Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
70 : Papa Idaman


__ADS_3

Berat, di tengah kesunyian yang menyelimuti suasana, Angga memberanikan diri untuk bertanya kepada Septi yang sampai detik ini masih sangat emosional. “Benar, ... itu anaknya Supri, bukan ... anaknya, ... Dika?”


Mendengar itu, Septi yang masih diwajibkan berbaring, langsung menatap kesal sang suami.


Sabar dan terus menghela napas pelan, itulah yang Angga lakukan. “Aku hanya ingin tahu, tapi kalau memang iya, ... berarti kamu kebangetan!”


“Memangnya apa salahnya, sih? Mau ini anak Supri, Dika, maupun anaknya yang lain?” balas Septi sewot.


Kali ini, Angga tak lagi bisa bersabar. Ia menggeleng tak habis pikir menatap Septi sarat kekecewaan. “Masih tanya apa salahnya?”


“Sudah deh, enggak usah diperpanjang! Ribet banget sih, jadi orang!” sergah Septi kali ini benar-benar sinis.


“Kok kamu jadi gini banget, Dek? Posisi kamu salah, loh. Ini aku lagi arahin kamu,” balas Angga kembali berusaha bersabar.


“Lah, aku memang begini. Asliku ya begini. Lagian kenapa Mas bilang begitu? Mas merasa jadi orang yang lebih suci dari aku? Loh, logikanya kalau Mas suci, Mas enggak mungkin dipenjara. Lah wong sebelum ini saja, istri sama anak Mas, enggak Mas urusin. Yang Mas urusin keluarga Mas saja. Orang stress saja tahu, apa yang Mas lakukan salah. Ia kalau keluarga Mas, porsi otaknya umum, lah se-ons aja enggak ada. Buktinya, tahu enggak punya uang bukannya kerja malah nge-mis tuh mereka!” sewot Septi yang lagi-lagi, keceplosan.


Akan tetapi, Angga hanya berpikir maksud nge-mis yang Septi ucapkan merupakan bagian dari ucapan ka-sar Septi, tanpa maksud lain.


Angga mendengkus, pasrah. Karena memang tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain itu. “Ini orang tua kamu masih belum ada yang bisa dihubungi, sementara selain aku yang belum ada uang, aku juga harus kembali buat selesaiin hukumanku.”


Septi yang masih merengut, hanya sesekali melirik Angga. Ia terlalu malu untuk jujur menceritakan keadaan keluarganya kepada Angga. Bahkan meski Angga suaminya dan bagi Septi, Angga sekeluarga bukanlah orang yang seharusnya ia segani.


“Kamu bilang, di ATM kamu enggak ada dua juta,” lanjut Angga, benar-benar masih sabar.

__ADS_1


“Rasanya kok gini banget, ya? Berasa lagi ngerasain karma. Arum yang serba bisa dan selalu memudahkan hidupku, aku buang. Lah sekarang, nikah lagi malah dapat yang begini. Belum lagi, kalau ini beneran anaknya Supri, ... baji-ngan banget tuh si Supri!” batin Angga yang memilih pergi dari sana.


“Masalah uang, nanti aku pinjem ke pak gede saja. Kamu jangan sampai nekat pinjem ke si Arum, loh, Mas. Malu-maluiin!” ucap Septi agak berseru lantaran Angga nyaris keluar dari ruang rawatnya. Pria itu balik badan menatapnya dengan kemarahan yang tampak jelas susah payah ditahan. Sampai detik ini, Angga ia yakini masih susah payah bersabar.


“Itu kan yang ada di pikiran kamu? Kamu mau menemui Arum, kan?” lanjut Septi.


Angga mengembuskan napas panjang melalui mulut. Walau apa yang Septi duga memang benar, kenyataan Septi yang sangat berisik sekaligus ka-sar, sangatlah membuatnya tidak nyaman.


“Aku mau tahu kabar Aidan,” ujar Angga.


“Kabar Aidan apa emaknya?” balas Septi sewot.


Angga mendengkus. “Dua-duanya!” balasnya sengaja melawan.


Angga langsung mencari Arum. Pria itu sampai nekat menanyakannya kepada perawat yang dijumpai. Hari ini, Arum membuka kantinnya dan sedang sibuk di sana. Namun setelah Angga mengamati, tak ada Aidan di sana. Walau memang bukan Aidan yang menjadi tujuan utamanya, paling tidak Angga tetap ingin tahu kabar Aidan sebelum ia kembali melanjutkan hukumannya di penjara.


Dari ketiga kantin yang ada di sana, kantin Arum dan posisinya paling pinggir dekat rumah sakit memang paling ramai. Kebanyakan dari mereka yang memenuhi tempat duduk di depan kantin sibuk sarapan atau setidaknya menikmati minuman hangat. Sementara yang berkerumun antre, Angga pergoki sibuk membeli makanan yang dibungkus termasuk itu gorengan. Seperti biasanya, makanan buatan Arum masih menjadi makanan yang paling disukai oleh kebanyakan orang.


