Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
95 : Berlian yang Dulu Dibuang, Kini Makin Berkilau


__ADS_3

 Sadar sang adik tak bisa diandalkan, Angga sengaja mengusirnya. Menyeretnya untuk bekerja apa pun, dan andai tetap tidak mau, Angga akan melaporkannya ke polisi.


“Kerja apa sih, Mas? Di sini enggak ada yang buka lowongan kerja ih!”


“Mikir dikit kenapa sih! Yang enggak sekolah bahkan cacat saja doyan kerja, Dik! Memangnya kamu enggak ada keinginan buat dapat penghasilan sendiri? Jangankan sampai buat orang lain, buat diri kamu saja biar kamu enggak jadi parasit!” Angga nyaris kembali meninju Dika yang ia seret paksa keluar dari kontrakan.


Tak lupa, Angga juga sampai mengunci pintu kontrakannya. Termasuk menyita ponsel Dika agar sang adik yang kini berusia tiga puluh tahun, jera.


“Nah itu Mas pakai motor Septi, ngapain enggak Mas jual saja motornya, daripada Mas sibuk minjam?” ujar Dika ketika mereka sampai di gang sebelah kontrakan Angga memarkirkan motornya.


Detik itu juga Angga yang telanjur emosi, kembali meninju Dika. Kali ini, kepala Dika yang menjadi sasaran asalnya. Dika yang juga memiliki tubuh besar, berakhir terjerembap. Kepala Dika menghantam pinggir got.


“Sakit, Mas!” rengek Dika kesakitan dan sampai menangis.


Bukannya kasihan apalagi merasa bersalah, yang ada Angga malah makin muak.


“Pokoknya aku enggak mau tahu. Kalau kamu masih enggak mau kerja juga, mending kamu mati saja! Kerja di pasar, jadi tukang bersih-bersih, ke sawah, apa gimana? Nanti malam ikut aku bikin bata! Awas kalau masih alasan!” Geregetan, Angga sungguh ingin mencabik-cabik sang adik.


Kemudian, yang Angga lakukan adalah menemui Fajar. Karena dari semua teman, Fajar menjadi teman terdekatnya. Malahan, Fajar juga yang telah memberinya banyak saran sesat.


“Si Angga ngapain ke sini, sih? Enggak jelas banget! Enggak tahu apa, tragedi amuk taflon Arum ke dia yang sampai sini, sudah bikin image dia bu-suk!” batin Fajar ketar-ketir. Ia memilih menyibukkan diri tanpa memedulikan Angga. Apalagi kini, masih jam kerja dan ia memiliki alasan untuk melakukannya.


Didatangi Angga ke bank, Fajar langsung kebingungan. Fajar terus menghindar dan berakhir ngumpet di ruang bagian dalam.


“Kurang ajjar memang si Fajar! Awas saja nanti kamu aku balas! Awas beneran awas, kamu, Jar!” sumpah Angga dalam hatinya.


Sungguh, di saat sulit begini, tak ada satu pun yang mau membantu Angga. Biasanya kalau sedang susah seperti sekarang, hanya Arum yang akan menolongnya. Meminjam ke beberapa orang pasar termasuk ibu Nur yang sekarang jadi majikan sang mamak pun, hasilnya nihil.

__ADS_1


“Masa iya, aku beneran harus pinjam ke Arum?” pikir Angga terdiam di depan rumah ibu Nur sambil berkecak pinggang di sebelah motor Septi.


“Memangnya kaki Septi kenapa, Mas?” tanya ibu Sumini sengaja keluar dari kediaman ibu Nur setelah mengetahui apa yang putra pertamanya lakukan yaitu mencari pinjaman untuk biaya pengobatan Septi. Ia mengemban Cantik yang memang tidak seperti anak seusianya. Tubuh Cantik lemas dan diprediksi efek gizi buruk. Sebab walau sang mamak hobi sekaligus berbakat makan, selain malas mengurus, sekadar menyusui saja lama-lama Anggun tidak mau dan malah kecanduan juddi.


Angga yang awalnya memang membelakangi rumah ibu Nur, berangsur menoleh sekaligus balik badan. Sungguh hancur hatinya, remuk redam kehidupannya tak berupa melihat tubuh sang mamak yang awalnya segar, kini tinggal tulang. Angga sampai menitikkan air mata, bersimpuh menci-um kedua kaki sang mamak sambil terus meminta maaf.


Tangis ibu Sumini juga tak terbendung. Setelah sekian lama, setelah Angga dipenjara dan sampai menikah dengan Septi, kini memang menjadi awal pertemuan mereka.


“Mah, Mamah kurus banget? Mamah ikut aku saja, ya. Mamah enggak usah kerja. Mamah sudah tua tapi malah terlunta-lunta begini,” tangis Angga benar-benar pilu.


Ibu Sumini langsung menggeleng, menolak ajakan Angga. “Enggak, Ngga. Mending Mamah begini saja. Septi bukan Arum. Enggak ada yang sebaik Arum.” Ibu Sumini masih ingat, dan memang telanjur trauma dengan perlakukan Septi sekeluarga ketika ia tinggal di sana.


Balasan dari sang mamah membuat dada seorang Angga terasa dipalu sangat keras. Sang mamah saja bisa merasakan betapa kehilangan Arum membuat mereka terlunta-lunta. Mereka benar-benar kehilangan sosok Arum.


“Nanti aku atur, Mah. Biar Mamah enggak capek-capek kerja seperti ini!” rintih Angga masih terisak pedih sambil bersimpuh di pelataran ibu Nur yang basah. Beruntung, pelataran di sana sudah diubin hingga tidak sampai terkena semacam lumpur. Celana bahan panjang warna hitamnya hanya basah di bagian lutut ke bawah.


