Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
신비한 남자- Sinbihan namja- mysterious man!


__ADS_3

"Akh! berhentilah memukulku." Keluhnya pura-pura kesakitan.


Irna menghentikan aksi memukulnya, dan mencermati wajah di depannya. Gadis itu perlahan-lahan membuka topeng yang membingkai kedua mata pria tersebut.


Tapi dia menahan tangan gadis itu dan menariknya jatuh ke dalam pelukannya.


"Apa yang kamu lakukan? lepaskan tanganku!" Teriak Irna mencoba melepaskan genggaman tangannya.


"Kenapa aku tidak boleh melepaskan topengmu? padahal ini bukan pertemuan kita pertama kalinya!" Ujar Irna mencoba menarik topeng pria yang sedang berbaring di sebelahnya.


Tapi lagi-lagi pria itu menahan kedua tangannya. Tetap tidak mengijinkan dirinya untuk membuka topeng di wajahnya.


"Suaranya, senyumnya, postur tubuhnya, tidak mungkin aku salah mengenali orang!" Gumamnya dalam hati.


"Kenapa kamu tertarik sekali untuk melihat wajahku?! jangan-jangan nona benar-benar jatuh cinta padaku?" Tersenyum menggoda Irna.


"Berhentilah bersandiwara di depanku!" Irna bangkit dari pelukan pria itu dan duduk di tepi tempat tidur.


"Kenapa, apa kamu kecewa karena aku menolakmu?" Meniup telinga Irna, membuat sekujur tubuhnya meremang seketika.


Irna pura-pura mematung, dia tidak menjawab dan juga tidak merespon sama sekali. Pria itu memeluknya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu kirinya.


Jika itu suaminya pasti dia meletakkan dagunya di bahu kanannya, tapi pria itu meletakkan dagunya di bahu kirinya.


Irna meremas gaunnya, sambil menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak marah.


"Maaf tuan, saya salah mengenali seseorang. Silahkan keluar dari dalam ruangan ini." Irna beranjak berdiri dan membukakan pintu untuknya, agar pria itu keluar dari dalam kamarnya.


"Kamu tidak ingin melewati malam ini denganku? padahal sebelumnya kamu sendiri yang berinisiatif agar aku membelimu seumur hidup, bukan?" Tanyanya lagi dengan bibir tersenyum, tanpa beranjak dari tempat tidur.


Pria itu masih santai berbaring di sana, bahkan malah menopang kepalanya dengan tangan kirinya menatap wajah Irna yang sedang berdiri di ambang pintu untuk mengusirnya keluar dari dalam kamar.


"Batalkan saja semua perjanjian kita, anggap saja aku sedang mengigau karena hilang kesadaran." Tandas Irna kesal sekali melihat pria itu santai-santai saja di atas tempat tidur.


"Jika anda tidak mau pergi, baiklah.. saya yang akan pergi." Irna melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar tersebut.


Pria itu juga tidak terlihat mengejarnya, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Kenapa aku sangat kecewa, ketika aku salah mengenali orang! lagi pula mana mungkin Fredian muncul begitu saja di tempat ini tiba-tiba???! Akh! menyebalkan sekali! apa aku memiliki harapan yang terlampau tinggi??" Gerutu Irna sambil menggigit ujung ibu jarinya.


"Seandainya saja ada malaikat turun dari langit dan membawaku pergi dari tempat sialan ini, pasti aku akan sangat berterima kasih!"


Irna menyatukan kedua telapak tangannya memohon sambil memejamkan kedua matanya.


"Apa yang kamu lakukan di luar sini?!" Bentak perempuan tua yang tadi ditemuinya pertama kali, tak lain merupakan mucikari di tempat itu.


"Ah saya ingin pergi ke toilet! iya ke toilet." Ujar Irna sambil pura-pura memegangi perutnya.


"Jangan bilang kamu ingin kabur! cepat masuk kembali ke dalam kamarmu! bisa-bisanya kamu menipuku! di dalam kamar di seluruh gedung ini ada kamar mandinya!"


Wanita tua itu menarik daun telinga Irna dan mendorong gadis itu masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Klek!" Pintu dikunci dari luar olehnya.


"Braak! braaakk! braak! Ibu tuaa! eh tanteee tuaa! ah bukan! maksudku Tante cantik! buka pintunya! pria ini ingin membunuhku! cepaat buka pintunya! jika tidak besok aku akan jadi mayat di kamar ini, lalu jadi hantu yang akan mencekikmu! Ibu tuaaa! Tante tuaaa! nyonya cantik!" Teriak Irna tanpa henti.


