
Bel berbunyi pelajaran hari itu selesai. Seluruh mahasiswa sudah bubar keluar dari dalam kelas. Royd masih merebahkan kepalanya di atas meja, pria itu enggan beranjak berdiri dari tempat duduknya
Dalam kepalanya hanya berisi Kania Aditama, bayangan gadis itu terus menari-nari di dalam ingatannya. Dia sudah tidak bisa berfikir dengan jernih, atau melakukan hal lain.
"Pak, ini materinya. Saya permisi pulang dulu." Pria itu tidak menjawab, masih menatap kosong ke arah lantai. Dia berharap Kania datang dan bertanya padanya. Tapi sepertinya harapannya sia-sia belakang.
Setelah satu jam menunggu, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Apalagi sampai melangkah mendekatinya. Gadis itu sudah pulang ke apartemennya satu jam yang lalu.
"Apakah aku sudah gila? bagaimana mungkin aku sampai seperti ini?" Keluhnya pada diri sendiri sambil mengusap wajahnya.
Dia beranjak berdiri, melangkah keluar dari dalam ruangan.
Sore itu Irna sedang duduk di beranda samping rumah Fredian, seperti biasanya pria itu turut serta duduk di sebelahnya.
"Bagaimana rasanya menjadi pengangguran?" Gurau Fredian karena Irna ikut mengambil cuti hari itu.
Pria itu tersenyum menatap istrinya berkali-kali menghela nafas panjang karena jenuh di rumah seharian, tanpa bisa melakukan aktivitas apapun.
Di rumah besar Fredian segala hal sudah ditangani oleh berpuluh-puluh pelayan. Tidak satu orangpun mengijinkan dirinya untuk mengambil sesuatu sendiri. Bahkan menyirsir rambutnya sendiripun juga sudah ada seseorang yang melakukan itu untuknya.
Fredian meraih kepalanya dan merebahkan di atas pangkuannya. Pria itu membelai rambut panjangnya yang terurai di atas pangkuannya.
"Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat sekarang? aku akan mengantarmu jika kamu mau?" Tawarnya pada Irna
Gadis itu masih terdiam, dia tidak menjawab tawaran suaminya.
Sesaat kemudian Fredian merundukkan badannya untuk mencium bibirnya. Beberapa detik kemudian melepaskan ciumannya sambil menatap wajah Irna lekat-lekat.
Irna membalas tatapan matanya, wajah gadis itu terlihat datar tanpa ekspresi sama sekali. Seolah-olah ciuman barusan seperti seekor nyamuk yang hinggap lalu terbang lagi.
"Akh! lepaskan hidungku!" Pekiknya saat Fredian dengan gemas mencubit ujung hidungnya sampai memerah.
"Sampai kapan kamu akan diam seperti patung?" Tanyanya kemudian sambil melepaskan cubitannya dari ujung hidung istrinya.
Irna mengusap ujung hidungnya yang memerah kemudian berkata.
"Sampai aku ingin bicara padamu."
"Akkkh! apa yang kamu lakukan?" Fredian ganti memekik menggelinjang karena Irna sengaja memelintir pinggangnya.
Irna hanya mengangkat kedua alisnya seraya tersenyum menatap pria itu meringis menahan geli dan nyeri.
"Aku cuma memastikan otot pinggangmu apakah sudah terlalu lunak belakangan ini." Memejamkan matanya, enggan melepaskan cubitannya dari pinggang suaminya.
"Akh! Irna, jangan bercanda lagi." Masih menggelinjang kegelian menahan tangan Irna menjauhkan dari pinggangnya.
"Apakah seru sekali mengerjaiku?" Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya lagi.
"Tidak ada yang seru." Irna segera bangkit dari pangkuan Fredian karena wajah pria itu terlihat serius.
Irna memalingkan wajahnya ke arah lain, dia sedikit takut karena pria itu tidak segan-segan menghempaskan tubuhnya ke lantai saat dia melawannya terakhir kali dua puluh tahun yang lalu.
Sampai sekarang gadis itu masih ragu, apakah Fredian sudah berhasil menguasai jiwanya sepenuhnya, atau masih tetap berebut seperti waktu silam.
Dia tidak ingin jika tiba-tiba pria itu mengatainya atau meledeknya karena mendadak tidak ingat dengan perjalanan cinta mereka berdua.
"Kamu takut padaku?" Fredian menggeser duduknya lebih dekat dengan dirinya. Pria itu menatap cermat wajah Irna seperti sinar X-ray sedang mengambil potret menembus sampai ke tulang.
