Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
55. Krisis Kepedulian


__ADS_3

Seperti yang Arum katakan, jalanan ke rumahnya jauh dari kata baik. Khususnya dari depan rumah pak lurah yang Arum ceritakan. Karena dari sana, jalanan masih banyak yang berlubang dan benar-benar licin jika situasinya sedang musim hujan layaknya sekarang. Belum lagi bebatuan besar yang belum sepenuhnya diratakan.


“Sebenarnya di sini sudah tersentuh pembangunan, tapi penanganannya ini yang sepertinya memang kurang, Pah. Perlu tinjauan sekaligus penanganan yang serius. Apalagi aku perhatikan, rusaknya jalan juga karena padatnya pengguna. Yang ke sini banyak Pah. Enggak hanya warganya, tapi juga mereka-mereka yang mau ke sawah bahkan memancing. Di sini sudah maju karena truk saja pada lewat angkut-angkut pasir dan batu. Ini saja dari tadi aku harus gantian jalan sama mereka,” ucap Kalandra.


Arum masih di dalam mobil, tapi di luar sana, Kalandra tengah menelepon sang papah. Tadi, sebelumnya, calon suaminya itu mengirimkan video keadaan jalan di sana yang memprihatinkan. Mereka masih cukup jauh dari kediaman ibu Rusmini. Dan Arum pun sengaja membiarkan sederet pesan dari Septi. Istri dari mantan suaminya itu sudah mengirim banyak pesan kepadanya, ngamuk karena diabaikan apalagi Septi juga mempermasalahkan nasib ibu Fatimah yang langsung ditahan. Ibu Fatimah terbukti bersalah ditambah kasus wanita itu yang tak segan meng-hantam kepala Septi menggunakan lampu meja.


“Pihak sana enggak ada permohonan bantuan secara khusus, jadi bantuan yang dikirim otomatis dalam ukuran standar. Terbukti di sana juga sudah ada sentuhan pembangunan, kan? Nanti Papah tinjau langsung ke kantor desa dan tanya setiap aparat desanya.” Dari seberang, balasan sang papah membuat Kalandra mendengkus pelan.


“Pantas ... jadinya jadi kurang terekspos, kan?” ucap Kalandra yang kemudian pamit apalagi di dalam mobil, Arum sudah menunggu. Namun, ia juga tertarik mengabarkan kabar baik di sana. Karena di tengah keadaan jalan yang ibaratnya enggak banget, sawah-sawah di sana bagus-bagus. “Kanan kiri sawah, Pah. Bulak gitu kan keadaan di sini. Sawahnya luas-luas banget termasuk itu yang ada di belakang-belakang rumah warga. Di sini pun rumahnya sudah banyak yang gedong meski memang lebih banyak yang baru gedong semi permanen.”


“Kalau kamu ke yang paling ujung di sana, di sana tempatnya ikan. Banyak banget. Sana tanya Arum kalau kamu enggak percaya,” balas pak Sana dari seberang.


Kalandra langsung terbengong-bengong. “Kok Papah tahu?”

__ADS_1


“Sebelum kamu ada kan Papah sudah ke sana duluan. Dulu, waktu Papah masih muda, Papah ke sana pakai perahu. Lewat kali, njaring ikan sama cari totok dapat seperahu!” balas pak Sana masih sangat sabar.


“Oalah, ... kalau gitu aku ya memang belum ada, Pah. Diproses saja belum.”


Agenda laporan yang berubah menjadi ajang curhat, diakhiri dengan gelak tawa oleh keduanya. Buru-buru Kalandra kembali kepada Arum, memastikan informasi yang ia dapatkan mengenai tempat ikan, toe, maupun totok selaku kerang sungai.


“Mau mau mancing? Kalau semacam mancing, aku izinin. Namun semacam cari totok apa toe di kali, ... aku enggak izinin soalnya ada saja yang meninggal. Ada saja ceritanya dan rata-rata masih hal mistis,” ucap Arum.


“Enggak masalah perkembangan zamannya, Mas. Bahkan di agama kita, hal-hal gaib juga diakui ada, kan? Yang namanya hal mistis ini kan bagian dari adat, budaya, sekaligus kepercayaan warga setempat. Dan yang namanya budaya ini ada, mau tidaknya kita mengakuinya. Kita memang enggak harus mengikuti, tapi kita harus tetap ada toleransi,” ucap Arum berusaha memberi Kalandra pengertian.


Kalandra yang sudah langsung menyikapi keadaan dengan sangat serius berkata, “Jadi, ceritanya gimana? Semacam tumbal begitu apa bagaimana?”


