
"Sampai kapan kamu akan berencana terus merajuk?" Irna mengusap kepalanya sambil tersenyum.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, tidak tahukah kamu? Aku begitu banyak mendapatkan luka dan rasa sakit saat kita tidak bersama.
Irna masih tersenyum menatap wajah Fredian, pria itu terlihat sangat kekanak-kanakan. Irna mengusap poni suaminya mengangkatnya ke atas.
Jemari lentiknya memainkan alis tebal yang membingkai indah kedua mata teduh milik Fredian. Pria itu membuka perlahan kelopak matanya menatap lembut wajah istrinya.
Fredian mengusap lembut pipinya dengan punggung telapak tangannya. Mata jernih yang berbinar-binar memancarkan kebahagiaan, masih tetap menatap penuh cinta wajah pria yang ada di depannya.
Fredian mendaratkan sebuah kecupan lembut di atas keningnya, Irna memejamkan matanya.
"Apa yang akan kita lakukan di rumah sekarang?" Tanya Irna dengan wajah bingung. Mata gadis itu mengerjap berkali-kali terlihat imut dan lucu.
"Matamu, sudah tidak bersinar merah lagi?" Fredian mencermati kedua mata Irna.
"Itu, e, Rian.." Ujarnya sedikit merasa tidak nyaman untuk mengatakan bahwa itu pemberian darinya.
"Apa dia yang membuat matamu seperti mata orang normal?" Tanyanya sambil menyentuh kedua pipinya dengan dua telapak tangannya. Masih terus mencermati bola mata Irna.
"Iya, dia yang memberikan softlens." Irna menunggu reaksi dari suaminya.
"Aku akan membuatkan makanan untukmu, kamu mandilah." Ujar Fredian, pria itu mengukir senyum manis di bibirnya seraya bangkit menuju ke dapur.
Irna berjalan menuju ke kamar mandi, setelah selesai membersihkan tubuhnya dia memakai gaun berwarna hitam sepanjang lutut.
Rambutnya melambai seiring dengan derap langkahnya. Gadis itu terlihat imut dan manis dengan bulu mata lentiknya. Bibirnya merah alami tanpa pemerah bibir.
Sinar mata yang tajam menjadi ciri khas perubahan dirinya setelah bunga kristal es merekah di dalam tubuhnya.
Irna memakai high heels, tangannya kemudian meraba gelang kaki yang masih membingkai kaki kanannya. Gelang tersebut tampak berkilauan tertimpa cahaya mentari pagi.
Butir-butir kristal merah kecil berantukan dan menimbulkan suara gemerincing seperti lonceng kecil. Menjadi irama indah mengiringi di setiap langkahnya.
Ingatannya kembali melayang pada lima tahun silam. Wajah vampir murni yang menahannya sangat mirip dengan wajah Fredian.
"Kenapa aku merasa vampir itu belum mati? Apakah ini hanya perasaanku saja? Gelang ini bahkan aku juga tidak bisa melepaskannya." Irna memijit keningnya ingin menghapus bayangan yang tidak dia inginkan.
"Triiing!" Ponsel gadis itu berdering, Irna segera mengangkatnya.
"Iya ada apa?" Tanya Irna santai.
"Apakah dokter tidak ke rumah sakit hari ini?" Tanya Dark Wilson dari seberang.
"Aku mengambil cuti hari ini, kamu urus pekerjaanku untuk sementara di sana." Ujarnya lagi sambil mengusap keningnya.
"Kenapa? apakah ada masalah di.. Tuuut! Tuuut!" Dark belum menyelesaikan ucapannya tapi panggilan sudah berakhir.
"Dasar! aku sudah bilang kita libur satu hari ini saja! Kenapa kamu bandel sekali?!" Fredian merebut ponselnya dan mematikannya.
"Ah, itu aku tadi ingin memberitahu bawahanku jika aku cuti hari ini." Ungkapnya sambil nyengir lebar.
Gadis itu melangkah menuju meja makan, Fredian menarik kursi untuknya. Pria itu juga meletakkan segelas jus apel kesukaannya di depannya.
"Aku tidak minum jus apel lagi sudah lima tahun terakhir." Irna tersenyum menatap wajah suaminya.
Irna melihat makanan di atas meja, gadis itu hanya memandanginya tanpa ingin mencicipinya.
"Apa kamu juga tidak akan memakannya?" Tanya pria itu bingung. Memang sudah lima tahun dia tidak pernah makan bersama lagi dengan gadis di hadapannya itu.
Dia hanya melihat Irna meminum air, itupun sangat jarang sekali.
