
"Klik! krataaak" Suara kunci berputar dan pintu terbuka.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Irna memejamkan matanya rapat-rapat.
"Pria sialan itu memiliki kunci cadangan!" Umpatnya sambil meremas selimut yang menutupi kepalanya.
Jermy duduk di tepi tempat tidurnya.
"Aku tahu kamu belum tidur." Ujarnya santai.
Irna diam saja, dia sangat malas bercakap-cakap dengan pria yang berada di sampingnya itu.
"Kamu berencana untuk mengabaikan diriku lagi?" Menyentuh punggung Irna, membuat gadis itu terkejut.
Irna segera bangkit dari tidurnya dan duduk di hadapan Jermy.
"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan dan segera kembali ke dalam kamarmu! kamu mengganggu waktu istirahatku."
"Kenapa kamu begitu berubah? kamu dahulu tidak membenciku seperti ini."
"Kamu yang membuat diriku berubah! bukan aku yang berubah." Menarik ujung bibirnya tersenyum sinis.
"Tratak! tak! tak! tak!" Suara berisik diluar kaca jendela vila, tepatnya di luar jendela kamar Irna.
"Apa itu kenapa berisik sekali?!" Gumam Jermy sambil beranjak berdiri menuju jendela untuk memeriksa.
Pria itu melihat bayangan hitam berkelebat memiliki kuku tajam dan panjang.
Irna tahu kehadiran mahluk tersebut, mereka telah mengendus darah dari dalam tubuhnya.
"Jangan buka jendela!!" Teriaknya pada Jermy. Pria itu ingin memeriksa keadaan di luar tapi Irna segera menghentikan dirinya.
"Kenapa?"
"Lihat saja nanti kamu akan tahu!"
Irna beranjak bangun dari tempat tidurnya menuju tasnya di depan meja rias dia segera menyemprotkan parfum pada tubuhnya, agar membutakan mahluk mengerikan itu dan membuat mereka tidak bisa mengenali dirinya.
"Bukalah jendelanya!" Perintahnya pada Jermy.
Jermy segera membuka jendela, dia melihat mahluk berterbangan tanpa kaki tanpa kornea menghampiri tubuh Irna.
Ada sekitar lima puluh dan hampir memenuhi seluruh ruangan. Jermy melihat kuku-kuku tajam mereka sedang menyentuh rambut Irna.
Irna berdiri tegak seolah-olah telah menyerahkan dirinya pada mereka.
Anehnya mereka tidak menggigit dan hanya mengendusnya. Beberapa menit kemudian mereka kembali terbang keluar dari ruangan tersebut.
"Apa itu tadi!?" Jermy segera menutup pintu jendela setelah mereka semua keluar dari dalam kamar Irna.
"Mereka pengawal pribadiku, jika kamu mau aku akan memintanya untuk menemani tidurmu malam ini agar kamu tidak kesepian, dan terus mengusik waktu istirahatku."
Ujarnya cuek lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Mengerikan sekali! mereka memiliki taring yang sangat panjang. Mereka juga memiliki kuku yang sangat panjang."
Jermy membayangkan mahluk itu merobek-robek kulitnya, hingga membuatnya hampir terkencing di celana.
Pria itu bergegas pergi dari tempat tidur Irna menuju tempat tidurnya sendiri.
Pagi hari..
Perjalanan di dalam pesawat tidak ada halangan sama sekali dan Jermy juga tidak mengganggunya seperti waktu keberangkatan kemarin.
Saat hendak naik ke mobil pengawal Irna menghentikan langkahnya, gadis itu melangkah menuju Jermy.
"Bisakah aku mengakhiri kontrak kerja sama antara kita." Ujarnya datar tanpa senyuman.
"Tidak bisa." Tegas Jermy menatap tajam wajah Irna.
"Jika tidak bisa, aku mungkin akan meminta pengawalku untuk mengirimkan pesan padamu." Ucapan terakhir Irna mendadak membuat tenggorokan Jermy tercekat.
Irna tidak pernah melakukan pemotretan dengan harga setinggi itu. Itu sangat melebihi batas kewajaran.
"Aku hanya akan mengadakan pemotretan ulang sebulan sekali."
Ujarnya menawar permintaan Irna, gadis itu ingin sesegera mungkin mengakhiri kerja sama yang tiada ujungnya itu.
