
“Dia ini lulusan apa? Statusnya apa? Perawan, janda, atau malah masih harus terikat dengan masa lalu?” Ibu Muji sudah cerewet.
Ruang keluarga kediaman ibu Muji mendadak hidup lantaran ada penghuni lain selain wanita tua tak terawat yang duduknya terus di kursi roda.
Septi yang duduk di sebelah dokter Andri, langsung melirik sinis ibu Muji berkata, “Ya ampun Bu ... masuk surga saja enggak sampai ditanya seribet itu. Sampai ada ungkapan status masih terikat dengan masa lalu segala! Masih on proses atau send, atau malah salah sasaran mungkin maksud ibu, ya? Macam pesanan online gitu? Harus sabar, tapi pengin ngamuk ... heran rasa herman sumpah ke ibu Muji ini. Sudah ditinggal lama oleh keluarga, masih saja jahara tingkat neraka. Ini ibu mau diakui sebagai mamah enggak? Sejauh ini kan enggak hanya anak yang menempati posisi durhakem alias durhaka. Soalnya orang tua dakjal macam Ibu Muji juga punya banyak slot masuk posisi durhakem ini. Ibaratnya, kalau durhakem punya level, Ibu ya sudah level neraka lah ....”
Ibu Muji langsung memelotot tak percaya menatap calon menantu barunya. Dua kata darinya untuk Septi, “KURANG AJAR!”
Bukannya marah, Septi malah terkejut karena kagum kepada ibu Muji. “Kok Ibu tahu sih kalau aku memang kurang ajar? Dari Paud sampa kuliah, aku memang enggak sampai makan apalagi gerogotin bangku pendidikan, Bu. Otak saya saja, saya tinggal di kantin, makanya yang saya tahu sekarang ya kreasi jajanan kantin!” Septi mengakhirinya dengan tertawa riang, seolah dirinya tak memiliki beban.
Dokter Andri yang duduk di sebelah Septi sudah sibuk tertawa. Pria itu sama sekali tidak jaim lagi, apalagi sampai menahan tawanya. Ia ingin menunjukan kepada sang mamah, bahwa dirinya yang sekarang dan itu bersama Septi, benar-benar bahagia.
“Sudah badan enggak ada potongannya, mulut enggak ada remnya, wajah juga enggak ada bagus-bagusnya,” kesal ibu Muji sengaja menyindir Septi.
__ADS_1
“Tapi hati saya pink, Bu Muji! Jarang-jarang ada hati yang mutlak pink seperti saya. Apalagi kalau selevel ibu Muji yang julid dan sinisnya tingkat dewa, pasti hatinya gelap mirip masa depan Ibu!” yakin Septi. “Lihat keadaan rumah ini, ... enggak ada yang enggak kena debu efek enggak ada yang betah kerja ke Ibu!”
Ibu muji yang langsung merasa tersindir dan sampai detik ini masih duduk di kursi roda berkata, “Ya sudah, kalau kamu mau jadi menantu baik, kamu beresin semua yang ada di rumah ini!”
“Ya sudah, sini kasih sertifikat rumahnya. Biar saya beresin sekalian, terus hasilnya buat modal hidup bahagia dengan mas Andri dan anak-anak.” Septi menyodorkan telapak tangan kanannya kepada ibu Muji.
“Lam-be-mu!” kesal ibu Muji memelotot kepada Septi.
Septi sama sekali tidak mempermasalahkan tanggapan ibu Muji seberapa pun wanita itu kasar kepadanya. Malahan kesempatan tersebut ia gunakan untuk memberi ibu Muji pelajaran.
Ojan yang memang ada di luar, sengaja menunggu di sana dengan Nissa dan Sepri, sudah langsung lari masuk sangat ceria menghampiri Septi. “Mana, Mbak, mana kuda-kudaannya pakai kursi roda?” tanyanya.
Ibu Muji menatap sebal Ojan, tapi ia sungguh tak menyangka, bujang tanggung itu sungguh menarik kursi rodanya sekuat tenaga, kemudian memutar-mutar, dan juga mendorongnya bebas. Setelah meluncur bebas, tubuhnya sampai terpental dari kursi roda dan berakhir tersungkur di lantai dalam keadaan meringkuk. Kesalnya selama itu terjadi, selama bujang tanggung bernama Ojan yang memiliki tubuh jangkung itu tak hentinya terbahak-bahak, dokter Andri sebagai anak dari ibu Muji juga sama sekali tidak menegur apalagi menghentikan Ojan. Termasuk juga Septi si calon menantu tanpa potongan bagus baik dari segi fisik, pendidikan, maupun akhlak. Dokter Andri dan Septi malah melenggang keluar dengan begitu santai bersama Nissa yang mengemban Sepri.