“Aku sih sebenarnya kurang paham yah, Mas. Namun sejauh ini, itu kan toe itu kabarnya, ini kabarnya yah, Mas.” Arum malah menjadi menahan tawa hingga Kalandra malah mencubit gemas hidung Arum. “Kan aku enggak ngalamin secara langsung, Mas. Aku hanya tahu kabar dari mereka yang mengalami,” ucap Arum di tengah senyumnya. Baru saja, Kalandra melepaskan tangannya, dari hidungnya.

__ADS_1


Arum berdeham, kemudian bercerita dengan jauh lebih serius karena meski Kalandra menyikapinya dengan sabar bahkan pria itu sampai mencubit gemas hidungnya, Arum yakin sebenarnya Kalandra sangat penasaran. “Kabarnya kan toe itu bantal apa kasurnya buaya siluman. Nah, kebanyakan yang diminta jadi semacam korban atau tum-bal itu anak cowok belum nikah gitu. Masih bujang!”


“Lah, yang dicari cuma yang bujang, kan Yang? Aku kan duda, dan bentar lagi bakalan jadi suami orang karena sebentar lagi kita menikah. Waktu yang harusnya satu bulan lagi, mamah papah minta dicepetin jadi dua minggu lagi, kan. Nikah langsung lamaran,” ucap Kalandra berusaha menjelaskan sekaligus mengingatkan Arum, tapi Arum yang menahan senyumnya malah menggeleng.


“Sudah, Mas. Jangan ngelawak. Tuh hujan lagi, ayo kita ke rumah mamakku, takutnya mamak sudah menunggu juga,” ucap Arum. Padahal, kabar yang ia sampaikan kepada Widy sang adik saja, hanya dibaca tanpa dibalas. Pesan berisi niat baiknya berkunjung bersama Kalandra, diabaikan begitu saja padahal Widy sibuk upload kontek tik-tok dan beberapa foto adiknya itu yang kekinian bak artis.


Baiklah, ... mau seperti apa orang-orang seperti mereka yang krisis kepedulian bahkan kepada keluarganya sendiri? Batin Arum yang bahkan sampai mengirim pesan WA kepada sang adik.


Mbak Arum : Kamu guru, tapi kelakuanmu persis si-luman. Kamu sibuk ngajar murid kamu dengan berbagai wacana, tapi kelakuan kamu saja enggak beres. Jangan lupa, Dy. Tanpa uang dari keringatku, jangankan sekolah dan sampai jadi sarjana terus sekarang kamu jadi guru, buat makan apalagi gaya saja kamu enggak bisa. Mikir kamu. Bisa-bisanya kamu hitung-hitungan ke aku. Salah alamat kamu! Rumah saja masih aku yang siapin dan sekarang dengan seenaknya kamu mengakusisi tanpa modal. Kamu boyong suami lengkap dengan keluarga-keluarganya ke rumah, asal boyong tanpa mikir renovasi. Sementara aku yang sudah kasih modal bangun sekadar masuk pun enggak boleh. Mamak kamu jadikan kaccung, sedangkan kelakuanmu di internet sok sosialita tebar kata-kata bijak. Pret! Ini peringatan pertama sekaligus terakhirku, Dy. Seenggaknya kalau kamu enggak malu ke ketiga anakmu, atau bahkan malu ke tetangga, tolong malu ke kelakuanmu sendiri. Ngaca kamu siapa!


Pesan yang Arum kirim tersebut kembali tidak dibalas, tapi sudah langsung dihiasi dua centang biru yang artinya pesan tersebut sudah dibaca. Bagaimana Arum tidak geram kalau kelakuan adiknya saja benar-benar rasa siluman.


Sampai jalan menuju rumah ibu Rusmini yang kini diakusisi oleh Widy, Arum terpaksa turun lantaran du sebelah rumah Arum ada truk pengangkat pasir yang terguling. Kalandra yang awalnya akan membantu malah kepincut pada tetangga sana yang sedang menjaring ikan di pesawahan. Tentunya, kesempatan tersebut menjadi kesempatan emas untuk Arum menga-muk habis adik dan juga mamaknya. Alasan Arum mengamuk Widy, jelas karena kelakuan Widy yang sangat krisis kepedulian, selain Widy yang tidak mikir dan maunya menang sendiri. Sementara kepada sang mamak, tentu karena semuanya bermula dari ibu Rusmini. Sebab andai ibu Rusmini bisa tegas dan mendidik Widy dengan benar, tentu keadaan tidak akan separah sekarang. Tentunya, sikap pilih kasih ibu Rusmini juga akan menjadi bagian yang tidak Arum lupakan.

__ADS_1


__ADS_2