"Aku, aku tidak makan makanan manusia lagi." Ujar Irna sedikit tergagap, gadis itu menundukkan kepalanya sesaat kemudian menatap wajah Fredian dengan tatapan mata sedih.
Fredian melihat gigi taring mencuat dari bibir Irna. Beberapa detik kemudian normal kembali seperti semula.
"Maaf, aku baru menunjukkan diriku yang sebenarnya sekarang." Bisiknya pada Fredian.
"Tapi aku akan tetap memakan masakanmu, jangan khawatir." Irna menyuap bibirnya dengan makanan yang telah dibuat oleh Fredian, selang beberapa menit kemudian dia berlari ke kamar mandi memuntahkan semuanya.
Fredian tidak terlihat terkejut sama sekali melihat perubahan pada istrinya itu.
Setelah dari kamar mandi Irna melangkah menuju ruang makan kembali, dilihatnya Fredian sudah tidak berada di sana.
Pria itu sudah berdiri di luar, mematung di beranda samping rumahnya. Matanya menatap ke arah ayunan, dimana saat itu dia membawakan bunga mawar untuk seorang gadis yang dicintainya.
"Fred?"
Pria itu tidak menjawab panggilan darinya, Irna berdiri di belakang punggungnya dan memeluk pinggangnya dengan erat.
Fredian masih berdiri mematung di tempatnya tanpa berkata apapun. Irna mencium punggungnya, pria itu kemudian berbalik dan mencium bibirnya dengan lembut.
Entah sudah berapa lama mereka berciuman di sana.
"Pyaaar!" Suara gelas pecah di ambang pintu beranda rumah tersebut. Irna segera menoleh ke arah suara. Fredian berdiri di sana.
__ADS_1
Pria itu bermaksud membawakan air hangat untuk meredakan mual yang dirasakan Irna. Tapi dia malah melihat pemandangan.yang ada di depannya sekarang.
Dan Irna menatap kembali pria di depannya sekarang. Baju yang sama, wajah yang sama dan matanya. Sekilas matanya berubah merah lalu kembali hitam.
"Ciuman bibirmu sangat lembut dan nikmat!" Pria itu menjilat bibirnya sendiri.
"Ini? bagaimana mungkin kamu hidup kembali setelah hancur berkeping-keping." Irna menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil melangkah mundur ke belakang.
Irna menghalangi tubuh Fredian menggunakan tubuhnya dari tatapan vampir di depannya itu.
"Seluruh vampir murni keturunan keluarga Wilson, akan bangkit kembali pada ke enam puluh bulan purnama, serpihan itu kembali terkumpul. Setelah hancur di bulan purnama pertama." Pria itu tersenyum menatap wajah kekhawatiran terlukis di wajah Irna.
"Oh? kembaranku ada di sini?! bagaimana dia tetap terlihat tampan? oh apa kamu pernah menggunakan darahmu padanya, cantikku?!" Pria itu melangkah mendekat ke arah Irna.
"Jangan sentuh istriku!" Teriak Fredian pada Wilson dengan penuh amarah.
"Oh kamu berani menghadangku?" Tanyanya sambil melesat mencekik leher Fredian.
Irna mengangkat tangan kanannya, mendadak jemari tangannya tumbuh kuku panjang dan sangat runcing.
"Craaashh!" Dia gunakan kukunya untuk menebas lengan kanan pria vampir itu.
Darah hitam mengalir dari lengannya, dan Fredian jatuh tersungkur di atas lantai. Irna segera mengangkat tubuh Fredian membantunya berdiri. Terlihat memar membiru di sekitar lehernya.
"Kamu bahkan berani melukaiku demi manusia lemah sepertinya?! Ayolah Irna, kamu adalah berlianku, wanita yang harus berada di sisiku!" Gumamnya penuh percaya diri.
Irna menatap tajam ke arah Wilson. Lensa matanya mendadak retak dan terbakar berubah menjadi merah mengerikan. Satu loncatan tubuhnya menerjang ke arah Wilson.
Siap untuk mencabik-cabik pria vampir itu. Irna mengangkat kukunya tinggi-tinggi, sesaat dia berhenti ketika melihat wajah Fredian ada dalam wajah pria vampir itu.
"Kenapa? apakah kamu masih berfikir aku adalah suamimu?" Pria itu tersenyum mengerikan lalu mendadak berubah menjadi asap.
"Aku akan menyapamu lagi gadisku!" Suara itu menggema di seluruh rumah Fredian.
Irna segera berlari menuju ke arah suaminya.
