
“Aku khawatir ke anaknya Septi, loh, Mas. Saking enggak niatnya, selain urusnya asal-asalan, sampai sekarang tuh anak juga belum dikasih nama!” ucap Arum tak lama setelah mereka masuk ke dalam mobil.
“Itu akan menjadi urusan Angga. Percaya deh, ... Septi akan melimpahkan semuanya termasuk urusan mengurus bayinya, kepada Angga,” balas Kalandra dengan santainya sambil mengemudi.
Di depan gerbang sana, ada Angga yang selama tiga jam kebersamaan mereka, tetap gagal mengajak Aidan berkomunikasi. Aidan sama sekali tidak mau ikut kepada Angga, apalagi Angga juga tipikal diam yang sangat jarang bicara. Dan seperti yang Kalandra yakini, masuk ke dalam rumah, Angga yang sebelumnya sempat membantu menyiapkan popok dan juga pakaian bayi, sudah langsung mendapat tugas pokok dari sang istri.
“Kamu masak dulu karena aku lapar, Mas. Habis itu, tinggal beres-bener rumah. Tapi ngerjainnya sambil jaga nih bayi, ya. Bayinya anteng, kok. Nangis cukup dibikinin sufor!” ucap Septi sambil melangkah menuju kamar tamu.
“Kamu bilang aku suruh langsung cari kerja? Kok kamu malah minta aku buat kerjaain semua pekerjaan rumah?” tanya Angga masih berusaha sabar.
“Ya iya ... Mas harus langsung cari kerja biar kita ada pemasukan, syukur-syukur bisa beli baju baru juga buat kondangan terus ketemu Denny Caknan di nikahan si Jandesmu!” ucap Septi yang kemudian berkata, “Namun sebelum kerja, Mas beresin semuanya dulu. Tolong lah, jadi bapak rumah tangga teladan. Kan selama mau setengah tahun ini, Mas sudah nganggur di penjara!”
Angga menghela napas lemas. “Memangnya kamu mau ngapain, kok malah semuanya aku yang urus?”
Septi yang sudah masuk kamar tamu di sebelah Angga berdiri berkata, “Ya mau tidur, Mas. Ngantuk, capek. Mas enggak ngerasain sih, jadi ibu baru rasanya enggak jelas banget. Sudah, ya. Nanti kalau masakannya sudah matang, tolong bangunin aku. Biar aku makan dulu soalnya laper banget!” tanpa kembali menunggu tanggapan Angga, Septi buru-buru menutup sekaligus mengunci pintu kamar tamunya.
Angga yang ditinggal hanya bisa menghela napas sambil beristiqfar. “Sep,”
“Sudahlah, Mas. Daripada kamu urusin keluarga kamu yang enggak jelas, kamu kan lebih diutamakan memuliakan anak dan istri. Nanti kamu dapat pahala, kok!” seru Septi dari dalam kamar.
Kali ini Angga mendengkus. “Kalau sudah begini, beneran mirip mamahnya!” lirihnya benar-benar kesal selain ia yang juga mulai merasa malas berurusan dengan Septi.
__ADS_1
***
Sementara itu, di tempat berbeda, Arum tengah dibuat terpesona pada calon tempat resepsinya. Semuanya tampak indah dengan nuansa putih, pink, dan juga biru muda. Termasuk bunga-bunga segar yang tampak dipersiapkan untuk dekorasi dan membuat suasana di sana mirip taman. Tentu kenyataan tersebut sangat wah bagi seorang Arum karena walau hanya di mimpi, Arum belum pernah berpikir akan mengalaminya. Karenanya, ia cenderung diam mengikuti setiap tuntunan Kalandra. Arum hanya akan membalas setiap sapaan dengan senyum, anggukan, atau menggeleng.
Dalam kebersamaan pengecekan lokasi resepsi, Kalandra sibuk menanyakan segala sesuatunya kepada pihak hotel maupun para tukang dekornya.
“Ini bagus banget. Banyak kaca juga jadinya makin glamor,” batin Arum kikuk.
Ketika akan meninggalkan hotel menuju tempat parkir depan selaku keberadaan mobilnya, Kalandra tak sengaja bertemu dengan ibu Elia, selaku salah satu klien besar perusahaan Kalandra bernaung. Selain berdomisi di Jakarta, ternyata kedatangan ibu Elia ke sana untuk kondangan kepada mereka besoknya. Masalahnya, ... yang wanita cantik itu gandeng bukan Tuan Maheza sang suami, melainkan laki-laki lain. Laki-laki lain yang juga membuat tubuh Arum memanas sekaligus gemetaran hebat.
“Kenalin, ini sepupu saya,” ucap ibu Elia setelah sebelumnya agak kikuk dan buru-buru mengakhiri gandengan tangannya terhadap si pria yang baru saja ia kenalkan sebagai sepupu kepada Arum dan Kalandra.
