Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Sudden attack


__ADS_3

Irna sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit pagi ini. Dia sudah berdandan seperti biasanya.


Setelah selesai bercermin dia mengambil kunci mobilnya, melangkah keluar dari dalam rumah.


"Wuuushhh ssrak! Crush! Akkhh!" Irna melenting ke belakang, menghindari sasaran bidikan. Namun lengan kanannya tetap terkena goresan peluru tersebut.


"Dasar bodoh! Setelah menjadi vampir kamu masih saja tetap lemah." Ujar Angelina dari dalam tubuhnya.


"Berapa jumlah mereka?!" Irna mencoba berkomunikasi dengan Angelina.


"Gunakan instingmu! Aku akan mengendalikan gerakan mu!" Irna menganggukkan kepalanya, dia melihat beberapa Vampir berjubah hitam menerjangnya.


"Baju ini menyulitkan ku! Belum lagi lenganku masih terluka sekarang!" Geram Irna dalam hatinya.


"Sialan! Mereka cepat sekali!" Gerutu Irna, berkali-kali gadis itu hanya mampu untuk menghindari serangan.


"Slash, crat! Slash, crat! Slash! Bruk! Bruk! Bruk! Bruk!" Tubuhnya melenting melayang di udara, berada di bawah kendali Angelina, menebas seluruh penyerbu menggunakan senjata sabit bulan miliknya. Tubuh musuh jatuh bersamaan, berlumuran darah.


"Berhentilah mengeluh dan hadapi lawanmu!" Sergah Angelina dari dalam tubuhnya.


Irna mengeluarkan pedang kristal es miliknya, lalu mulai menebas musuh yang kembali datang menyerbu, mereka semua terus berdatangan. "Sriiing! Crasshhh!" Tubuh Irna begitu gesit, terus menyerang musuh tanpa henti.


"Pantas saja julukan itu! Dia benar-benar penguasa vampir! Ratu iblis!" Angelina terus menebas musuh hingga menjadi seonggok gunung mayat. Wajah Irna dan baju putihnya berlumuran darah segar.


Musuh masih berdatangan menyerang, lalu tiba-tiba muncul sosok bertopeng ikut masuk ke dalam medan pertempuran. Membantu Irna menyelesaikan pertempuran itu.


Tapi tetap saja kekuatan mereka tidak bisa mengatasi musuh yang begitu banyak.


Irna beradu punggung dengan seseorang yang menggunakan topeng tersebut.


Lalu satu detik kemudian muncul Fredian ikut membantu Irna dan pria bertopeng itu. "Kenapa dia menutupi wajahnya siapa pria hebat di belakangku ini?!" Irna bertanya-tanya dalam hatinya sambil terus menebas musuh yang menyerbu.


Fredian berkonsentrasi penuh menyerang seluruh kawanan vampir tersebut. Pria itu menggunakan peluru pembasmi vampir. Membidikkan dua pistolnya tanpa henti.


"Crush! Slash! Crush! Slash!"


Irna dan pria bertopeng itu memandangi vampir yang telah roboh akibat bidikan Fredian. Setiap tubuh yang tumbang telah lenyap menjadi abu.

__ADS_1


"Cara modern terkadang sangat membantu! Fiuuuuh!" Fredian meniup ujung pistolnya yang berasap. Semuanya sudah lenyap dari pandangan mereka bertiga.


"Ctik! Slash!" Pria bertopeng telah lenyap dari pandangan mata mereka berdua.


"Siapa dia?" Irna bertanya pada Fredian. Pria itu melemparkan kedua pistolnya di atas kepalanya sendiri, dua pistolnya lenyap begitu saja di udara.


"Kamu tidak mengenalinya? Padahal dia hanya menutupi sebagian wajahnya." Fredian menatap baju Irna berlumuran darah. Dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Dari aroma tubuhnya aku..." Irna meringis menatap wajah muram suaminya. Ketika dia mengatakan 'aroma tubuh.'


"Jadi siapa aroma tubuh itu!" Fredian berkacak pinggang melangkah mendekati Irna.


"Tidak ada, aku tidak mengenalinya!" Ralat Irna secepat mungkin, lalu kabur masuk ke dalam rumah untuk membersihkan tubuhnya yang penuh darah itu.


"Kenapa tidak ada pelayan lagi di sini?" Irna menatap Fredian yang sedang duduk di ruang tengah, gadis itu sedang mengeringkan rambutnya.