Kemudian diam sesaat sambil menempelkan daun telinganya pada daun pintu mencoba mendengarkan apakah ada langkah kaki mendekat ke sana.


"Hahahaha! hahahaha!"


Nihil, tidak ada apapun yang terdengar selain suara gelak tawa terpingkal-pingkal pria yang masih berbaring di atas tempat tidurnya.


"Diam kamu! berisik!" Teriak Irna padanya sambil menatap tajam ke arahnya.


"Hahaha! kamu lucu sekali! mana mungkin dia mendengar suaramu? sekalipun aku membunuhmu di kamar ini, dinding kamar ini dibuat secara khusus!" Pria itu beranjak perlahan berdiri dan mendekat ke arahnya.


"Sekalipun aku membunuhmu, tidak akan ada seorangpun yang tahu!" Mengambil beberapa helai rambut panjangnya yang terurai lalu menciumnya.


Irna menjauhkan diri darinya dengan segera, sebisa mungkin menghindari pria itu.


"Aku sangat yakin jika pria ini adalah suamiku! tapi kenapa dia sangat menakutkan!" Gerutu Irna dalam hatinya.


"Ah, bisakah kamu tidur saja? maksudku jangan hiraukan keberadaan diriku di sini! anggap saja aku mahluk halus yang tidak terlihat olehmu sama sekali." Ucap Irna dengan suara sedikit tergagap.


"Jika sampai aku mendapati bahwa pria di depanku ini Fredian! aku akan melindasnya sampai mati!" Gumamnya lirih sambil melengos menatap dinding.


Pria itu terkekeh geli mendengar Irna mengumpat berkali-kali.


"Hei! aku sudah membayar mahal untuk menyewa jasamu! bukankah seharusnya kamu melayaniku dengan baik? Kenapa malah menyuruhku untuk mengabaikan dirimu?" Tanyanya lagi sambil tersenyum melihat wajah pucat Irna.


"Astaga! aku tidak pernah bermimpi untuk menikmati hari yang pahit! ketahuilah aku tidak pernah kesulitan uang, kenapa aku terlihat sangat payah di kehidupan yang kedua ini!"

__ADS_1


"Aku orang yang memiliki segalanya! bagaimana mungkin aku terjatuh ke dalam jual beli wanita! apa ini karma! kenapa aku harus hidup di kesialan ini! aku sangat tidak mempercayainya!"


Irna terus berbicara tanpa henti seakan-akan dia sedang melantunkan sebuah puisi.


"Apa kamu sedang menguji kesabaranku??? bukankah kamu sengaja mengulur waktu agar aku tidak menyentuhmu?!" Ujarnya sambil berkacak pinggang.


Dia berjalan mendekat lagi, dan Irna melompat menjauhkan dirinya dengan secepat kilat.


"Aku tidak suka bermain kucing-kucingan! kamu kemari atau aku akan!" Bentaknya mulai tidak sabar.


"Akan apa?! akan membunuhku? memukulku? aku tidak takut sama sekali! apa yang harus aku takutkan!?" Irna berkacak pinggang sambil menjinjing ujung gaunnya.


"Cepat kamu kemari!" Teriaknya pada Irna.


"Mimpi saja kamu! aku tidak akan pernah mendekat kepadamu!" Teriaknya sambil memegang kedua ujung gaunnya bersiap untuk pergi.


"Ya sudah, aku akan tidur di sini." Pria itu dengan sangat santai kembali berbaring di atas tempat tidurnya. Dia bahkan melepaskan jas hitamnya dan mulai menutup matanya.


Irna tetap berdiri mematung di tempatnya. Dia takut jika pria itu tiba-tiba bangun dan menerjang ke arahnya, dan membuat dirinya merasa tidak pantas lagi menjadi istri Fredian.


"Aku sudah pernah berjanji untuk tidak akan membiarkan pria lain menyentuhku! aku akan bertahan! aku akan berjuang!" Irna mengepalkan tangannya dengan penuh semangat.


Tapi setelah satu jam berdiri, kakinya mulai kram.


"Akh! akh! gubraak!" Irna terjatuh dan menabrak meja.


"Kamu bisa diam tidak?! berdiri saja di sana dan jangan berisik, aku ngantuk sekali!" Keluhnya kesal sambil berbalik menghadap ke arah dinding memunggunginya.


