Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
107 : Mertua Rasa Bestie


__ADS_3

“Hallo?” sergah Arum yang langsung menelepon Widy.


“Mbak, ini aku lagi ngajar. Lagi ngawasi murid ujian.” Dari seberang, Widy membalas dengan berbisik-bisik.


“Sebentar saja. Dia awal mulanya gimana? Kok kalian bisa ketemu?” sergah Arum.


“Satu bulan lalu, malahan sebelum mbak nikahan, aku kan ke bank, Mbak buat memperpanjang masa ATM. Nah kebetulan, dia yang urus.” Widy menjelaskan secara rinci. Mengenai pertemuan pertamanya dengan Fajar.


Dikata Widy, awal pertama kenal, Fajar tipikal yang sangat santun. Selain itu, Fajar juga tipikal hangat yang sangat perhatian.


“Kuppret apa, dia ngakunya perjaka? Taaaii! Tuh orang anaknya sudah banyak, Dy!” Arum makin emosi. Otaknya yang awalnya santai dan sampai membuatnya merasa kantuk, kini mendadak panas karena emosi.


“Serius, Mbak. Ngakunya gitu! Kami ya dekat, wong dia enggak terikat, terus aku pun sudah ketuk palu!”


Terpejam pasrah sambil memijat pelipisnya, Arum berkata, “Kamu kapan ada waktu? Siang ini kamu nganggur, enggak? Kita samperin dia ke bank! Minta dia balikin uang kamu soalnya kemarin saja pas Mbak sama Mas Kala belanja, dia dibelanjain cewek!”


“D-dibelanjain, ... cewek, ... gimana, Mbak?”


“Ya si ceweknya yang bayarin belanjaan mereka. Aku lihat, mereka sayang-sayangan dan si Fajar dibelanjain banyak!” Arum benar-benar sewot.


Setelah tak langsung menjawab, Widy berkata, “Mas Fajar, ... dia pacar aku, Mbak. Kami pacaran dan dia sudah kenal juga sama mamak dan anak-anakku!”


Walau dari seberang terdengar meyakinkan sekaligus tulus, mulut Arum telanjur berkata, “Pancen kutiis lanang emang si Fajar! Bisa-bisanya dia ... ya Alloh, Allahuakbar!”


“Mbak ih ....”


“Sekarang gini, kalau kamu masih mau aku urusin, pulang ngajar nanti, kita samperin dia ke bank! Nanti kalau bisa aku bawa bapak mertuaku. Biar aku sama bapakku yang ngajar si Fajar! Kita tanya langsung ke pimpinan bank-nya, siapa Fajar dan juga statusnya.” Arum berbicara panjang lebar.


“Andai dia ngaku duda, aku maklum. Eh, ini ngakunya perjaka. Perjaka empat lima yang di mana-mana punya benihnya? Kuppret emang si Fajar!” lanjut Arum.

__ADS_1


“Mbak, ini aku beneran langsung nangis, tapi kata-kata Mbak, bikin aku ngakak!” isak Widy dari seberang sana. “Kurang ajjar banget berarti ini aku dikadalin sama Mas Fajar!”


“Ya sudah, pokoknya nanti kamu pura-pura enggak tahu aja. Nanti kamu pun masuk ke banknya, tunggu aku kasih kode. Nanti kamu ngumpet di tukang dawet ayu apa batagor depan bank sambil pantau dari kejauhan. Sekarang aku mau urus pesanan nasi kotak dulu. Sekalian bebek sama ayam ungkepnya juga mau sekalian aku urus, biar pas aku tinggal semuanya sudah beres.” Arum tak mau menunda dan ingin menyelesaikan urusannya dengan Fajar, secepatnya.


 


***


Sesuai rencana, setelah semua nasi kotak yang memenuhi bagasi mobil yang mengangkut selesai diboyong, Arum sengaja mengajak sang bapak mertua. Tentunya niat baik Arum memberi Fajar pelajaran langsung didukung oleh ibu Kalsum. Sang mamah mertua mendadak mejadi suporter Arum, heboh sambil mengemban sekaligus memomong Aidan.


“Ganteng juga biasa saja, Pah. Gantengan Papah jauh-jauh!” jelas ibu Kalsum yang sampai menceritakan duduk perkara ketika ia memergoki Arum memarahi Fajar habis-habisan di kantin rumah sakit.


Pak Sana yang kebetulan ada di sebelah sopir langsung mesem. “Lah kok Mamah bandingin Papah sama orang kayak gitu!” keluhnya.


“Kan dalam hidup Mamah, hanya ada Papah sebagai satu-satunya laki-laki, Pah!” balas ibu Kalsum meyakinkan.


“Ciee ...,” ucap Arum.


“Si Mamah memang gitu, Mbak!” pak Sana menjadi senyum-senyum sendiri.


“Papah juga hobi mancing-mancing Mamah! Tapi enggak ada salahnya ditiru loh, Mbak. Biar meski sudah punya cucu, rasanya terus-terusan mirip pengantin baru!” balas ibu Kalsum.


Dalam hatinya, Arum yang susah payah menahan tawanya berkata, “Ya ampun, Mas Kala. Wong tuamu kocak banget! Tapi memang wajib dicontoh, sih!”