"Hahahaha, apa yang kamu bicarakan? mana mungkin aku takut denganmu!" Irna mengibaskan tangannya di depan wajah Fredian pura-pura bersikap normal seperti sebelumnya.
"Kamu terlihat takut, sangat takut!" Semakin mendekatkan wajahnya.
"Cup!" Irna mencium bibirnya secepat kilat untuk mengusir rasa penasaran pria di depannya. Tapi sepertinya itu tidak berpengaruh sama sekali, dia terlihat biasa saja.
"Cup! Cup! Mmm!" Irna menciumnya lagi dua kali dan ketiga kalinya Fredian menahan kepalanya.
Lima detik kemudian pria itu melepaskan ciumannya. Menatap wajah Irna yang semakin pucat pasi.
"Apakah kamu mencoba merayuku?!" Tanyanya sambil tersenyum.
"Apa ini? dia hilang ingatan lagi?!" Gerutu Irna seraya menepuk kedua bahu Fredian.
"Aku hanya bercanda." Ucapnya segera saat menatap wajah panik istri tercintanya.
"Syukurlah, kamu memperlakukanku sangat buruk ketika hilang ingatan." Ujarnya sambil menutup sebagian wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Mana mungkin aku melupakan istriku yang sangat cantik, setiap hari aku selalu merindukanmu.." Bisiknya seraya meletakkan kepalanya di bahu Irna.
Irna menyandarkan kepalanya di atas kepala Fredian. Mereka berdua tersenyum sambil berpegangan tangan.
"Romantis sekali Nek!" Nira melompat turun dari mobilnya menuju ke arah mereka berdua. Gadis itu memakai celana jeans robek bagian lututnya. Dengan atasan kemeja putih lengan panjang yang digulung sebatas lengan, rambutnya meriap meliuk-liuk tertiup angin senja menutupi sebagian wajahnya.
Gadis itu terlihat sangat manis bagai lukisan puteri yang sedang menyamar sebagai manusia awam. Bibirnya tipis berwarna merah alami, sangat kontras dengan kulitnya yang bersih cerah.
Nira terlihat sangat cantik walaupun tanpa riasan. Wajahnya bagai pinang dibelah dua jika disandingkan dengan Irna saat masih di usia sembilan belas tahun.
Tatapan mata yang tajam memikat, tapi tidak mengundang perhatian karena penampilan yang ala kadarnya. Gaya khasnya yang cuek tidak peduli pada situasi di sekitarnya membuat dirinya lebih nyaman.
Gadis itu mengukir senyuman manis saat sampai di depan kedua kakek neneknya.
"Apakah ada masalah di Resort?" Tanya Fredian pada gadis itu, dia tidak ingin mengangkat kepalanya dari bahu Irna malah memeluk tubuhnya erat.
"Astaga Kakek! sengaja sekali pamer! tidak ada masalah sama sekali." Dengus gadis itu sambil berjalan masuk ke dalam rumah seraya bersiul-siul santai menuju ke dapur.
Nira memerintahkan pelayan untuk menyiapkan makan malam layaknya tuan rumah. Dia bilang papa dan mamanya akan berkunjung ke rumah malam itu.
Dan satu jam kemudian Alfred dan Sandira sudah sampai di rumah Fredian. Mereka berlima menikmati makan malam bersama.
"Ma, aku dengar Kania dikejar-kejar putra keluarga Carney." Cetus Alfred pada Irna setelah menyelesaikan makannya.
Alfred tersenyum melihat tingkah putri sulungnya. Dia melihat gadis itu terus mengaduk makanan di atas piring.
"Pasti dari David." Irna ikut tersenyum menatap ke arah Nira yang masih menusuk-nusuk makanannya dengan garpunya.
"Nira? apa ada masalah?" Fredian melontarkan pertanyaan pada gadis itu karena dia terlihat kesal saat Alfred membahas nama keluarga Carney.
"Dia itu pria menyebalkan dan terus menguntit Kania sepanjang hari. Aku sudah memberikan pelajaran padanya, tapi sepertinya dia tidak jera." Jelasnya sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Sudah waktunya yang dewasa mengambil tempatnya sendiri." Sahut Fredian sambil melirik ke arah Irna.
Irna segera melengos ke arah lain mendapatkan isyarat dari tatapan mata Fredian.
