
"Bagaimana, kalian sudah menyelidiknya kemana istriku pergi?!" Ujar Fredian pada pengawalnya.
"Sudah tuan, nyonya ada di rumahnya yang lama, hanya saja.."
"Hanya saja kenapa?!" Sergah Fredian tidak mengerti.
"Hanya saja kami melihat dokter Rian keluar dari rumah nyonya pagi-pagi sekali"
"Deg!" Dada Fredian mendadak seperti tertancap dengan pisau yang sangat tajam. Sangat menyakitkan.
"Dia wanita yang satu-satunya aku harapkan di dalam hidupku, dadaku sakit sekali. Sangat sakit!" Fredian berpegangan pada meja di ruang tengah.
Kakinya terasa lemas, tubuhnya jatuh terduduk di lantai.
Praaaak!" Ponsel Fredian terjatuh di lantai hancur berantakan.
Tidak menunggu lagi, Fredian mengemudikan mobilnya pagi itu menuju ke rumah Irna.
"Braaaakkkkk!" Fredian menerobos masuk ke dalam rumah, dia mendapati Irna sedang di dapur membuat kopi.
Irna mendengar suara tendangan pintu, berlari melihat ke arah suara.
Di sana berdiri suaminya, dengan wajah merah padam menatap ke arahnya.
"Plaaaakkkk!" Tamparan keras melayang mendarat di pipi Irna.
Irna melangkah mundur, tangannya gemetar menyentuh cangkir kopi yang tadi diseduhnya, kopi itu tumpah mengenai jarinya hingga membuatnya melepuh.
Dia bersandar di meja melihat suaminya yang masih berjalan mendekati ke arahnya.
"Plllaaakkk!" Tamparan kembali melayang mendarat di pipi satunya gadis itu.
"Irna kamu harus bangun, semalam bukanlah mimpi! jika itu mimpi kenapa wajah Fredian semarah ini?" Bisik gadis itu dalam hatinya.
"Dia sudah mengetahui semuanya, semuanya sudah selesai. Mungkin aku beberapa hari ini terlalu bahagia dan kini semuanya hilang dalam seketika." Gumamnya lirih.
Irna tidak memegang sudut bibirnya yang berdarah, tidak juga berteriak pada suaminya ataupun mencari alasan untuk membela dirinya.
Fredian masih menunggu diam mematung, menunggu jawaban yang akan terlontar dari bibir istri yang sangat dicintainya itu.
Tapi dia tidak mendapatkan jawaban apapun.
Perut Irna tiba-tiba terasa mual. Dan dia segera berlari ke kamar mandi memuntahkan semuanya di sana.
Fredian masih geram berdiri diam di sana, dia mendengar suara muntahan Irna di kamar mandi.
Dia tidak datang melihat, dia pergi meninggalkan Irna dan menuju Reshort.
"Untuk apa aku menjaga wanita yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri! bahkan saat sudah menikah denganku!" Gerutunya sangat marah.
"Kepalaku pusing sekali, ini tidak seperti biasanya." Bisik Irna sambil memegang pelipisnya.
Irna pergi ke klinik memeriksakan dirinya, dokter itu bilang dia sedang hamil, dan usia kandungannya baru dua minggu.
Irna melangkah gontai,
"Aku hamil, di saat seperti ini? di saat kehancuran menyapa hidupku."
Irna menyentuh kalungnya, kalung yang tidak bisa di lepasnya. Wajahnya mendongak menatap cahaya matahari yang menyilaukan matanya.
"Triiiiiing" Ponsel Irna berdering, dia melihat ke layar ponselnya.
"Rian, untuk apa kamu menghubungiku?"
"Rini yang akan menyelesaikan sisa pekerjaanku."
__ADS_1
"Aku akan mengambil hari libur beberapa hari"
"Itu salahku karena tidak segera pergi ketika melihatmu ada di sana."
"Jangan mengatakan apapun padanya! ini kesalahanku! dan aku minta satu hal padamu! jaga dia untukku!" Irna mengakhiri panggilannya.