Kali ini, ibu Sumini sampai terisak-isak. Organ tubuh Angga seolah rontok detik itu juga hanya karena mendengar sekaligus menyaksikan pengakuan sang mamah. Cantik yang saat lahir sempat bertubuh gembul sekaligus menggemaskan, kini tinggal tulang dan malah lebih mengenaskan dari yang mengemban.


Air mata Angga kian sibuk berlinang. Ia tak kuasa melihat kedua anggota keluarganya yang benar-benar jauh dari kata baik-baik saja. Tidak jadi pemalas dan pengemiss, yang ada mereka kekurangan gizi.


“Ini, orang tuanya tahu?” ucap Angga yang menyebutkan nama orang tua Cantik dan tak lain kakaknya saja, rasanya ingin mengamukk.


Di tengah kenyataannya yang masih berlinang air mata, ibu Sumini menggeleng. “Mamah udah enggak peduli, Mas. Sudah enggak kurang-kurang Mamah nasihati mereka!”


Mendengar itu, Angga terpejam pasrah. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, sementara rahangnya menegang akibat gigi-giginya yang bertautan. Tak habis pikir, ia sungguh tak habis pikir pada Anggun maupun Supri. Namun, kenyataan tersebut juga masih bagian dari cara didiknya yang salah.


“Oh iya, Mas. Si Arum juga sudah nikah lagi, ya? Kemarin Mamah dititipin banyak makanan, sebelum hari pernikahan, Arum juga ada bagi-bagi sembako. Itu Mamah dikasih tiga paket, sama ... ada tiga setel daster juga, bagus-bagus!” Menceritakan Arum, ibu Sumini menjadi semringah.

__ADS_1


Lain dengan Angga yang malah merasa tertammpar. Apalagi hingga detik ini, benak Angga menjadi dihiasi sumpah serapah seorang Arum. Mengenai keyakinan wanita itu bahwa Angga sekeluarga akan hancur. Bahkan, keluarga Angga Arum pastikan menjadi seorang pengemis. Juga, Arum yang turut memastikan dirinya akan jauh lebih bahagia setelah lepas dari Angga sekeluarga. Semua sumpah serapah yang akhirnya terbukti karena berlian yang dulu Angga sia-siakan bahkan buang, kini sangat berkilau.


Di tempat berbeda, Arum baru keluar dari kamar mandi yang ada di kamar Kalandra. Kamar yang sudah langsung ditempati Kalandra juga setelah mereka resmi menjadi suami istri. Kenyataan suasana yang sangat sepi, nyatanya karena selain Aidan sudah tidur, di sebelah lemari pakaian, Kalandra juga tengah membongkar koper mereka.


“Yang, sini. Ini perhiasan kok enggak dipake? Kamu cuman pake cincin nikah?” lirih Kalandra sengaja protes. Semacam cincin nikah pun, ia juga turut memakai. Namun, ia akan jauh lebih bahagia jika satu set perhiasan yang menjadi bagian dari emas kawinnya untuk Arum, juga wanita itu pakai.


Arum yang awalnya tengah memijat-mijat kepalanya yang terbungkus handuk, berangsur mendekati Kalandra yang tengah membuka kotak perhiasan berwarna merah.


“Pakai semuanya, wong kamu sama mamah yang milih, kok enggak dipake,” ucap Kalandra yang langsung memakaikan kalungnya lebih dulu. Kemudian anting, gelang, dan juga cincin, mengingat perhiasan yang menghiasi tubuh Arum sebelum ia hiasi perhiasan darinya, juga cincin pernikahan mereka yang ada di jari manis tangan kanan Arum.


“Coba lihat, fokus hadap ke aku,” lanjut Kalandra dan Arum langsung menurut.


“Kan, tambah cantik kalau dipakai begini!” Kali ini Kalandra sengaja memuji.


“Lah, aku kan memang cantik, Mas! Buktinya, pak Haji sampai jungkir balik kepalanya masuk ke got cuma buat kejar cintaku!” sergah Arum yang juga sambil menahan tawa.


Kalandra yang langsung susah payah menahan tawanya agar tidak mengusik tidur Aidan, langsung memeluk Arum penuh sayang.


“Istri cantik ya juga peran sertanya suami. Malahan banyak yang beranggapan, istri itu ibarat cerminan dari suami,” ucap Arum yang sudah balas memeluk Kalandra.


“Oh, tentu! Istriku bakalan jadi wanita paling cantik. Makanya dalam waktu dekat aku bakalan beli kacamata kuda buat pak Haji, biar tuh aki-aki, enggak oleng masuk got lagi!” balas Kalandra.


Arum mendadak pamit ke kamar mandi karena obrolannya dan Kalandra yang sampai membuatnya sibuk menahan tawa, sampai membuatnya kebelet pipis. Tak lama setelah ia beres pipis, di cermin wastafel, ia mematut dirinya yang memang menjadi jauh berkali-lipat lebih cantik setelah memakai perhiasan dari Kalandra.


“Cantik dan bahagia seperti sekarang ini juga menjadi bagian dari balas dendam terbesarku. Karena melalui semua ini, aku telah membuktikan, tanpa mas Angga sekeluarga, tanpa peran serta keluargaku yang selalu mengecapku parasit rumah tangga setelah sebelumnya aku juga disebut perawan tua, ... sekarang, aku benar-benar bahagia,” batin Arum yang tersenyum elegan kepada pantulan bayangannya sendiri.


“Makasih banyak Rum, sudah jadi wanita kuat yang enggak takut sakit sekaligus tahan banting!” lirihnya masih kepada pantulan bayangannya sendiri yang ada di cermin depan wastafel.

__ADS_1


__ADS_2