Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
156 : Akibat Salah Pilih Suami


__ADS_3

“Oke, Mas, sudah lengkap. Jadi, semuanya berapa?” ucap Widy setelah ia memeriksa dua kantong pesanannya dan kini telah menghiasi meja di warungnya.


Angga menatap heran wanita di hadapannya. Widy yang luka di pipi kirinya tampak mulai mengering, dan sesekali ia juga memergoki tangan kiri wanita itu mulai bisa digerakkan, berangsur membuka dompet. Widy tampak jelas akan membayar.


“Udah, kan?” jawab Angga lembut.


“Hah?” Widy menatap bingung pria di hadapannya dan sampai sekarang masih memakai masker hitam.


“Iya, udah. Tuh di bonnya keterangannya juga sudah lunas. Kamu sudah utus orang buat bayar, kan?” lanjut Angga menjelaskan, tapi lawan bicaranya langsung mengerutkan dahi sekaligus bibir. Widy terlihat jelas akan menyangkal.


“Yaitu dilihat lagi bonnya. Mamahku yang bilang, siang ini, ada mbah-mbah datang, bayarin pesanan kamu,” yakin Angga.


Widy langsung menggeleng. “Serius, Mas aku enggak merasa begitu. Mbah-mbah siapa? Ih, enggak bener itu. Masa iya, Mbah-mbah?”


Angga juga jadi ikut bingung. “Jujur, tadi aku ya bingung, tapi aslinya memang sudah dibayar malahan kembaliannya buat mamahku.”


Menyimak itu, Widy langsung kembali menggeleng. Buru-buru ia memastikan bon yang ia lupa taruh di mana, tapi ternyata tertindih oleh salah satu kantongnya. “Aku tetap bayar, Mas. Takut. Itu mbah-mbahnya wanita apa laki-laki?” Widy sungguh mengeluarkan uang sesuai yang ada di nota, dari dalam dompetnya.


“Kakek-kakek sih, Dy, kata Mamah.” Angga makin kebingungan karena ia mendapat bayaran lagi untuk barang yang ia ketahui sudah dibayar. “Loh kok dibayar, lagi?”


“Ya kan aku memang belum bayar, Mas. Urusan mbah-mbah itu, sudah nanti kalau dia datang lagi, kasih saja tuh uangnya. Jangan-jangan demit lagi. Ih, ngeri!” ujar Widy mendadak merinding. “Jadi ke depannya, buat jaga-jaga, kalau ada semacam ini, apa ada yang aneh terus aku enggak ngabarin, Mas kabari aku dulu, ya.” Windy wanti-wanti.


“Soalnya orang sekarang gitu kan, Mas? Yakin, aku jadi takut,” lanjut Widy.

__ADS_1


“Kamu bilang gitu aku juga jadi takut. Nanti deh aku tanya ke mamah. Syukur-syukur orangnya datang lagi, biar aku bisa balikin uangnya,” ucap Angga.


“Nah iya, Mas. Serem, kan?” sergah Widy. Sambil membawa satu kantong pesanannya ke depan kulkas di sana, ia berkata, “Oh iya, Mas mau minum apa?”


Angga refleks menggeleng. “Enggak usah, enggak usah. Ini aku juga lagi buru-buru buat beli bahan.” Angga yang masih merasa canggung buru-buru pamit. Namun ketika anak perempuan Widy keluar, ia menjadi urung pergi apalagi bocah bernama Salwa itu juga langsung memperhatikannya dari atas sampai bawah, cukup lama.


“Kenapa, Wa?” tanya Widy menghentikan kesibukannya dan memilih fokus menatap sang putri dan malah ia pergoki tengah memperhatikan Angga.


Salwa yang rambut sebahunya dikuncir dua menyerupai antena, berangsur menatap lesu sang mamah. “Wawa pikir ayah. Kok Ayah enggak pulang-pulang, sih, Ma? Wawa kan kangen.”


Mata Widy langsung panas karenanya, mewakili hatinya yang seketika menjerit pedih. Karena semua yang berkaitan dengan anak memang akan langsung membuatnya sangat sensitif. Ia akan dengan sangat mudah rapuh hanya karena kesedihan apalagi air mata anak-anaknya. Belum lagi jika anak-anaknya sakit. Sekarang saja, alasan Salwa tantrum sekaligus demam, masih karena kerinduan bocah itu kepada Agus yang benar-benar tak ada kabar.


Angga tahu, Widy dan Agus sudah bercerai. Namun pria itu tidak tahu jika Agus lebih parah darinya kepada Arum dan Aidan di masa lalu.


Wawa menatap ragu pria di hadapannya dan baru saja menurunkan masker dan langsung ia kenal sebagai Angga, papahnya Aidan.


