
"Javi? kamu tidak lupa dengan janjimu kan?" Tanyanya melalui ponselnya. Gadis itu sedang berganti pakaian di rumah Fredian.
"Wah sepagi ini kamu sudah menghubungiku? apakah kamu sudah tidak tahan untuk tidak menemuiku?" Tersenyum sambil meneguk anggur merah di dalam gelas.
"Kamu membatalkan perjanjiannya?!" Teriak Nira tidak percaya.
"Ya, karena aku sudah menemui Kaila! hidupnya pasti tidak akan bertahan lebih lama lagi. Aku hampir menghabisi nyawanya semalam. Sayangnya dia berhasil kabur! aku sudah tidak membutuhkanmu lagi."
"Traak! pyaaar!" Ponsel Nira jatuh berantakan di atas lantai. "Bruuuk!" Tubuhnya juga lemas jatuh menimpa pecahan ponselnya.
Gadis itu mengangkat telapak tangannya yang berdarah, jemari tangannya terluka akibat serpihan kaca.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa keluargaku seperti ini?" Nira berlari masuk ke dalam ruang baca Fredian dia mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu keluarganya.
Setelah mengacak-acak buku di atas rak tatapan matanya jatuh pada meja di sana. Gadis itu menarik laci kemudian menemukan syal dan cincin yang diberikan oleh Peter pada Irna.
"Syal? dan cincin?" Gumamnya masih tidak mengerti apa kegunaan dari dua benda tersebut.
Di dalam rumah sakit Rian kelabakan karena tidak menemukan Irna. Gadis itu hilang begitu saja.
Rian berlari ke ruangan security untuk melihat jejak Irna melalui cctv.
Sekitar dua jam dia mendapatkan jejaknya, dia melihat gadis itu melangkah terbatuk-batuk. Langkah kakinya tidak beraturan menuju keluar halaman rumah sakit.
Fredian mendapatkan rekaman sisi jalan raya depan rumah sakitnya. Melalui laptopnya dia melihat Irna masuk ke dalam sebuah bus, tepat saat dirinya masuk ke halaman rumah sakit berada di dalam mobilnya.
"Kenapa kamu pergi seperti ini! kita harus memecahkan teka-teki ini bersama! kenapa kamu menyerah?? Irna!" Pria itu melelehkan air matanya, dia membenamkan kepalanya di atas meja kerjanya.
Saat tubuh Irna terjatuh di lantai bus, seseorang bertopi hitam membantunya berdiri. Pria itu meneteskan air matanya, melihat tubuh penuh luka berada di dalam pelukannya.
"Maafkan aku! aku terlambat datang!" Bisiknya di telinga gadis itu.
"Kita menuju kemana tuan?" Tanya sopir bus pada pria tersebut.
"Stasiun kereta." Ujarnya pada sopir tersebut.
Di rumah Fredian..
Nira memasukkan syal dan cincin tersebut ke dalam tasnya. Dia segera menghubungi Rian, karena yang waras saat ini hanya kakek tirinya itu.
"Kakek di mana?"
"Aku masih di rumah sakit, datanglah kemari! ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu segera." Perintahnya pada cucunya.
"Baik kek, Nira segera ke sana." Gadis itu segera berlari ke halaman rumah kemudian naik ke dalam mobilnya.
Dia melajukan mobilnya secepat kilat menuju rumah sakit tempat Rian bekerja. Gadis itu sesekali meringis menahan nyeri pada punggungnya.
"Apakah tulang punggungku retak? kenapa rasanya nyeri sekali." Keluhnya sambil meringis kesakitan.
Sekitar satu jam gadis itu baru sampai di rumah sakit. Dia berjalan terbungkuk-bungkuk dari lobi menuju ke arah ruangan kerja Rian.
Dia segera masuk tanpa mengetuk pintu. Rian segera melakukan X-ray untuk mengetahui luka di punggung Nira.
Ternyata benar seperti dugaan gadis itu, tulang belakang punggungnya ada keretakan sekitar satu sentimeter.
"Sebenarnya sekeras apa dia melemparmu?" Tanya Rian sambil membalut dan memberikan penyangga pada punggungnya.
"Waktu itu aku melihat ada semacam tato di bawah tengkuknya, seperti gambar pohon menjalar! aku hanya ingin mengeceknya. Tapi dia mendadak marah dan mendorongku sampai tubuhku terlempar menghantam dinding."
Rian terkejut mendengar tumbuhan menjalar tersebut, lalu pria itu mengambil kertas kemudian melukis sketsa bunga di atas kertas. Bunga menjalar tapi berduri, saat mekar kelopak bunganya berwarna ungu.
Dia menunjukkan lukisan tersebut pada Nira, apakah benar sesuai dengan dugaannya.
