
Wanita itu membalikkan badannya hendak menuju ke lift yang ada di ujung lorong.
"Tunggu!" Terdengar suara seseorang menghentikan langkah kakinya. Wanita itu berhenti melangkah lalu berbalik menatap wajah pria di depannya.
"Irna!" Rian berlari menghambur begitu saja, dia berlari memeluknya.
"Tuan! Saya bukan Irna!" Wanita tersebut meronta-ronta mencoba melepaskan pelukannya.
"Presdir!" Ramon menepuk bahunya dari belakang. Kini mata Rian terlihat berkaca-kaca, dia tahu dari suaranya wanita itu bukan Irna. Dia segera meminta maaf karena telah memeluknya begitu saja.
Ramon memapahnya melangkah pergi menjauh dari wanita itu. Wanita itu tersenyum lembut menatap kepergian pria jangkung tampan itu.
"Tunggu tuan!" Kini dia yang berlari mengejarnya. Mendekat ke arahnya.
Rian berhenti dan melepaskan tangan Ramon dari atas bahunya. Dia berbalik menatap wanita itu.
"Kenapa? Apakah ada yang ingin nona katakan?" Tanyanya dengan sopan pada gadis itu.
"Perkenalkan nama saya Cerine, saya mengisi kelas di lantai tiga, kalau boleh saya ingin bergabung di NGM." Ujarnya tanpa basa-basi lagi.
Rian tersenyum melihat wajah antusias di depannya itu. Dia ingat dengan Arvina, gadis yang dahulu sempat dia nikahi. Gadis yang dia tinggalkan dengan luka di hatinya demi menyelamatkan nyawa Irna. Demi wanita yang dicintainya!
"Datanglah jika nona berminat masuk ke perusahaan kami." Rian menundukkan kepalanya memberikan hormat, lalu berbalik pergi melanjutkan perjalanan.
Pria itu ingin kembali ke London sore itu. Sedangkan Nira telah kembali beberapa menit yang lalu bersama Kania. Nira ingin melepaskan kerinduan yang mendalam terhadap gadis itu. Sudah lama sekali mereka tidak bersama-sama.
Saat melintasi kawasan perbukitan Rian meminta Ramon untuk menghentikan mobilnya.
"Berhenti di rumah yang ada di ujung sana." Perintahnya pada Ramon asistennya itu, agar dia segera menghentikan mobilnya di ujung jalan.
Rian turun dari mobilnya, pria itu membuka pintu rumah tersebut. Matanya menatap rumah yang telah bertahun-tahun lamanya tidak dihuni sama sekali. Banyak debu di mana-mana. Di sanalah dia bersama Irna hidup beberapa tahun yang lalu. Di sanalah dia dan gadis itu merawat Alfred bersama-sama.
Air matanya kembali meleleh, pria itu jatuh terduduk di lantai ruang tengah. Di tempat itu mereka selalu saling mengejek dan bertukar pandang.
"Irna kembalilah! Sekali saja ijinkan aku melihatmu! Sekali saja! Walaupun kamu telah bersama pria lain aku mohon biarkan aku melihatmu sekali saja! Sekali saja!" Ucapnya dengan suara putus asa.
"Presdir kita akan tertinggal pesawat. Kita harus segera berangkat ke Bandara." Ramon membantunya berdiri dari atas lantai. Pria itu kembali memapahnya melangkah menuju mobilnya. Meninggalkan rumah berdebu di belakang punggungnya.
Rian masih terus memikirkannya, memikirkan Irna tanpa henti-hentinya. Di mana-mana yang terlihat di matanya hanyalah wanita yang dia cintai itu. Irna Damayanti, Kaila Elzana, dan Angelina.
Satu jam perjalanan Rian dari Jerman ke London. Sesampainya di sana pria itu langsung menuju ke sebuah klub malam.
Dia tanpa sengaja duduk bersebelahan lagi dengan rivalnya, Fredian. Dia juga tidak tahu jika pria itu sudah kembali dari Perancis.
"Kamu di sini juga?" Ucapnya sambil meneguk segelas minuman di atas meja.
"Kamu juga! Bagaimana hasil pencarianmu?" Tanya Fredian dengan bibir tersenyum. Melihat wajah berantakan Rian di sebelahnya.