"Sepertinya aku terlalu hawatir." Irna melangkah menuju sofa, kakinya terasa sangat sakit sekali, baru lima menit berbaring dia sudah terlelap.


Pria itu tersenyum menatap wajah Irna yang sudah terlelap di atas sofa. Dia mengangkat tubuhnya membaringkannya di atas tempat tidur, lalu menyelimuti tubuhnya.


Dengan lembut dia menyentuh pipinya kemudian mengecup keningnya.


"Aku sangat mencintaimu Irna Damayanti.. lebih dari apapun, lebih dari siapapun!"


Bisiknya lirih, gadis itu tersenyum dalam tidurnya seolah-olah dia sedang berada di alam mimpi yang begitu indah.


Saat pagi menjelang pria yang bersama dengannya sudah tidak ada di sana. Ada beberapa makanan yang tersedia di meja sebelah tempat tidurnya.


"Bagaimana aku bisa berada di atas tempat tidurnya??! astaga! apakah semalam tanpa sadar aku sudah merangkak naik ke atas ranjangnya?!"


"Tapi melihat pakaianku masih lengkap begini, sepertinya dia tidak melakukan apapun denganku!"


"Apa dia juga yang menyediakan baju ini untukku?" Irna menimang-nimang pakaian yang disediakan.


"Warna gaun yang cerah, jika aku memakainya sepertinya akan sangat cocok."


Gadis itu segera melangkah menuju ke kamar mandi. Dia memakai baju yang disiapkan di sana. Lalu mematut diri di depan cermin.


Di sana ada secarik kertas yang bertuliskan peraturan.


"Diizinkan keluar dari dalam kamar dengan tetap memakai topeng."


Irna mengunyah beberapa makanan, lalu keluar dari dalam kamar tersebut. Suara lonceng kecil di pergelangan kakinya terdengar berdenting di setiap langkahnya.


Gadis itu berdiri di atas balkon menatap kelopak bunga sakura yang merekah, aromanya semerbak menggelitik indera penciumannya.


Irna berlari keluar dari dalam gedung melalui pintu samping. Dia berdiri di antara pepohonan. Sesaat kemudian dia melihat punggung pria yang semalam berdebat dengannya.


Pria itu sedang berdiri di sebelah mobilnya sambil berbicara di telepon.


"Fredian!" Teriaknya dengan sengaja, pria itu mendengar teriakkan Irna malah langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan dirinya berdiri seorang diri di sana.


"Astaga! dasar sial! Duuuaak! bruuuk!!" Umpat Irna sambil menendang pohon sakura di sebelahnya. Seseorang melompat jatuh di depan wajahnya.


"Siapa yang kamu panggil?! dia??" Menunjuk mobil yang telah hilang dari pandangannya.


"Dia pemilik gedung ini! dia pemiliknya! hahahaha!" Tertawa-tawa melihat wajah Irna yang terkejut. Pria itu adalah seseorang yang telah menuang anggur pada rambut Irna.


"Siapa Fredian yang kamu panggil? kakekmu? atau papamu?!" Ujarnya dengan nada mengejek.


Irna dengan wajah geram mengambil ranting dan melemparkannya ke arah pria yang terus menertawakan dirinya.


Pria itu pergi begitu saja dari hadapannya. Irna mendongakkan kepalanya menatap ke arah langit, di sana terlihat mentari bersinar cerah menyinari tubuhnya dan menghangatkan dirinya.


"Bagaimana dengan tuan Jend? aku belum bisa menghubunginya. Dan mereka pasti sangat hawatir padaku. Keluarga kecilku, putraku satu-satunya Alfred." Gumam Irna sambil bersandar pada salah satu pohon sakura di sana.


"Aku ingin sekali pergi dari sini, tapi bagaimana aku bisa naik pesawat? pasport juga tidak ada! identitas diriku juga tidak ada! ah! menyebalkan sekali!" Keluhnya lagi merasa sangat kesal.


Irna mencoba mencari jalan keluar dari sana, yang ada hanya tembok yang sangat tinggi mengitari seluruh gedung. Pagar depan juga memakai akses sidik jari untuk bisa keluar masuk.

__ADS_1


Irna merasa tidak memiliki jalan keluar lagi, dia melangkah dengan kaki lesu.


Setelah lelah berjalan-jalan Irna kembali masuk ke dalam gedung, suasana sangat lenggang. Tidak tampak seorangpun di sana.


