Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
99 : Setengah Modar


__ADS_3

“Malu-maluin!”


Itulah yang Angga katakan setelah yakin, Arum dan Kalandra benar-benar pergi.


Kali ini, Septi tak melawan apalagi berisik layaknya biasa. Septi hanya mendengkus kesal, kemudian menunduk dalam sambil tetap duduk selonjor.


“Pokoknya aku enggak mau tahu. Mulai sekarang, kamu wajib mengikuti arahan sekaligus peraturanku jika kamu masih mau jadi istriku.” Angga benar-benar marah. Ia tak menerima bantahan apalagi penolakan.


“Tapi jujur sih, sebenarnya aku juga sudah bosan kalau hidupku begini-begini saja,” ucap Septi benar-benar pasrah.


Meninggalkan kebersamaan Angga dan Septi yang jauh dari romantis, atau setidaknya baik-baik saja, Arum tengah mengajak Kalandra ke makam ketiga anaknya. Ketiga anak yang tentu saja kakak dari Aidan. Janin tak berdosa yang ditakdirkan berpulang lebih awal tanpa harus Arum lahirkan. Arum berpikir, alasan tersebut terjadi karena andai ketiganya lahir secara normal, yang ada ketiganya pasti jauh lebih memprihatinkan dari Aidan yang dulu. Aidan sebelum Arum lepas dari Angga sekeluarga. Karena Aidan yang sekarang sudah menjelma menjadi bayi paling bahagia setelah menjadi bagian dari Kalandra sekeluarga.


Makam ketiga anak Arum dalam keadaan berjejer dan sudah sampai dikeramik bagian pinggirnya menjadi satu-kesatuan.


Di titik sekarang, Arum masih menjadi Arum yang tegar walau jujur saja, dihadapkan pada tiga makam mungil dan ketiganya merupakan peristirahatan terakhir anak-anaknya, membuat hati Arum teriris sakit. Apalagi kini Arum ingat, dulu ibu Sumini dan Anggun menentang keras mengadakan pemakaman layak untuk anak-anak Arum hanya karena faktor biaya. Karena walau Arum memakai uang hasil warung makan untuk mengurus, bagi ibu Sumini apalagi Anggun, uang tersebut lebih baik untuk makan mereka. Untuk menghidupi anak-anak Anggun yang banyak.


“Pantas mbak Anggun sekeluarga susahnya luar biasa. Wong dulu mereka sejahat itu. Ditambah mereka yang malasnya ngaret bahkan diformalin makanya seawet itu!” batin Arum.


Setelah dari makam, Arum dan Kalandra langsung mampir ke peternakan milik orang tua Kalandra. Lokasinya ada di tengah-tengah hamparan sawah demi menjaga kedamaian warga sekitar karena biar bagaimanapun, aroma tak sedap tetap tercium jika dari jarak dekat.


Kebersihan di sana sangat terjaga, terlepas dari pekerja di sana yang tampak bersemangat sekaligus kompak.


“Ini kenapa kalian bisa sekompak dan sesemangat ini, Mas-masnya?” Kalandra sengaja menggoda enam pria di sana. Keenamnya sedang kompak datang tak sampai berbagi jatah jam kerja karena kini memang sedang panen.


“Oh iya, ini akhir bulan menuju gajian, ya. Ditambah lagi panen, pasti sebentar lagi dompet kalian serempak obesitas,” lanjut Kalandra yang kompak tertawa bersama keenamnya.

__ADS_1


Arum yang cenderung diam refleks mesem sambil menggeleng tak habis pikir. Wanita itu memilih meletakan kedua kantong yang dibawa, di meja yang sudah dihiasi enam gelas kopi hitam dan beberapa bungkus rokok. Kedua kantong tersebut berisi nasi padang dan juga buah jeruk yang sengaja Kalandra beli di perjalanan tadi.


“Mas, panen besar gini, biasanya dipasarkan ke mana?” tanya Arum lirih setelah berada di sebelah Kalandra.


Keenam pria tadi sudah langsung Kalandra minta makan, selagi nasi padangnya masih hangat dan tentunya lebih enak.


“Bentar lagi ada saja yang datang, Yang. Sebelum panen kan sudah kabar-kabar lewat WA sama FB. Bentar deh, kita lihat juga. Aidan masih aman, kan?” balas Kalandra sambil bersedekap.


“Aman, Mas. Lagi pada tidur sama yang momong juga. Ini tadi, mamah pamitan tidur siang juga,” ucap Arum.


Kalandra langsung menahan tawanya membayangkan tingkah orang tuanya yang sudah menjadi kakek nenek siaga.


Sekitar satu jam kemudian, orang-orang sungguh berdatangan. Sebagian ada yang menunggu di gudang depan, tapi tak jarang ada yang langsung ke kandang. Kalandra sampai ikut membawa dua keranjang anyaman berisi ayam, sedangkan Arum hanya ditugasi untuk mengamati di belakang Kalandra.