Sangat jelas bahwa Jermy hanya ingin membuang uangnya dengan sia-sia saja. Memberikan seluruh perhiasan berlian yang digunakan untuk pemotretan senilai lima puluh milyar.
Belum lagi setiap pemotretan dia mentransfer uang sebesar dua milyar ke rekening Irna. Jika Irna mau dia tidak akan menolak setiap minggunya untuk melakukan pemotretan itu.
Pria itu dengan penuh semangat sengaja membanjiri Irna dengan berlian dan uang.
Seolah-olah Irna bukan orang lain lagi, dan itu membuat Irna sangat tidak nyaman berada disekitar pria itu sepanjang hari setiap minggunya.
__ADS_1
Irna melihat kedatangan Fredian, pria itu menjemputnya di bandara.
Irna tidak menjawab tawaran dari Jermy dan bergegas pergi menuju mobil Fredian. Jermy melihat Irna mengabaikannya lagi, dengan tidak sabar mengejar Irna untuk menghentikan langkahnya.
"Jawab dulu tawaranku! atau aku akan melakukan sesuatu yang sangat memalukan di sini." Mendekat perlahan-lahan, Irna melangkah mundur menjauh darinya.
"Aku akan memikirkanya." Ujar Irna segera.
"Aku mau jawabannya sekarang!" Mendekat lagi.
"Oke! satu bulan sekali." Jawab Irna sambil mendorong tubuh Jermy ke samping, lalu berlari kecil melanjutkan langkahnya menuju mobil Fredian.
Irna naik ke dalam mobil Fredian, Jermy Erlando berdiri mematung menatap kepergiannya.
"Suatu saat nanti aku pasti akan membuatmu berlari ke arahku dan memelukku!" Tersenyum penuh keyakinan.
"Bagaimana pemotretan kemarin?" Tanya Fredian pada Irna.
"Biasa-biasa saja tidak ada yang spesial untuk diceritakan." Ujar Irna melemparkan senyum manis pada suaminya.
Fredian memencet tombol ponselnya, dan dari sana keluar percakapan antara Irna dan Jermy sepanjang waktu berada di lokasi pemotretan.
Irna sedikit terkejut dan mencermati wajah Fredian. Terlihat jelas kecemburuan ada di dalam sinar matanya.
Perlahan-lahan Fredian menambah laju kecepatan mobilnya.
"Apakah kamu tidak ingin menjelaskan apapun padaku?" Tanyanya dengan nada suara dingin.
"Bagaimana aku akan menjelaskan semuanya ketika kamu sudah tidak mempercayaiku.." Ujar Irna merasa hatinya teriris.
"Apakah kamu akan kembali menepisku pergi setelah tiga kali menikah denganmu?" Tanya Irna dengan mata berkaca-kaca.
"Jika kamu menepisku kembali maka aku tidak akan pernah kembali padamu, apapun keadaanmu!" Ancam Irna pada pria yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu.
"Aku mencintaimu, aku cemburu padamu. Bagaimana mungkin aku tidak cemburu karena Istriku tidur di bahu pria lain, lalu dia berada dalam gendongannya, bahkan pria itu ******* bibirnya!" Teriaknya sambil memegangi kepalanya.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang? bagaimana caranya agar kamu mempercayaiku lagi.. apakah aku tidak punya kesempatan sedikitpun? aku bukan dengan sengaja melakukannya!"
Fredian tidak menjawab protes dari Irna, pria itu diam seribu bahasa. Irna paling tidak tahan dicurigai, dan direndahkan. Apalagi suami yang dicintainya mengabaikannya sekarang.
"Turunkan aku di rumahku." Pintanya sambil menatap kosong ke luar kaca mobilnya.
Fredian tidak mendengarkan permintaan Irna dia malah membawa mobilnya menuju ke Reshort.
Pria itu tahu Irna akan mengambil jarak dengannya dan lambat laun terluka lalu pergi entah kemana.
Kecantikan gadis itu yang membuat hatinya selalu merasa sangat cemburu. Sekian banyak pria selalu datang silih berganti memperebutkannya.
Dan bukan sekali dua kali hampir membuat dia kehilangan nyawanya demi menyelamatkan gadis di sampingnya saat ini.
"Kenapa malah membawaku ke Reshort?" Tanyanya dan tetap tidak mendapatkan jawaban apapun dari Fredian.
Irna berlari kecil mengikuti langkahnya menuju ruang kerjanya.