"Aku tidak menemukannya! Dia seperti lenyap di telan bumi." Gerutu Rian kesal sekali, karena dia benar-benar sudah mencarinya ke pelosok dunia tapi tetap saja tidak bisa menemukan keberadaan Irna.
Sejauh apapun dia mencari tetap tidak bisa.
"Dasar bodoh!" Kini Fredian terlihat menertawakan keadaan dirinya.
Rian menoleh wajah tersenyum cerah di sebelahnya, Fredian tidak terlihat kesal sama sekali. Wajahnya terlihat sumringah seperti tidak kehilangan wanita yang dicintainya itu sama sekali. Fredian menuangkan minuman dari botol ke dalam gelas Rian. Terdengar suara berdenting saat botol di tangannya berbenturan dengan bibir gelas di atas meja.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu sudah menemukannya di Perancis? Dan kalian telah bersama-sama selama ini?" Tebak Rian pada Fredian karena pria itu terlihat sangat mencurigakan.
Fredian hanya tersenyum menjawab tebakan Rian. "Tidak sama sekali. Aku bahkan tidak pernah berniat untuk mencari wanita itu."
Kini Fredian tersenyum sambil meneguk minuman di gelas yang ada di tangan kanannya.
"Aku sudah melihatnya beberapa kali di sini. Tapi begitu aku cari dia selalu menghindar dan menghilang seperti asap tanpa bekas. Jika saja dia Cinderella aku masih bisa mencari sebelah sepatunya! Tapi dia wanita iblis dan bahkan aku tidak bisa menggapainya kecuali dia menginginkan diriku." Fredian masih tersenyum manis seperti biasanya.
"Jadi berhentilah mencarinya, jika dia tidak ada di tempat manapun kamu mencarinya, mungkin saja dia ada di sekitarmu." Ucap Fredian dengan sangat santai.
Dia yakin sekali Irna selalu mengawasi gerak-gerik mereka berdua. Dua pria itu yang bisa membuat Irna rela menukarkan nyawanya.
Begitulah kesimpulan yang ada di benak Fredian. Dan dia juga memutuskan untuk tidak mencari wanita lain. Karena jika Irna muncul tiba-tiba pasti dia langsung menghunuskan pedangnya yang ada pada dirinya.
Pedang kristal es milik Irna masih disimpan oleh Fredian dengan baik di dalam kastil kerajaan Vertose. Menuggu ratu Vertose penguasa alam vampir itu kembali.
Fredian tidak pernah berpikir jika penyerahan pedang kristal es padanya adalah agar dia yang mengambil tempat Irna, untuk menggantikan posisi dirinya di kerajaan tersebut.
Rian dan Fredian terus ngobrol sepanjang malam di klub malam tersebut. Mereka berdua sudah minum bergelas- gelas alkohol tapi tidak terlihat mabuk sama sekali.
Pertemuan mereka berdua hanya berlangsung satu malam itu saja. Karena keesokan harinya Fredian masih harus melakukan penerbangan dadakan ke Paris.
Di sana ada proyek yang harus dia selesaikan. Dia sengaja memperluas wilayah Resort miliknya ke seluruh penjuru dunia.
Untuk memperkuat bisnisnya dan membuatnya menjadi sorotan di seluruh negara. Dan untuk membuat Irna mudah menemukan keberadaan dirinya!
Dia bekerja sambil menunggu, kedatangan Irna.
Keesokan harinya, Fredian sedang melakukan meeting dengan klien. Mereka melakukan pertemuan tersebut di wilayah sekitar pantai.
"Selamat pagi nona Friska, ini adalah proyek kami. Jika anda ada keluhan yang tidak sesuai dengan keinginan anda, jangan sungkan-sungkan untuk mengutarakan kepada perusahaan kami." Ujar Maya sekretaris Fredian.
"Di mana presdir? Kenapa dia hanya mengirimkan sekretarisnya untuk melakukan pertemuan sepenting ini?" Gadis itu terlihat kesal karena tidak bisa menemui pria tampan itu hari ini.