“Wah, papahnya Mas Aidan! Mas Aidan mana?!” sergah Wawa langsung kegirangan.


Bocah perempuan berusia tiga tahun itu langsung lari menghampiri Angga. Namun kini giliran Angga yang dilema karena nama anak yang sempat pria itu sia-siakan disebut. Namun, Angga tak mau egois dan segera merespons dengan senyum tak kalah ceria.


“Mas Aidan lagi sama Bude Arum,” ucap Angga sambil mendekap tubuh kurus Wawa menggunakan kedua tangannya, kemudian mengembannya.


“Oh, lagi sama pakde Kala, juga, ya?” balas Wawa dan sukses membuat Angga tak bisa membalas.

__ADS_1


Dari dapur, ibu Rusmini tak sengaja keluar sekaligus memergoki pemandangan kini. Ibu Rusmini langsung terdiam menahan nyeri hanya karena interaksi Angga dan Wawa kali ini. Bocah itu mengadu rindu pada sang ayah yang diceritakannya kepada Angga tak kunjung pulang atau setidaknya sekadar telepon.


“Nanti kalau Pakde ketemu ayah, ayah suruh pulang yah, Pakde. Bilang, Wawa kangen. Wawa susah sakit, tapi kok ayah enggak pulang juga.” Wawa yang memang cengeng, menangis tersedu-sedu.


Widy yang tak tahan dengan kepedihan putrinya, memilih masuk ke dalam rumah. Wanita itu melakukannya sambil terus menunduk karena air matanya yang sudah telanjur berjatuhan. Di bibir pintu menuju dapur yang keberadaannya lurus dengan pintu kebersamaan Angga dengan Wawa, Widy berhadapan dengan sang mamak yang juga sudah ikut berderai air mata. Widy buru-buru menyeka tuntas air matanya, kemudian melewati sang mamak, masuk ke dapur. Di sana, kedua anak laki-lakinya tengah makan dengan lahap, tapi keduanya kompak memakai plester kompres pereda demam.


“Maafkan Mamah yang sudah membuat kalian begini, yah, Nak. Andai dulu Mamah enggak dibutakan oleh cinta Mamah ke ayah kalian. Kalian pasti enggak akan merasakan luka menyakitkan ini,” batin Widy yang perlahan menyadari, salah memilih suami tidak hanya melukainya sebagai seorang istri. Karena salah memilih suami juga berdampak fatal kepada anak-anaknya. “Andai aku bisa mengubah takdir, tapi itu enggak mungkin,” batin Widy yang langsung menolak dengan lembut ketika kedua putranya tersenyum dan salah satunya menawarinya makan.


Widy masuk ke kamar mandi yang keberadaannya memang ada di sebelah dapur. Ia memilih membasuh wajahnya sesering mungkin guna menyamarkan air matanya yang tak hentinya mengalir.


“Dy, dokter Andri telepon,” seru ibu Rusmini setelah melihat pembuat ponsel sang putri yang ada di meja warung, berdering. Ia sudah langsung membawanya ke dapur dan berakhir di depan pintu kamar mandi.


Mendengar nama dokter Andri disebut, Widy langsung was-was. Ada apa, sementara mereka tidak ada janji? Pikir Widy berangsur membuka pintu plastik berwarna putih di hadapannya.


“Mak, Mak, ... tolong ambilin handuk,” ucap Widy setelah menerima ponselnya dari ibu Rusmini.


“Ya ampun, itu lukamu. Baru juga mau kering!” tegur ibu Rusmini khawatir sambil buru-buru mengambil handuk di jemuran pakaian dan posisinya ada di depan pintu dapur.


Pintu dapur bagian luar dalam keadaan terbuka, dan dari tempat Widy berpijak, mereka bisa melihat sebagian suasana luar termasuk jemuran pakaian keberadaan handuk Widy asal pintu tersebut dibuka.


Widy segera menjawab telepon sari dokter Andri. “Selamat sore, Dok? Ada apa, ya?” ucapnya yang kemudian menerima handuk pemberian sang mamah sambil mengangguk-angguk sebagai wujud dari rasa terima kasihnya.


“Saya mau ke situ. Mau cek tangan kamu. Kira-kira, anak-anak kami sukanya makanan apa minuman apa, biar saya bawa sekalian. Jangan nolak, loh. Kalau nolak, saya marah!” ucap dokter Andri dari seberang dan terdengar perhatian.

__ADS_1


Widy langsung terdiam membeku. Setelah beberapa saat lalu ia dikabari ada mbah-mbah yang membayarkan orderannya ke Angga, kemudian Angga yang juga menjadi sangat perhatian kepada Wawa, kini juga masih ada lagi yang perhatian dan itu langsung kepada ketiga anaknya.


__ADS_2