
Irna melangkah tidak peduli dengan ucapan Fredian yang terakhir.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan padanya, dia pasti akan sangat kecewa.." Bisik Irna dalam hatinya.
Sebulan yang lalu Irna pergi ke klinik kandungan, memeriksakan kondisi ovariumnya.
Dokter bilang jika kandungan Irna baik-baik saja dan tidak ada masalah sama sekali. Kemudian dia juga bertanya apakah dia seorang gadis yang subur dan bisa punya anak ketika suatu saat nanti menikah.
Dokter tersebut tersenyum dan bilang tentu saja bisa. Irna juga menceritakan hal kenapa selaput daranya selalu bisa kembali utuh. Dokter tersebut tidak bisa menjelaskan apapun, hal itu baru pertama kalinya ditemui kasus seperti itu.
"Padahal aku berfikir aku bisa hamil tapi sejak awal aku tidak pernah hamil, dan aku selalu kembali dalam keadaan gadis walaupun sudah berhubungan berkali-kali" Irna melamun di belakang kemudi dan tidak menyalakan mesin mobilnya.
Fredian menatapnya dari luar kaca mobil mengetuk pintunya.
"Wajah Irna kenapa tiba-tiba terlihat sedih?" Ujar dalam hati Fredian.
Pria itu menyadari perubahan tiba-tiba pada sinar di wajah Irna.
"Apakah aku salah mengatakan sesuatu padanya?" Tanyanya dalam hati.
Setelah kepergian Irna Fredian menelpon salah satu pengawalnya.
"Selidiki apa yang dilakukan Irna selama seminggu ini, aku tunggu laporan itu sore ini di atas meja kerjaku!" Perintah Fredian menutup panggilan.
Irna tidak menuju ke kantor, tapi gadis itu menuju ke tepi laut. Duduk termenung melihat ke arah cakrawala di depan mobilnya.
"Siapa yang akan membantuku untuk mengatasi hal ini? bagaimana aku bisa hamil jika aku terus kembali gadis."
"Fredian adalah putra satu-satunya, dan pasti ingin memiliki penerus. Sedangkan aku? aku gadis biasa yang tidak bisa memberikan apa-apa padanya" Bisik Irna menundukkan kepalanya, air matanya kembali menetes jatuh di atas pasir pantai di bawah kakinya.
"Ini pak laporan tentang nona Irna." Meletakkan di atas meja.
Mata Fredian tertuju pada tulisan yang menyebutkan klinik kandungan. Tidak ada laporan yang serius, kondisi ovariumnya baik-baik saja. Tingkat kesuburan juga normal.
"Jika semuanya baik-baik saja apa yang membuat gadis itu begitu sedih?"
Dia ingat jika Irna selalu kembali gadis setelah dua puluh empat jam berhubungan. Itu artinya kandungannya kembali ke asal semula.
Tapi Fredian memiliki gagasan unik, pria itu tersenyum penuh misteri.
Rian melirik arloji di pergelangan tangannya. Menatap ke jalan.
__ADS_1
"Apakah dia tidak akan pulang ke rumah?" Ujar Rian sudah menunggu dua jam di depan rumah Irna.
Akhirnya sebuah mobil masuk ke halaman dan diparkir di sana. Irna keluar dari mobil, menatap ke arah Rian melalui kaca mata hitamnya.
Gadis itu menyibakkan rambut ke belakang. Berjalan mendekat ke arah Rian berdiri, kemudian melepaskan kacamata hitamnya.
"Kamu menunggu sejak kapan?" Irna berjalan masuk ke dalam rumah membuka pintu, meraih kunci dari dalam tasnya.
Rian tidak menjawab pertanyaan Irna. Rian melihat kalung yang menggantung di leher gadis itu. Dia tahu itu adalah kalung dari keluarga Derrose.
"Kamu juga punya kunci rumah ini, kenapa malah menunggu di luar?" Irna melepas sepatunya di ruang tengah, Rian berjalan menuju ke kamar tanpa berkata sepatah katapun.
"Apakah dia sedang badmood?? kenapa tidak mau menjawab pertanyaan dariku sama sekali?" Ujar Irna merasa kalau Rian sedang sangat marah padanya.
Rian membuka lemari di dalam kamarnya, melihat seluruh pakaiannya masih tergantung rapi di sana. Mengambil satu pakaian kemudian berjalan ke kamar mandi.
