Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Tragedi kecil


__ADS_3

Keesokan harinya..


"Aku antar ke rumah sakit, nanti kalau sudah pulang hubungi aku." Fredian memakaikan mantel tebal untuk menutupi punggungnya. Pria itu memeluk bahunya seraya berjalan menuju ke arah mobil, membukakan pintu untuknya.


Irna menatap wajahnya sekilas mengukir seutas senyuman manis, kemudian masuk ke dalam mobil.


"Saat di rumah sakit usahakan jangan berada terlalu jauh dari Rian, perannya saat ini sangat penting. Dan menurutku akan lebih aman mengingat dirinya merupakan salah satu bagian dari kerajaan Interure." Sarannya saat mulai melajukan mobilnya menebas jalan raya, melewati hutan belantara di sekitarnya.


Irna berfikir segalanya telah selesai, tidak akan ada masalah lagi. Tapi sepertinya tidak demikian, masalah baru muncul satu-persatu menghampiri kehidupan mereka berdua.


Pandangan matanya tertuju pada mentari pagi yang mulai menunjukkan keberadaannya pada dunia, sinar hangatnya menyapu perjalanan pagi itu.


"Aneh sekali, kamu vampir yang sangat istimewa. Kebanyakan dari kami memakai kacamata hitam untuk menghindari cahayanya. Tapi kamu malah menikmatinya." Ungkap Fredian sambil tersenyum.


"Fred, apakah kamu nanti akan sibuk sekali di kantor?" Menyandarkan kepalanya di atas bahu Fredian.


"Nira membantuku, jadi tidak terlalu banyak pekerjaan menumpuk di kantor."


Di resort Angel Nira berada di dalam ruangan kerjanya. Gadis itu memakai baju resmi, rambut panjang miliknya terurai jatuh di atas punggungnya.


Nira sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya pagi itu, gadis itu bersiap menyusun acara untuk meeting dengan klien sekitar jam sepuluh pagi.


Dia memanggil Maya untuk pergi ke ruangannya. Tapi sekretarisnya itu sedang tidak berada di tempat sekarang. Nira menghubungi resepsionis yang sedang berjaga di lobi hotel.


Dia bilang ada tamu marah-marah dengan Maya di sana. Mendengar itu Nira segera menuju lobi untuk membantu Maya menghadapi tamu tersebut.


"Kau para pemburu! beraninya menginjakkan kaki di sekitar Kaila! Apa kalian sudah bosan hidup!?" Geram Javi seraya menarik baju Maya.


"Apa yang anda katakan, saya sedang bekerja di sini. Siapa pemburu yang anda maksud?" Tanya Maya pura-pura tidak mengerti. Maya sengaja menahan diri agar tidak membuat keributan di hotel.


Apalagi Irna juga sudah berpesan padanya agar tidak membuat masalah di Resort Fredian.


Maya diam saja saat Javi Martinez bertindak kasar padanya, selain demi menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya. Juga demi menjaga nama baik hotel. Sebetulnya dia bisa saja melawannya saat itu, tapi dia tetap menahan diri.


Penjaga lobi hotel terkejut melihat pertengkaran itu salah satu dari mereka segera menghubungi Fredian. Pria itu baru sampai di rumah sakit mengantarkan Irna.


"Tuan Presdir, ada masalah di Resort." Ujar seseorang melalui telepon hotel.


"Iya, saya sedang menuju ke sana." Ujarnya sambil melambaikan tangannya ke arah Irna. Kemudian melajukan mobilnya menuju Resort.


"Apa yang terjadi?" Nira melepaskan kacamata hitamnya lalu menyibakkan rambutnya ke belakang.


Maya segera melangkah mundur sambil menundukkan kepalanya, memberikan jalan pada Nira untuk menghadapi tamu di depannya.


"Ada masalah apa di sini?" Tanyanya pada Maya.


"Saya ingin memesan seluruh kamar hotel untuk tamu saya. Tapi sekretaris anda bilang hotel ini sudah dibooking sebagian oleh klien."


Jelasnya pada Nira, pria itu masih memunggunginya kemudian perlahan berbalik. Saat pandangan matanya menatap wajah Nira, dia tertegun seolah melihat seseorang yang ingin dia temui hari itu.