__ADS_1
“Ndri, durhaka kamu, ya. Tahu mamah diginiin sama bocah enggak waras, kamu masih saja cuek! Gimana Mamah mau memaafkan kamu kalau kamu saja tega gitu!” ucap ibu Muji meraung-raung.
“Giliran gini, Ibu Muji hahi hu, minta bantuan Mas Andri. Mana minta bantuannya juga enggak berakhlak, masih ungkit banyak hal seolah Ibu Muji orang paling suci. Ya sudahlah, tanpa restu pun enggak masalah. Paling nanti aku minta papah Erdi buat cerein Ibu biar papah Erdi bahagia dengan pasangan barunya karena papah Erdi juga berhak bahagia tanpa terus terus dibebani oleh Ibu!” tegas Septi tanpa benar-benar masuk. Ia hanya berdiri di depan pintu masuk kediaman dokter Andri yang sungguh tidak terawat. Di mana-mana debu. Di mana-mana sarang laba-laba. Selain itu, kepala ibu Muji juga sudah kompak putih, semua rambut nyaris berubah menjadi uban, selain tubuh ibu Muji yang juga mengeluarkan aroma tak sedap mirip Anggun. Septi curiga, sudah terlalu lama mamahnya dokter Andri tidak membersihkan diri karena memang tidak ada yang mengurus.
“Mas, aku mau mandiin Mamah Mas dulu. Tapi kasih tahu kamarnya di mana dan sabun sama keperluan lain juga di mana?” tanya Septi yang sekesal apa pun kepada ibu Muji, ia tetap tidak tega.
Pelan-pelan, Septi tetap akan merawat ibu Muji. Walau mulut wanita itu selalu memberinya ucapan pedas rasa neraka, Septi tak peduli karena ia saja sudah bukan manusia baper lagi. Septi sadar, dulu dirinya pernah seegois layaknya ibu Muji. Hingga Septi berpikir, mendapat mertua layaknya ibu Muji juga sudah menjadi bagian dari rezekinya.
“Makanya, Bu. Jadi orang yang umum, yang manusiawi jadi main sama rukunnya juga sama manusia, bukan sama silu-man! Ini berapa minggu Ibu enggak mandi? Ee sama bekas pipis ada di mana-mana. Bayangkan kalau Ibu enggak kejaam, pasti yang kerja ke Ibu juga betah dan Ibu pun terawat.” Sambil melumuri sekujur tubuh ibu Muji yang duduk di kursi tengah kamar mandi menggunakan sabun kemudian menggosoknya menggunakan spons, Septi terus memberi ceramah pedas kepada ibu Muji.
Sampai di titik ini, ibu Muji yang memiliki gengsi terlalu tinggi juga masih memperlakukan Septi dengan semena-mena. Yang mana, Septi tak segan membalasnya termasuk itu mengguyur ibu Muji menggunakan shower.
Dokter Andri yang membersihkan kamar sang mamah tidak memedulikan cara Septi dalam mengurus ibu Muji. Dokter Andri sadar betul ibu Muji tak manusiawi. Karena jangankan orang lain, anak dan suami sendiri juga sampai angkat tangan dalam mengurusnya. Kini, ia memilih fokus merapikan sekaligus membersihkan kamar sang mamah yang memang mirip kapal pecah sekaligus tempat s4mpah. Ia percaya kepada Septi mampu menangani ibu Muji. Ibaratnya, Septi ini pawangnya ibu Muji. Walau mungkin akan membuat Septi memiliki beban lebih dari sebelumnya, dokter Andri berjanji tidak akan membuat Septi berjuang sendiri.
__ADS_1
“Ini mata saya jangan digosok, Sep!” kesal ibu Muji.
“Biar bisa melihat dengan baik dan enggak terus menatap sebelah mata ke orang lain, Bu. Sudah, Ibu diam saja. Terima beres pokoknya!” yakin Septi yang terus membuat calon mamah mertuanya berteriak.