
Septi tidak tahu, kenapa dari semuanya, dokter Andri memilih bertahan di warungnya. Sudah empat jam berlalu, pria itu masih menjadi penghuni setia meja pojok warung, setelah sebelumnya sempat ikut mengantar rombongan Kalandra keluar dari warung, ketika rombongan itu undur. Selain itu, tadi dokter Andri juga sibuk membantu Septi mencuci mangkuk, gelas sekaligus sendok dan garpu. Termasuk ketika banyak pembeli, dokter Andri juga yang masih merapikan mangkuk dan gelasnya dari meja. Lihat saja, ujung kemeja lengan pendek hingga celana bagian paha dokter Andri masih basah karena kesibukannya membantu Septi mencuci.
Setelah sampai membantu Nissa membuka bungkus keripik kentang menggunakan gunting, Septi yang masih berdiri di belakang gerobak dagangannya memberanikan diri untuk menghampiri dokter Andri. Ia melangkah di belakang Nissa yang sampai bersenandung lirih. Nissa terlihat sangat bahagia padahal sedari tadi tidak ada kesibukan berarti yang Nissa lakukan. Selain menonton ponsel, Nissa malah membantu mengelap meja, benar-benar tidak ada hiburan berarti yang biasa digemari anak seusianya.
“Mas ... Mas lagi nunggu orang?” tanya Septi yang kemudian duduk di depan dokter Andri. Di sebelahnya, Nissa sudah kembali fokus pada ponsel. Gadis kecil itu sedang menonton acara kartun. Sementara dokter Andri, Septi pergoki tengah main game. Namun baru saja, pria itu menatapnya sambil membenarkan posisi duduk hingga dokter Andri duduk dengan lebih tegak.
Dokter Andri menggeleng. “Enggak, ... memang sedang ingin di sini saja. Ini kamu kapan tutup?”
“Bentar, Mas. Tinggal tunggu yang ambil pesanan soalnya dia sudah transfer. Orang lagi ngidam, sudah seminggu ini pasutri itu langganan soto, gorengan, sama es gepluk. Rumahnya di belakang pasar bekas mbak Arum dulu jualan. Mas tahu enggak pasarnya?” balas Septi.
Di hadapan Septi, dokter Andri yang menyimak langsung menggeleng. Tanggapan dokter Andri begitu tenang hingga membuatnya lebih mirip anak kecil tak berdosa.
Septi terdiam sejenak, mencoba mencari bahasa yang pas dalam membalas. “Mas tahu kontrakan mas Angga, kan?” Di hadapannya, dokter Andri yang masih kalem berangsur mengangguk-angguk. “Nah, ... itu sebelumnya ada perumahan. Mereka di perumahannya, bukan di kontrakannya.”
Dokter Andri mengangguk-angguk. “Tapi si Angga juga baru beli rumah loh.”
“Wiiiiih, serius? Cair berarti ya, ayahnya mas Aidan. Tapi harusnya ya memang lancar. Kan dari dulu yang habis-habisin uang mas Angga, ya Anggun and the gengs!” tanggap Septi dan dokter Andri langsung tersenyum geli yang perlahan menjadi tersipu. Senyum yang juga menular kepada Septi.
Tak lama berselang, sepasang pasutri paruh baya datang sambil melayangkan salam. Pasangan tersebut pula yang sedang Septi tunggu. Dokter Andri masih setia menunggu di sudut warung sambil sesekali mengawasi.
__ADS_1
“Mas masih mau nunggu?” tanya Septi yang kemudian berdalih akan tutup warung. Selain dagangan yang memang habis, di luar sana langit suasana sudah petang. Sudah nyaris maghrib.
“Ya sudah, ayo kita pulang,” ajak dokter Andri yang langsung merapikan sisa jajan sang anak ke kantong belanjaan selaku wadah semulanya.
“Eh, serius ... ini maksudnya, si mas Andri memang niat bantu sekaligus nungguin aku?” batin Septi yang jadi sulit percaya lantaran sekelas dokter Andra dengan sengaja membantu sekaligus menjaganya. Namun, Septi masih berusaha bersikap biasa. Terlebih mereka sudah sepakat untuk menjadi tetangga akur yang juga merangkap menjadi besti di bawah naungan pak Haji.