Mendengar itu Nira segera menoleh ke arah Maya. Maya menggelengkan kepalanya berkali-kali agar Nira tidak menerima tamu tersebut.


"Pasti ada sesuatu yang rumit di sini. Melihat wajah Maya begitu ketakutan, ini bukanlah hal yang sederhana. Apakah mungkin ini ada hubungannya dengan kakek dan nenek?" Pertanyaan itu muncul satu-persatu di dalam benak Nira.


"Kira-kira berapa jumlah keseluruhan tamu anda? apakah perorang menginginkan satu kamar? atau ada beberapa anggota keluarga berada dalam satu kamar yang sama?" Tersenyum lembut berusaha melayani sebaik mungkin.


Nira berpura-pura menanyakan hal itu padanya, dia berusaha bersikap senetral mungkin untuk mengulur waktu.


Nira tidak tahu apa yang sedang di hadapinya sekarang. Gadis itu sedikit terkejut ketika pria di depannya itu terdiam tapi terus menerus menatap wajahnya lekat-lekat.


"Kaila? kamu tidak mengenaliku? penampilanmu sedikit berbeda, tapi aku tidak yakin kamu sedang berpura-pura."


"Maaf saya bukan Kaila, saya Nira wakil Presdir di sini." Terangnya dengan sopan.


"Aromanya berbeda, gadis ini tidak memiliki darah dengan bunga kristal es. Tapi aroma bunga itu terasa samar menyeruak ujung hidungku. Jadi siapa dia? kenapa wajahnya begitu mirip dengan Kaila?"


Javi Martinez bertanya-tanya dalam hatinya.


"Siapa pria gila ini? matanya sejak tadi tatapan matanya nyalang seperti binatang!" Rutuknya di dalam hati.


"Apakah Kaila tidak kemari? saya mendapat kabar jika dia hampir setiap hari kemari?" Tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.


Nira mendengus sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Gadis itu tersenyum penuh ejekan menatap ke arah Javi Martinez.


"Tuan, anda kemari ingin mencari seseorang bernama Kaila? kenapa tidak langsung saja ke kantor polisi untuk melaporkan orang hilang?"

__ADS_1


Maya terkejut mendengar Nira sangat berani mengejek Javi.


"Mendengar caramu bicara kalian benar-benar sangat mirip." Javi melangkahkan kakinya duduk di sofa lobi. Pria itu tidak berhenti tersenyum menatap wajah geram Nira.


"Jadi anda tidak akan memesan kamar bukan? anda hanya ingin menemui orang bernama Kaila. Maya siapkan ruang meeting untuk jam sepuluh nanti, juga bahan untuk meeting jangan sampai ada yang tertinggal."


Nira segera berbalik, gadis itu mengambil kunci ruang meeting, lalu melangkah menuju ke sana.


Dia mengabaikan Javi Martinez, pria itu tersenyum mengejek. Dia segera berdiri melangkah ke dalam mengikuti Nira.


"Jadi seperti ini cara wakil Presdir melayani tamunya? jika aku melaporkan pada wartawan pasti nilai saham akan turun dengan cepat!" Serunya pada Nira.


Mendengar itu mendadak langkah kakinya terhenti di depan pintu ruang meeting. Gadis itu melihat sekilas ke arah pria yang sudah berdiri di belakang punggungnya.


Javi menghembuskan asap rokoknya pada wajah Nira, membuat Nira terpaksa menghalau udara di depan wajahnya.


"Jarak ini, bukankah terlalu dekat! sebenarnya apa yang diinginkan pria ini!" Desisnya lirih, kembali membalikkan badannya membuka pintu ruang rapat.


"Apa kamu benar-benar tidak perduli dengan harga saham?" Masih terus mengancam Nira mengekornya di belakang punggung.


Nira masuk ke dalam ruangan, dia mengambil buku catatan yang ada di sana . Memeriksa ruang meeting seraya memberi tanda pada bukunya.


Nira mendadak menghentikan langkahnya dan membuat Javi Martinez menabrak punggungnya.


"Bruuuk!"


Nira berkacak pinggang menatap tajam ke arah Javi.


