
"Coba kita lihat, apa kamu benar-benar tidak menyukainya?" Menghembuskan nafasnya pada telinga Kania.
Jemari tangan kanannya membuka resleting celana jeans milik Kania, merayap masuk ke dalam. Tangan kiri Royd Carney menahan kedua tangan Kania, menekannya ke atas kepala gadis itu.
Permainan jemari yang sangat liar memijit, menekan daging kecil di belahan sensitifnya, membuat tubuh Kania terguncang hebat akibat permainannya. Tatapan kuyu dari kedua mata Kania memberikan isyarat padanya untuk mencium mesra bibir mungilnya.
"Kamu jahat Royd... ahhhh..." Celana jeans milik Kania berhasil dihempaskan ke lantai mobil oleh tangan kokoh pria itu.
Tubuh Kania terasa lemas semakin lemas saat bibir manis Royd menjelajahi paha mulusnya, dan berakhir di belahan sensitif miliknya. Menggigitnya kecil, memagutnya. Sementara kedua tangannya meremas bongkahan yang telah mengeras sejak awal permainan dimulai.
"Royd.. ahhh, aku tidak tahan lagi.. " Desahnya membuat Royd beralih menciumi leher jenjangnya.
"Jangan menghindariku lagi, Kania.." Bisiknya seraya memulai permainannya dengan sangat lembut.
"Mmmhhhh, akhh, mhhh," Kania menikmati permainan lembutnya, mulai mengikuti ritme yang dibuat olehnya, dia memeluk leher pria yang sedang sibuk memagut bibir tipisnya.
"Royd..lebih cepat lagi.. aku...akhhh!" Royd melajukan ritmenya, semakin cepat membuat tubuhnya mengentak-hentak.
"Royddd...mmmhhh!" Meremas-remas punggung tanpa baju, yang masih berpacu di atas tubuhnya.
Dua puluh menit kemudian tubuh Royd jatuh menimpanya. "Hosh, hosh, hosh, hosh." Kembali mengatur nafasnya, keringat bercucuran keluar melalui seluruh pori-pori kulitnya.
"Menyingkirlah dari atas tubuhku, aku tidak bisa bergerak." Pintanya sambil memukul bahu Royd yang masih telanjang, tengkurap jatuh menimpanya.
Royd bangkit dari posisinya, duduk di kursi sebelah. Matanya masih terpaku merayapi tubuh mulus, yang tergolek lemas di sebelahnya. Kania perlahan-lahan bangkit dari posisinya, kembali memakai bajunya satu persatu.
"Duduklah di sini, biarkan aku yang mengemudi. Kamu ingin pergi kemana? aku akan mengantarmu." Ujarnya seraya mengangkat tubuh Kania ke kursi sebelah, kemudian dia sendiri duduk di kursi kemudi. Mulai menyalakan mesin mobilnya.
Kania masih memejamkan matanya, dia sangat malu sekali. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela.
"Kania..." Panggilnya lagi, gadis itu masih terdiam. Royd mendekat menyentuh bahu kanannya, "Plakkk!" Gadis itu menepis tangannya dari bahunya, dia masih sangat malu sekali.
Kania berbalik menatap wajah Royd dengan tatapan benci, gadis itu mengambil tasnya, juga kunci mobilnya kemudian keluar dari dalam mobilnya meninggalkan pria itu tanpa bicara apapun.
"Astaga Kaniiiaaaaa!" Teriaknya saat gadis itu meninggalkan dirinya sendiri.
"Hah! dia masih tetap mengabaikanku, setelah semuanya.. akkkh! braaaakkk!" Royd Carney marah sekali, mendengus kesal, pria itu melompat turun dari dalam mobil. Membanting pintu dengan penuh amarah.
Royd melangkah masuk kembali ke dalam apartemen, kemudian pria itu berdiri di depan pintunya. Menunggu gadis itu keluar.
Kania berada di balik pintu kamarnya memeluk lututnya duduk di lantai. "Pria itu benar-benar sudah gila! aku tidak ingin meresponnya, tapi aku wanita normal! keterlaluan sekali! akkkkkhhhhhhh!" Teriakan Kania sampai keluar pintu.
Royd yang masih berdiri di sana kelabakan ingin masuk ke dalam. Dia takut gadis itu melakukan tindakan aneh. "Tok! tok! tok! Kania? buka pintunya! Kania! buka atau aku dobrak!" Royd mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamarnya.
