari manis sahabat karibnya itu.
__ADS_1
"Iya dia bilang aku adalah jodohnya."
Kania tersenyum lebar melihat wajah pucat teman sebangkunya itu. Dia tahu gadis yang anti cerita hantu itu pasti akan sangat terkejut.
"Gadis yang tinggal di sana sebelum dirimu sebenarnya dia menghilang begitu saja. Masyarakat sekitar tidak tahu kemana perginya. Karena tidak ada jejak-jejak penculikan atau semacamnya Nia." Jelas Mira padanya.
"Aneh sekali!" Bisik Kania pada dirinya sendiri, dia sekarang berpikir bahwa hantu di rumah itu memang ingin mengumpulkan banyak wanita untuk dijadikan sebagai istri atau wanita simpanannya.
Karena hantu itu juga telah melahap tubuhnya pagi tadi. Walaupun dia hanya melakukan hubungan intim itu sebentar saja. Tapi tetap saja itu sangat tidak normal bagi Kania. Karena dia tidak bisa melihat siapa sosok tersebut sebenarnya.
Merasakan desiran angin tanpa wujud di belakang punggungnya, Kania tahu mahluk itu sedang berada di dalam mobilnya saat ini.
Dia tidak menyangka pria mahluk halus itu akan menguntitnya kemanapun dia pergi.
Sesampainya di kampus gadis itu segera turun dari mobil miliknya. Dan berniat melangkah masuk menuju gedung kampusnya. Dia melihat Royd sedang memarkir mobilnya, tak jauh dari tempatnya berdiri.
Kania sedikit heran karena Royd tidak menemukan keberadaannya saat berada di rumah itu. Biasanya pria itu selalu berhasil menemukan dirinya. Pikiran gadis itu bercabang kemana-mana. Di sisi lainnya dia juga berpikir kalau Royd Carney sedang sibuk bermesraan dengan Laura.
"Apa aku gak salah lihat kan?" Mira menyenggol lengan Kania sambil mengisyaratkan bahwa dosennya itu mengabaikan keberadaan dirinya.
"Gak salah kok. Ayo!" Kania menarik lengan Mira agar segera mengikutinya naik ke lantai dua dimana kelasnya berada.
Pelajaran berlangsung seperti biasanya, Royd juga mengajar dengan normal tidak marah-marah lagi seperti kemarin.
Kania sendiri sedikit heran dengan senyuman cerahnya di hadapan para mahasiswa dan mahasiswi di dalam kelas tersebut. Mengisyaratkan bahwa pria itu benar-benar sudah melupakan keberadaan dirinya.
Kania memainkan cincin yang melingkari jari manis kirinya itu. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan itu benar atau salah. Dan dia tanpa sengaja meraba bagian luar cincinnya seperti ada nama orang yang tertera di sana.
"Siapa nama yang ada di cincin ini?" Kania berusaha melihatnya tapi tetap saja tidak bisa. Karena nama tersebut tidak terlihat terukir di sana.
Akhirnya Kania memutuskan untuk meraba-raba, wajahnya masih terlihat sangat putus asa karena tidak berhasil mengetahuinya.
__ADS_1
Akhirnya gadis itu memilih untuk mengabaikan segalanya menjalani kehidupan dirinya dengan normal seperti tidak terjadi sesuatu sama sekali. Sama seperti Royd yang juga sudah mengabaikan keberadaan dirinya di dalam kelasnya. Sama-sama seperti amnesia.
Pelajaran berlangsung lancar, Kania sudah mengemasi barang-barang miliknya.
"Mira tunggu aku!" Kania setengah berlari mengejar sahabatnya itu keluar dari dalam kelasnya. Karena Royd masih terlihat santai duduk di kursi yang ada di depan kelas. Dia takut pria itu tiba-tiba mengambil tindakan seperti sebelumnya.
Anehnya pria itu tetap duduk seperti itu, tanpa berniat ingin pergi meninggalkan ruangan. Sekalipun bel pulang sudah berbunyi beberapa kali.
Kania menuju tempat parkiran, dia dan Mira tidak berniat langsung pulang. Mereka berdua pergi ke sebuah mall untuk membeli beberapa perlengkapan pribadi.
Setelah selesai berbelanja mereka masuk ke toko pakaian yang ada di sana. Tiba-tiba tatapan mata Kania tertuju pada seseorang yang memakai tindik di telinga kirinya. Saat pria itu juga menatap ke arahnya tiba-tiba jemari tangan dimana cincin itu melingkar terasa terbakar.
"Astaga!" Kania melihat jemari tangannya hampir melepuh.
"Pria astral itu benar-benar tidak mengijinkanku walaupun hanya melihat saja! Jika pria lain tanpa sengaja memelukku pasti jariku sudah buntung sekarang!" Umpatnya kesal sekali. Karena baru kali itu dia merasakan kejadian yang sangat tidak masuk akal sama sekali.
Tapi hilangnya para wanita yang tinggal di rumah tersebut membuatnya ingin mencari tahu kebenaran di balik kejadian itu.
"Nia! Jadi beli baju gak sih? Kok malah melamun?" Mira sudah selesai memilih beberapa pakaian dan ingin mencobanya di ruang ganti.
"Kamu saja, Ra. Aku tunggu di kasir saja. Oke?"
"Iya deh, tunggu aku di sana saja." Nyengir melangkah menuju ruang ganti baju yang ada di sudut ruangan.
Kania sendiri memilih duduk di kursi yang ada di dekat kasir untuk menunggu Mira.
Dia tidak melihat pria yang tadi menatapnya, entah kemana pria itu tiba-tiba menghilang begitu saja dari depan matanya. Padahal tidak terlihat ada orang keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Mungkin dia sedang berada di ruang ganti." Bisiknya dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1
Like, like, thanks..