Melihat Angga yang diam-diam memperhatikannya, dalam hatinya, Arum yang sengaja cuek berkata, “wong gemblluung!”


Angga ingin tahu kabar Aidan, itulah yang Angga katakan ketika sampai di hadapan Arum.


“Mas tanya Aidan? Yakin, Mas tanya kabar Aidan? Tumben? Namun alhamdullilah, sih, akhirnya ada waktu di mana Mas ingat Aidan. Nah, tuh ... itu Aidan. Sama papah idaman!” ucap Arum bersemangat. Apalagi sangat kebetulan, Aidan memang datang diantar oleh Kalandra.

__ADS_1


Selain memberikan Aidan kepada Arum, Kalandra yang pamit kerja juga sengaja mengambil bekal sarapan sekaligus makan siang. Tentunya, Kalandra dengan bahagia menyapa keberadaan Angga di sana.


“Jangan cemburu karena aku dan Arum enggak ngapa-ngapain. Banyak orang juga kalau kamu enggak percaya,” ucap Angga dan sukses membuat Kalandra apalagi Arum tercengang.


Kalandra yang masih mengemban Aidan di depan tubuhnya, perlahan menahan tawanya sambil menatap Angga. “Enggak lah. Ngapain juga aku cemburu? Selera mamaknya Aidan tinggi banget, Ngga. Enggak mungkin dia naksir suami orang apalagi mantan yang sudah ... hubungan kami baik-baik saja. Kami tahu mana yang harusnya membuat kami cemburu, atau malah ... ya sudah sih, jangan dibahas.” Setelah berucap demikian, Kalandra juga sengaja menawari Angga mengemban Aidan.


Sempat akan menolak, Angga memberanikan diri untuk mengemban Aidan. Namun yang ada, bocah itu tidak mau. Tanggapan yang biasa Aidan berikan kepada orang asing.


“Itu papah, Sayang!” yakin Kalandra sambil menci-umi pipi Aidan yang ia timang.


Dalam diamnya, Arum yang tengah membuatkan Kalandra teh manis hangat, perlahan menghela napas lega. “Sadar enggak sadar, si Angga juga sedang dihukum oleh Aidan. Memangnya ada yang lebih menyakitkan dari enggak dikenali, atau setidaknya enggak dianggap oleh anak sendiri? Anak, loh ... darah daging. Bukan pasangan yang memang hanya pilihan dan kalau enggak diambil Tuhan, ya diambil orang,” batin Arum.


“Yang, hari ini aku pulang telat, ya. Tapi aku udah bilang papah mamah aku, buat temenin kamu sama Aidan. Aku mau lanjut urus kasus yang kemarin soalnya,” jelas Kalandra.


Yang, panggilan Kalandra tersebut sungguh mengganggu Angga.


Sambil menerima Aidan, Arum mengangguk-angguk paham.


“Kamu tutup kantinnya jangan malam-malam,” ucap Kalandra sambil meminum teh manis hangat pemberian Arum. Di hadapannya, Arum mengangguk-angguk.


“Ini kok sudah ganteng wangi begini. Siapa yang mandiin?” ucap Arum tersenyum bahagia sambil mengendus aroma tubuh Aidan.


Kalandra yang awalnya tengah minum teh, buru-buru menyudahinya. Ia menatap Arum dengan sangat bangga. “Ya Papah, lah. Mana mungkin Mbah Uti! Mbah Uti kan belum berani mandiiin. Tapi tadi dibantu sama Mbah kakung. Mbah kakung yang siapin bedak sama bajunya! Ya ampun, Yang tadi seru banget! Lihat bedak di wajah Aidan, tipis rata. Kami sukses urusnya, beda kalau yang bedakin wajah Aidan kamu apa mamah. Berapa pakai masker, setebal itu bisa buat stok bedak seminggu!” Ia mengakhiri ucapannya dengan tawa apalagi, Arum yang tidak mengurus pembeli, sudah lebih dulu melakukannya. “Kalian kalau bedakin Aidan yang kira-kira, masa iya, ganteng-ganteng, bedaknya setebal masker!”

__ADS_1


Bo-dohnya Angga, pria itu tetap ada di sana. Padahal jelas, kebersamaan Kalandra dan Arum, sudah sangat membuat dadanya panas. Apalagi ketika adegan Kalandra pamit, pria itu tak hanya mengabsen wajah Aidan dengan ciu-man. Karena hal yang tidak berbeda juga Kalandra lakukan kepada Arum. Arum terlihat kikuk, lain dengan Kalandra yang tampak tulus. Kalandra terlihat sangat menyayangi Arum maupun Aidan.


__ADS_2