Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
181 : Antara Widy dan Dokter Andri


__ADS_3

“Jangan sih. Aku enggak mau ambil risiko.” Widy masih berusaha menolak secara halus, ketika dokter Andri izin ikut belanja sekaligus mengambil pesanan kepadanya.


“Masa segitunya?” balas dokter Andri yang memang sudah di motor menyusul kepergian Widy yang buru-buru pergi lagi setelah wanita itu jujur mengenai alasannya menghindarinya.


“Malahan bisa lebih parah, makanya aku bilang enggak mau ambil risiko. Soalnya dari kata-kata mamah Dokter yang dalem, takutnya berimbas ke anak-anakku. Kasihan mereka, Dok. Mereka masih kecil. Kalau bisa memilih, pasti mereka juga bakalan mikir ulang bahkan malah enggak mau dilahirin sama aku. Siapa sih yang mau jadi anaknya janda dan setiap saat dihina tanpa alasan?” Setelah berucap demikian, Widy sengaja menatap dokter Andri sambil berkata, “Aku duluan yah, Dok ... permisi.” Ia mempercepat laju motornya.


Tak ada kehangatan apalagi rasa dekat yang Widy berikan lagi. Rasa dekat karena dokter Andri merupakan sahabat Kalandra, hingga hubungan mereka terjalin dengan cepat sekaligus indah. Yang tersisa hanyalah ketakutan, hingga menjaga jarak menjadi satu-satunya pilihan agar semuanya sama-sama aman.


Tak mau menyerah, dokter Andri sengaja mempercepat laju motornya, membuatnya kembali bisa di sebelah Widy. Beruntung, mereka sudah tidak di dekat rumah Widy. Karena andai iya, yang melihat pasti geger dan sudah langsung berpikir macam-macam, salah satunya mengira bahwa keduanya memiliki hubungan spesial.


“Nanti aku bilang ke mamahku karena aku masih ingin usaha. Ya? Biarin aku usaha dulu, lagian mamah aku belum kenal kamu juga, kan?” ucap dokter Andri.


“Enggak semudah itu sih, Dok. Dan aku yakin, Dokter jauh lebih paham keadaan mamah Dokter, dari siapa pun. Ibaratnya, di mata beliau kita sudah beda level. Aku juga berani bertaruh, mulai sekarang kalau ada apa-apa dengan Dokter, yang langsung dicari dan suruh tanggung jawab pun aku,” balas Widy.


“Ya sudah, nanti aku urus,” sergah dokter Andri yang makin menyikapi keadaan dengan serius.


“Terserah Dokter.”


Namun pada akhirnya, dokter Andri sungguh ikut Widy. Dari semacam ikut belanja ke pasar dan sampai membantu Widy membawa sekaligus menyusun barang, juga ikut ke kontrakan Angga.


“Ini usahanya papahnya mas Aidan?” ucap dokter Andri kepo.

__ADS_1


“Iya, Dok. Kalau penasaran masuk saja. Mas Angga sekarang selalu di rumah kok,” balas Widy yang buru-buru melepas sandalnya. “Assalamualaikum ...?”


“Walaikum salam ... wah, kesayangannya pak Haji!” Sekelas Angga langsung sibuk menahan tawa sebab melihat wajah Widy sudah langsung membuatnya ingat pak Haji.


“Fitnah yang begitu keji!” sebal Widy sambil menahan senyum sekaligus menggeleng tak habis pikir kepada Angga.


“Tapi asli yah, Dy. Kemarin perut aku kaku gara-gara anterin tuh orang. Mau dibiarin sendiri, takut dia kecelakaan di jalan soalnya jalan ke rumah kamu masih begitu. Diajak pun malah bikin perut kaku,” ucap Angga masih menahan tawanya.


“Makanya Mas Kala paling demen ngledekin tuh orang. Awal-awal kenal kan kata mbak Arum bikin emosi. Mas Kala pasti emosi terus. Alasan mbak Arum sama mas Kala nikah pun gara-gara mbak Arum dipepet pak Haji terus kan. Eh sekarang, malah lawak banget kata mereka,” balas Widy yang juga sibuk menahan tawanya.