Irna mengemas beberapa bajunya, memasukkan ke dalam koper. Dia menyentuh foto pernikahan di bingkai di atas meja kamarnya, dia memasukkan foto itu ke dalam kopernya.
"Aku ingin pergi ke Jerman, aku harus ke sana mengembalikan kalung ini. Aku tidak pantas berada di sisi Fredian, aku sangat tidak pantas!"
Irna menoleh menatap rumah besar hadiah dari orang tua Fredian di belakang punggungnya.
***
"Tuan, nona baru saja keluar dari klinik kandungan!" Lapor pengawal yang di suruhnya untuk mengikuti Irna.
"Lalu?" Tanya Fredian lagi tanpa rasa peduli sedikitpun.
"Nyonya hamil."
Fredian meletakkan gagang telepon di atas meja kembali. Tubuhnya jatuh terduduk di kursi ruang kerjanya.
Irna menyeret kopernya, dia sedang mencegat sebuah taksi untuk pergi ke kantor Fredian.
Irna melihat Fredian duduk menunggunya di kursi ruang kerjanya.
Pandangan mata Irna menyapu seluruh ruangan, air matanya menetes tiba-tiba. Tangan kanannya masih melepuh akibat air kopinya tadi pagi.
Jemarinya bergetar, gadis itu meletakkan selembar surat di atas meja Fredian, pria itu melihat kedua ujung bibir istrinya yang lebam membiru. Dan juga tangannya saat meletakkan selembar kertas di atas meja kulitnya melepuh.
"Kalung ini aku janji akan mengembalikan padamu.. nanti." Hanya itu yang keluar dari bibir Irna.
Gadis itu mengusap air matanya, dan pergi meninggalkan kantor Fredian. Bibirnya tersenyum tipis melihat hujan gerimis pagi itu.
"Lagi-lagi hujan yang menemani langkahku. Aku bahkan tidak berani melihat ke arah wajahnya lagi, mungkin memang ini yang harus aku lalui. Gadis biasa sepertiku mendapatkan suami seorang Presdir yang begitu sempurna... Mungkin itu hanyalah impianku, hanya impianku..."
"Selamat tinggal.... semuanya!" Gadis itu menatap tanpa harapan, wajahnya sayu kedua ujung bibirnya lebam bekas tamparan.
Irna menghubungi Rini, dan menyuruhnya untuk menyelesaikan sisa proyek di kantor. Skemanya akan dikirimkan olehnya melalui email.
Irna menatap keluar jendela mobilnya, tubuhnya terus terguncang karena menahan tangis.
Setelah sampai di bandara dia segera cek out. Tak ada seorangpun yang mengantarkannya, Irna juga tidak mengatakan apapun pada sekretarisnya kalau dia pergi hari itu.
Irna sampai di depan rumah megah keluarga Derrose. Irna segera masuk ke dalam rumah.
Ibu dan ayah Fredian sudah menunggunya di ruang tamu.
Dari wajah mereka, terlihat mereka sudah tahu apa yang terjadi diantara dirinya dan Fredian.
"Lahirkan bayi itu, dia adalah penerus kami satu-satunya. Keluarga kami akan mengambilnya saat dia berusia lima tahun. Dan kalung itu, biarkan tetap di lehermu! karena dengan adanya kalung itu. Kamu akan terus mengingat kesalahan yang kamu perbuat pada keluarga kami."
Irna meremas tangannya, kemudian pergi meninggalkan rumah mewah itu.
Irna menyewa sebuah rumah kecil di Jerman.
Dia masih bekerja sebagai arsitektur seperti biasa. Gadis itu membuka sebuah kantor kecil.
Fredian lebih banyak menghabiskan malamnya di club. Dia terus menenggak minuman saat mengingat wajah istrinya. Bagaimana dia tersenyum menatap wajahnya yang selalu cerah setiap hari.
Dan selalu merajuk saat berada di dekatnya.
"Apa aku memiliki takdir pernikahan yang buruk, pernikahanku bahkan baru tiga bulan. Tapi lagi lagi aku kehilangan."
