
“Jika itu sampai terjadi, kita yang maju! Aku yang akan urus dan kita viralkan kasus ini!” yakin Kalandra yang kemudian menggenggam tangan kanan Arum.
“Percaya kepadaku, enggak ada yang bisa melawan hukum sosial bahkan harta dan kekuasaan seseorang sekalipun! Kamu wajib yakin, jangan pesimis apalagi pasrah apalagi menyerah dulu!” lanjut Kalandra.
Arum langsung mengangguk-angguk kemudian buru-buru menyeka air matanya menggunakan tangan kirinya yang bebas. “Iya, Mas maaf. Maaf, ya ampun kenapa aku enggak kepikiran ke situ, ya?” ucapnya yang kemudian mengingatkan Kalandra untuk lebih fokus mengemudi apalagi di depan mereka banyak mobil yang terparkir di pinggir jalan bahkan seolah ada keramaian yang akan menghambat perjalanan mereka.
“Ini sudah dekat banget, Yang.”
“Lokasinya, Mas? Apa mereka juga lagi cari, ya, Mas? Bentar deh, Mas, coba kita cari juga. Ini kebetulan, apa mereka lagi cari korban lain? Masse, Masse, itu ada kantong jenazah digotong dari bawah sana kayaknya memang habis diambil dari bawah!” Arum heboh membuat Kalandra yang menyikapi dengan tenang walau pria itu juga tak kalah penasaran dari sang istri, berangsur menepikan mobilnya.
Kalandra menepikan mobilnya di depan mobil paling depan. Ia langsung memutari mobil bagian depan dan bermaksud membukakan pintu mobil untuk sang istri, tapi Arum sudah lebih dulu melakukannya. Namun tentu saja mengingat hujan di sana masih berlangsung bahkan makin deras, Kalandra sengaja membopong Arum ketika wanita itu turun dari mobil. Kalandra melakukannya lantaran takut istrinya yang tengah hamil muda, sampai jatuh. Tentunya, ia langsung mengambil payung di bagasi untuk memayungi mereka.
“Arum ...?”
Arum tidak mengenali suara bahkan pemiliknya. Namun wanita sangat cantik selaku pemilik suara itu langsung meraung-raung memeluknya. Ternyata itu Cinta istri pertama Tuan Maheza. Kenyataan itu Arum dan Kalandra ketahu karena Tuan Maheza ada di sana. Lebih kebetulannya, Cinta dan Tuan Maheza sedang melakukan pencarian kepada Resty!
Arum yang masih dipeluk Cinta, tercengang menatap Kalandra. Tak semata karena ternyata pencarian besar-besaran itu untuk Resty. Namun, ini mengenai Cinta yang sampai kenal Arum dan tak segan memeluknya, meronta-ronta mengeluhkan nasib Cikho dan Cinta yang Arum ketahu sebagai nama dari kedua anak Resty. Arum jadi curiga, arwah Resty yang membuat Cinta mengenalinya kemudian meronta-ronta mengeluhkan beban hidup Resty kepadanya.
__ADS_1
Setelah akhirnya Cinta direngkuh sekaligus ditenangkan oleh Tuan Maheza, Arum sengaja menggenggam tangan kanan Kalandra menggunakan kedua tangannya. Ia membuat jemari mereka mengisi ruas satu sama lain.
“Mas, arwah mbak Resty nempel ke tubuh Cinta kayaknya. Mas percaya gitu, kan? Nyurupin gitu, enggak terima dan belum bisa ninggalin anak-anaknya!” bisik Arum berbicara intens nan rahasia kepada Kalandra.
Kalandra yang menyimak menjadi sibuk berkedip. Arum yakin Kalandra tidak begitu yakin atau malah tidak percaya.
“Mas enggak percaya ke aku kalau hal semacam itu ada? Di sekitar rumah mamak masih banyak yang sering ketempelan atau kesurupan, Mas!” yakin Arum masih berbisik-bisik.
Kalandra berangsur mengangguk-angguk. “Yang, itu Tomi!”
Arum langsung siaga mendengar nama itu disebut. “Taflon aku mana, Mas?” Gemetaran sekaligus menangis ia menahan emosi. Segera ia membuka bagasi, membawa senjata andalan yang memang sengaja ia siapkan.
Tomi yang otomatis terempas, berangsur tersungkur. Kedua tangannya memegangi kepala sebelah kiri yang menjadi landasan penuh emosi taflon Arum. Apa yang Arum lakukan langsung mengejutkan semuanya, tapi Kalandra melarang mereka menghentikan. Kalandra membuat semuanya serempak menjadi penonton.
