
Hari ini Kalandra pulang lebih awal. Sebelum pukul lima, dan Kalandra langsung mandi. Arum juga sudah langsung sibuk menyiapkan koko lengan panjang warna putih dan bawahan celana bahan warna hitam untuk sang suami.
“Yang, kamu jalannya jangan cepat gitu kenapa? Nanti kamu turun bero!” tegur Kalandra langsung khawatir melihat kesibukan istrinya.
Beres mengurusnya, Arum sudah langsung mendandani Aidan. Aroma minyak telon menguasai sekaligus menyegarkan suasana kamar mereka.
“Ibu Cinta WA katanya sudah dekat. Mereka sudah di Wanareja. Berarti memang bentar lagi,” ucap Arum yang sukses membuat suaminya kepo.
“Ibu Cinta tahu daerah Wanareja dan dia tahu itu sudah dekat dengan rumah kita? Kol dia bisa paham banget, ya? Kalau Resty lumrah, dia hafal karena memang masih orang sini. Soalnya, sekelas ibu Elia yang beberapa kali ke sini bahkan sering main ke Pangandaran, kayaknya juga belum tentu hafal. Nah ibu Cinta? Dia asli orang Jakarta kan?” ucap Kalandra.
“Enggak paham, sih, Pah. Tapi kalau ngobrol sama dia, rasanya kayak ngobrol sama Resty,” ucap Arum yang kemudian memberikan Aidan kepada Kalandra. Layaknya Kalandra, Aidan juga memakai koko panjang dan juha celana bahan hitam. Penampilan yang langsung membuat Kalandra berbinar girang menerima Aidan.
“Kita beneran kembar, ya?” bangga Kalandra, dan sang istri langsung tersipu. “Lucu, ih! Mas Aidan ganteng mirip Papah, ya!” ucap Kalandra yang kemudian mencium gemas pipi Aidan. Bocah itu langsung sibuk mengangguk-angguk.
Arum sudah langsung mengurus Azzura dan Azzam.
“Itu berdua mau dipakein apa? Mau pakai keresek polet hitam putih yang gede, ya?” goda Kalandra sambil mendekati Arum.
“Ih, Papah jahat, ih. Masa anak sendiri suruh pakai keresek.” Kali ini Arum sampai merengek.
Kalandra tertawa. “Lihat, badan mereka apalagi mbak Azzura, beneran mirip kapsul. Ah, itu, Yang! Mereka mirip boneka boba yang kemarin sempat viral itu loh, Yang! Beneran enggak ada bentuknya. Gimana Papah enggak gemes coba, jadi pengin gigit terus!”
Walau Azzam apalagi Azzura memang memiliki tubuh subur, kenyataan tersebut tidak berlaku untuk Arum yang sudah mulai memiliki kembali tubuh idealnya. Mungkin karena dari hamil, Arum juga sudah sibuk dan semua kalori lebih sering terbakar ketimbang tertumpuk. Terlepas dari semuanya, apa yang Kalandra keluhkan juga benar. Bahwa akhir-akhir ini, Kalandra yang telanjur gemas kerap Arum pergoki berusaha menggigit anak kembar mereka khususnya bagian pipi dan kaki.
Sekitar lima belas menit kemudian, rombongan Tuan Maheza datang.
__ADS_1
“Ini, rumahnya pak Sana, yang DPR, itu, kan?” tanya ibu Cinta yang sekarang sudah mengubah identitasnya menjadi Aleya.
Mendengar itu, Arum dan Kalandra yang kompak memakai nuansa hitam putih, langsung terbengong-bengong. Karena lagi-lagi, Aleya bertindak seolah wanita itu paham keadaan di sana. Seperti kata Arum, tingkah Aleya mirip Resty.
Setelah sempat bertatapan dengan Kalandra, Arum segera memasang senyum terbaiknya kemudian mengangguk-angguk. “Pak Sana memang papahnya Mas Kalandra, ibu Aleya. Bentar, ... bentar lagi pasti kita bertemu. Kebetulan, Papah sama Mamahnya Mas Kala, sama Mas Aidan juga, sedang ada undangan buka puasa bersama.”
Tuan Maheza tidak hanya datang dengan sang istri. Karena pria itu juga membawa sang adik, Sekretaris Lim yang memang menjabat sebagai kaki kanannya. Selain itu, di sana juga sampai disertai kedua anak Resty yaitu Cikho dan Cinta bayi.
“Ya ampun, kok malah lupa, tamunya enggak diajak masuk. Ayo, ayo ... masuk dulu. Kita buka puasa dulu, ya. Kebetulan, mamahnya anak-anak sudah siapin es pisang hijau sama es kopyor!” ucap Kalandra heboh dan memang sambil mengemban Azzura. Sementara di sebelahnya, Arum mengemban Azzam.
