Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
171 : Kebahagiaan yang Tumpah-Ruah


__ADS_3

“Heboh banget, ya. Apa gara-gara mirip saya?” Pak Haji benar-benar kepo dan sampai melongok dari sebelah ibu Kalsum.


“Enggak ada kisahnya sampai mirip Mbah! Apa-apaan.” Ibu Kalsum mengomel.


“Eh, Bu DPR, kalau Alloh sudah Kunfayakun, enggak ada yang enggak mungkin lagi!” yakin pak Haji yang kemudian berkata, “Apalagi nanti kalau istri saya yang lahiran, dijamin mirip saya!”


Ibu Kalsum langsung menggeleng tak habis pikir ditenangkan oleh sang suami yang masih mendekapnya hangat.


Drama persalinan sudah berakhir, tapi Arum mendadak ingat nasib sang adik.


“Mas, kalau pak Haji ngikutin terus gimana? Itu saja masih di sana dan aku yakin, alasan utamanya karena Widy.” Ia berbisik-bisik. Apalagi ketika akhirnya ia dipindah ke ruang rawat, dan tak lama setelah otu, Widy pamit disertai pak Haji yang langsung berdalih siap antar.


“Enggak apa-apa, Mbak. Enggak apa-apa. Nanti aku tinggal di bulak kuburan biar dia nyasar!” yakin Widy.


Angga dan dokter Andri sudah kompak menawari, membuat pak Haji yang merasa tersaingi mengomel kepadanya. Karenanya, pak Sana dan Ibu Kalsum sepakat mereka berdua lah yang akan mengantar Widy.


“Mbah, saya bakalan sunat Mbah lagi kalau Mbah ngejar-ngejar Widy. Tuh dokter Andri sudah ahli sunat-menyunat!” ancam pak Sana dengan gaya sabarnya yang benar-benar khas.


“Pak DPR,” rengek pak Haji.


“Sudah, sekarang Mbah pulang saja. Di rumah ada dua bidadari dunia pilihan Mbah dan sudah Mbah nikahi, jadikan istri. Udah pulang!” lanjut pak Sana.


Pak Haji menatap melas wajah-wajah di sana, tapi semuanya kompak memasang wajah setuju agar ia pulang.


“Pulang, Mbah. Lanjut besok lagi. Sudah malam, semuanya juga mau istirahat termasuk Widy. Apalagi habis ini pun, Widy juga harus susun-susun dagangan!” yakin Kalandra dengan gaya yang benar-benar mirip pak Sana.


Walau berat, pak Haji memutuskan pergi, pulang menggunakan mobilnya. Pak Haji pulang lebih dulu, sementara pak Sana dan ibu Kalsum siap-siap sambil memandangi kedua cucu mereka yang berat badannya masih terbilang normal walau tidak ada 2,5 kg.


Dokter Andri dan Angga kompak mengantar hingg tempat parkir sambil mengucapkan hati-hati. Kemudian, dokter Andri juga mengucapkan kalimat yang sama kepada Angga. Keduanya kompak tidak memaksakan diri mengantar Widy agar tidak tejadi fitnah layaknya apa yang pak Sana katakan.

__ADS_1


Sementara itu, di ruang rawat yang Arum tempati, senyum bahagia tak pernah lepas dari kebersamaan Kalandra dan Arum. Keduanya terus memandangi wajah kedua bayi kembar mereka yang berada di ranjang bayi berbeda, tapi sengaja dijejerkan. Selain itu, Aidan yang sudah tidur juga sengaja Arum baringkan di sebelahnya, bersebelahan dengan ranjang bayi sang adik.


“Sudah paham, kan, proses persalinan seperti apa?” tanya Arum yang sampai detik ini masih wajib berbaring.


“Asli, Yang, ngeri!” keluh Kalandra yang kemudian duduk di sebelah kedua kaki Aidan.


“Ngeri kenapa?” tanya Arum sambil sesekali membelai kepala Aidan.


“Sudah, segini saja kali ya.” Kalandra memang mengatakannya, tapi jika melihat anak-anaknya yang sehat, ia ingin menambah lagi. Namun di lain sisi jika ia teringat proses melahirkan sangat berat, ia benar-benar ngeri.


“Ngeri-ngeri sambal?” lirih Arum sengaja menggoda sang suami. Kalandra langsung tersipu.


“Iya, kan?” Lanjut Arum dan perlahan menggunakan sebelah tangannya yang diinfus, untuk meraih ujung jemari tangan kanan Kalandra.