“Dia suami korban dan dia memang selingkuh. Korban sudah memberi kami wasiat, dan kami sudah melaporkan kasus ini kepada polisi! Suami korban selingkuh dengan wanita lain dan sampai sudah punya anak,” jelas Kalandra.
“Kamu siapa sih?” kesal Tomi masih sibuk meringis kesakitan.
__ADS_1
“Kamu siapa-kamu siapa! Jangan pura-pura amnesia, kamu, Mas!” kesal Arum yang memukulii punggung Tomi menggunakan taflonnya.
Kalandra langsung terjaga di sisi Arum karena Tomi kerap melakukan perlawanan. Kalandra tidak mau terjadi hal fatal kepada istrinya yang tengah hamil muda.
“Dasar suami enggak berguna! Bisa-bisanya kamu selingkuh dan sampai punya anak sama wanita lain, padahal nafkah ke mbak Resty saja kamu masih di bawah UMR! Mbak Resty sampai jadi tulang punggung keluarga, mbak Resty sudah kasih kamu dua anak, anak-anak kalian masih kecil, tapi begini balasan kamu! Kalaupun kamu sampai dipenjara, itu belum sebanding dengan luka-luka mbak Resty yang harus meregangg nyawa, belum lagi nasib anak-anak kalian!” Arum masih sibuk menghantaam asal Tomi menggunakan taflonnya, tapi hanya sampai situ karena polisi yang datang bersamanya, langsung mengamankan Tomi.
Tomi memang sudah langsung lemas karena Arum menghakiminyaa dengan brutttal. Namun, Arum belum puas apalagi di kantong jenazah yang sampai membuat seorang Cinta jatuh pingsan, wajah Resty tampak sangat segar, terpejam damai dan tak mau dibangunkan.
“Mbak ... bangun. Anak-anak Mbak sudah nunggu ...,” lirih Arum dan suaranya tertahan di tenggorokan. Menggunakan kedua tangannya yang gemetaran, ia meraba wajah Resty. Wajah yang menjadi sangat berisi dan Arum pastikan efek kehamilan sekaligus setelah melahirkan itu terasa sangat dingin. Kedua mata itu tetap terpejam. Tak ada tanda-tanda kehidupan karena semacam napas saja tidak Arum temukan. Dan memang seperti yang Arum yakini, Resty sudah tidak ada. Wanita itu sudah pulang dengan damai setelah menjadi korban pengkhianatan.
Yang menjadi pertanyaan Arum, kenapa Resty berikut motornya sampai ditemukan di jurang sana, setelah sebelumnya Resty memberi kabar, seolah wanita itu merasa terancam? Benarkah Resty dibunuh, atau Resty terbunuh ketika sedang mencari barang bukti tambahan untuk mengungkap perselingkuhan Tomi dan Elia? Kalaupun harus mengira Resty malah bunuh diri, Arum tidak yakin Resty melakukannya. Karena sesakit apa pun Resty bahkan itu karena pengkhianatan yang dialami, Arum yakin Resty masih menjadikan anak-anak sebagai prioritas.
Kalandra mendekap wanitanya, membawanya menjauh dari jenazah Resty yang diboyong, dibawa menggunakan mobil ambulans untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Kalandra pun tak sampai langsung bisa bicara dengan Tuan Maheza karena pria itu tampak tidak bisa diganggu. Tuan Maheza masih fokus mengurus Cinta yang sampai pingsan. Namun tentu saja, Kalandra segera mengikuti karena ia juga tidak punya banyak waktu apalagi di rumah Aidan sudah menunggu.
“Saya akan urus kasus ini sampai tuntas dengan cara saya. Serahkan semuanya kepada saya, saya pastikan, mereka akan mendapatkan hukuman setimpal!” tegas Tuan Maheza setelah Kalandra menjelaskan duduk perkara kasus Resty yang melibatkan Elia.
Pertemuan itu terjadi di depan salah satu IGD rumah sakit Cinta dirawat. Rumah sakit yang juga menjadi tempat autopsi jenazah Resty.
__ADS_1
Satu hal yang membuat Kalandra apalagi Arum merasa sedikit lega. Bahwa Tuan Maheza dan Cinta telah mengadopsi kedua anak Resty.
“Dari kemarin keduanya sudah tinggal bersama kami. Jika memang ada waktu, mampir dan mainlah. Mereka pasti akan senang jika sahabat dari mamah mereka main.” Tuan Maheza meyakinkan. Ia tetap tersenyum meski kedua matanya yang menjadi merah, juga sampai basah.