"Cring! cring! cring! cring!" Suara langkah kakinya Irna memenuhi seluruh penjuru ruangan.


Irna berjongkok mencoba untuk melepaskan gelang kaki berlian tersebut, namun seperti terkunci sama seperti kalung berlian dari keluarga Derrose waktu itu.


"Apa ini? aku tidak bisa melepaskannya?!" Ujarnya kebingungan masih mencoba melepaskan gelang kakinya.


"Akh! sakit sekali!" Kaki Irna berdarah karena dia berusaha menariknya dengan paksa. Gelang tersebut masih tetap berada di sana, dan pergelangan kakinya kini berdarah.


Irna meraba kalung kristal miliknya, untungnya itu masih ada di lehernya. Jika tidak dia harus mencari cara untuk kabur lagi.


Irna masih memakai topengnya mencoba mencari seseorang di sana. Dia tidak menemukan siapapun. Hanya dirinya seorang diri.


"Apa para gadis semalam laku terjual seumur hidup? kenapa aku tidak melihat apa-apa di sini?! Mucikari itu juga sudah tidak terlihat lagi sejak pagi tadi?" Irna menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Gadis itu terus berjalan, dia melihat sisi samping gedung tersebut, ada taman yang lumayan besar dan luas.


Irna berjalan menuju seseorang yang sedang membersihkan daun-daun kering dari permukaan kolam ikan.


Tapi ketika melihat kedatangan Irna orang tersebut langsung membawa peralatan miliknya dan pergi meninggalkan dirinya sendiri.


"Lagi-lagi kabur? apa wajahku terlihat seperti monster atau sejenisnya? apa ini karena topeng ini?" Irna mencoba membuka tali topeng tersebut dari belakang kepalanya.


Tapi seseorang sudah berdiri di belakang punggungnya. Dan menahan tangannya untuk tidak melepaskan topeng tersebut.


"Rupanya kamu yang menakuti pekerja tadi?!" Irna berbalik menatap wajah pria yang berdiri di belakang punggungnya.


Pria itu menarik pinggangnya meraihnya dalam pelukannya.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


Irna diam saja berada di dalam pelukannya, diam-diam dia mengangkat kakinya.


"Krakk! Aduuh!" Irna menginjak kakinya dengan sepatu high heelsnya, gadis itu berusaha menyambar topeng dari wajah pria itu.


Tapi pria itu dengan gesit mencondongkan tubuhnya ke belakang. Membuat Irna menyambar udara kosong.


"Dasar menyebalkan sekali!" Umpat Irna, kemudian berjalan masuk kembali ke dalam gedung.


Gadis itu naik ke lantai atas, berharap menemukan seseorang untuk diajak bicara. Tapi nihil, tidak ada siapapun di lantai atas.


"Kamu mencariku?" Ejek pria itu sambil tersenyum menatap wajah Irna.


"Untuk apa aku mencarimu? apa aku terlihat kurang kerjaan?!" Ujarnya cuek.


"Ah, bolehkah aku meminjam ponselmu?" Ujar Irna tiba-tiba penuh semangat.


"Boleh-boleh saja, asalkan kamu bersedia untuk melayaniku!" Melangkah mendekat memamerkan ponselnya di depan wajah Irna.


"Tidak jadi! lupakan saja!" Sahut Irna segera.


"Rasanya sangat percuma dan membuang waktu sia-sia saja jika terus berbicara dengan pria itu!" Sambil bersungut-sungut masuk ke dalam kamar.


Irna duduk di atas sofa yang ada di dalam kamarnya. Gadis itu berselonjor kaki sambil memejamkan matanya.


Dia memutar otaknya dengan sangat keras.


"Aku tidak bisa berfikir logis! berkali-kali aku memikirkannya! aku yakin dia itu bukan orang lain! tapi kenapa begitu berbeda?!" Gerutunya lagi sambil menendangkan kakinya di atas sofa karena kesal sekali.


Mendengar pintu terbuka Irna langsung membuka matanya.


"Ngapain kamu masuk kemari?" Tanyanya tiba-tiba sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.


"Ini kamarku, memangnya mau apa lagi?" Ujarnya cuek lalu tersenyum dan masuk ke dalam kamar mandi.


Bersambung...


*Siapa pria itu sebenarnya?*


A. Fredian


B. Rian


C. Tidak tahu


D. Reyfarno


E. Pemeran Baru

__ADS_1


F. Pembaca Novel ini 😂😂


__ADS_2