
Irna tertidur begitu pulas, sudah beberapa lama ia menutup matanya karena begitu lelah melayani suaminya.
Dan ketika bangun dia merasakan tetesan air jatuh di atas wajahnya. "Apa ini?" Irna mengerjapkan matanya sambil mengusap cairan yang jatuh mengenai wajahnya.
"Darah??!" Irna terhenyak dari atas tempat tidurnya, gadis itu segera berdiri di sebelah tempat tidurnya. Dia melihat sosok tergantung di langit-langit ruangan kamar tersebut.
Mahluk aneh, dengan leher tersayat mendelik menatap ke arahnya. Darahnya jatuh ke bawah. Dan tentu saja hanya Irna yang bisa melihatnya.
"Dasar sialan!" Umpat Irna seraya melangkah menuju ke dalam kamar mandi, mengabaikan keberadaan mahluk tersebut, lalu melepaskan seluruh pakaiannya berendam dengan air hangat di sana.
"Sreekkkk! sreekkk!" Mahluk tersebut sudah turun ke lantai, menyeret kakinya menuju ke kamar mandi dimana Irna berada sekarang.
Irna masih memejamkan matanya bersandar pada bath up. Melepaskan penatnya.
"Kkkkiiiiikk... kiiiikkkk... kikkk.. sreekkk!" Terdengar suara kikikan dari udara yang keluar masuk dari leher berlubang mahluk tersebut. Irna tahu dia sedang berjalan menuju tempatnya berendam saat ini.
"Sreekk! sreekkk!" Mahluk tersebut menyeret kakinya, kali ini dia sudah sangat dekat dengan posisi Irna berendam.
Mahluk berambut panjang tersebut menyeret kakinya mendekati bath up nya. Menyentuh tepi bath up Irna. Jemari kukunya sangat panjang dan runcing. Mahluk tersebut mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi kemudian dia menghujamkan tangannya ke arah perut Irna. "Jraaaaasshhhhh!!!!"
Tapi sayangnya dia hanya menusuk bak mandinya, Irna sudah tersenyum memakai pakaiannya, gadis itu melangkah santai keluar dari ruangan Fredian. Sudah memakai baju rapi, dan juga jas putih dokternya.
"Memangnya dia pikir aku ini siapa??!" Gumamnya pada dirinya sendiri, di dalam kamar mandi tersebut mahluk mengerikan itu perlahan-lahan tubuhnya mengeluarkan asap.
"Akkkhhhh!!!!" Mahluk itu berteriak nyaring dan lenyap terbakar. Entah apa yang sudah dilakukan Irna padanya.
Fredian tersenyum melihat wanitanya sudah berdandan rapi, pria itu menghampirinya. "Mau aku antar?" Tawarnya sambil memeluk pinggangnya saat gadis berbaju dokter itu melintas di sebelahnya.
"Hem, tapi sepertinya aku tidak akan pulang hari ini. Jika Rian memberikan izin, aku akan langsung ke Belanda." Bisik Irna di telinga suaminya.
Pria itu menciumi pipinya di lorong hotel, lalu memagut bibirnya dengan sangat lembut. Mengabaikan Karin yang sudah bersiap melangkah menuju ke arahnya.
__ADS_1
Gadis itu membawa berkas di tangannya, awalnya dia pikir Fredian sedang sendirian karena acara meetingnya begitu tenang tadi pagi.
"Wanita itu lagi!" Geramnya sambil meremas berkasnya, merobek-robeknya lalu berbalik pergi kembali ke lobby hotel.
Maya melihat wajah muramnya, gadis itu terkikik geli sambil menutupi bibirnya sendiri. "Hahhahaha! dasar sampai kapan wanita itu akan membiarkan hatinya tercabik-cabik??! hahahaha lucu sekali!"
Maya pura-pura kembali merapikan berkasnya saat Karin melintas di depannya sambil melotot ke arahnya. "Apa kamu?! menertawaiku?!" Gertaknya pada Maya.
Maya diam saja, jika dia menjawab gertakannya sama saja akan mempermalukan dirinya sendiri.
Karin mendapatkan julukan baru di resort Angel tersebut, wanita gila tidak tahu malu! begitulah mereka menamakan gadis cantik itu setiap melihatnya. Karena dia selalu berusaha mencari perhatian dari Fredian.
Dan penolakan dari Fredian yang berpuluh-puluh kali itu tidak membuatnya jera sama sekali. Dia memasang wajah tebal, dan tidak berhenti menggembar-gemborkan hubungan yang sama sekali tidak ada benarnya di depan publik antara dirinya dengan Fredian.
