Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
38 : Tak Ada yang Sebaik Arum


__ADS_3

“Nggun, ini sudah mau pukul sembilan malam, lho.”


“Lha memangnya kenapa, Mah? Heran, dari tadi berisik terus!”


“Supri suami kamu belum pulang. Takutnya kenapa-kenapa. Apa lagi kamu tahu, selain kakinya tinggal satu, matanya juga bermasalah dan sampai sekarang pun masih pakai kacamata.”


“Mamah perhatian banget yah, ke suami aku? Jangan-jangan, Mamah ada main sama suami aku, kayak yang lagi viral!”


“Ada main bagaimana maksud kamu, Nggun? Kamu yah, makin hari makin enggak jelas. Mamah beneran capek. Mamah beneran enggak tahan! Harus selalu kerja urisin kamu, tapi sekadar makan saja enggak dikasih.”


“Kalau Mamah enggak tahan ya sana pergi. Sana susul si buntungg kesayangan Mamah! Bisa apa sih kalian tanpa aku!”


“Lambemu ngomong apa tadi? Oke, Nggun kalau begitu cara pikirmu! Justru Mama ingin kamu ngerasain, bisa apa sih kamu tanpa Mama?!”


Ibu Sumini yang telanjur kesal, benar-benar angkat kaki. Tak peduli walau Dafa dan adik-adiknya menangisi sekaligus menahan kepergiannya. Sakit hatinya sungguh tak ada obat. Selain itu, ia juga sengaja memberi Anggun pelajaran. Ia ingin membuat Anggun dengan segala keangkuhannya hidup sendiri tanpa ada yang disuruh-suruh lagi.


Berjalan kaki sambil menangis di tengah gelapnya malam ini, ibu Sumini jalani. Wanita itu sadar kenyataannya sudah langsung menjadi pusat perhatian. Namun dari semuanya walau mereka memang mengenal, tak ada satu pun yang menyapa. Semuanya hanya memandangi, seolah sudah tahu drama apa yang telah terjadi. Dramanya dari Anggun yang makin menjadi-jadi semenjak Arum tidak ada dan terakhir, Supri sampai diamputasi.


Setelah hampir setengah jam berjalan kaki, akhirnya ibu Sumini sampai di rumah orang tua Septi. Ibu Sumini langsung memohon minta ditemukan dengan menantu barunya itu. Pertemuan haru itu akhirnya terjadi tak lama setelah ibu Sumini diminta menunggu di ruang keluarga kediaman orang tua Septi yang mewah. Ibu Sumini mendekap erat Septi, menangis meraung-raung meluapkan kesedihan akibat beban hidupnya yang menjadi menggunung semenjak ditinggal Arum. Kini, wanita itu menggantungkan penuh harapannya kepada Septi.

__ADS_1


“Bu ... Bu, sebentar, ih. Ibu bau banget, tau. Bau enggak sedap banget! Tolong jauh-jauh apalagi aku lagi hamil.” Septi mengakhiri secara paksa dekapan ibu dari suaminya tersebut. Wanita itu langsung menatapnya tak percaya. Ada kebingungan dan juga rasa kecewa yang ia dapatkan dari cara ibu Sumini menatapnya.


“Ibu kok jorok banget, sih ....”


Mengingat keadaannya yang susah, yang mana ibu Sumini sadar, hanya kepada Septi dirinya menggantungkan harapan. Ditambah Septi yang sedang hamil muda, wanita tua itu belajar lebih sabar. Ia rela menjaga jarak, duduk lebih jauh dari Septi. Begitupun ketika wanita berpakaian minim bin seksi melarangnya duduk di sofa.


“Ibu jangan duduk di situ. Itu sofa mahal, nanti kotoor dan enggak mau ilang. Kalau Ibu mau duduk, duduk di lantai saja, itupun pakai alas, biar lantainya juga enggak kottor!” omel Septi.


Septi kok gini banget? Beda banget sama Arum. Kalau gini caranya, apa bedanya dengan menghadapi Anggun? Batin ibu Sumini. Ia beranjak berdiri meninggalkan sofa kulit berwarna hitam yang Septi katakan mahal.


Tak beda dengan ibu Sumini, Septi yang menjadi emosional juga berangsur berdiri sambil bersedekap. “Jadi, apa maksud Ibu, malam-malam mendadak ke sini?” lirihnya sambil melirik sinis yang bersangkutan. Penampilan ibu dari suaminya itu sangat tidak enak dipandang. Tak hanya dari pakaian, tapi juga tubun ibu Sumini yang sangat kumall sekaligus bau. Seolah wanita yang kepalanya sudah penuh uban tersebut memang jarang mandi.