Tepat pada saat menerjang masuk, pintu Kania terbuka. Kania sangat terkejut pria itu menerjang ke arahnya.
"Aaaaaaaa, bruaaaakkkk!" Tubuh mereka berdua bertabrakan terhempas jatuh berguling ke lantai.
"Dasar bodoh! apa yang kamu lakukan sebenarnya?" Kania meringis meraba pinggangnya.
"Aku mendengar suara teriakanmu, aku khawatir terjadi sesuatu padamu. Jadi aku bermaksud mendobrak pintumu." Royd terengah-engah membantu Kania berdiri.
"Memangnya apa yang bisa terjadi pada gadis monster sepertiku?! khawatirkan dirimu sendiri." Ucapnya seraya melangkah ke arah lemari es, mengambil air mineral kemudian menyerahkan padanya.
Royd mengambilnya kemudian meminumnya segera. Tubuh atletisnya masih basah kuyup oleh keringat, ototnya terpampang jelas karena pakaian yang dia kenakan menempel pada kulitnya.
Dua bola kornea matanya berwarna biru, rambut lurus hitamnya jatuh sebagian di atas keningnya. Dia masih duduk di lantai bersandar pada sofa, menekuk kaki kanannya untuk menopang tangan kanannya yang masih memegang botol air mineral pemberian dari Kania.
"Kenapa kamu menatap tubuhku, seperti sinar laser?! Apa kamu terkejut melihatku begitu menawan?" Kelakarnya seraya menyeringai menatap Kania.
Kania hanya mengenakan shirt putih lengan panjang dengan hot pant. Rambutnya masih basah dan belum kering sejak dia mandi tadi siang. Poninya jatuh manis di atas keningnya, senada dengan bibir tipisnya berwarna peach. Ada tahi lalat kecil berada di leher kanannya. Kulit tubuhnya begitu bersih dan mulus, menarik siapa saja yang melihatnya ketika dia melenggang di depannya. Warisan kecantikannya berasal dari Rian Aditama, ayah kandungnya.
"Siapa yang melihatmu seperti itu, jika aku mau aku bisa mendapatkan seribu model yang lebih baik darimu." Ujarnya tanpa peduli, lalu menghenyakkan tubuhnya di atas sofa di sebelah Royd duduk.
__ADS_1
"Apa kamu sedang memamerkan pahamu padaku?" Meraba paha di sebelahnya, mendongakan kepalanya menatap Kania yang duduk di atas sofa.
Sentuhan lembut tangan pria itu kembali membuat sensasi aneh, hampir saja Kania tidak bisa mengendalikan dirinya. Kania segera mencekal pergelangan tangan Royd, saat jemarinya hampir menyapa pangkal pahanya.
"Kenapa?" Tanya Royd, pria itu menatap tajam menghujam jantungnya.
"Berikan aku materi kuliah kemarin," Meneguk air mineral dari genggaman tangan Royd, untuk menyingkirkan rasa gugupnya.
Tangan kiri Kania masih menggenggam tangan Royd, Royd tidak menjawab permintaan darinya. Pria itu malah merebahkan kepalanya di sofa masih duduk di bawah kaki Kania. Seraya menikmati wajah cantiknya.
Kania dilihat sedemikian rupa, merasa jengah segera memalingkan wajahnya ke samping menghindari tatapan matanya.
"Royd? berikan aku materinya?" Menadahkan tangan, pada pria itu. Royd tersenyum meraih tangannya dan menariknya hingga jatuh di atas pangkuannya.
"Royd, kamu menjengkelkan sekali!" Keluhnya karena pria itu memeluk pinggangnya dengan kedua tangannya.
"Kamu bilang ingin aku memberikan materinya?" Bisiknya di telinga Kania, gadis itu menoleh menatap wajahnya. Lalu menganggukkan kepalanya.
Dia segera berdiri menggendong tubuhnya keluar kamar lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Kania tidak meronta-ronta, atau berteriak lagi.
"Kenapa membawaku kemari?" Tanyanya saat pria itu menurunkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia takut pria itu kembali melakukannya.
"Kamu bilang ingin mendapatkan materi kemarin?" Ujarnya dengan bibir tersenyum.
Pria itu melangkah menuju tas hitam miliknya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar materi lalu menyerahkan kepada Kania.
Kania menerimanya, gadis itu mulai mencermatinya dan mempelajarinya. Royd memberikan selembar kertas kosong dan bolpoin padanya.