Baru akan pergi dari depan warung menggunakan motor masing-masing, Tono si mantan wariyem yang dulunya bernama Tini, datang menggunakan motor matic putih. Pria yang hidungnya bangir tidak wajar akibat perawatan khas wariyem, ditambah alis yang juga masih gundul sebagian karena kerap dicukur, langsung menghadang motor Septi.
Kebiasaan bar-bar semasa masih menjadi wariyem, benar-benar belum bisa Tono hilangkan.
“Om-om itu Pah, yang galak dan suka gangguin Ibu Septi,” bisik Nissa yang kebetulan berdiri di depan dokter Andri karena dokter Andri juga menggunakan motor matic.
Sedikit banyaknya tentang Septi termasuk itu mengenai Tono, Nissa memang tahu karena bocah itu juga beberapa kali ikut dagang ke Septi andai dokter Andri sedang dinas ke puskesmas dan keberadaannya dekat rumah makan Arum.
“Masnya ada perlu apa?” tegur dokter Andri serius.
Septi sampai kaget karena dokter Andri mendadak sangat serius karena sebelumnya, pria itu begitu santai sekaligus tenang.
Tono belum sempat menjawab, tapi dari depan dan itu salon Honey, ada yang heboh berteriak minta tolong. Teriakan kemayu khas wariyem yang mengabarkan kematian Honey.
__ADS_1
“Innalilahi wainnalilahi rojiun ...,” lirih Septi dan dokter Andri refleks. Lain dengan Tono yang tetap diam.
“Mas, ih, serem!” keluh Septi.
“Biar yang di TKP lapor polisi saja. Kita kan enggak tahu apa-apa dan biasanya urusannya akan panjang. Apalagi, rombongan mereka juga bermasalah,” balas dokter Andri.
“Kalau orang biasa yang lapor, pasti tanggapannya kurang gercep apalagi sekarang masih situasi lebaran. Namun kalau ada orang dalam yang urus, pasti bakalan cepat ditangani. Kita minta bantuan mas Kala saja, ya. Minta mas Kala buat kirim polisi kecamatan ke sini. Harusnya, aman, kan?” ujar Septi dan dokter Andri yang langsung mengangguk-angguk, juga langsung menghubungi Kalandra.
Namun lantaran Tono nekat langsung meraih sebelah tangan Septi, kenyataan tersebut langsung membuat dokter Andri menegur keras mantan wariyem itu.
Septi yang tak terima juga tak segan melepas sandalnya, kemudian menggunakannya untuk menghan-ta*m wajah Tono. “Kupreeet kamu! Memangnya kamu pikir saya wanita apaan? Sopan!” kesal Septi menatap marah si Tono kemudian sengaja memajukan motornya untuk berada di sebelah motor dokter Andri.
Dokter Andri yang walau diam, tetap menatap marah Tono sambil menggeleng penuh peringatan. “Kal, kirim polisi ke salonnya Honey. Ini heboh si Honey meninggal. Para wariyem pada nangis histeris di sini.”
“Asli meninggal, enggak? Takutnya mereka halu karena haus se*ntuh*an sesama batang!” balas Kalandra dari seberang sana.
Detik itu juga dokter Andri langsung melirik Septi. Sambil tetap menatap Septi, dokter Andri berkata, “Kalau aku yang mastiin, takut aku ternodda, Kal. Takut ih ....”
“Hahaha ... si Septi masih di sana, kan? Coba kamu minta bantuan dia buat cek kalau gitu.” Dari seberang, Kalandra terdengar sampai terpingkal-pingkal.
__ADS_1
Sekitar tiga menit kemudian, Septi yang memang langsung mengecek ke salon Honey, kembali sembari jalan kaki. “Bener, Mas. Si Honey bundir gara-gara diputusin Fajar. Itu ditemukan di kamar mandi dengan keadaan mulut berbusa dan dia juga sampai menulis surat wasiat lengkap dengan selembar foto mesra mereka!” ceritanya dan dokter Andri langsung menghubungi Kalandra lagi.
Karenanya, Septi dan dokter Andri menunggu hingga polisi datang. Suasana sudah ramai oleh warga yang penasaran dengan kematian Honey. Namun hingga sampai kontrakan, Septi masih merasa aneh dengan perhatian yang dokter Andri berikan.