"Maaf nona Friska, presdir hari ini ada jadwal mendadak jadi beliau melakukan penerbangan kilat ke Paris." Jelas Maya dengan hati-hati, dia tahu Friska adalah wanita yang sama sekali tidak bisa disinggung olehnya.
Sebelumnya Fredian dan Friska mereka berdua bertemu di Perancis, saat itu Friska sedang berada di mall. Dia hampir jatuh karena seseorang menabraknya. Kemudian menahan pinggangnya dengan kedua tangannya.
Dan pria yang berlari terburu-buru itu ternyata adalah pria yang sangat tampan sekali. Dia tidak bisa berhenti untuk terus memikirkannya. Hingga dia bertekad untuk mengejarnya ke London. Mengejar pria tampan bernama Fredian itu.
Fredian hanya tersenyum saat gadis itu beberapa kali menelepon dirinya. Untuk meminta Fredian memberikan satu waktunya yaitu sebuah pertemuan khusus.
Friska bahkan tidak ragu-ragu menanamkan saham yang tidak sedikit ke perusahaannya. Demi Fredian, demi pria yang hanya sekali saja dia temui itu.
Pria yang membuatnya terlena sampai gila, pria yang menahan pinggangnya di mall. Mata jernih Fredian, bulu lentik matanya terus membuatnya teringat sepanjang waktu.
Membayang di pelupuk matanya tanpa henti, membuat hari-harinya menjadi kacau balau. Hingga dia tidak bisa menahannya lagi.
Friska melipat kedua tangannya di depan dadanya, gadis itu berkali-kali mendengus kesal. Dia menatap jauh ke tengah laut. Pikirnya dia bisa melewati masa yang indah bersama pria tampan yang selalu menghantuinya belakangan ini.
Namun ternyata pemikirannya salah! Fredian sengaja menyibukkan dirinya membuat karirnya semakin melejit ke langit! Pria itu menyibukkan dirinya demi menantinya.
Menanti gadis yang selalu dia cintai. Namun tingkahnya sekarang tidak terlihat kehilangan sama sekali. Jadi Rian berpikir pria itu sudah melupakan segalanya. Dan hanya mengejar karirnya.
Rian sedang berada di dalam laboratorium miliknya, dia menatap banyak tabung berisi cairan kimia di atas meja. Berjajar berderet-deret rapi.
__ADS_1
Dia mendapatkan proyek dari rumah sakit Filipina. Dalam bayangan matanya Irna datang menghampirinya. Dan duduk menunggu di belakang punggungnya.
Saat dia melepas masker dan ingin menyentuhnya, bayangan wanita itu lenyap begitu saja. Membuat dirinya terduduk lesu di kursi ruang kerjanya itu.
Rian merebahkan kepalanya di atas meja, terlihat lesu dan malas.
"Fredian bilang dia selalu berada di sekitar kita berdua, sepanjang waktu! Setiap aku memikirkan itu aku menjadi semakin gila saja!" Sergahnya pada dirinya sendiri.
Pria itu kemudian beranjak dari kursinya, menuju ke arah pintu keluar. Dia melangkah ke laboratorium pusat dimana para pegawainya berada di depan banyak tabung berisi cairan kimia. Dia ingin melihat proyek yang ditangani oleh karyawan rumah sakitnya.
Apakah berjalan dengan baik atau sebaliknya. Dia menatap banyak karyawan sedang sibuk bekerja. Pria itu kembali menaikkan maskernya, lalu masuk di antara para pegawainya yang juga mengenakan pakaian sama dengan dirinya. Semua karyawan di sana memakai masker, sarung tangan,j uga pakaian khusus serta kacamata pelindung, agar tidak terkena percikan cairan kimia.
Rian melihat satu persatu, mendatangi meja satu persatu demi melihat perkembangan vaksinnya.
Pandangan matanya jatuh pada seorang gadis yang sedang berada di seberang meja, di depannya ada sekitar lima ratus vaksin. Cairan tersebut masih beruap dan Rian terkejut karena aroma yang keluar dari cairan itu adalah aroma bunga mawar.
"Hei kamu!" Panggil Rian pada gadis itu. Tapi gadis itu tidak mau menggubrisnya sama sekali. Dia masih memutar-mutar tabung di depan wajahnya mencermati perubahan demi perubahan yang ada.