"Kenapa kamu terus menerus mengikutiku? apa kamu sangat senggang dan tidak punya kegiatan lain? dasar aneh." Gerutu Nira lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Nira sesaat kemudian ingat sesuatu, wajah Javi Martinez memiliki tingkat kemiripan satu sampai dua dengan wajah Rian. Gadis itu buru-buru berjalan mendekat ke arahnya. Dia menarik krah jas lengan panjang milik Javi agar lebih dekat dengan dirinya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya pria itu sedikit terkejut.


Gadis itu memutar tubuh Javi, melihat dengan sangat cermat. Bahkan Nira juga menyentuh kedua pipinya, alisnya.


"Wajahmu begitu mirip dengan seseorang! tapi melihat tindik di telingamu ini, serta gaya aroganmu. Kamu bukan dia." Cetusnya sambil nyengir.


"Apa dia tidak tahu siapa aku? dia berani sekali menyentuh tubuhku, juga meraba pipiku!" Gumam Javi sambil memegang kedua pipinya sendiri dengan telapak tangannya.


"Wajahmu lumayan! Tidak buruk! Ah! aku ada acara besok, bisakah kamu membantuku untuk menjadi pasangan pura-pura?" Bertanya sambil menggigit ujung bolpoinnya, seakan-akan sudah lama kenal, tidak peduli dengan identitas Javi Martinez.


Yang Nira tahu, pria itu sangat mengenal neneknya. Jika tidak, dia tidak mungkin terobsesi dan terus menerus menanyakannya.


"Aku? kamu memintaku untuk membantumu?!" Tanyanya masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang.


"Memangnya kenapa kalau aku meminta bantuanmu? aku lihat kamu begitu senggang kesana-kemari seperti pengangguran!" Masih menandai buku di dalam genggaman tangannya.


"Lalu apa imbalannya? apa kamu tidak akan memberikan imbalan padaku?" Melangkah mendekati Nira.


"Aku akan memberikan layanan satu kamar gratis tanpa biaya selama tiga hari." Ujarnya santai.


"Apa kamu pikir aku tunawisma?! kamu tidak melihat pakaianku berapa harganya?!" Protesnya kesal.


"Untuk apa melihat harga bajumu? aku terlalu sibuk, tidak punya waktu untuk mengecek harga pakaian."


"Dan aku juga bukan tipe orang yang suka membaca majalah fashion, berkasku berjibun menunggu untuk ditandatangani."


"Jadi kamu bersedia tidak?" Tanya Nira lagi tanpa menoleh ke arahnya.


"Apa kamu tidak memberikan pilihan lain? selain menginap di sini? aku bukan tunawisma yang tidak punya tempat tinggal."


"Hem, aku melihatmu senang dan bahagia saat melihat wajahku. Aku pikir kamu penggemarku. Jadi kamu bisa menemuiku selama tiga hari di sini." Tersenyum penuh percaya diri.


Nira pikir ini adalah yang terbaik untuk menghentikan pria gila itu, dia dengan sengaja berusaha menahannya agar tidak menemui Irna ataupun mencari tahu tentangnya.


"Apa kamu pikir wajahmu begitu menarik perhatianku? waaah, siapa tadi namamu? Nira?"


"Tidak mau ya sudah, toh cuma berpura-pura menjadi pasangan. Daripada mondar-mandir kesana-kemari tidak jelas begitu." Melangkah menuju pintu.


"Oke, aku akan membantumu!" Ucapnya saat Nira sudah sampai di ambang pintu hendak keluar dari dalam ruangan.


Nira tersenyum penuh kemenangan, gadis itu membalikkan badannya melangkah menuju ke arah Javi. Kemudian meraba seluruh tubuhnya tanpa berkata apapun.


"Hei! apa yang kamu lakukan! kamu wanita apa pria sih, sembarangan meraba pria?!"

__ADS_1


Setelah menemukan yang dia cari, Nira tersenyum senang lalu mencoba membuka ponsel milik Javi.


"Apa kata sandinya?" Tanya Nira sambil berdiri di depan Javi dengan jarak yang sangat dekat. Javi menatap gadis polos di depannya. Pria itu belum pernah mendapatkan perlakuan hangat seperti itu.


Ruang sepi dalam relung hatinya tiba-tiba terisi sedikit demi sedikit tanpa dia sadari.


"Hei! apa kamu mendengarku? apa sandinya?" Menarik pipi Javi ke kiri dan ke kanan berusaha membangunkan pria itu dari lamunannya.