"Apakah tato yang kamu lihat itu seperti ini?" Tanya Rian pada gadis itu.
"Iya, benar! sangat mirip dengan lukisan ini." Ujar Nira cepat.
"Bunga ini hanya tumbuh di istana kerajaan Interure." Ujar Rian pada Nira.
"Bunga itu muncul menjadi sebuah jelmaan, bukan dia yang asli. Setelah orang tersebut terkena durinya. Maka racun bunga mulai bereaksi mengambil tempatnya. Orang tersebut akan pingsan selama dua puluh empat jam."
"Bunga itu menyerupainya, mengambil tempatnya. Hanya saja satu hal yang membuatku yakin sekarang adalah dia bukan Fredian. Bunga itu menyerupaiya, dan kakekmu pasti sedang kehilangan kesadaran dirinya. Dan saat kamu melihatnya di resort itu hanyalah jelmaan, juga yang aku temui tadi pagi."
"Bunga itu memiliki batas waktu, mungkin kakekmu sudah sadar dari pingsannya. Semoga dia menemukan Irna! semoga saja!" Rian mencoba meyakinkan hatinya sendiri.
Dia tidak tahu apa yang bisa dia lakukan jika Irna sampai sekarat sendirian di luar sana.
__ADS_1
Rian mengingat kejadian yang sama saat dia masih tinggal di kerajaan Interure. Ada seseorang berniat jahat padanya dan juga keluarganya. Salah satu orang yang memegang peranan penting dalam kerajaan, menggunakan bunga itu untuk menghancurkan kerajaan Interure.
"Kek, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Barangnya ada di dalam tasku." Ujarnya sambil tersenyum, Nira merasa sangat bersyukur ternyata Rian tahu tentang segalanya.
Tapi dia masih bertanya-tanya bagaimana kakeknya itu bisa mengetahui tentang seluk beluk kerajaan Interure tersebut.
Rian melangkah ke arah tas Nira, dia mengeluarkan syal dan cincin tersebut dari dalam sana.
"Darimana kamu mendapatkan barang-barang ini?" Rian berkaca-kaca menggenggam dua benda itu.
"Itu aku menemukannya di laci ruang perpustakaan kakek." Jelasnya segera.
Rian mencium syal tersebut, ada aroma parfum Irna. Pria itu tersenyum, dia tahu Peter yang memberikan itu padanya.
Peter tahu Irna melindungi seseorang yang dicarinya selama ini. Pria itu diam-diam mengawasinya.
Malam itu Fredian pergi tiba-tiba karena Javi Martinez mengancamnya akan menghabisi nyawa Irna. Pria itu telah menipunya. Fredian tidak bisa berfikir jernih ketika mendengar nama istrinya disebutkan.
Tanpa berpikir panjang pria itu langsung menuju ke tempat dimana Javi Martinez berada. Dan Julia yang menusukkan duri bunga tersebut pada punggungnya.
Sebelumnya Peter telah mengetahui rencana busuk Javi Martinez. Pria itu diam-diam memberikan pusaka milik penerus kerajaan Interure tersebut kepada Irna.
Karena dia yakin Irna akan memberikannya pada Rian, yang tidak lain adalah Wiliam. Peter sudah tahu Irnalah yang menjaga penerus kerajaan Interure, saat menemui Irna acap kali pria itu mencium aroma tubuh Rian tertinggal pada tubuh Irna.
Karena mereka sangat dekat sampai aroma tubuhnya bercampur menjadi satu. Peter masih tidak mengetahui, jika Rian dan gadis yang sering dia temui itu sudah memiliki seorang putri yang begitu spesial. Yaitu Kania.
Peter juga yang menyembunyikan tubuh Fredian saat Julia menyeret tubuhnya ke suatu tempat. Peter memukul tengkuknya hingga gadis itu pingsan.
Kemudian dia membawa tubuh Fredian pergi ke sebuah penginapan untuk menyembunyikan dari Javi Martinez.
"Kakek kenapa wajah pria gila itu sangat mirip dengan wajahmu? Dia memakai anting pada telinga kanannya." Tanya Nira pada Rian, dia sudah tidak mampu menghalau rasa penasaran di dalam hatinya lagi.
Rian tersenyum sambil memegang jemari Nira.
"Dia bukan pria yang baik, lupakan dia."
"Astaga! apa kakek pikir aku jatuh cinta padanya? Kakek, sebenarnya pria itu terus-menerus menanyakan nenek." Jelasnya lagi pada Rian.
Rian sekarang mengerti, luka di sekujur tubuh Irna berasal dari mana. Pria itu menahan amarahnya sambil mengepalkan tangannya.