Suasana rumah tersebut begitu lenggang dan sunyi, benar-benar seperti rumah vampir tanpa ada aura kehidupan di dalam rumah megah dan besar tersebut.


Lampu kecil temaram menyinari jalan menuju gerbang, hanya cahaya remang-remang itu yang ada, saat malam mulai menyelimuti hutan.


Rumah megah di tengah hutan belantara, berdinding batu dan kaca.


Gadis cantik berkulit putih itu, suka sekali menikmati cahaya matahari.


"Aku pulangkan semuanya." Ucapnya santai.


"Lalu? Siapa yang akan membereskan rumah ini, jika tidak ada pembantu lagi?" Irna tidak mengerti kenapa Fredian tidak menyisakan satu orangpun di sana.


"Kamu bisa sihir, dengan jentikan jarimu pasti semuanya juga beres." Ujarnya santai.


Sebenarnya Fredian memulangkan mereka karena dia tidak ingin pelayannya mengetahui identitas Irna. Saat menjadi Angelina gadis itu selalu berada di luar kendali.


"Hem." Hanya kata itu yang meluncur dari bibir tipisnya. "Ah, aku akan pergi ke rumah sakit. Kamu tidak berniat pergi ke Resort?" Lanjut Irna sambil menundukkan kepalanya menatap wajah pria yang sedang bersandar di kursi duduk memunggunginya.


Fredian meraih kepalanya lalu mencium bibirnya. "Cup!" Kemudian melepaskannya lagi.


"Aku sudah menyelesaikan berkasku, tapi mungkin akan ada lagi hari ini."

__ADS_1


"Jadi? Haruskah aku meninggalkanmu sendirian di sini?" Tanya Irna pada Fredian. Dia tidak ingin mendengar kemarahan pria itu lagi.


"Aku akan mengantarmu pergi, ayo." Pria itu berdiri mengambil kunci mobil Irna di atas meja.


"Lalu kamu akan membawa mobilku ke Resort?"


Irna melangkah mengikutinya dari belakang. Gadis itu menyambar tasnya yang ada di atas meja.


"Iya nanti pulangnya aku jemput lagi."


"Kamu sudah tidak peduli dengan rumor jika kita terlihat bersama-sama?" Tanya Irna padanya, gadis itu menyentuh lengannya untuk melihat ekspresi wajah suaminya.


"Kamu harus melihat berita agar kamu tahu, rumor apa yang beredar memenuhi halaman utama." Fredian tersenyum lebar melihat wajah Irna mendadak pucat mendengar ucapannya. Dia tahu pasti Angelina telah berbuat sesuatu yang sangat memalukan dirinya.


"Sudahlah lupakan saja, ayo berangkat." Fredian membukakan pintu mobil untuknya, Irna masih berdiri mematung menatap penampilan dirinya di berita tersebut.


Bahkan video dirinya yang sedang marah-marah di dalam mall gara-gara tidak mau membayar pakaian yang dipakainya.


Dan dia juga melihat dirinya berada di dalam klub malam bersama rekan satu timnya yang selalu membantunya menangani proses operasi. Karena seingatnya dia sedang bersama dengan Fredian di sana semalam. Di dalam klub malam tersebut.


"Wah! Kamu keterlaluan sekali Angelina!" Bisik Irna dalam hatinya.


"Kamu tidak pernah bersenang-senang? Jadi aku terpaksa mengajarimu untuk menikmati hidup." Balas wanita itu dari dalam tubuhnya.


Irna melihat Fredian sudah menunggunya lama sekali, agar dia masuk ke dalam mobilnya. Akhirnya gadis itu melangkah masuk ke dalam.


"Kamu ingin aku menurunkan-mu di mana?" Tanya Fredian padanya.


"Di depan rumah sakit saja." Ucapnya seraya menatap ke luar kaca jendela mobilnya. Dia melihat beberapa bayangan hitam di sekitar perbatasan hutan saat mobil melaju keluar dari dalam hutan.


Fredian melihat wajah Irna begitu serius melihat ke arah pepohonan perbatasan.


"Kamu serius sekali? Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanyanya pada Irna, gadis itu kini menoleh ke belakang mobil. Dia melihat banyak sekali penyerbu.


Bersambung...


Likeny mana? Kembalikan like-kuuuu bawa ke siniiiiii! Cepaaattt!

__ADS_1


"Ini author apa dedemit? Maksa banget minta like?!" Gerutu Readers yang malas-malasan memencet tombol jempol di sudut kiri layar.


I like you Readers ❤️ like you ..


__ADS_2