“Assalamualaikum, Mah. Mas, pintar ya sama Mbah. Mamah bentar, kok.” Arum kembali pamit sambil melambaikan tangan pada ibu Kalsum maupun Aidan yang ia tinggalkan.


“Dadah Mamah ... dadah Mbah Kakung ....” Di depan gerbang, ibu Kalsum menuntun Aidan untuk melambaikan tangan ke arah mobil yang membawa Arum dan pak Sana. Bocah itu nurut-nurut saja, tersenyum ceria sambil memamerkan kedua giginya yang baru tumbuh di bagian atas. Boleh dibilang, sekarang ini, di usianya yang menginjak delapan bulan, Aidan sedang lucu-lucunya.


“Suamimu pasti sudah berisik, bentar-bentar WA, yah, Mbak? Pasti khawatir banget tuh, tahu kamu mau ngelabrak si Fajar. Ini ke Papah saja, Mas Kala sudah sibuk WA.” Pak Sana memulai obrolan di dalam mobil.

__ADS_1


“Jadi, nanti biar Papah saja yang ngobrol ke atasannya, ya.” Pak Sana bertutur sarat perhatian.


“Aku geregetan, Pah. Kesel banget rasanya.” Arum mendengkus kesal tapi kemudian pasrah. “Pengin tabok-tabok beberapa kali, apa tendang yah, Pah.”


“Ya sudah, tapi nanti Papah bakalan terus di dekat kamu. Buat jaga-jaga, ya.” Seperti biasa, pak Sana bertutur penuh ketenangan.


“Iya, Pah. Makasih banyak yah, sudah nemenin aku.” Arum memasang wajah sungkan. Karena biar bagaimanapun ia sadar, permintaannya minta ditemani memberi Fajar pelajaran, terbilang kurang ajjar.


“Sudah jadi kewajiban Papah buat dukung sekaligus bantu kamu, Mbak. Alhamdullilahnya lagi, hari ini Papah pulang buat cek pesanan dan Papah juga masih ada waktu buat temani Mbak ke bank!” yakin Pak Sana. “Semangat pokoknya, ya!” Kali ini ia tersenyum hangat.


“Iya, Pah. Pasti! Semangat!” Arum membalasnya sambil tersenyum hangat. Tatapan mereka bertemu di kaca spion yang ada di atas pak Sana. “Jarang-jarang kan, ada mertua rasa bestie begini!” batin Arum bangga sekaligus merasa sangat bersyukur.


Jam istirahat baru berakhir ketika mobil yang membawa Arum dan pak sana berhenti di depan tempat parkir. Efek bank di kampung dan hampir satu kecamatan semuanya ke sana, mobil mereka tidak memiliki tempat parkir. Sang sopir langsung mencari tempat parkir di kawasan sekitar.


Turun dari mobil, orang-orang tak hanya mengenali Arum. Sebab kepada pak Sana, mereka langsung antre untuk salaman. Namun, Arum lebih dulu mengajak sang bapak mertua menemui Widy di tukang dawet ayu. Penjual dawetnya langsung gugup dan berdalih akan memberikan dawet jualannya secara gratis kepada pak Sana.


“Jangan, ... jangan gratis. Bapaknya kan jualan. Saya beli saja, lima porsi. Nanti saya ambilnya kalau urusan saya di bank sudah beres,” ucap pak Sana yang sampai membiarkan Widy menyalami tangan kanannya.


Tanpa banyak kaya, Arum langsung pamit kepada Widy yang sebelumnya sampai ia minta ponselnya untuk bukti.


Sampai detik ini pak Sana masih memimpin langkah. Arum mengikuti, walau ketika melihat Fajar di tempat duduk teller, Arum sudah sangat ingin mengamuk. Bersama sang satpam yang langsung memberi mereka jalan masuk memenuhi atasan di sana, Arum ikut masuk.


“Si Arum, makin cantik saja. Kira-kira dia tahu enggak, ya, kalau aku sudah manfaatin adiknya? Harusnya sih, Widy enggak cerita-cerita. Tapi kok, sampai sekarang Widy cuma baca pesanku, ya? Enggak bales, transferan juga sepi enggak masuk-masuk,” batin Fajar pura-pura cuek kepada Arum yang mana ia menjadi satu-satunya karyawan yang tidak menyalami pak Sana.


Fajar yang terbiasa bersandiwara memang langsung pura-pura sibuk memeriksa berkas maupun pura-pura mencatat. Sejeli itu Fajar yang sukses membuat seorang Arum makin meradang.


“Si Fajar, gayaknya sok sibuk! Taiii kucing apa, bisa-bisanya dia gitu!” batin Arum. Mendadak ia ingat WA sang suami yang memintanya untuk sering “Amit-amit” kepada Fajar, maupun semua yang tidak Arum sukai.


“Pantas Mas Kala jadi enggak bisa tenang. Wong dari semuanya dia paling paham ke aku. Kalau aku marah, aku bisa bablas. Tapi tadi aku bawa taflon satu sih, di bagasi mobil papah!” batin Arum lagi. Ia sengaja berhenti kemudian menoleh dan menatap Fajar. Detik itu juga Fajar yang kebetulan menoleh sekaligus menatapnya, membuat tatapan mereka bertemu, langsung panik.

__ADS_1


__ADS_2