Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
221 : Seruduk Dan Ban-ting


__ADS_3

“Dari kemarin, setelah tahu kamu di sini, sebenarnya aku pengin banget cek. Tapi ada saja kepentingan yang enggak bisa ditinggal,” ucap Kalandra sambil melongok, mengawasi kontrakan yang ditempati dokter Andri.


Dokter Andri mengembuskan napas melalui mulut dan tampak pasrah. “Maaf karena kamu justru tahu dari orang lain.” Ia mengikuti setiap langkah Kalandra. Sahabatnya itu tampak sangat penasaran pada kontrakan yang ia tempati.


Di atas hamparan yang luas, ada dua deret kontrakan saling berhadapan. Kontrakan yang menempel satu sama lain mirip rumah subsidi. Lebih kebetulannya lagi, kontrakan yang ditempati dokter Andri dan Septi, bersebelahan.


“Pak Pengacara, ... Pak Pengacara. Ini mohon maaf, jangan sampai Pak Pengacara menyabotase usaha saya. Jangan sampai Pak Pengacara bikin usaha kontrakan juga lah ya. Takutnya saya kalah saing atau malah, tutup pintu!” ucap pak Haji.


Pak Haji langsung merasa takut setelah memergoki Kalandra mengawasi kontrakannya dengan saksama. Kalandra mengawasi kontrakan dari pinggir sampai pinggirnya lagi, sampai belakang juga. Termasuk beberapa sudut dinding dan pintunya pun Kalandra getok-getok. Dan kini, tanpa mengelak, Kalandra malah menahan senyumnya. Senyum yang seolah bagian dari pembenaran pria muda itu untuk menjalani kekhawatiran pak Haji.


“Nah, kan ... mencurigakan!” sebal pak Haji.


“Saya mau bikin di dekat rumah makan kok, Mbah. Biar kalau penghuninya lapar, tinggal beli ke rumah makan!” balas Kalandra.


“Ya ampun, malah lebih parah dari yang saya bayangkan!” keluh pak Haji menggunakan kedua tangannya untuk menepuk-nepuk jidatnya yang mengkilap saking botaknya, apalagi kini ia tak memakai peci putih andalannya. Kalau begini caranya, bagaimana saya bisa bebas berkelana mencari janda dari desa sana ke desa sini?!” pak Haji makin uring-uringan.


Kalandra tak kuasa menahan tawanya melihat tampang ngenes pak Haji yang memang terlihat sangat lucu. Di tengah gelapnya malam, pak Haji mendadak galau. Namun karena berkunjung ke sana juga, Kalandra tak hanya bertemu dokter Andri sekeluarga, maupun Septi. Karena gara-gara ke sana, Kalandra jadi melihat rumah pak Haji yang memang gedong dan besarnya dua kali lipat dari rumah orang tua Kalandra.


“Om Kala, makasih banyak buat masakannya. Enak-enak. Puding sama es campurnya juga enak banget!” ucap Nissa dengan mulutnya yang masih sesekali mengunyah. Ia baru saja keluar dari kontrakan.


“Semua itu buatan Bude Arum! Karena setelah tahu Nissa di sini, Bude Arum bikin khusus buat Nissa!” balas Kalandra lembut kemudian menghampiri Nissa yang ia elus ubun-ubunnya penuh sayang.

__ADS_1


“Nanti kalau mau makanan sama aneka minuman yang lezat lagi, Nissa tinggal ajak papah ke rumah makan, ya!” ucap pak Haji dan langsung membuat Kalandra tertawa.


“Jangan hanya ketawa, Pak Pengacara. Ya gitu, promosinya dikencengin biar bisa cepat bangun kontrakan. Syukur-syukur kontrakannya berjejer-jejer sampai menyentuh hati janda idaman!” ujar pak Haji.


Kalandra yang berusaha menyudahi tawanya berkata, “Tetap, Mbah. Arum number one! Sudah, saya beneran enggak butuh yang lain karena tiap saat saja yang kami lakukan ya memang pacaran. Ah, langsung ada yang baper! Mbah iri, kan? Memangnya Mbah enggak tahu, romantisnya saya sama istri bagian dari sumber rezeki? Bahagia lahir batin pokoknya!” yakinnya yang walau tengah memamerkan hubungan sendiri, malah menjadi tersipu sendiri.


Pak Haji terduduk lemas di tengah-tengah teras. Ia yang hanya memakai sarung dan kaus dalaman putih berangsur duduk selonjor. “Sebenarnya kemarin kalau saya sama Widy, bisa jadi Cinta Kalandra dan Arum season 2. Namun karena saya malah ditinggal maning(lagi) ditinggal maning, ya frustrasi. Jadinya, ditinggal nikah sama satu janda, tumbuh ribuan akar cinta dalam hati untuk para janda!”