Irna mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Apakah dia sedang mandi?" Bisik Irna bertanya dalam hati.
Irna meneguk teh hangat di ruang makan, dia melihat Rian sedang mengeringkan rambutnya yang basah.
"Uhk! uhk!" Irna tersedak melihatnya. Membuat gadis itu ingat kembali hal yang terjadi di antara mereka beberapa waktu lalu.
Kemudian menoleh menatap ke arah gadis itu. Wajah Irna terlihat menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh Rian.
Pria itu melangkah mendekat, Irna makin terkejut.
"Kenapa dia malah menuju kemari?!" Bisik Irna makin panik.
Rian duduk di seberang meja, menatap wajah Irna dengan serius. Menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Irna memalingkan wajahnya sengaja melihat ke arah lain.
"Aku tahu kamu sudah bersama dengan Fredian beberapa hari ini." Ujar Rian dengan santai mengambil gelas teh milik Irna dan meminumnya sampai habis.
Parfum di tubuh Irna seluruhnya aroma tubuh Fredian. Pagi tadi entah berapa kali Fredian sudah memeluknya. Dan memeluk sangat lama ketika mereka berdua di lobi Reshort.
"Kamu menghabiskan tehku?!" Ujar Irna melirik gelas tehnya yang kosong.
"Aku dengan sengaja menghabiskan tehmu, agar kamu tidak tersedak lagi." Ujarnya membuat Irna terkejut.
__ADS_1
Jika dia sedang makan atau minum saat itu pasti akan tersedak lagi berkali-kali.
"Apa kamu masih berfikir aku akan memarahimu lagi ketika kamu bersama dengan Fredian? aku kemari untuk mengepak barang yang tertinggal. Jaga kesehatamu saat aku tidak di sini."
"Jangan terlambat makan"
"Aku tahu kamu tidak akan bisa melihat ke arah lain selain kembali ke arah pria itu, dia satu-satunya yang lebih memahami dirimu."
"Aku bahkan sudah berusaha mati-matian mencoba mendapatkan dirimu. Namun pada akhirnya aku yang menyerahkan dirimu kembali padanya."
"Aku minta maaf atas kesalahan kakakku, dia sudah mengatakan segalanya padaku. Aku sedikit bersyukur ketika tahu kamu berada di dekat Fredian, itu lebih aman jika dibanding kamu sedang sendirian."
"Kakakku jatuh cinta padamu dan dia tidak akan menyerah begitu saja." Ujar Rian masih mengamati wajah Irna di depannya.
"Aku tahu, dia juga sudah mengatakannya padaku kalau dia tidak akan menyerah begitu saja." Ujar Irna akhirnya membuka kata.
"Triiingggg!" Ponsel Irna berbunyi, memutuskan pembicaraan antara mereka berdua.
Rian beranjak berdiri melangkah mengambil koper dari atas lemari.
"Halo, iya aku di rumah sekarang.." Ujar Irna menjawab telepon dari Fredian.
"Brak! aduh!" Rian memekik memegang kakinya yang berdarah. Koper yang diambilnya jatuh ke bawah mengenai kakinya.
Irna segera berlari menuju ke arah Rian memeriksa kakinya.
"Kamu tidak apa-apa?!" Tanya Irna pada Rian.
Rian hanya menggeleng sambil meringis menahan nyeri pada kakinya.
Irna lupa masih menggenggam ponsel di tangannya, ponsel itu masih menyala.
Fredian mendengar suara Rian memekik, dan mendengar langkah berlari, Irna berlari ke arah pria itu.
Pria yang sempat mengisi hati gadisnya. Mengisi tempat yang sempat ditinggalkan olehnya.
Pikiran Fredian kalut, simpang siur. Fredian tersenyum pahit, mendongakkan kepalanya menatap langit.
Awalnya dia senang karena Irna tidak berbohong padanya dan benar dia melihat mobil Irna terparkir di rumah. Tapi dia juga melihat mobil Rian di sana.
Di depan rumah Irna dia berdiri, Fredian berdiri hanya menatap pintu rumah yang tertutup.
__ADS_1
Di dalam rumah itu, Irna dan Rian di sana. Di balik pintu rumah yang tertutup itu Rian dan gadisnya di sana...
bersambung...