Javi mengulurkan tangannya pada Nira dan segera membuka kunci ponselnya.


"Ckrek! cekrek!" Nira merangkul bahunya seraya mengambil foto mereka berdua melalui ponsel Javi.


"Kenapa kamu mengambil foto kita berdua?" Tanyanya bingung.


"Untuk kamu lihat sebelum tidur." Jawabnya enteng, lalu mengirim foto tersebut pada ponsel miliknya sendiri.


"Lumayan buat kenang-kenangan, supaya teman-temanku gak bilang aku jomblo lagi!" Ujarnya seketika sambil tersenyum menatap foto pada layar ponselnya.


"Tunggu! kamu akan menggunakanku sebagai pacar pura-puramu?! dan menunjukkan fotoku pada teman-temanmu?!" Javi tersenyum tidak percaya, wajah tampannya dinilai begitu murah.


Bahkan jika dia mau dia bisa menunjuk sepuluh wanita untuk menjadi pasangannya.


"Kenapa? seharusnya kamu bangga aku membuatmu menjadi pasangan pura-puraku! Sekarang aku tanya, kamu jawab saja dengan jujur." Nira menarik sebuah kursi lalu duduk.


"Hem, tanyakan saja apa yang ingin kamu tahu."


"Apakah wajahku cantik?"


"Biasa saja."


"Kamu tidak jujur."


"Dari mana kamu tahu aku tidak jujur?"


"Dari caramu bicara." Berlagak seperti paranormal.


"Nona Nira, kita baru bertemu hari ini kan?" Balik bertanya pada Nira sambil mendekatkan wajahnya.


"Iya memang baru bertemu hari ini, mau apa kamu dekat-dekat, mau cium paksa? ini bukan sinetron romantis!" Ejeknya telak menusuk ulu hatinya. Javi segera menjauhkan wajahnya.


"Kenapa kamu begitu akrab denganku? padahal kita baru bertemu hari ini." Tanyanya lagi.


"Mendengar pertanyaan itu, sepertinya kamu tidak pernah punya teman." Nyengir melambaikan tangannya sambil berlalu.


"Hei aku belum selesai bicara!" Teriak Javi padanya. Dia bisa saja melesat tiba-tiba berada di depan Nira saat itu, tapi dia tidak ingin membuat gadis itu takut padanya.


"Aku masih harus menandatangani berkasku, besok aku telepon kamu tidak lupa dengan janjimu padaku kan?!" Tersenyum sambil memakai kacamata hitamnya kembali.


Javi melangkah keluar menuju lobi, dia mendapati Maya masih mencermati berkasnya di meja resepsionis.


Maya melihat Javi cengar-cengir sambil bersiul-siul santai keluar dari dalam Resort.


Gadis itu menggaruk kepalanya sendiri.


"Nira sehebat itukah? mengejutkan! bagaimana dia bisa membuat serigala buas tiba-tiba menjadi kucing rumahan?!" Menggelengkan kepalanya dengan takjub.


"Apa mungkin dia lebih hebat dari dokter Kaila? wah aku tidak bisa meremehkan gadis muda itu! aku harus selalu berada di pihaknya, Presdir juga sepertinya sangat mempercayainya sampai menyerahkan Resort ini padanya." Terus bergumam tanpa henti.


Fredian tertawa terpingkal-pingkal melihat mereka berdua dari cctv pada laptop di ruang kerjanya.


"Gadis ini lucu sekali, dia benar-benar berani seperti Irna waktu pertama kali bertemu denganku." Bisiknya seraya tersenyum.


"Pagi kakek!" Nyengir seraya masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Hahahaha!" Fredian tidak bisa menahan tawanya melihat senyuman cucu perempuannya itu.


"Kenapa kakek tertawa seperti itu?" Fredian segera menutup layar laptopnya menyembunyikannya dari Nira.


"Tentu saja karena ulah nenekmu, apalagi?" Ujarnya sambil mengusap bibirnya sendiri masih berusaha menahan tawa.


"Kek, ruangan meeting sudah siap." Ujarnya sambil tersenyum simpul, mengingat kejadian barusan.


Nira sengaja tidak menceritakan kejadian baru saja pada Fredian. Dia takut kakeknya akan cemburu karena ada pria lain mencari Irna. Gadis itu tidak ingin melihat mereka berdua bertengkar.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2