"Kamu dengar aku tidak? Heh?!" Panggil Rian lagi. Tapi gadis itu malah hanya mengalihkan pandangan matanya sekilas, sekilas itu dengan tatapan mata menakutkan. Dan tatapan mata tidak senang karena pekerjaannya merasa terganggu. Konsentrasinya menjadi terpecah akibat gangguan kecil tersebut.
"Presdir ikut saya sebentar." Ramon menarik lengannya agar menjauh dari meja gadis itu.
Ramon terus mengikutinya sejak kepergian Kaila dari rumah sakitnya. Karena pria itu terus terlihat sedih sepanjang waktu. Dan itu juga karena permintaan Kania padanya untuk menjaga ayahnya. Kania tidak ingin terjadi sesuatu karena kesedihan ayahnya begitu dalam.
"Kenapa kamu menarik lenganku keluar dari dalam ruangan? Aku ingin berbicara pada karyawanku yang tadi." Rian melepaskan cengkeraman tangan Ramon dari lengannya, pria itu berniat ingin masuk kembali ke dalam ruangan para karyawan yang sedang mengurus vaksinnya.
Saat sampai di ambang pintu gadis itu sudah berdiri di sana melipat kedua tangannya di depan dadanya, dengan berani gadis itu melangkah maju mendorong langkah kaki Rian mundur. Lalu menutup pintu yang berada di balik punggungnya.
"Kamu berani-beraninya!" Teriak Rian karena tidak bisa mengendalikan emosinya lagi melihat keberanian karyawannya itu.
"Anda ingin bicara dengan saya presdir?" Tanyanya tanpa membuka penutup rambut dan segala pelindung tubuhnya.
Rian mendengar nada suaranya, nada suara wanita itu terdengar dingin. Dan juga suaranya tidak merdu seperti suara wanita dan gadis pada umumnya. Suaranya terdengar seperti ada kerusakan pada pita suara milik wanita di depannya itu.
"Uhk! Uhk! Uhk!" Gadis itu memegangi dadanya sambil terbatuk-batuk. Dia memunggungi Rian sekejap lalu berbalik kembali menunggu pria itu bicara padanya.
"Kenapa kamu malah membuat parfum! Kamu di sini bekerja tidak mengikuti peraturan, juga perintah dariku! Aku sudah memberikan proyek pada kalian semua. Dan ketika mereka membuat vaksin yang aku perintahkan kenapa kamu malah membuat versi berbeda?!" Celetuk Rian tanpa henti memarahi gadis itu.
"Saya membuat vaksin yang sama, tapi saya mendapatkan aroma yang berbeda dari bahan yang sama. Itu bukan karena keinginan saya sendiri." Jelasnya pada Rian dengan jujur.
"Kamu dipecat mulai hari ini. Kemasi barang-barangmu dan pergi! Kamu tidak tahu berapa kerugian yang ditanggung oleh perusahaan akibat kesalahanmu itu? Aku tidak ingin kamu menggantinya! Gajimu juga belum tentu cukup untuk membayarnya." Rian berkacak pinggang menahan amarahnya. Pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Uhk! Uhk! Uhk!" Gadis itu kembali terbatuk-batuk, lalu membalikkan badannya tanpa berkata-kata lagi. Dia menuju ruang ganti karyawan. Melepaskan seluruh pakaiannya dan juga tutup kepalanya. Kecuali maskernya. Rambut panjang hitam miliknya meriap di atas shirt warna abu muda. Dia kemudian mengikatnya ke atas agar tidak mengganggu langkahnya ketika di jalan.
Gadis itu menggunakan sepasang sepatu kets, celana jeans dan tas ransel berwarna hitam.
Dia melihat Rian masih berdiri di depan ruangan karyawan. Dia melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Tanpa protes karena pemecatannya hari itu.
Saat melihat punggung gadis itu Rian menghentikan langkahnya.
"Tunggu!"
Tapi gadis itu terus melangkah seolah-olah tidak mendengar panggilan darinya. Rian menghentikannya karena dia melihat laporan dan uji vaksin tersebut. Ternyata wanita itu sudah tiga tahun berada di perusahaan miliknya. Dan tidak membuat kesalahan sama sekali.
Bersambung...
__ADS_1