
"Jangan menangis, oke?" Royd mengusap kedua pipinya dengan jemari tangannya.
"Ini kenyataan Royd." Kania mengangkat pinggulnya dari pangkuan pria itu, beralih duduk di belakang kemudi.
Gadis itu menyalakan mobilnya dan melaju menuju apartemen miliknya. Dia enggan membuka percakapan lagi setelah menyatakan segala kebenaran, kebenaran antara mereka berdua.
"Turunlah." Perintah gadis itu dengan nada datar.
"Kamu mau kemana? Aku akan mengantarmu pergi." Kembali mendekatkan wajahnya hendak mencium bibirnya. Tapi Kania sengaja melengos hingga ciumannya mengenai pipi kirinya.
"Aku sudah bilang, aku harus pergi ke suatu tempat. Turunlah Royd, berhentilah mengkhawatirkan ku." Ucapnya lagi padanya.
"Oke aku akan turun. Braaakkkk!" Royd turun dari dalam mobilnya, Kania melanjutkan perjalanannya menuju tempat para anggota vampir berkumpul.
Lokasi tersebut berada di area AX, gadis itu melompat turun dari dalam mobilnya. Kania sudah mengenakan jubah hitamnya, dengan tudung kepala.
"Kita diserang pemburu putri!" Kania melihat anggota vampir terluka parah, gadis itu melihat beberapa Vampir masih terus bertempur.
Dia memakai cadar mata untuk menyamarkan dirinya, dan mulai menerjang menghabisi seluruh kawanan pemburu vampir di sana.
"Pertempuran ini, akhirnya terjadi juga! Padahal barusan aku menyinggungnya dengan pria itu!" Gumam Kania pada dirinya sendiri.
Salah anggota pemburu sudah menghubungi Royd Carney, pria itu langsung menuju lokasi. Di sana dia melihat gadis mengenakan jubah hitam menghabisi rekannya.
Royd menggenggam pedang pembantai. Dia gemetar merasakan bagaimana rasanya kemelut dalam benaknya. "Haruskah aku melawannya? Dia adalah lawanku sekarang! Tapi dia juga wanita yang aku cintai, lebih dari sekedar wanita yang melayaniku di atas ranjang!" Hatinya benar-benar gelisah.
Kania melihat melalui ekor matanya, dia melihat Royd Carney tak jauh dari tempatnya berdiri. Pria itu belum mengambil tindakan sama sekali.
"Bos! Wanita vampir itu sudah melukai hampir seluruh anggota pemburu!" Teriaknya pada Royd.
"Apakah ada yang mati?"
"Tidak ada, gadis itu hanya membuat kami lumpuh hingga tidak bisa melanjutkan penyerangan." Jawab ketua pemburu, yang memimpin pasukan pemburu untuk melakukan penyerangan hari itu.
"Dia tidak membunuh kami, kamu mencintaiku Kania!" Gumam Royd dalam hatinya.
"Rawat dan tarik mundur pasukan!" Teriaknya pada pria di depannya itu. Mereka akhirnya membubarkan diri.
Ada sepuluh vampir yang telah berubah menjadi asap. "Kenapa putri tidak membunuhnya!" Sergah salah seorang vampir pengikut Kania, dia tidak terima karena Kania tidak membalas dengan membunuh mereka.
"Aku akan menjinakkan mereka, agar tidak menyerang kembali. Kalian kembalilah sekarang." Perintahnya pada para vampir yang masih tersisa.
"Baik putri!" Mereka meninggalkan Kania sendirian di sana.
__ADS_1
Kini tinggal dirinya sendiri dan Royd Carney.
Kania membalikkan badannya melangkah pergi dari area pertempuran. Dia pikir Royd tidak akan melukainya.
"Jrakkk! Ukh!" Tapi Kania salah dia melihat pistol berada di tangan pria itu, seseorang menembakkan peluru ke arah punggungnya. Kania menoleh ke arahnya.
"Royd kamu? Uhk! Uhk!" Kania terbatuk-batuk, gadis itu memuntahkan darah. Dia terhuyung jatuh.
"Kamu brengsek!" Gumam gadis itu sambil tersenyum sinis. Lalu menjentikkan jarinya dan lenyap dari pandangan mata Royd Carney.
"Aku pikir kamu tidak akan menyerang sampai akhir!" Carney menepuk bahu putranya. Dia tahu Royd akhir-akhir ini sering bersama gadis bernama Kania. Yang tidak lain adalah putri vampir.
Royd membawa pistol, tapi bukan dia yang membidik Kania. Tapi Carney ayahnya.