"Jadi aku mencoba menarik perhatiannya mencoba menghalangi pertemuan mereka berdua, dan pagi tadi saat aku menghubunginya. Dia bilang padaku kalau dia semalam sudah menemukannya. Pria gila itu dia bilang hampir menghabisi nyawanya..."
"Kakek, pasti nenek sedang terluka parah sekali. Aku mendengarnya terbatuk-batuk saat dia meneleponku pagi ini." Nira memegang lengan Rian.
Gadis itu melelehkan air matanya, dia tidak bisa mengahalangi pertemuan mereka berdua dan menyebabkan semua masalah hari ini.
"Aku akan mencarinya, jangan pikirkan masalah ini. Semuanya bukan salahmu." Rian mencoba menenangkan hati Nira.
Satu jam kemudian..
"Braaaaak!" Seorang gadis menerobos masuk tanpa mengetuk pintu, wajahnya terlihat sangat cemas.
"Apa yang terjadi Nira? kenapa dengan punggungmu?" Cerocos Kania, saat melihat saudaranya terluka.
"Hanya luka kecil!" Tersenyum sambil menggenggam tangan Kania.
"Kau! ngapain kau ikut kemari?" Nita melotot ke arah Royd Carney. Pria itu terus menundukkan kepalanya. Dia sangat ketakutan saat melihat Rian sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Aku sudah bilang padanya jangan mengikutiku, tapi sepertinya otak pria ini sedikit geser. Dia diam-diam tetap menyelinap mengikutiku."
"Dia bilang bahaya gadis sendirian melakukan perjalanan jauh. Padahal dirinya sendiri lebih membahayakan dibandingkan jalanan!" Gerutu Kania tanpa henti sambil melotot ke arah Royd.
"Maafkan kesalahan saya Presdir Rian, saya telah menyebabkan masalah beberapa waktu lalu di kediaman anda. Pembantaian pengawal saat itu berada di bawah kendaliku! Dan para pemburu itu adalah anak buahku."
Kania semakin marah mendengar penjelasan itu dari bibir pria yang selama ini mengekornya kemanapun dia pergi. Royd membungkuk meminta maaf pada Rian.
"Jika sampai kamu mengulanginya lagi, aku tidak akan membiarkan kamu berada di sekitar putriku!" Tandasnya tegas tanpa pertimbangan sama sekali.
"Jadi sekarang, Presdir mengijinkan saya berada di sekitar Kania?!" Teriaknya dengan wajah berbinar-binar penuh harapan.
"Hanya untuk sementara!" Rian tersenyum melihat putrinya cemberut mendengar persetujuan darinya.
"Untuk sementara ini, lebih aman jika kamu bersembunyi di balik punggung musuh. Mungkin saja mereka akan berfikir kalau kamu sudah bersekutu dengannya." Jelas Rian sambil berbisik di telinga Kania.
Gadis itu mau tidak mau menganggukkan kepalanya. Dia menoleh ke kanan-kiri, mencoba untuk mencari Irna.
"Mamamu ada tugas di tempat yang jauh, mungkin dia tidak akan kembali dalam waktu dekat ini." Rian memeluk putri satu-satunya itu sambil menahan air matanya.
__ADS_1
Nira melihat isyarat melalui tatapan mata Rian, agar dia tidak menceritakan yang sebenarnya pada Kania.
Karena itu akan membawa situasi bahaya di sekitar gadis kecil itu. Kelakuan nekadnya, saat mendengar mamanya terluka pasti dia akan mencarinya sampai ke ujung dunia. Gadis itu tidak akan berhenti mencari sekalipun harus mengorbankan nyawanya.
Begitu dalam cintanya pada mamanya itu, juga kepada seluruh keluarganya. Dia sama nekadnya dengan Nira. Dan mungkin lebih jauh lagi keberaniannya.
Satu jam kemudian David masuk ke dalam ruangan, dia melihat Royd. Pria itu mengancungkan jari telunjuknya ke arah David.
"Kenapa kamu mengikuti gadisku kemari?!" Protesnya tanpa ragu sama sekali.
"Kamu pikir aku siapa? pacar anak kecil ini? Dasar senewen!" Umpatnya kesal.
David memeluk kakaknya sambil menangis. Dia tidak tahan melihat saudara perempuannya terluka separah itu.
"Sayang! bagaimana kamu bisa terluka seperti ini?" Sandira menerobos masuk ke dalam ruangan langsung menghambur memeluk putrinya.
"Nggak apa-apa ma, Nira kan gadis yang sangat kuat!" Tersenyum manis mencoba menghibur mamanya.
David tersenyum menatap Royd, kemudian mengajak pria dari keluarga Carney itu keluar dari dalam ruangan.
"Ma, David ngobrol sama teman lama dulu." Pamitnya pada Sandira, gadis cantik itu hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan putranya.