Kalandra tertawa hingga lemas dan berakhir jongkok. “Ya ampun, Mbah. Ada-ada saja.”


“Diada-adain, Pak Pengacara. Biar hidup ini enggak garing. Sudah stok janda muda yang cantik makin langka, masa hati saya, saya biarkan kemarau juga?” balas pak Haji dengan entengnya.


“Ndri, ... hati-hati loh kamu tinggal di kontrakan Mbah Haji, takutnya kamu malah ikut jadi musafir janda!” ujar Kalandra.


“Daripada jadi bagian dari geng si Fajar bersama para wariyem jelita, ya mending jadi musafir cinta pemuja janda! Masa iya, pemuja batangan? Kalau pemuja “emas batangan” sih enggak apa-apa. Lah mereka pemuja mas-mas batangan. Mas-mas kemayu!” ucap pak Haji yang berakhir tertawa lemas sendiri.


Setelah suasana agak tenang karena sumber tawa di sana juga tak lagi melawak, kedatangan Septi yang memang baru pulang kerja, mengusik fokus perhatian pak Haji.


“Heh, dokter Andri. Apa kamu mau saya jodohin sama Septi saja? Biar Dokter enggak beli kasur?” tawar pak Haji sambil fokus menatap dokter Andri yang malah berakhir duduk di lantai.


“Lihat tuh, sudah mau pukul sembilan malam, baru pulang. Tuh tas duitnya saja enggak kalah obesitas dari tubuhnya!” ucap pak Haji.

__ADS_1


“Obesitas apaan? Sudah turun enam kilo ih, Pak Gede!” kesal Septi.


“Tapi asli belum kelihatan, Sep!” yakin pak Haji masih tertawa.


“Ah bodo, ah. Aku capek banget pak Gede. Gara-gara wariyem mendadak reuni bukber bersama gitu di lapakku. Eh mereka gelud rebutan Fajar! Pak Gede sih, aku telepon enggak diangkat-angkat padahal aku sudah WA panjang lebar!” sebal Septi.


“Nekat saja kamu manggil saya. Yang ada saya jadi bahan santapan alot mereka!” semprot pak Haji yang memang masih anti karena memang trauma berurusan dengan wariyem. “Intinya kamu boleh minta bantuan apa pun, asal itu tidak membuat saya berurusan dengan wariyem!” lanjutnya meyakinkan.


Kalandra yang tak lagi tertawa dan sudah langsung menyikapi cerita Septi dengan serius, berkata, “Tapi mereka tetap bayar, kan, Sep? Soalnya kalau spesies mereka lagi berantem, sumpah enggak kalah ngeri dari pertarungan mafia!” yakin Kalandra.


Septi yang menghela napas dalam di tengah sebagian pakaiannya yang kuyup, berangsur mengangguk-angguk. “Aku pegang si Honey, Mas. Yang ngadain bukber rame-rame kan dia. Jadi tadi sebelum diamankan oleh warga dan satpol PP, aku ngamuk minta ganti rugi dong. Secara, kaca etalaseku sampai remuk. Kesel banget aku tuh!”


“Tapi tadi kamu seruduk mereka, kan?” tanya pak Haji penasaran.


“Iyalah. Aku seruduk, bant*ing satu-satu daripada mereka saling bu*nuh. Mereka seheboh itu. Tunggu bentar lagi, pasti masuk liputan berita online!” cerita Septi.


“Wah berarti tenagamu ada gunanya yah, Sep. Sekelas wariyem sampai kalah!” ucap pak Hajo sengaja memuji Septi. “Bisa buat jaga rumah makan. Takutnya ada yang enggak mau bayar, tinggal seruduk ban*ting, Pak Pengacara!” ucap pak Haji yang lagi-lagi tertawa.


“Ya sudah, besok kalau ada apa-apa, masih ada urusan sama polisi, kamu telepon Arum saja, minta Arum buat hubungi aku!” yakin Kalandra sungguh siap membantu.


“Terus, Fajar bagaimana? Dia penyebab keributan, kan?” tanya dokter Andri.

__ADS_1


Mendengar nama Fajar disebut, otak Septi mendadak tak bisa diajak berpikir. Terlalu berat, selain Septi yang tak sanggup memikirkan Fajar dengan segala ulahnya. Namun setelah menghela napas dalam, Septi berkata sambil fokus menatap dokter Andri. “Intinya, tadi dia diamankan juga sama satpol PP!”


__ADS_2