
Fredian tidur di atas sofa, pandangan matanya melayang menatap langit-langit rumah Irna. Beberapa saat kemudian pria itu menutup matanya.
Tiba-tiba Irna merasa haus, kebiasaannya minum air setiap tengah malam belum hilang sampai sekarang.
Gadis itu membuka pintu kamarnya, lalu berjalan menuju ke dapur mengambil sebotol air minum dari dalam kulkas.
Kemudian duduk di kursi meja makan meneguk air perlahan. Mata Irna menatap foto yang terpajang di dinding.
Alfred, dan dirinya, tertawa bersama di sebuah taman bunga.
Gadis itu tersenyum pahit, perlahan air matanya kembali merembes membasahi kedua pipinya.
"Bagaimana seorang ibu bisa melepas putra kandungnya sendiri, aku ibu yang sangat jahat! maafkan ibu Alfred, maafkan ibumu yang bahkan tidak pantas menjadi ibu untukmu, ibu yang salah! ibu yang salah!" Ujar Irna, gadis itu terisak bahunya terguncang di dalam kegelapan.
Fredian mendengar sayup-sayup suara isakan tangis, dia bangkit dari tidurnya berjalan melangkah menuju arah suara.
Dilihatnya Irna sedang menangis terisak-isak di kursi meja makan, gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas meja, di tengah kegelapan.
Fredian kemudian menyalakan saklar lampu. Dia duduk di sebelahnya, meraih bahu Irna ke dalam pelukannya.
"Alfred akan baik-baik saja, percayalah padaku, hem?" Fredian mengangkat wajah Irna menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Ibuku sangat menyayangi cucunya, seperti dia menyayangiku. Dan dia tidak ingin cucunya jauh darinya, dia takut kehilangan cucunya jadi dia memintanya darimu." Ujar Fredian mencoba menenangkan Irna.
"Tapi bagaimana denganku, aku ibunya. Aku jauh dari anakku sendiri, bahkan aku tidak bisa melihatnya lagi!" Ujar Irna sambil memukul bahu Fredian.
"Siapa yang bilang kamu tidak bisa melihatnya lagi? jika ibuku berniat mengambilnya dan tidak mengijinkan kamu melihatnya, sejak awal Alfred lahir bukankah lebih mudah untuk merebutnya darimu? kenapa baru sekarang? karena dia ingin Alfred mengenal ibunya, mendapatkan air susu ibunya." Ujarnya lagi masih merengkuhnya dalam pelukan.
"Tapi ibumu sangat membenciku, dan aku juga membencimu sekarang! huaaaaaa!" Irna kembali menangis lebih kencang, memekakkan telinga Fredian.
"Sudah jangan menangis lagi, bukankah kamu masih bisa punya anak satu lagi, atau dua lagi?" Ujar Fredian sambil tersenyum.
"Apa maksudmu! brak! brak!" Irna menimpuk kepala Fredian dengan botol air mineral di atas meja.
"Bisa-bisanya kamu bicara begitu di saat aku merasa sangat sedih! awas kamu! huh!" Irna masih terus menimpuk kepala Fredian dengan botol, membuat pria itu menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Ah, aduh! apa kamu mau memiliki suami berkepala penuh benjolan?" Ujar Fredian sambil menangkap kedua tangan Irna.
"Kenapa kamu tidak tidur?!" Tanya Irna padanya.
__ADS_1
"Aku kedinginan, jadi aku tidak bisa tidur. Ibuku pasti akan marah melihat putra satu-satunya tidur di atas sofa dan kedinginan sepanjang malam." Ujar Fredian pura-pura memelas.
Irna meneguk kembali air dari botol di tangan kanannya.
"Aku akan memberikan selimut tebal untukmu, jadi jangan hawatir akan kedinginan." Irna berjalan menuju lemari melemparkan selimut tebal di atas kepala Fredian.
"Selimut ini masih dingin!" Ujar Fredian sambil mengekor Irna masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah malam jangan berisik, bukankah kamu besok masih harus ke kantor?! Awas saja jika ibumu kembali menyalahkanku karena kamu tidak pergi ke kantor!" Teriak Irna sambil mendorong tubuh Fredian ke luar pintu.
"Aku tidak akan pergi ke kantor jika harus tidur di sofa!" Ujar Fredian sambil terus berusaha menerobos masuk ke dalam kamar, menghalangi Irna menutup pintu.
"Ya sudah kalau begitu tidurlah di dalam!" Irna menarik kerah baju Fredian, masuk ke dalam kamarnya.