"Berhentilah minum!" Ujar Rian duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Apakah kamu ingin menertawakanku? setelah menghancurkan segalanya?!" Ujar Fredian sambil menunjukkan jari telunjuk ke muka Rian.
"Kenapa kamu tidak mengejarnya? dia sudah meninggalkanku!" Ujar Fredian kembali.
"Aku bahkan tidak tahu dia pergi kemana, aku sudah berkali-kali mencari sekretarisnya dia bilang juga tidak tahu!" Ujar Rian dengan wajah putus asa menenggak segelas minuman.
"Gadis itu pergi ke Jerman tapi tidak memberitahu Rian? aku pikir mereka akan bersama setelah meninggalkanku!" Teriak Fredian dalam hatinya.
Fredian segera bangkit dari tempat duduknya, melangkah terhuyung menuju rumahnya. Dia melihat baju Irna hanya sebagian yang di bawanya.
Dan uang yang selama ini dia berikan di kartunya juga masih di atas meja. Perhiasan dan semuanya dia tinggalkan di sana.
"Gadis itu pergi tidak membawa apapun, selain foto pernikahan di atas meja tidurnya."
Fredian mengambil jadwal penerbangan hari itu menuju ke Jerman.
Sesampainya di sana dia menuju rumah besar keluarga Derrose.
Kedua orang tuanya tidak memberi tahu Fredian tentang keberadaan Irna. Mereka ingin putranya satu-satunya itu meninggalkan gadis yang tidak pantas untuknya.
Fredian kembali ke London dengan tangan hampa.
***
Tiga tahun kemudian....
Irna menggendong seorang anak kecil berusia dua tahun.
Gadis itu memakaikan jaket tebal pada anak kecil laki-laki itu karena cuaca cukup dingin.
Irna menuju mobilnya, dan membawanya ke mini market agak jauh dari rumahnya.
Irna memilih beberapa barang dan putra kecilnya berdiri di sebelahnya.
Ketika dia sibuk memilih putranya berlari keluar dari minimarket.
Irna terkejut menyadari putra kecilnya menghilang darinya.
"Alfred! Alfred! di mana kamu sayang..." Irna mencari ke semua sisi minimarket tapi tidak menemukannya.
Gadis itu kemudian keluar dari minimarket. Dia melihat seseorang tengah berjongkok berbicara dengan putra kecilnya.
"Dia! bagaimana dia bisa menemukanku di sini?!" Irna melihat wajah pria di depannya dengan tidak percaya.
Anak kecil itu menoleh ke belakang melihat Irna berdiri dengan wajah pucat. Kemudian dia berlari ke arahnya.
"Mamaaaaaa....!" Alfred mengahambur memeluk Irna.
"Ayo kita pulang sayang!" Ujar Irna sambil kembali menggendong putranya. Meninggalkan pria yang berdiri melihatnya di sana.
Irna membayar belanjaan, kemudian membawa masuk ke dalam mobilnya. Irna menggendong Alfred meletakkan anak itu di kursi belakang.
Saat dia hendak duduk di belakang kemudi pria itu menghentikannya.
"Kembalikan itu padaku!" Ujarnya sambil menunjuk leher Irna.
"Kamu jauh-jauh kemari mencariku hanya untuk mengambil ini kembali?!"
"Aku sudah pergi ke rumah keluargamu tapi mereka tidak ingin melepaskan ini, mereka bilang aku harus menghadapi hari-hari dengan mengingat kesalahanku."
"Dan aku tahu, aku tidak bisa menikah dengan pria lain karena kalung ini masih berada di leherku."
"Aku akan mengembalikannya setelah Alfred berusia lima tahun, aku pasti akan mengembalikan padamu." Irna menatap wajah Fredian dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf anakku sudah menungguku, aku harus pergi." Gadis itu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Fredian berdiri di sana.
__ADS_1
"Aku sudah menemukannya.... " Ujar Fredian sambil mendongakkan kepalanya menatap kabut pagi di sekitarnya.
Bersambung...