"Bagaimana mungkin kamu tidak bisa membedakan mana diriku? dan mana vampir itu." Ujarnya saat Irna mengompres lehernya yang memar.
"Iya, aku tahu aku salah karena kurang waspada."
"Aku akan lebih berhati-hati setelah ini." Irna melepaskan kalung kristal miliknya dan memakaikan di leher Fredian.
"Apa ini?" Tanyanya pada Irna sambil memegang kalung kristal di lehernya.
Fredian mengusap pipinya dan meraihnya ke dalam pelukan hangat.
"Aku tidak apa-apa, kamu jangan khawatir lagi." Bisiknya mencoba menenangkan Irna.
"Apakah sangat menderita sekali menjadi seperti ini?" Tanya pria itu masih mengusap pipi Irna.
"Tidak, aku tidak merasa kesakitan sama sekali."
"Bagaimana dengan sinar matahari?" Tanya Fredian lagi, setahu dia vampir sangat anti dengan cahaya matahari.
"Tidak ada masalah dengan cahaya matahari." Ujarnya sambil tersenyum menatap wajah Fredian.
"Aneh, sekali. Apakah ini vampir versi baru?" Ujarnya sambil menggaruk kepalanya.
"Hahahhahaaha! mana ada? sudahlah kamu membuatku lelah tertawa!" Irna tertawa kencang mendengar kelakar dari Fredian.
"Krak!" Di luar sana Wilson melihat kebahagiaan Irna saat sedang bersama dengan Fredian. Dengan geram dia mematahkan ranting pohon dengan tangan kirinya.
"Kenapa ada hawa vampir lagi di sini?" Bisik Irna sambil mempertajam penciumannya.
Hari sudah mendekati senja, di luar rumah besar Fredian terlihat kabut melingkupi seluruh halaman hingga tidak terlihat pemandangan di luar rumahnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Fredian melihat wajah cemas istrinya.
"Ah, tidak ada apa-apa! sraakk! sraaak! sraaak!" Irna segera menutup semua gorden jendela dengan isyarat jarinya.
"Apakah akan ada pertempuran lagi malam ini? aku malas sekali, kenapa hidupku yang awalnya nyaman menjadi penuh kekhawatiran seperti ini." Gumamnya dalam hati.
"Klek!" Irna membuka pintu samping.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Fredian, pria itu mencoba bangkit dari tempat tidurnya.
"Diam di sana, apapun yang kamu dengar jangan keluar." Irna melihat Fredian dengan tatapan mata tajam. Fredian mengikutinya dengan menganggukkan kepalanya seolah sedang terhipnotis olehnya.
Irna melangkah ke tengah kabut gadis itu mengangkat tangannya ke atas. Dan mulai bersinar cahaya berwarna biru terang yang mengalir dari kedua tangannya.
Irna membuat batasan untuk melingkupi seluruh rumah Fredian, agar pria yang dicintainya aman di dalam sana.
Gadis itu menggunakan isyarat jarinya menutupi tubuhnya dengan jubah hitam bertudung kepala.
Dia melompat ke atas atap, pandangan matanya mengawasi seluruh sekitar rumah jika ada sesuatu yang mencurigakan.
__ADS_1
Irna menggerakkan tangannya menyambut kedatangan mahluk berterbangan berkuku panjang dan tajam.
Dia mengisyaratkan kepada mereka untuk mengitari seluruh rumah melindunginya dari kedatangan vampir.
Beberapa menit kemudian terlihat vampir haus darah berbondong-bondong dari arah hutan menuju rumah Fredian.
Mahluk hitam suruhan Irna menebas mereka dengan kuku-kukunya yang tajam.
Membuat tubuh mereka terkoyak-koyak. Irna melihat wajah Wilson di kejauhan, dialah yang menyerang rumah Fredian.
"Vampir brengsek itu! aku ingin sekali merobek mulutnya!" Geram Irna menggertakan giginya.
Wilson tersenyum melihat wajah marah Irna, pria vampir itu melesat naik menuju ke arahnya. Akan tetapi karena batasan yang dibuat olehnya membuat tubuhnya terpental ke belakang menabrak pohon besar di hutan.
"Akh!" Pekiknya, cairan hitam keluar dari sudut bibirnya.
"Cring! cring! cring!" Bunyi derap langkah kaki Irna mendekat ke arahnya. Bibir Irna tersenyum sangat mengerikan.
Irna meraih lehernya dengan satu tangan kanannya. Mengangkat tubuhnya ke udara, dengan kekuatan penuh Irna menekan jemarinya mencekik leher vampir itu.
"Braak!" Sebuah balok kayu ditumpukkan di belakang kepala gadis itu.
