Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Being in the middle is uncomfortable!


__ADS_3

Irna masih terbaring di atas tempat tidurnya, sampai dia tidak tahu berapa jam telah terlelap. Dia melihat cahaya matahari malui celah-celah gorden sudah beralih ke barat.


Fredian meninggalkan sebuah catatan, melalui pesan pada ponselnya. "Aku kembali ke London sore ini, besok pagi aku tunggu kamu pulang kembali ke London."


Irna meletakkan kembali ponselnya, kemudian bangkit dari tempat tidurnya melangkah menuju ke arah kamar mandi. Gadis itu menyalakan air shower hingga membasahi sekujur tubuhnya.


"Kamu pergi tanpa berpamitan?! padahal sepanjang malam dan pagi kamu bilang tidak ingin pergi! dasar plin-plan!" Gerutunya seraya menggosok tubuhnya dengan busa shower puff.


Irna menyelesaikan mandinya sekitar dua puluh menit. Gadis itu menyambar handuk kemudian membalut tubuhnya dengan itu.


"Sangat segar sekali tubuhku!" Ujarnya sambil memejamkan matanya merasa sangat segar setelah mandi. Pandangan matanya tertuju pada makanan di atas meja, Irna menyentuhnya dan masih terasa hangat.


"Siapa yang meletakkan makanan di sini? bukankah Fredian bilang dia sudah kembali ke London?" Irna segera membukanya dan menikmati makanan tersebut.


"Krataaaakkk." Pintu kamarnya terbuka seseorang masuk ke dalam membawakan dua cangkir kopi, sambil membawa setumpuk berkas. Pria itu tersenyum melihatnya melongo terkejut menatap wajahnya.


"Kenapa?" Pria itu meletakkan kopi di atas meja.


"Kamu yang membawakan makanan ini?" Tanyanya sambil melanjutkan acaranya mengunyah makanan tersebut.


"Hem." Ujarnya seraya membuka lembaran berkasnya di atas pangkuannya. Menandatangani beberapa, lalu membuka berkas yang lain.


"Kalau terlalu sibuk kenapa malah datang ke sini?" Tanyanya pada pria itu. Dia masih sangat serius meneliti berkas di tangannya.


"Aku pikir kamu pasti kelaparan, aku melihatmu sibuk seharian penuh sejak semalam." Ujarnya santai sekali, membahas hal memalukan itu tanpa nada rendah atau tinggi.


"Kamu benar-benar pengertian! hahhahaha!!" Irna tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya. Pria itupun juga tersenyum melihatnya tertawa selepas itu. Belakangan ini dia jarang sekali melihatnya tersenyum, atau mendapatinya berwajah cerah.


"Kamu tertekan? berapa lama? apa dia mengikatmu di dalam sangkar emas?" Ledeknya lagi masih dengan nada yang sama.

__ADS_1


"Kamu pikir aku peliharaan? sangkar emas?! dasar kamu!" Irna masih menikmati makanannya, kemudian mengambil kopi hangat di atas meja. Mulai meminumnya sedikit demi sedikit.


"Ah aku akan kembali ke London besok, apa kamu mau pergi sekalian bersamaku?" Tanyanya sambil melirik dengan ekor matanya ke arah Irna. Kemudian kembali meneliti berkas di tangannya.


"Apa dia mempercayakan diriku padamu lagi? aku khawatir dia kembali memukulmu ketika kita bersama-sama tiba di airport London!" Irna menatapnya dengan tatapan mata serius.


"Padahal kamu juga tahu, aku tidak pernah bisa mencintaimu selama ini. Tapi dia meragukanku, dan tidak mempercayaimu. Sebenarnya aku pikir dia sedikit keterlaluan, tapi aku mencintainya. Aku selalu mencintainya."


Irna mengehentikan kegiatan makannya, dia melamun mengingat kebersamaan dirinya dengan Fredian yang sudah bertahun-tahun lamanya.


Walaupun gadis itu kadang jengkel dan marah padanya, tapi tidak pernah sekalipun dia benar-benar membencinya. Dia selalu menginginkan pria itu, selalu tetap saja merindukannya.


Pria itu hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaan darinya. "Apa kamu berniat tinggal di sini, selama aku pergi ke kerajaan Derent?" Tanyanya pada pria itu lagi.


"Aku akan pergi setelah melihatmu naik ke dalam mobilnya nanti." Jelasnya masih berkutik pada berkasnya. Pria itu sama sekali tidak memperhatikan dirinya.