"Kerjakanlah soal-soal yang ada di sana, jika ada yang tidak kamu mengerti kamu bisa bertanya padaku." Ucapnya lagi.
Pria itu duduk di kursi menopang kepalanya dengan tangan kirinya, menatap Kania yang sedang sibuk mengerjakan soal darinya.
Royd melihat rambut Kania berkali-kali menjuntai ke atas lembar kertasnya, membuatnya sedikit kesulitan karena terus menerus menyingkirkannya ke samping.
Pria itu melangkah mendekat duduk di belakang punggungnya, meraih helaian rambutnya, kemudian menggelungnya ke atas. "Apakah begini lebih baik?" Tanyanya pada Kania.
Royd masih berada di belakang punggungnya, pria itu meletakkan dagunya di atas bahu kanan Kania.
"Waah, kamu hampir menyelesaikan semuanya. Kamu pasti akan mengungguli prestasiku di fakultas kedokteran!" Royd tersenyum melihat gadis itu begitu genius.
Lima menit kemudian Kania menyerahkan lembar tugasnya kepadanya.
"Bagus, semuanya jawabanmu benar." Ujarnya sambil mencermati uraian pekerjaan Kania.
"Ini dikumpulkan atau aku bawa ke kelas besok?" Tanyanya lagi padanya.
"Aku simpan, besok jangan bolos lagi. Aku tidak akan menulis nihil lagi pada daftar hadirmu." Perintahnya pada mahasiswinya itu.
"Tugasnya hanya itu saja kan? aku akan kembali ke kamarku." Pamitnya pada Royd. Pria itu tampak sibuk memasukkan pekerjaan Kania kembali ke dalam tasnya bersama tugas mahasiswa lain.
Karena Royd tidak menjawab, dia pun melangkah pergi keluar dari dalam kamarnya. Saat Royd menoleh, gadis itu sudah pergi kembali ke dalam kamarnya.
"Padahal aku masih ingin bicara dengannya." Gumamnya sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Bayangannya masih melayang pada kejadian manis di dalam mobil. Bagaimana Kania mengerang, merintih manja, memeluknya erat. Membalas ciumannya dengan lembut. Bahkan gadis itu membuka paha mulusnya lebar-lebar saat dia memagut area sensitifnya. Erangannya masih terdengar sangat jelas di telinga Royd.
"Akkkkhhhhh! kepalaku kotor sekali rasanya." Gerutunya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
Royd melangkah ke dalam kamar mandi, mengguyur seluruh tubuhnya dengan air shower. Pria itu mendongakkan kepalanya mencoba mengusir bayangan Kania dari dalam kepalanya.
Dadanya selalu berdebar-debar, membuatnya tidak bisa memejamkan matanya sepanjang malam ketika mengingat semuanya.
Setelah selesai mandi dia keluar dengan memakai selembar handuk dililitkan di pinggang. Dia melihat makanan cepat saji berada di atas meja. Saat dia menyentuhnya, "Ini masih hangat, siapa yang memberikan ini padaku? apa mungkin Kania?" Seingat Royd tidak ada yang mengetahui sandi pintu kamarnya.
__ADS_1
Tapi Kania dia bisa membuka kunci pintu hanya dengan melihatnya saja. "Kaniaaaaa, aku mencintaimu..." Gumamnya seraya duduk bersandar di sofa menikmati makanan tersebut.
Kania masih berdiri di luar pintu kamar Royd, gadis itu masih berdiri bersandar di sana. Dia mendengarkan semuanya, apa yang keluar dari bibirnya.
Royd mendengar suara langkahnya yang sedang melangkah menjauh dari pintu kamarnya. Secepat kilat dia membuka pintunya, menarik tangannya masuk ke dalam kamarnya. Memeluknya erat.
"Terima kasih.." Bisiknya sambil memegang kedua pipinya. Royd mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir tipisnya. Memagutnya habis. "Royd... aku akan kembali ke kamarku. Ini sudah hampir malam." Ujarnya padanya, pria itu masih menempelkan dahinya pada kening Kania.
"Tidurlah di sini.." Bisiknya lagi. Kania tercekat mendengar permintaannya.
Royd tahu gadis itu tidak ingin dia melakukannya lagi, tapi dia juga tidak bisa menolaknya.