"Aku mencintainya!" Teriak Royd pada ayahnya.
"Kalian tidak bisa bersama! Kamu harus sadar! Kita adalah pemburu! Dan gadis itu adalah buruan kita!" Tegas Carney pada putra satu-satunya itu.
"Tidak! Aku sudah berniat untuk menikahinya!" Sergahnya dengan gusar. Lalu melompat masuk ke dalam mobilnya.
"Royd!" Teriakan ayahnya tidak lagi didengarnya, pria itu segera melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.
Sesampainya di sana, dia segera menerjang masuk ke dalam kamar Kania. Di lihatnya gadis itu sedang tertelungkup di lantai kamarnya, punggungnya berdarah akibat luka tembakan.
"Krrrkkkk! Uhk! Ukh!" Kania mencengkeram erat leher Royd.
"Untuk apa kamu kemari? Belum puas tidak melihatku mati?!"
"Kania, uhkkk! Dengarkan aku!"
"Apalagi? Rayuan gombalmu? Pria kurang ajar! Krrrrkkkk!" Kania semakin erat mencekik lehernya.
"Kania aku mencintaimu.. bruuk!" Pria itu jatuh menimpanya.
"Kamu mati? Secepat ini? Aku tidak mencekikmu sungguhan! Hei jangan bercanda! Royd bangun!" Kania mengguncang-guncang tubuh Royd yang masih menimpa tubuhnya.
"Royd bangun! Aduh! Punggungku! Sakit sekali, sepertinya aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.." Kania pura-pura merintih-rintih, mendengar itu Royd segera bangun. Pria itu berniat mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidurnya.
"Dasar penipu!" Teriak Kania padanya.
"Marahlah nanti, sekarang biarkan aku mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam punggungmu terlebih dahulu." Ujarnya sambil mengeluarkan peralatan medis dari dalam koper yang dibawanya.
"Untuk apa? Bukankah kamu ingin melihatku mati?" Desak Kania sambil memegang pergelangan tangannya. Untuk menghentikannya membuka bajunya.
__ADS_1
Royd menggelengkan kepalanya sambil mendongak, "Kamu benar-benar berpikir aku berniat untuk membunuhmu?"
"Lalu apa lagi?!" Kania melelehkan air matanya, air matanya terus mengalir tanpa henti.
"Maafkan aku Kania!" Pria itu meraih kepalanya dan mendaratkan ciuman di bibirnya.
Kania terus menangis, dalam pagutan bibir pria yang seharusnya menjadi lawannya di medan pertempuran itu.
Royd menancapkan jarum suntik bius menginjeksikan di lengan kiri gadis itu sembari memagut bibirnya.
Setelah Kania hilang kesadaran. Dia segera membuka baju gadis itu mengeluarkan peluru dari dalam punggungnya.
"Hah! Akhirnya selesai juga!" Royd selesai memperban punggungnya, pria itu duduk di lantai bersandar di samping tempat tidur Kania.
Beberapa jam kemudian gadis itu tersadar, dia mengerjapkan matanya melihat Royd Carney hanya melilitkan handuk di pinggang. Tubuhnya basah kuyup, menatap ke arahnya.
Kania sendiri mendapati tubuhnya tanpa baju di balik selimut.
"Apa yang kamu lakukan? Kemana semua pakaianku?" Kania menarik selimutnya lebih rapat menutupi tubuhnya.
"Aku membersihkan badanmu dengan air hangat, jadi aku melepaskan seluruh pakaianmu." Jelasnya sambil merundukkan badannya di atas tubuh Kania.
Tetesan air dari rambutnya jatuh di atas wajah Kania.
"Hanya itu saja?"
"Hem." Tersenyum menatap wajah Kania yang sudah tidak pucat seperti sebelumnya.
"Kenapa kamu masih tinggal di sini?" Kania melengos karena tatapan mata Royd semakin tajam menghujam ke sudut hatinya.
"Tentu saja untuk menemani wanitaku, apa lagi?" Berbisik lembut di telinga Kania.
Kania menoleh, hingga bibir mereka berbenturan tanpa sengaja. Kali ini Kania merasakan hembusan nafas pria itu lembut menyapu wajahnya.
"Kania?"
Gadis itu mendongak menatap pada kedua matanya, dia tidak tahu apa yang dia inginkan. Kenapa pria ini terus menjaganya? Dan menemaninya.
"Aku mencintaimu.. " Bisiknya lagi kemudian memagut lembut bibirnya.
Bersambung...
Tinggalkan like sebelum pergi, jangan lupa vote juga ya? Tunggu episode selanjutnya, I love you Readers..
__ADS_1