Di kediaman pak Sana, mereka hanya buka puasa dengan memakan takjil. Karena makan besarnya mereka lakukan di rumah makan Arum. Tuan Maheza berdalih, mereka juga akan mampir ke rumah orang tua Resty. Arum yang sadar tak mungkin bisa mengantar ke sana secara langsung sengaja mengutus sang adik untuk mengantar.
“Nanti sama Widy sama Mas Kala, ya. Tiap hari Widy biasa ke rumah orang tuanya Resty, kok,” ucap Arum meyakinkan. Mereka sudah bersama orang tua Kalandra yang baru datang dan langsung bergabung bersama Aidan juga.
“Saya pikir di sini, saya sudah paling kaya, Dek Widy!'' ucap pak Haji yang masih saja usaha memepet Widy di meja depan lantai bawah sebelah pintu masuk rumah makan Arum. Yang pak Haji maksud, tentu rombongan Tuan Maheza. Mobil rombongan yang terparkir di depan mereka saja sampai bikin mereka silau, saking bersih dan memang berkilaunya.
“Walau di atas langit masih ada langit, di hati saya hanya ada nama kamu dan beberapa nama janda cantik lainnya, loh, Dek Widy!”
Digombali begitu oleh pak Haji, Widy langsung ngakak.
“Ya ampun Dek Widy, tawamu meruntuhkan langit-langit dan menghadirkan pelangi yang akhirnya melengkung, menyatukan hati kita layaknya janur kuning di hajatan tetangga!” lanjut pak Haji.
“Kenapa harus ada nama janda lain kalau Mbah memang suka dan sayang sama saya?” Kali ini, Widy sengaja menanggapi. Terlebih, orang seperti pak Haji sangat cocok untuk dijadikan hiburan.
“Karena saya pecinta janda sejati. Di mana-mana kalau ada janda cantik nan menggoda, pasti saya angkut! Ibarat angkutan, hati saya ini travel VIP khusus janda cantik!” jelas pak Haji.
__ADS_1
“Berarti, istri Mbah, ... maaf, semuanya, janda?” balas Widy.
“Iya. Mengikuti sunnah Rasul!” balas pak Haji dengan entengnya tapi, Widy menganggapnya sebagai hiburan semata.
“Kelak, saya juga akan mengajarkan anak laki-laki saja untuk jadi musafir cinta pemuja janda. Jadi, nanti pas rombongan mas Aidan dewasa, mereka akan bersaing dengan musafir cinta generasi baru. Jadi, walaupun saya sudah meninggal dan melanjutkan kehidupan saya di surga, dunia ini akan tetap memiliki musafir cinta!”
“Kok Mbah seyakin itu, kalau habis dari sini sudah langsung masuk surga?” balas Widy kembali melanjutkan makannya.
“Sudah di WA sama malaikatnya. Katanya nanti kalau saya mati, belok kanan saja, di sana ada surga. Jangan belok kiri, di sana ada neraka. Paling nanti itu buat pongah Fajar apa Septi!” jelas pak Haji.
“Ya Alloh, ada orang serame ini!” keluh Widy yang kali ini sampai menangis karena tawa yang ditahan.
“Ini mobil pada berbakat bikin silau banget, ya? Saya pakai kacamata dulu biar makin ganteng!” Pak Haji sungguh memakai kacamata hitam yang ia keluarkan dari tas pinggangnya. “Loh, Dek Widy. Ini mati lampu apa gimana, kol gelap?”
Widy hanya menahan tawanya melihat pak Haji yang tampaknya tak terbiasa memakai kacamata hitam. “Sudah Mbah, jangan pakai kacamata-kacamataan. Nanti takutnya jatuh, stroke atau malah amnesia padahal Mbah enggak jatuh di jalan menuju rumah saya.”
“Biarkan saya jatuh di hati kamu saja!” ucap pak Haji sambil melepas kacamata hitamnya dan itu langsung membuatnya tersilau-silau. “Duh, jadi silau terus begini? Ya nanti jadi susah lihat janda cantik! Dek Widy, asli, Dek. Mataku jadi enggak bisa lihat, walau aku masih bisa merasakan ketulusan hati kamu, Dek!”
Melihat pak Haji yang sibuk meraba sekitar dan pria itu tampak jelas tidak bisa melihat dengan baik, Widy jadi khawatir. Ia sampai tak berselera makan lagi dan sengaja berdiri untuk membawa pria tua itu, ke klinik terdekat dan otomatis klinik dokter Andri.
Lebih kebetulannya lagi, pria yang bernama Sekretaris Lim meminta diantar ke klinik terdekat untuk menjalani infus.
“Ini aku yang nemenin? Naik motorku?” tanya Widy bingung karena pak Haji saja belum sempat ia urus.
“Dek Widy, jangan lupa buat urus saya. Bisa bahaya kalau mata saya enggak bisa lihat janda cantik lagi!” keluh pak Haji.
__ADS_1
Mendengar itu, Kalandra yang memang mengantar Sekretaris Lim refleks terbahak. “Dy, tuh aki-aki, kenapa?”