"Royd aku, aku tidak ingin kita terus melakukan itu. Aku mahasiswi di kelasmu, dan kamu adalah dosenku. Tindakan kita sangat memalukan." Bisiknya di telinganya.
Tapi Royd sepertinya tidak peduli, dia kembali mencium habis bibir Kania. "Mmmhhhh..., akkkhh!" Kania kembali merintih karena merasakan remasan lembut pada daging kenyal dadanya. Jemari tangan satunya melepaskan kancing bajunya satu persatu.
"Rooyyd...akkkhhh." Lidah Royd bemain di balik bra berenda warna biru muda miliknya. Membuat tubuh Kania bergetar hebat meremas tengkuk pria yang masih membenamkan wajahnya di atas dada miliknya.
Suhu tubuh Kania berubah cepat, Royd tiba-tiba menghentikan aksinya. Dia mendengar suara langkah kaki mendekat menuju ke kamarnya.
Terlihat perasaan kecewa mengukir pada wajah Kania. "Kamu sengaja mempermainkanku!" Gerutunya pada Royd. Royd tersenyum mendengarnya merajuk padanya.
"Aku akan membayarnya lain kali." Bisiknya di telinga Kania seraya meremas dada kenyalnya. "Akkkhh, Royyd.." Kembali mendesah menatap Royd dengan pandangan sayu.
"Sssstttt! aku mendengar seseorang sedang kemari." Ujarnya pada Kania.
Kania segera membenahi bajunya, Royd juga segera memakai kimono tidurnya.
"Tok! tok! tok!" Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
"Bukalah, aku akan keluar melalui balkon." Kania bersiap pergi, tapi Royd malah menahan tangannya.
"Tetaplah di sini, aku ingin bersamamu malam ini." Berbisik di telinganya, membuat dada Kania kembali berdesir.
Royd mendorong punggung Kania masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian melangkah menuju pintu. Pria itu masuk ke dalam ruangannya, dia kemudian duduk di sofa.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Royd pada Jimi sambil berkacak pinggang.
"Kenapa? biasanya aku juga datang ke sini. Baru kali ini aku mendengarmu protes." Tersenyum melihat wajah Royd, terlihat jelas dia tidak menghendaki kehadirannya hari itu.
Royd segera menyeretnya keluar dari dalam apartemen miliknya kemudian menutup pintunya. Pria itu melangkah ke dalam kamarnya untuk menemui Kania. Tapi gadis itu tidak ada di sana.
Ada sebuah note kecil di atas meja. "Aku pergi dulu, aku sudah kelelahan hari ini. Kania."
Royd tersenyum melihat pesan Kania, dia ingin sekali mengganggunya lagi. Tapi keinginannya ditahannya mati-matian malam itu. Berkali-kali dia berusaha memejamkan matanya, tapi lagi-lagi bayangan Kania menerobos masuk ke dalam benaknya.
Kania berada di dalam kamarnya, gadis itu masih mengingat Royd memagut dada kenyalnya. Bibir lembutnya membuat suhu tubuhnya berubah cepat. Mengalahkan kebencian dan penolakan yang sudah siap dia lontarkan pada pria itu.
"Seandainya saja aku bisa mengalahkan hasratku ketika dia mencumbuiku!"
Bagi Kania ini adalah pertama kalinya, pertama kalinya dia dekat dan bersentuhan dengan pria. Bahkan Royd juga berkata ingin menikahinya, sudah lebih dari satu kali.
Di rumah sakit...
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Irna sudah menenteng tasnya menuju ke ruangan Rian. Saat dia berada di luar pintu kantornya terdengar suara wanita sedang berada di dalam ruangannya.
Irna tahu Rian tidak pernah memasukkan wanita ke dalam ruangan kerjanya selain dirinya. Tapi kali ini dia mendengar suara wanita di sana. Irna segera meninggalkan ruangan tersebut, dan menuju ke lobi rumah sakit.
"Apakah masih ada taksi di jalan?" Gumamnya pada dirinya sendiri, pandangan matanya beralih menatap Aldy pria itu sedang mengisi laporannya di meja resepsionis. Berdiri di sebelahnya.
"Apa dokter butuh tumpangan hari ini?" Tawarnya pada Irna.
"Aku lebih baik naik taksi dari pada berada satu mobil denganmu. Terima kasih atas tawarannya." Irna melangkah keluar rumah sakit, mencegat taksi kemudian masuk ke dalam.
__ADS_1
Bersambung....
Note: Tinggalkan like, sebelum pergi..