“Sepupu, kok mesra gitu?” batin Arum yang kemudian menurunkan masker putihnya. Ia lebih dulu menyalami tangan si pria sepupu ibu Elia, walau sang suami nyaris melakukannya. “Aku batu tahu kalau Mas Tomi suaminya mbak Resty, sepupunya klien penting calon suami aku!” tegas Arum yang sampai mengeratkan salamannya hingga pria bernama Tomi yang dikenalkan sebagai sepupu Elia tadi, meringis kesakitan.
“Aku jadi curiga, jangan-jangan, yang kemarin mesra-mesraan sama Tomi di Pangandaran, masih ibu Elia? Asli sih, aku yakin. Namun masa iya, istri bos doyan supir? Oke mas Tomi emang ganteng dan kelihatan banget jaga penampilan apalagi necis glowing gini. Masalahnya, tega bener si Mas Tomi padahal Resty lagi hamil anak kedua mereka dan bulan depan pun mereka bakalan mudik. Nah terus, ini si ibu Elia juga lagi hamil. Jangan-jangan ini malah anaknya Tomi juga? Kalau sampai iya, nih orang beneran pasangan CELENGG!” batin Arum mengakhiri salamannya. Wajah glowing Tomi sudah langsung merah padam.
“K-kalian, ... kalian saling kenal?” tanya ibu Elia.
Lain dengan Kalandra yang sengaja tak berkomentar karena melihat dari sikap Arum, Kalandra yakin memang si Tomi ini tidak beres. Ditambah tadi keduanya bergandengan mesra dan interaksinya juga intens layaknya ketika Kalandra sedang ingin dimanja oleh Arum.
“Ya tentu! Istri Mas Tomi kan asli orang sini. Siapa sih yang enggak kenal mbak Resty, wanita cantik, baik hati, dan juga sangat menjaga hubungannya dan suami? Sekarang mbak Restu hamil anak kedua dan kayaknya seumuran hamilnya Ibu. Kemarin sih sempat bilang telepon gitu, bulan depan mau mudik. Sudah pesan beberapa makanan juga buat dibawa liburan ke Pangandaran.” Arum bertutur cepat sekaligus tegas. Tentu sengaja menyindir pasangan yang tengah dihadapi dan tampaknya baru akan masuk ke hotel ia akan menggelar resepsi besoknya.
__ADS_1
“Bentar, ... kalau Mas Tomi sepupunya ibu Elia yang sesukses ini, kenapa Mas jadi sopir pribadi suaminya beliau? Kalau enggak salah, bos Mas namanya Tuan Maheza, berarti Mas malah sopirnya ibu Elia karena tadi calon suami saya bilang, ibu Elia ini istrinya Tuan Maheza?” Guna mengurangi ketegangan di sana, Arum yang bisa melihat ketidaknyamanan dari seorang Elia si nyonya besar maupun Tomi si sopir necis, sengaja tersenyum dan bersikap seramah mungkin.
“Ini memangnya pak Maheza enggak ikut, Bu Elia?” sergah Kalandra sengaja angkat suara. Apalagi jika melihat interaksi mesra Elia dan Tomi sebelumnya, ia tak hanya curiga, tapi juga jijiik.
Setelah sempat gagap, ibu Elia menjelaskan, dirinya hanya datang bersama sang sepupu yang memang merupakan sopir pribadinya. Alasan tersebut pula yang membuat hubungannya dan Tomi sangat dekat.
“Kok aku ragu mereka memang ada hubungan suka sama suka, sekaligus mau sama mau, yah, Mas? Itu kemarin pasti ibu Elia juga yang bareng Tomi di Pangandaran, Mas!” keluh Arum setelah ia duduk di tempat duduk penumpang sebelah tempat duduk Kalandra yang akab langsung menyetir.
“Zaman sekarang zaman edyan. Gemblungg kabeh! Kok bisa yah, ibu Elia main-main sama sopir, padahal suaminya ini bukan orang sembarangan?” tanggap Kalandra.
“Si Tuan Maheza ini kaya banget yah, Mas?”
“Banget, Yang! Dia punya beberapa Resto, vila dan penginapan lainnya. Aku pernah urus kasusnya jadi banyak sedikitnya aku tahu,” jelas Kalandra.
“Oh, mungkin si ibu Elia ini kena sindrom semacam haus belaiaan. Ihhh! Amit-amit!” balas Arum yang juga menjadi bergidik.
Kalandra yang sudah mengemudikan mobilnya menahan senyum sambil menatap Arum. Ia mulai meninggalkan tempat parkir. “Dia bukan satu-satunya istri sih, Yang.”
“HAH? MAksudnya gimana, Mas?”
“Dia istri muda. Istri pertama Tuan Maheza, ibu Cinta, beliau semacam koma dan andaipun sadar, mirip orang lumpuh enggak bisa ngapa-ngapain.”
__ADS_1
“Wah ... jangan-jangan ada yang sengaja bikin gitu, Mas? Itu jangan-jangan malah si Elia yang bikin!” Arum sangat yakin meski tudingannya itu terbilang keji.
Namun nantinya, di novel Resty, arwah Resty yang terbunuh akan menempati tubuh ibu Cinta.