"Kamu saudara cewe tomboy itu?" Tanyanya pada David saat mereka sudah berada di luar ruangan. Mereka berdua kemudian duduk di kursi lorong.
"Hem, kami tidak pernah berada di sekolah yang sama. Nira di Belanda, aku masih di London. Aku kuliah di sini." Terangnya pada Royd sambil tersenyum.
Alfred langsung menuju ke Reshort. Dia tidak menemukan jejak apapun. Selain dua tangkai bunga dengan batang penuh duri, bunga tersebut sudah kering.
Tergeletak di tengah ruangan kerja Fredian. Saat menyelidiki cctv, Alfred sedikit terkejut karena yang terlihat adalah papanya dengan wanita muda.
Mereka berdua bermesraan lalu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Setelah itu tidak keluar lagi. Dan yang ditemukan olehnya adalah dua tangkai batang bunga kering.
Alfred tidak bisa memecahkan masalah tersebut. Karena segalanya terjadi di luar logikanya.
"Tidak ada bukti dan jejak keluar dari dalam ruangan, tapi kemana hilangnya dua manusia itu!" Gerutunya kesal sekali.
Dan saat menghubungi ponsel Fredian, ponsel milik pria itu ada di atas meja ruang kerjanya.
"Ini bukan hal yang bisa ditangani menggunakan hukum." Gerutunya lagi.
Alfred mengambil dua batang besar bunga kering tersebut. Dia memasukkan bunga itu ke dalam karung. Karena ukurannya lumayan besar. Hampir setinggi dirinya.
Alfred masih memakai seragamnya dia sedang berbicara dengan petugas yang menjaga di lobi Resort milik ayahnya itu.
Julia berdiri di halaman Resort melihat ke arah Alfred. Pria tampan dan menyerupai Fredian itu tidak memperhatikan dirinya sama sekali.
Julia semakin tergila-gila melihat baju seragam lengkapnya. "Pria yang sangat gagah dan tampan." Ucapnya sambil tersenyum penuh rasa kagum.
Setelah mencari keterangan dari petugas lobi Alfred bergegas menuju mobilnya. Tapi tiba-tiba Julia memegang kedua lengannya.
Alfred sangat terkejut, tapi melihat wajah yang sedang menatap dirinya penuh rasa kagum itu. Dia tahu, gadis itu jatuh hati pada papanya.
Dia salah mengenalinya. Mengira dirinya adalah Fredian.
"Ronal, akhirnya aku menemukanmu!" Teriaknya sambil menyandarkan kepalanya di atas bahunya.
"Ronal?" Gumam Alfred tidak mengerti apa maksud dari ucapan gadis itu.
Pikirnya pasti gadis yang menggamit lengannya sekarang ini mengetahui sesuatu tentang ayahnya. Alfred tidak ingin membuang kesempatan baik itu.
Dia sengaja mengajaknya pergi bersamanya untuk menguras beberapa informasi penting. Tujuannya satu-satunya saat ini adalah menemukan keberadaan papanya.
Dia juga sudah menghubungi Irna tapi ponsel Irna sudah tidak aktif sejak kemarin. Dan pagi ini Maya, sekretaris Fredian yang menghubungi dirinya untuk datang memeriksa Resort.
Maya bilang banyak kejadian ganjil yang ditemuinya. Dan juga saat Nira terluka dia mencoba mencari data tentang keluarga gadis itu.
Dia menemukan data yang menyatakan Alfred Derosse adalah ayah kandungnya.
Saat melihat foto wajah pria yang hampir menyerupai Presdirnya itu, gadis itu mengambil kesimpulan bahwa dia adalah putra kandung Fredian bersama Irna Damayanti.
Dan melihat wajah Nira begitu mirip dengan Kaila Elzana, dia juga mengambil kesimpulan bahwa dari sekian orang itu memilki hubungan satu sama lain. Dan hubungan antara mereka semuanya bukanlah sebuah hubungan keluarga yang simpel atau sederhana.
Selain itu yang masih membuatnya bingung saat ini adalah kematian Irna Damayanti. Lalu muncul sosok beberapa tahun kemudian. Kaila juga memiliki wajah yang hampir mirip dengan Irna, tetapi begitu berbeda.
Dia terus menelusuri mencari tahu tentang Irna Damayanti. Gadis yang merupakan istri syah dari Fredian Derosse.
Seorang arsitektur ternama di London, lalu banting stir menjadi artis model terkenal sejagat raya.
__ADS_1
Kepala Maya terasa seperti tumpukan jerami. Dia mencari titik terang tentang sosok gadis cantik itu. Tapi tetap buntu! dia tidak menemukan jawabannya.
Bersambung...