"Sampai kapan kamu akan terus mendiamkanku!?" Irna menarik lengannya saat mereka berdua sudah berada di dalam ruangan.
Fredian hanya menatap wajah Irna sejenak lalu duduk di kursi mulai membuka berkas-berkas di atas meja.
"Freeed!" Teriaknya tidak sabar lagi sambil mengguncang lengannya ke kiri dan ke kanan, membuatnya tidak bisa menandatangani berkasnya.
"Aku harus bekerja, kamu beristirahatlah dulu, oke?" Ujarnya masih tetap menekuni berkasnya di atas meja.
"Aku tidak lelah sama sekali!" Ujarnya merajuk, lalu hendak melangkah keluar dari dalam ruangan kerjanya.
Fredian segera berlari mengejarnya dan menggendong tubuhnya melemparkan di atas tempat tidur dan menyelimutinya.
"Gadis baik! tidurlah sebentar dan biarkan aku menyelesaikan berkasku dulu. Aku dua hari mengabaikannya karena mendengar percakapan antara kamu dengan pria barbar itu!" Gerutu Fredian sambil menunggu reaksi dari Irna.
Irna meraih kepala suaminya dan mencium bibirnya lalu mengangguk.
Mendengar ucapan itu Irna tahu Fredian hanya tidak ingin kehilangan dirinya lagi. Dia selalu mencintainya.
Dan ternyata bukan hanya Fredian yang mendengar percakapan antara dirinya dengan Jermy tapi juga Rian Aditama.
Kedua pria itu berada di rumah Irna, mereka berdua hampir dua hari mengabaikan pekerjaan mereka dan waktunya dihabiskan hanya demi mendengarkan suara Irna dan Jermy.
Rian yang terus menerus memukul menggebrak meja makan karena kesal, sedangkan Fredian berkali kali membanting guci dan kursi.
Selama dua hari mereka berdua berhasil seratus persen memporak-porandakan rumah megah Irna Damayanti.
Karena banyak perbaikan di sana sini, Fredian berusaha mencegah Irna untuk pulang ke rumahnya.
Fredian menghela nafas panjang kemudian keluar dari dalam kamar kembali menekuni berkas-berkasnya. Hampir setengah hari pria itu masih belum menyelesaikan pekerjaannya.
Rian juga sangat sibuk di dalam kantornya seharian penuh.
__ADS_1
Irna merasa bosan terus menerus berada di dalam kamar. Dia sudah bangun dan ingin keluar dari ruangan Fredian, tapi lagi-lagi pria itu mendorongnya agar kembali beristirahat di kamarnya.
Irna menikmati makan malam sekitar jam tujuh di Reshort Fredian. Dia sengaja minta dilayani di dalam restoran. Seharian penuh berada di dalam kamar membuatnya jenuh.
Setelah selesai makan Irna kembali menuju ruangan kerja Fredian. Kebiasaan dirinya yang masuk tanpa mengetuk pintu membuat gadis belia sekitar berusia tujuh belas tahun itu terkejut.
"Kenapa kakak memiliki sekretaris yang sangat tidak sopan sepertinya?" Celetuk gadis bernama Sisilia memasang wajah cemberut menatap wajah Irna Damayanti.
Irna tersenyum melihat Fredian memijit pelipisnya.
"Wah sejak kapan kamu menerima klien gadis muda?"
Irna melihat penampilan gadis itu, wajahnya lumayan cantik dan imut, ukuran dadanya seusia itu juga lumayan besar.
Rambut pendeknya sebahu sangat serasi dengan wajah imutnya, kulitnya putih bersih serta bibir ranum yang basah membuat tampilannya sangat menggoda pria normal manapun.
"Perkenalkan ini Sisilia putri bibiku, adik dari ibuku. Sisil perkenalkan wanita yang berdiri di sebelahmu itu bukan sekretarisku tapi dia Istriku Irna Damayanti." Jelas Fredian memperkenalkan mereka berdua.
"Ini Irna Damayanti yang digembar-gemborkan media?! Ternyata kamu tidak secantik yang kubayangkan, wajahmu biasa-biasa saja. Dan penampilan dirimu tidak menunjukkan tanda-tanda kamu artis terkenal." Ujarnya sambil meringis tanpa rasa bersalah
Irna tahu akan sia-sia saja meladeni anak kecil dan labil sepertinya. Saat itu Irna hanya mengenakan piyama tidurnya dan makan malam di restoran Fredian.