"Kalian sampai kapan akan terus bermain petak umpet seperti ini, pa? ma?" Alfred nyengir melihat kelakuan kedua orang tuanya yang sama seperti saat mereka berusia tiga puluh tahun.
"Kenapa? apa kamu cemburu padaku?" Tanya Fredian pada Alfred, seraya menyeringai lebar menatap wajah Irna yang semakin merah padam menahan malu.
Alfred dan Sandira tersenyum menatap papanya seperti itu. Mereka tahu perjalanan dan lika-liku kisah mereka sejak awal, hingga bisa memaklumi hal tersebut.
Fredian melambaikan tangannya melepas kepergian mereka bertiga. Irna segera masuk kembali ke dalam rumah.
"Triiiing!" Ponsel Fredian tiba-tiba berdering nyaring.
"Sudah hampir jam dua belas malam, siapa yang menelepon?" Fredian melihat ke layar kaca ponselnya.
"Siapa?" Irna mencuri lihat ke layar ponsel Fredian. Tidak ada nama.
Fredian duduk di sofa ruang tengah, Irna hendak melangkah masuk ke dalam kamar tapi Fredian mencegahnya.
"Halo? saya bicara dengan siapa?" Jawab Fredian sambil mencium pipi Irna, menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Ah, Julia." Ujar Fredian menjawab telepon dari seberang lalu sengaja menggigit leher jenjang Irna dan membuatnya memekik kecil.
"Akh! sakit! jangan!" Suara Irna terdengar di telepon seberang.
"Apakah anda sedang bersama seseorang?" Tanya Julia padanya, gadis itu ingin memastikan apa yang didengarnya barusan.
"Hem, saya sedang bersama wanita cantik sekarang." Mengusap darah dari ujung bibirnya, kembali menghisap darah dari luka di leher Irna.
Irna memejamkan matanya merasakan nyeri pada lehernya.
"Sakit sekali!" Teriak Irna sudah tidak sabar lagi. Batu kali ini Fredian menggigit lehernya kembali dan meminum darahnya setelah pertemuan awal pertama kalinya di rumah Tante Rina.
Pria itu sengaja mengulur waktu, untuk membuat Julia tahu diri dan berhenti menghubungi dirinya. Tapi sepertinya gadis itu tidak menyerah cepat.
"Saya sudah berada di luar rumah anda, Tuan Ronal, bisakah anda keluar sebentar?" Mendengar itu, Fredian buru-buru melepaskan pelukannya dari tubuh Irna.
Irna ingin mengusap bekas luka pada lehernya, Fredian menahan tangannya agar tidak menghilangkan luka tersebut. Pria itu menutup telepon dari Julia.
"Julia ada di sini." Gumamnya pada Irna.
"Lalu? apa hubungannya dengan diriku?" Tanya Irna cuek.
__ADS_1
"Kamu yang mengijinkannya mendekatiku, dia mengejarku jauh-jauh kemari." Ujarnya lagi sambil meremas bahu Irna.
"Tok! tok! tok!" Suara ketukan pintu rumah Fredian.
"Itu pasti dia. Kamu mau menemuinya bersamaku, bukalah pintunya aku rapikan pakaianku dulu?" Tanya Fredian sambil menatap tajam ke arahnya.
Melihat tatapan matanya, Irna berjalan menuju pintu, gadis itu masih memakai gaun tipisnya. Saat membuka pintu dia terkejut setengah mati.
Bukan karena kehadiran Julia tapi karena kehadiran pria yang sekarang berdiri sambil mengusap bibirnya dengan ujung jari telunjuknya. Matanya nyalang bagai elang siap menerkam mangsanya.
Julia datang bersama Javi Martinez. Pria itu menatap dengan mata jelalatan pada bekas merah di leher jenjang Irna. Lalu menatap lekukan tubuh sempurna di balik gaun tipisnya.
Dua kaki mulusnya tanpa alas kaki melangkah gemerincing di suasana senyap malam itu berhasil menggelitik relung-relung hati Javi. Gadis itu tidak menyangka akan melihat pria menjijikkan itu di depannya saat itu juga.
Dia tanpa persiapan sama sekali, melangkah ke arah pintu kemudian memperlihatkan sisi dirinya yang tidak seharusnya diperlihatkan pada pria itu.
"Wah! dokter Kaila anda terlihat sangat cantik sekali." Bicara tanpa rasa malu sama sekali. Irna tahu Javi Martinez pasti telah memaksa Julia untuk menghubungi Fredian agar bisa bertamu ke sana.