Fredian tersenyum melihat wajah cantik Irna dalam pelukannya, dia sebenarnya tidak ingin melepaskan pelukannya sama sekali. Tapi Irna mencoba untuk membuatnya tenang, hingga dia mau melepaskan genggaman tangannya.
"Hanya sebentar saja sayang, aku akan segera kembali." Desahnya di telinga suaminya.
Irna tersenyum sambil mengusap wajah suaminya, "Aku akan membayarnya setelah selesai menyelesaikan masalah di Belanda. Hem?" Menatap wajah suaminya dengan tatapan lembut.
"Apakah aku harus menunggu sampai kamu pulang? tak bolehkah aku menyusulmu ke sana?" Rajuknya seraya meletakkan keningnya menempelkan di kening Irna. Menggenggam kedua tangannya kemudian mencium punggung telapak tangan Irna.
"Hanya sebentar saja Fred? tidak selama yang kamu bayangkan."
"Bagiku lima menit tanpa melihat dirimu adalah satu tahun yang harus aku lalui. Bayangkan saja betapa beratnya itu?" Rajuknya lagi, pria itu benar-benar tidak ingin melepaskan genggaman tangannya.
"Irna..."
"Fred, jangan begini ah..." Keluhnya ketika pria itu menciumi lehernya. Membuat gadis itu merasa berat melepaskan pelukannya, "Akkkhhh! mmmhhh!" Irna merasakan jemari tangan kanan Fredian menelusup ke balik rok mininya.
"Fred! ini di tempat umum!" Irna mencoba memperingati suaminya.
__ADS_1
"Jadi apa kita perlu masuk ke dalam sebentar? aku janji hanya tiga puluh menit saja. Hem?" Fredian melirik pintu kamar hotel di belakang punggungnya. Pria itu sudah menggenggam kuncinya.
Sepertinya dia sudah menyiapkannya sejak awal, dia tahu mereka akan berpapasan di lorong hotel tersebut. Tanpa menunggu lagi Fredian menarik pinggangnya masuk ke dalam kamar tersebut.
"Fred...akkkhhh! ahhh!" Setelah berada di balik pintu tersebut Fredian langsung menelusupkan jemarinya di bawah rok mini milik Irna, menelusuri belahan sensitifnya. Mengacak-acaknya sampai basah. Seraya memagut bibirnya dengan ciuman liar.
Fredian mengangkat satu kaki mulusnya dan mulai menghujami area sensitifnya dengan hentakan-hentakan cepat. "Akkkhh! Irna...ahhhh! ahhh!"
"Clak! clak! clak! clak!" Hentakan-hentakan cepat tersebut menimbulkan suara berdecak-decak kedua area sensitif mereka berdua.
"Akkkhhhh! freddd...mmmhhh! auuuuwwhhh.. ahhhh!" Irna menikmatinya, gadis itu membiarkan pria itu terus-menerus menghujami area sensitifnya dengan hentakan-hentakan cepat.
"Kamu sangat menikmatinya sayang... " Desah nafas Fredian di telinga Irna.
"Freddd akkhhh.. akkhhh..." Irna meremas punggung Fredian, lidahnya kini bermain di ujung dada kenyalnya, yang tengah terguncan-guncang akibat tusukan bertubi-tubi pada belahan sensitifnya.
"Fredian... aku tidak tahan... akkhhh... akkhhhhhhh!" Irna memekik melepas klimaks dengan gigitan kecil pada daun telinga suaminya.
"Lagi sayang...ahhh akkkhhh!" Fredian belum menyelesaikan misinya, masih terus bermain mengaduk-aduk area terlarang tersebut dengan tonggak samudera miliknya.
Dan tepat tiga puluh menit kemudian, pria itu menumpahkan cairan kental miliknya, ke dalam belahan sensitif Irna, yang kini telah setengah berbaring di tepi tempat tidur dengan membuka lebar-lebar kedua paha mulusnya.
Membuat Fredian sangat bergairah melihat pemandangan itu. Cairan tersebut merembes keluar dari area sensitifnya, membuat Fredian terus ingin mengusapnya dengan lembut.
"Fred.. sudah ahh.." Irna mengelus lembut lengan Fredian, dimana pria itu masih mengusap-usap area sensitifnya.
"Lembut dan legit.. " Bisiknya di telinga Irna.
"Fred.. akkhhh!" Irna memekik sambil memukul dadanya karena Fredian menarik daging kecil yang ada di sana.
Bersambung.....
__ADS_1
Tinggalkan like sebelum pergi+komentar+Vote untuk mendukung author update setiap hari ya? thanks for reading... tunggu episode selanjutnya, jangan lupa tambahkan ke list favorit.. see you Readers...❤️❤️❤️❤️