Irna masih menahan leher Wilson, belakang kepala Irna mengalir darah. Kemudian muncul asap dari luka tersebut. Lukanya menutup kembali seperti semula.
Irna menoleh ke arah orang yang sudah memukul tengkuknya.
"Hahahaha! bagus sekali! aku tidak mengira kamu akan menunjukkan jati dirimu yang sesungguhnya secepat ini." Irna menatap tajam ke arah Dark Wilson.
"Lepaskan ayahku!" Teriaknya sambil mengancungkan balok kayu tersebut.
"Dasar! Vampir tidak tahu diri! kamu sudah menikah dan memiliki anak! kenapa masih menggangguku! Braaakkkk!" Irna melemparkan tubuh Wilson ke samping.
"Wanita ****** itu memasukkan sesuatu pada minumanku! aku hanya melihat wajahmu saat menidurinya!" Geramnya merasa sangat kesal.
Wilson menyeringai melihat wajah marah Irna. Gadis itu melangkah meninggalkan mereka berdua, Wilson kemudian mengalihkan pandangannya kepada Dark.
"Dasar anak tidak berguna! Braak!" Wilson melemparkan tubuh Dark hingga menabrak pohon.
Pria muda itu terhuyung-huyung berusaha bangkit berdiri, tapi Wilson malah mencekik lehernya.
Irna tertahan di sepuluh langkah kakinya. Dengan satu jentikan jarinya, tubuh Dark melayang ke udara.
Irna meraih lengan dark, meletakkan pria itu di sebelahnya.
"Kenapa kamu menolongku?" Tanyanya tidak mengerti.
"Kamu harus membayarnya lain kali!" Irna melemparkan senyum manis ke arahnya.
Satu jentikan jarinya membuat Dark Wilson kembali berada di rumah sakit tempat mereka berdua bekerja.
Gadis itu kemudian melompat kembali ke arah Wilson.
"Jika kamu berani melukai bawahanku! aku akan menghabisi nyawamu!" Ancamnya pada pria itu.
"Menurutmu kenapa aku kemari?" Wilson tersenyum melemparkan pertanyaan pada Irna. Gadis itu terdiam dan tidak bisa berkata sepatah katapun.
"Kamu itu adalah pasanganku! lihat dirimu sekarang? kamu itu vampir murni! dan kamu tinggal bersama manusia! hahahaha! apakah kamu ingin membuat dirinya jadi simpanan makananmu?! dan akan memakannya sewaktu-waktu?!"
"Irna Damayanti, kamu lucu sekali! Kamu adalah jodohku! istri vampirku! bukan dia! sejak awal kamu milikku!" Wilson menatap tajam ke arah Irna.
Rambut pria itu meriap tertiup angin senja, wajah tampan Fredian ada di wajahnya, bulu mata lentiknya, alis tebal miliknya dan semuanya, ujung bibirnya berdarah. Tubuhnya penuh luka karena pertempuran sengit antara mereka berdua.
Irna kembali mengingat masa kecilnya bersama Fredian, janji yang mereka berdua ucapkan dan saat pertemuan mereka kembali. Gadis itu melelehkan air matanya.
Irna melangkah meninggalkan Wilson berdiri mematung di tengah hutan.
Irna mendongakkan kepalanya menatap ke arah langit, menahan air matanya yang terus menerus mengalir tanpa henti.
Irna membuka pintu rumah Fredian, Fredian kembali tersadar dia melihat baju yang dikenakan olehnya.
Dia juga melihat darah hitam menetes dari kuku runcing di tangan kanannya. Irna berdiri menatap suaminya.
Dia terus menatap wajah Fredian dengan tatapan mata yang tidak bisa dilukiskan.
Melihat keadaan dirinya sekarang, yang bukan lagi manusia. Lalu melihat ke arah suaminya.
Irna melangkah melaluinya begitu saja, perlahan-lahan jubahnya lenyap kembali menjadi gaun hitam yang dia kenakan. Dan kukunya kembali normal seperti sedia kala.
"Apa kamu tidak takut sama sekali padaku?" Tanyanya pada Fredian. Pria itu sudah memeluk pinggangnya dari belakang dan mencium punggungnya.
"Aku mencintaimu istri vampirku." Ujarnya membuat leher Irna tercekat.
"Bagaimana dia bisa mengucapkan kata-kata yang sama dengan Wilson? apakah sesungguhnya mereka berdua terhubung pada sesuatu?" Begitu banyak misteri tanda tanya yang ingin dipecahkan oleh gadis itu.
Bersambung...
__ADS_1