Rian sudah menyelesaikan berkasnya, pria itu kemudian meletakkannya di atas sofa, lalu melangkah menuju ke arah Irna. Berdiri di depan kaca jendela. Dia tersenyum menatap mentari bersinar hampir tenggelam.


"Oh! hey?" Panggil Irna padanya.


"Apa? kenapa?" Menoleh sekilas melihat Irna. Gadis itu meringis sambil meneguk kopinya. Rian kemudian menggelengkan kepalanya lalu kembali melihat ke luar jendela.


"Kamu yakin benar-benar memecatku?!" Irna masih belum bisa mempercayainya. Tidak mungkin pria itu memecatnya begitu saja.


Apalagi dialah satu-satunya yang selalu berhasil menuntaskan operasi serumit apapun karena kelebihan dirinya, hingga bisa melihat sekecil apapun masalah di meja operasi! juga saluran terkecil pembuluh darah pada pasien yang tidak bisa dilihat oleh dokter lainnya.


Dia begitu istimewa, terlalu istimewa. Rian tidak menjawab pertanyaan darinya. Pria itu hanya menghela nafas berat beberapa kali.


Irna bisa mengetahui tentang hal itu, pria itu juga sebenarnya tidak ingin melepaskan dirinya dari pekerjaannya. Tapi sepertinya ada campur tangan Fredian, sampai-sampai Rian bertindak seperti itu.

__ADS_1


"Apa ini karena Fredian?" Irna memberanikan diri untuk bertanya padanya.


Rian hanya tersenyum sekilas, melihat ke arahnya. Lalu dia berkata, "Menurutmu aku harus membantu sahabat karibku atau tetap membela mantan istriku?"


"Sudahlah lupakan saja, aku akan mencoba berbicara padanya! em, dan juga kenapa kamu tidak menghindari pukulannya ketika di rumah sakit?" Tanyanya lagi pada pria itu.


"Dia melihatmu berada di atas tubuhku? memangnya apa yang bisa aku lakukan?" Keluhnya sambil mengusap wajahnya sendiri.


"Aku korban cinta kalian berdua!" Ujarnya seraya menopang tubuhnya, membungkuk dengan kedua tangannya pada ambang jendela.


"Apa maksudmu korban? kamu menyela di tengah jalan. Merubah jalur lalu lintas." Sahut Irna dengan nada santainya.


"Ya tetap akulah yang selalu disalahkan. Sampai kapan kamu berencana membuatku sebagai kambing hitam?" Tanyanya dengan sengaja mencoba berkelakar.


"Tapi sepertinya kamu rela-rela saja? bukankah kamu yang ingin tetap berlama-lama di dalam jeratan akar pengorbanan?? aku sudah memintamu untuk keluar. Tapi kamu malah meminta tetap tinggal. Terkadang aku sendiri tidak bisa mengerti kemana arah jalur tujuanmu."


Ungkap Irna pada pria itu, dia berpikir pria itu sudah lebih dari cukup untuk membantunya dan Fredian.


"Bagaimana cara aku menjawabnya? sedangkan hatiku berjalan menuju ke jurang berkali-kali, tapi tetap saja tidak mati. Tetap seperti ini sejak awal." Rian akhirnya menundukkan kepalanya, dia sendiri tidak tahu bagaimana bisa perasaannya pada Irna tetap saja sama seperti sebelumnya.


"Apakah jika aku mendorong tubuhmu jatuh ke dalam jurang, kamu baru mau merubah keputusanmu untuk bertekad berada di dekatku?" Irna masih penasaran padanya, sudah sangat lama sekali pria itu memendam cintanya, dan dia merasakan kebahagiaan hanya pada saat ingatan Irna hilang beberapa tahun silam.


Begitu gadis itu mengingat Fredian, cinta dan bahagianya terkikis perlahan-lahan. Tapi dia tetap kukuh berada di dekatnya. Baginya Irna bukan hanya istri, tapi juga wanita yang berhak mendapatkan kebahagiaannya.


Dan karena alasan itulah dia kembali menyerahkan Irna pada Fredian. Walaupun dia tahu Irna tidak akan pernah pergi jika dia tidak menceraikannya.


*Bersambung...


Tinggalkan like +komentar+ vote juga ya? terima kasih Readers*...

__ADS_1


__ADS_2