“Lihat nanti,” ucap Kalandra. Tatapannya memang intens membalas tatapan Arum, tapi jemari tangan kanannya sudah menggenggam jemari tangan kiri Arum dengan lembut.


“Lihat nanti, tahu-tahu belum satu tahun sudah hamil lagi. Kebobolan,” lanjut Arum masih meledek sang suami yang detik itu juga refleks tertawa, tapi buru-buru menahannya.


“Ingat, ya. Puasa, seenggaknya empat puluh hari. Syukur-syukur, aku enggak bablas mens karena andai sampai iya, puasanya lebih lama,” ucap Arum lebih lembut dari sebelumnya, bahkan walau ia tahu di sana hanya ada mereka.


“Berat banget sumpah,” lirih Kalandra yang kali ini merengek manja kepada sang istri.


Arum langsung tersipu. “Enggak seberat itu. Enggak mungkin, seorang Mas Kala, enggak ada usaha.” Arum tertawa dan tak kuasa melanjutkan ucapannya, apalagi ia juga sampai merasa sakit di jahitan jalan lahirnya.


“Kenapa, Yang?” Kalandra langsung khawatir.


“Jahitan di jalan lahirnya, lebih sakit dari pas Mas Aidan.”


“Terus gimana? Aku panggil bidannya apa Andri? Tadi yang jahit bidannya, ya?”

__ADS_1


“Ya jangan marah ke mereka. Yang lahiran kan aku, bukan mereka.” Arum menahan tawanya karena dari awal, Kalandra kerap memarahi perawat, bidan, apalagi dokter Andri yang membantunya. “Jangan galak-galak ke mereka, mereka sudah bantu dan melakukan yang terbaik. Ini nanti kan ada obatnya.”


“Semacam ikan gabus, ya? Biasanya kalau habis operasi juga, kan?” sergah Kalandra yang kemudian mengawasi sekitar, tapi di sana benar-benar hanya ada mereka.


“Kenapa, Mas?”


“Ini si Andri ke mana? Tuh orang harus lihat keromantisan kits agar dia ada keinginan nikah juga,” ujar Kalandra.


Arum langsung menatap sendu sang suami. “Memangnya, dia enggak mau nikah lagi?” Di hadapannya, Kalandra yang berangsur berdiri dengan benar, mengangguk-angguk.


Kalandra memutari ranjang rawat Arum, tapi ia sengaja memeluk wanitanya itu dari seberang Aidan tidur.


“Dulu Mas juga gitu. Aku pun enggak ada kepikiran buat nikah lagi. Aku yakin dokter Andri hanya butuh waktu,” ucap Arum.


Kalandra mengangguk-angguk. “Kamu makan, ya? Bentar lagi mereka pasti bangun buat *****.”


Arum langsung mengangguk-angguk, membiarkan sang suami membuka makanan yang Widy bawa dari rumah makan mereka.


“Makan yang banyak, biar ASI-nya banyak. Nih, sayur beningnya masih hangat. Katuk sama jagung manis. Eh, Yang. Aku mau, yah, walau sekarang aku sudah enggak boleh alasan ngidam!” Kalandra menertawakan permintaannya sendiri.


“Mas Kala ih, sudah jadi Bapak, kelakuannya mendadak mirip anak paud!” lirih Arum menertawakan Kalandra juga. “Udah kita makan bareng-bareng karena aku yakin, Mas enggak kalah lemas dari aku yang melahirkan.” Setelah berucap demikian, ia mendadak berkata, “Tapi aku pengin sate.”


Kalandra mengangguk-angguk. “Boleh ... boleh. Bentar aku minta Andri buat beliin.”


“Kesannya kita pasien enggak tahun diri yah, Mas. Sudah dari tadi kamu sibuk marahi dia, eh sekarang mau disuruh beli sate,” ujar Arum.


“Enggak apa-apa. Biar dia belajar berbakti ke ipar. Pokoknya aku bakalan jodohin dia sama Widy.” Kalandra mantap dengan rencananya.


Arum hanya tersipu, dan memang karena merasa terharu.

__ADS_1


“Aku lihat mereka sebenarnya cocok. Si Nissa juga sudah lengket ke Widy. Nunggu apa lagi? Sama-sama nyaman, anak-anak juga. Beneran enggak ada yang perlu dipikirin,” lanjut Kalandra yang menyuapi Arum makan. “Dua suap dulu, habis ini aku ke Andri biar dia beliin sate di perempatan sebelah lampu merah. Sate di sana enak!”


__ADS_2