Irna kemudian beranjak pergi ke luar kamar, tapi Fredian menahan pinggangnya dengan kedua lengannya. Membuat tubuh gadis itu berdiri mematung.
Pria itu menepikan rambutnya ke bahu kiri, membisikkan di telinganya.
"Tidurlah bersamaku, aku tidak ingin tidur sendirian."
"Huh." Irna mendengus meniup ujung hidungnya kemudian membalikkan badannya menghadap ke arah Fredian.
Lalu melemparkan selimut menutupi wajahnya.
"Braaakkkkkkk!" Irna pergi keluar dari kamar sambil membanting pintu.
"Woaahhh! dia luar biasa sekali! siapa yang mengira dia akan meninggalkanku sendirian begini! aku pikir dia akan menciumku, dan memandang wajah tampanku, membelai keningku! lalu bilang oh suamiku yang sangat tampan, aku sangat mencintaimu!" Ujar Fredian keras sekali sampai suaranya terdengar di telinga Irna.
Gadis itu berjalan menghentak-hentakan kakinya kemudian melongokkan kepala ke dalam kamar, melempar bantal ke wajah Fredian.
"Bruuuk! jika kamu tidak bisa diam aku tidak akan melempar bantal! tapi aku akan melemparkan sandal ke mukamu!" Hardiknya sambil mendelik marah menatap Fredian.
"Bagaimana mungkin istriku yang lembut dan manja bisa berubah seperti serigala dalam waktu tiga tahun!" Gerutu Fredian lagi.
"Aku mendengarmu! apa kamu mau mencobanya?!" Teriak Irna dari kamar sebelah.
"Tidak! aku akan tidur sekarang." Ujar Fredian buru-buru menutup kedua matanya.
Satu jam berlalu Irna sudah terlelap dalam tidurnya, tapi Fredian masih membolak-balik badannya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Fredian mengendap-endap masuk ke dalam kamar Irna.
Merangkak naik ke atas tempat tidur.
Tiba-tiba Irna membuka matanya memegang lengannya.
"Astaga! kamu mengejutkanku!" Ujar Fredian sambil memegang dadanya.
"Apa kamu akan terus seperti ini?!" Teriak Irna padanya.
"Aku tidak bisa tidur." Fredian berbaring di belakang punggung Irna menggosokkan kepalanya di punggung gadis itu.
Perlahan memeluk pinggang Irna dan meremas dadanya.
"Astaga! kamu benar-benar tidak ingin tidur semalaman?!" Ujar Irna menurunkan tangan Fredian dari dadanya. Membalikkan badannya menghadap ke arah Fredian.
"Aku lelah sekali, tidak bisakah kamu membiarkan aku tidur." Bisik Irna sambil melihat wajah Fredian lalu tertidur.
Irna tertidur tapi Fredian tidak bisa menutup matanya semalaman.
Irna terbangun dan melihat Fredian di sebelahnya dengan wajah kuyu. Lingkaran hitam di bawah kedua matanya.
"Apa kamu benar-benar tidak tidur semalaman?" Tanya Irna terkejut melihat wajah Fredian selesu itu.
"Aku terus berdebar-debar sepanjang malam, bagaimana bisa tidur. Dan kamu terus menolakku, kamu tidak tahu bagaimana menderitanya memendam hasrat? aku pria normal!" Teriaknya di depan wajah Irna sambil turun dari tempat tidur dengan wajah cemberut.
"Lalu apa yang kamu lakukan selama tiga tahun berpisah denganku? jika kamu pria normal memang bisa menahan hasrat selama itu?!" Irna berkacak pinggang menatap Fredian dengan serius.
"Aku minum sampai mabuk setiap malam untuk melupakanmu, tapi aku malah menjadi seperti mayat hidup. Hatiku mati tapi aku masih bernafas! aku seperti orang linglung yang kehilangan jiwa!"
Ujarnya serius sambil jalan sempoyongan hampir menabrak pintu, jika Irna tidak segera menangkap tubuhnya.
"Kamu pingsan? heh?" Irna menepuk pipi Fredian, tapi pria itu masih menyandarkan tubuhnya ke tubuh Irna.
Dengan terpaksa Irna menyeretnya kembali ke tempat tidur. Dan Fredian dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya menimpa tubuh Irna.
"Fredian? kamu tertidur?" Irna mencoba menyingkirkan tubuh yang menimpanya ke samping. Tapi dia tidak bisa.
"Tubuhnya atletis dan tidak berlemak, tapi kenapa seberat ini? atau aku yang terlalu kurus?" Ujar Irna tidak bisa bergerak di bawah himpitan tubuh Fredian.
__ADS_1
Bersambung....