“Oh, jadi Ibu butuh tempat tinggal?” ucap Septi masih sinis.


Ibu Sumini langsung mengangguk, memasang wajah melas agar Septi mengasihaninya. “Iya, Sep.”


“Ya sudah, kalau gitu Ibu tinggal di sini,” sergah Septi dengan entengnya.


Kendati demikian, balasan enteng Septi kali ini langsung membuat ibu Sumini berbunga-bunga. Ibu Sumini merasa mendapatkan angin segar. Wanita itu langsung merasa lega selega-leganya. Karena meski Septi terkesan jahat, nyatanya wanita uang jauh lebih muda dari Arum apalagi Angga itu masih mau peduli kepadanya. Daripada Anggun yang malah sangat tidak manusiawi padahal ibu Sumini merupakan wanita yang melahirkannya.

__ADS_1


“S-serius, Sep? Ibu beneran boleh tinggal di sini?” sergah ibu Sumini benar-benar bahagia.


“Iya, Bu. Kebetulan yang suka bantu-bantu di sini lagi sakit dan izin satu minggu. Jadi nanti Ibu gantiin dia saja. Daripada gaji mahal-mahal tapi sering izin, mending Ibu saja yang kerja di sini. Ibu masih kuat kerja, kan?” balas Septi masih sinis.


Kenyataan yang baru saja Septi sampaikan sangat membuat seorang ibu Sumini tercengang. Tak hanya raganya yang makin terasa sangat sakit, tapi juga mental dan hatinya. Hingga ia yang tak kuasa menerima kenyataan sekaligus nasibnya yang mengenaskan setelah Angga menceraikan Arum, malah jatuh pingsan. Benar-benar tidak ada yang sebaik Arum, pikir ibu Sumini jauh di lubuk hatinya.


“Ya ampun ini nenek-nenek malah pingsan, ... bakat banget bikin repot!” keluh Septi.


Tak beda dengan Septi, di tempat berbeda, Arum yang terus diikuti bapak-bapak gendut berkulit putih dan berkepala botak, juga tengah sibuk berkeluh kesah. Hanya saja, wanita cantik yang kini menjadi tampak berusia di awal dua puluhan itu melakukannya dalam hati.


Sudah tiga hari pria itu mengikuti Arum. Dari pagi hingga malam. Pria yang Arum ketahu merupakan tetangga ibu Nur tersebut mendadak menjadi satpam Arum. Walau begitu dan jelas berusaha mendekati Arum, pria itu tidak sedikit pun terusik kepada Aidan. Beda dengan Kalandra yang begitu peduli kepada Aidan dan tak segan mengajak bayi itu main walau hanya di sekitar kantin.


“Dek Arum, ayo Mas antar. Masa iya sudah tiga hari masih cuek ke Mas,” ucap si pria yang memang mengendarai motor.


Ya Alloh, Mas? Dia bahkan lebih cocok jadi bapakku! Lagian kenapa, sih? Apa salahnya jadi janda yang ingin fokus bahagia sama anaknya? Kegatelan banget sih nih bapak-bapak! Batin Arum sambil terus melangkah cepat mengemban Aidan, sedangkan tangan kirinya menjinjing ransel mereka.


Hari ini, Arum memang telat pulang karena tadi mendadak banyak yang beli di waktu harusnya Arum sudah tutup. Tak sekadar tak mau menolak rezeki, tapi Arum juga sengaja memanfaatkan keramaian tersebut untuk menghindari si bapak-bapak yang akrab disapa dengan sebutan Pak Haji.


Arum sudah memasuki jalan menuju keberadaan Kalandra. Lebih kebetulannya lagi, Pajero hitam milik pria itu tampak mendekat karena sepertinya, Kalandra juga baru pulang. Satu minggu tak bertemu, Arum merasa kenyataan tersebut tidak akan menyurutkan kebaikan seorang Kalandra kepadanya apalagi Aidan. Bukan bermaksud ke hal lain, tapi kali ini Arum ingin meminta bantuan kepada pria itu agar Pak Haji tak menjadi hansip tak diundang lagi, di depan pintu kontrakannya. Sebab memang senekat itu pria tua yang sampai detik ini masih merayunya, mengajaknya untuk menerima cinta pria itu.

__ADS_1


Awal didatangi pak Haji, Arum dengan lantang menjawab. Namun karena sudah terlalu sering, Arum jadi muak dan memang hanya membuat beban hidupnya makin bertambah.


__ADS_2