“Tapi asli, mulut pak Haji lemes banget kalau ngehina si Septi,” balas Angga kepada Widy, sudah seperti teman sendiri.


“Emang, lemes banget, tapi nyata juga, kan, Mas? Maksudnya, itu beneran jujur?” balas Widy yang kemudian memanggil dokter Andri untuk masuk.


“Sukses, Mas!” ucap dokter Andri langsung menyikapi senyum hangat Angga dengan tak kalah hangat.


“Alhamdullilah. Bismilah, pelan-pelan, Dok!” balas Angga masih menyikapi dengan hangat. Apalagi, dokter Andri sampai langsung melihat-lihat kemudian memilih.


“Ini, habis ini aku mau ke tempat Septi, Mas. Kami sudah janjian, terus katanya dia di pasar kecamatan, depan salon pacar barunya si Fajar,” cerita Septi, tapi Angga yang memakai koko panjang warna putih dipadukan dengan sarung, sudah langsung tertawa sampai lemas.


“Kamu sudah tahu pasangan baru kita? Romeo dan Juliman kekinian? Eh, kalau enggak salah, namanya Herman!” Angga heboh.

__ADS_1


“Gimana aku enggak tahu, sama Mas Angga saja, video atraksi mereka dijadikan status WA. Belum kabar dari yang lain karena memang mereka seviral itu!” ucap Widy.


“Innalilahi ... innalilahi!” ucap Angga di sela tawa lemasnya. “Kamu tahu, tiap hari dia ditungguin mulu sama Juliman?”


“Bukan Juliman, Mas. Tapi Herman si Honey Madu! Semoga segera dapat hidayah, sih,” ucap Widy.


“Hidayahnya turunnya jangan cepat-cepat, sih. Nanti jadi kurang rame!” balas Angga lagi-lagi tertawa.


Dokter Andri yang sebenarnya cemburu pada kedekatan Widy dan Angga, sengaja berbisik-bisik kepada Widy untuk memberitahunya perihal sosis dan juga semacam siomai yang sempat Nissa makan di rumah Widy, dan kata Nissa sangat enak. Tentu, Widy langsung memberi tahu dokter Andri, membuka salah satu lemari pendingin berisi aneka olahan nugget, sosis, dan juga siomai di sana, kemudian mengambil barang yang dokter Andri maksud.


“Beli beberapa buat stok,” ucap dokter Andri lirih.


“Mau berapa?” balas Widy dengan suara lirih juga.


“Nih orang lagi berantem apa gimana? Kok diem-diem bae?” pikir Angga yang merasa, ada ikatan spesial antara Widy dan dokter Andri. Karenanya, ia sengaja menjaga sika dan tak seheboh sebelumnya. Walau ketika ia mengingat pak Haji, Septi dan juga Juliman alias Herman si Honey Madu, Angga tidak bisa untuk tidak tertawa.


“Nanti bilang ke Septi, aku pesan es Gepluk cap gajah duduknya. Minta diantar buat buka puasa,” ucap Angga ketika Widy dan dokter Andri pamit pulang. Langit sore sudah mulai dikuasai semburat jingga karena kini sudah nyaris pukul lima.


“Lah, memangnya Mas lupa, kalau yang pesan es Gepluknya Septi dan statusnya mantan, minimal pemesanan satu juta, baru diantar?” ucap Widy yang kembali tertawa.


Angga yang kembali tertawa lemas mengakui, perubahan Septi apalagi dalam urusan bisnis, sangat drastis. Apa-apa serba jadi uang, bahkan sekadar celotehan.

__ADS_1


“Aku acungi jempol deh, otak bisnisnya si Septi! Sekadar celotehan bisa langsung jadi duit!” ucap Angga.


Di mata Angga, Widy dan dokter Andri cocok. Dokter Andri pun tampak tulus dan cara pria itu mendekati Widy benar-benar lembut. Namun jika Angga melihat Widy, adik dari mantan istrinya itu tampak jelas menjaga jarak. Entah apa yang terjadi, tapi Angga merasa hubungan keduanya tidak baik-baik saja. Namun jika mengingat kebersamaan terakhir mereka sebelum akhirnya Arum malah kontraksi, hubungan keduanya sangat didukung oleh Kalandra maupun Arum.


__ADS_2