Karena dia adalah istri pemilik Reshort tidak masalah baginya memilih berpenampilan apa adanya. Lagipula gadis itu juga sudah bosan menjadi pusat perhatian publik.
Dia lebih senang diabaikan dan tidak diketahui keberadaannya, menurutnya seperti itu lebih aman baginya jika dibandingkan dengan mendapatkan perhatian seluruh orang kemudian menyulitkan dirinya sendiri untuk menghadapi mereka.
Irna hanya tersenyum tipis mendengar ucapan gadis itu, lalu melangkah masuk menuju kamarnya.
Dia keluar dengan penampilan seolah-olah akan melakukan pemotretan malam itu. Fredian terbelalak kaget menatap penampilan Irna dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Gemerlap berlian membingkai indah penampilan Irna.
"Apa kamu berbelanja kemarin?" Tanya Fredian terkejut, karena Irna tidak hobi tampil glamor seperti itu tiba-tiba memakai perhiasan yang serba mode baru.
Sisilia takjub melihat gemerlap berlian yang benar-benar baru dilihatnya kali itu. Perhiasan itu sangat serasi sekali dengan seorang Irna Damayanti.
"Ini adalah cindera mata hasil pemotretan kemarin, sahabat karibmu yang memberikannya padaku."
"Aku sudah menolaknya tapi dia bersikeras dan memaksaku untuk menerimanya. Dia bilang setiap pemotretan selesai perhiasan yang aku pakai akan diberikan olehnya padaku." Terang Irna pada Fredian.
Fredian tahu bahwa perhiasan itu tidak senilai tiga rumah mewah di kawasan elite. Tapi bahkan harganya bisa mencapai hampir delapan puluh milyar.
Jermy berbohong pada Irna jika harganya lima puluh milyar. Dia takut gadis itu akan menolaknya dengan keras.
"Dia benar-benar ingin mengambil milikku." Bisik Fredian dalam hatinya.
"Aku kembali bernegosiasi kemarin, dan hasilnya aku akan melakukan pemotretan lagi sebulan sekali untuk sponsornya. Itu lebih baik daripada seminggu sekali."
Gerutunya sambil memeluk leher suaminya. Irna mengabaikan keberadaan Sisilia di sana.
"Dia juga sudah mentransfer dua milyar setiap selesai pemotretan." Ujar Irna lagi.
"Lalu kamu mau kemana sekarang?" Tanya Fredian sambil mencium pipinya.
"Pemotretan di studio, untuk butik Elzana." Terang Irna padanya.
"Apakah kamu mau aku mengantarkanmu?" Irna melihat berkas berjibun tapi dia melihat ke arah gadis yang berstatus sepupu suaminya itu.
Irna memilih untuk menarik lengan suaminya pergi dari hadapan gadis muda itu.
Irna menyandarkan kepalanya di bahu Fredian sepanjang jalan menuju ke parkiran.
"Kalian kenapa meninggalkanku begitu saja! apa kalian pikir aku batu!" Teriak Sisilia lalu berlari mengikuti mereka berdua.
"Minggir kamu! aku ini adik sepupunya!" Menarik paksa Irna hingga melepaskan pelukannya pada lengan Fredian.
"Kamu yang minggir aku ini adalah istrinya! aku yang melayaninya makan dan tidur! dan kakak sepupumu ini, dia tidak akan bisa hidup tanpa ciuman dariku! walau hanya sehari!"
Cerocosnya tanpa malu sambil berkacak pinggang di hadapan gadis muda itu.
Fredian tersenyum melihat istrinya berebut dengan anak remaja itu.
"Kakak? apa benar yang dikatakan wanita jelek ini barusan?" Tanyanya sambil merajuk.
"Iya dia benar kakak kesayanganmu ini akan kehilangan nyawanya tanpa ciuman darinya walaupun itu cuma sehari."
Irna merasa menang dan menarik tangan Fredian kembali menuju mobilnya.
"Kamu tunggu di sini, aku ingin suami tercintaku mengantarkanku untuk pemotretan." Dengan santai Irna naik ke dalam mobil Fredian.
Fredian segera naik dan duduk di belakang kemudi.
Dia melirik adik sepupunya itu terus cemberut kearahnya.
"Suamiku kemana matamu memandang?!" Sindiran Irna menohok jantungnya membuatnya buru-buru menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
Bersambung..