Melihat itu Irna menelan ludahnya sendiri yang terasa pahit seketika itu. Irna mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam lalu buru-buru meraih mantel bulu di ruang tengah untuk menutupi gaun transparan merah miliknya.
Fredian melangkah menuju ke arah Irna, dia heran melihat Irna menundukkan kepalanya. Fredian memeluk pinggangnya kemudian mengusap pipinya di depan tamunya.
"Kenapa sayang?" Tanyanya masih belum mengerti, Irna memberikan isyarat untuk segera melihat tamunya.
Fredian lumayan terkejut bercampur kesal karena melihat penampilan Irna ala kadarnya barusan, apalagi di depan Javi Martinez.
Awalnya dia mengira Julia sendirian datang ke rumahnya malam itu. Ternyata tidak!
"Pasti pria itu semakin menggila sekarang!" Gumamnya sambil meremas kedua bahu Irna melampiaskan kekesalannya.
"Akh!" Irna kembali memekik pelan.
Mendengar pekikan Irna Javi semakin tertarik untuk mendekati gadis itu di lain waktu. Dia menunggu waktu yang tepat saat gadis itu tengah sendirian.
Dia ingin mendengar pekikan gadis cantik yang terus menarik hatinya dan membuatnya gelisah sepanjang malam terus memikirkannya.
"Masuklah ke dalam sayang." Perintahnya pada Irna.
"Em, tuan Ronal. Saya kemari untuk menemui dokter Kaila." Ujar Javi segera saat Irna melangkah masuk menuju kamarnya.
"Dia sedang kurang sehat sekarang, harap anda memakluminya. Dan anda nona Julia?" Beralih menatap wajah Julia.
Gadis itu terlihat sangat ketakutan, jelas sekali jika kedatangannya ke rumah Fredian malam itu adalah perintah dari Javi Martinez.
"Saya hanya ingin melihat anda tuan Ronal. Saya ingin memberikan ini." Mengulurkan sebuah kotak kecil pada Fredian.
"Maaf nona Julia, bukannya saya menolak. Tapi saya tidak bisa menerima pemberian ini." Mendorong kembali kotak tersebut ke arah Julia.
Julia kembali memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya.
"Apakah ada keperluan lain? ini sudah sangat malam saya ingin menemani nona Ratu." Ujarnya sambil tersenyum berusaha mengusir mereka berdua dari rumahnya.
"Baiklah kalau begitu kami undur diri sekarang." Javi masih jelalatan menatap ke arah pintu kamar yang sudah tertutup, pria itu membayangkan bagaimana posisi Irna yang sedang terlelap di dalam sana.
Fredian menatap tajam ke arah pria di depannya itu, dia melihat Javi berkali-kali menelan ludahnya sendiri. Jika tidak ada Julia mungkin sudah dicekiknya pria di depannya itu sampai mati.
Rian yang sudah bertahun-tahun bersama Irna juga tidak seterang itu mengungkapkan perasaannya padanya. Tatapan mata Javi pada Irna seolah-olah melihat sepiring makanan yang siap untuk dilahap begitu saja.
Fredian sangat jijik sekali melihatnya. Setelah pria itu pergi dia masuk ke dalam kamarnya. Fredian mendapati Irna sedang duduk memeluk lututnya di tengah tempat tidurnya.
"Kenapa kamu tidak tidur?" Fredian membelai rambutnya.
"Aku akan tidur sekarang." Irna segera merebahkan tubuhnya.
"Apa kamu takut pada binatang tadi?" Bisiknya di telinga Irna, pria itu juga merebahkan tubuhnya di sebelahnya.
"Aku ratu iblis, bisa membunuhnya kapan saja. Hanya saja aku teringat dengan Wilson, tatapan matanya sama seperti dia.." Irna menoleh ke arah suaminya.
Gadis itu masih ingat dengan kejadian waktu itu, Wilson hampir menghisap habis darah di dalam tubuhnya hingga membuatnya tidak berdaya sama sekali.
Dan membuat keluarga mereka berantakan hancur berkeping-keping.
"Apapun yang terjadi nanti, jangan pergi dariku.." Irna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Pria itu tersenyum mengusap air mata Irna yang sudah merembes jatuh melalui celah-celah bulu matanya.
__ADS_1
"Tidurlah, tidak akan ada apa-apa." Merengkuh Irna dalam pelukannya. Mengusap punggungnya sampai gadis itu benar-benar telah terlelap.
Bersambung....