“Massee, itu para bebek masih di bawah umur, loh. Jangan dipanen dulu, nanti kita kena pasal perlindungan anak!” Arum heboh ketika bebek-bebek di belakang gudang, sibuk disortir.


“Oh, bentar deh ... itu belum mau dipanen, itu mau dilepas, mau diangon!” lanjut Arum takjub bahkan kegirangan. “Tadi kalau Aidan dibawa pasti heboh dia. Gitu-gitu kan sekarang Aidan jadi orang kota. Yang semacam lihat ayam sama cecak saja sudah kegirangan!”


Kalandra menggeleng tak habis pikir. “Ini bebek-bebek kamu mau enggak, buat dicoba dimasak terus dipasarkan secara online karena rumah makan belum jadi?”


“Wah, beneran, Mas? Mau banget dong! Mau!” Arum langsung kegirangan. Merintis bisnis online? Siapa takut!


“Oke! Nanti urusan pemasaran, aku sama mamah papah pasti bantu! Makanya aku kan bilang, ayo bahagia sekaligus kaya bersama!” sergah Kalandra yang kemudian tertawa.


Arum ikut tertawa meski tawa wanita itu tak selepas Kalandra.

__ADS_1


“Ini kan nanti ayam negeri sudah jalan. Bebek pun sudah, nah gudang ini sebenarnya peternakan ayam kampung yang memang enggak semasal yang ayam negeri, Yang. Ayo kita masuk.” Kalandra membawa sang istri masuk. Memperlihatkan peternakan ayam kampung yang dimaksud.


“Orang-orang lihatnya, aku dan keluargaku dapat uang sekaligus kekayaan, serasa jatuh dari langit, sama sekali enggak perlu capek. Padahal proses sampai sini juga sangat rumit. Setengah modar kalau bahasa kita! Ayam pada matilah, kena virus apa gimana. Kamu sendiri juga tahu kan, walau di rumah, aku tetap kerja sampai malam bahkan kadang enggak tidur. Aku ya di kantor, ya jadi pengacara juga, bantu orang tua urus ini juga,” ucap Kalandra yang kali ini berkeluh kesah.


“Kalau dipikir dari sisi itu sih, memang iya, yah, Mas. Kalau melihat orang kan memang seenak itu. Termasuk berkomentar pun saking enaknya asal mangap. Namun kalau dilihat dari sisi lainnya lagi, Mas wajib bersyukur berkali-lipat karena enggak semua orang dikasih pintu rezeki selancar Mas. Ya meski memang enggak ada yang enggak mudah karena memang setengah modar. Alasanku bisa dapat rezeki lebih saja karena berjuang setengah modar! Ya sebandinglah dengan hasilnya!” balas Arum.


“Tergantung amal dan ibadah sama faktor lingkungan juga sih, Yang! Tuh buktinya Septi. Termasuk Angga dan pak Haji. Mereka kan enggak sadar kalau sikap mereka sudah menghancurkan kehidupan mereka sendiri!” Kalandra kembali mengakhiri ucapannya dengan tertawa.


“Eh, Yang. Kalau aku nyalon jadi DPR, kamu dukung, enggak? Itu habis resepsi kemarin, langsung banyak yang ajak gabung!” lanjut Kalandra sangat bersemangat dan sampai merangkul pundak Arum.


Arum menghela napas pelan, menatap tak habis pikir sang suami. “Baru juga ngeluh katanya setengah modar ... enggak ah, begini saja. Nanti yang ada Mas kecapaian. Kecuali nanti kalau papah sudah pensiun, jangan jadi saingan papah ih. Enggak sopan.”


Mendapat omelan dari Arum barusan, Kalandra hanya ngakak sebelum akhirnya pria itu heboh mengajak Arum melihat kolam lelenya.


“Lele dumbo, yah, Mas?” Arum juga langsung kepo.


“Iya. Ada bogo juga. Kolamnya pakai terpal.”


“Wah, wah ... bogo bagus buat yang habis operasi loh, Mas!”


“Nah iya. Pintar kan aku, sampai budidaya juga? Yang, kamu wajib puji-puji aku loh. Karena imun aku selalu naik di setiap dikasih pujian sama kamu.”


“Ya ampun Masee!”


“Eh, serius, Yang! Ih kamu malah ngakak terus!”

__ADS_1


Bersama Kalandra yang menjadi sangat berisik, Arum sampai lelah karena terlalu sering tertawa. Bahkan meski mereka sudah sampai rumah. Ibu Kalsum sampai mengira pengantin baru itu kesambet. Meminta keduanya untuk buru-buru mandi. Arum dan Kalandra baru boleh mendekati Aidan jika keduanya sudah mandi sekaligus steril. Sebab kunjungan mereka ke peternakan juga membuat kedua sejoli itu beraroma nano-nano sangat sedap. Mirip bocah yang baru pulang berkelana, menjadi bolang seharian.


__ADS_2