Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
244 : Merasa Kehilangan Dan Beban Hidup


__ADS_3

Rasa kehilangan mendadak hadir menyelimuti kehidupan seorang Septi, setelah sang mamah menikah. Ibu Fatimah telah diboyong oleh pak Haji ke hotel untuk menikmati paket bulan madu gratis dari Kalandra. Kini tinggal Septi dan Sepri ditemani pak Yusuf. Pak Yusuf berniat menginap di kontrakan untuk menemani Septi, selama ibu Fatimah pergi.


“Enggak apa-apa sih, merasa harus berjuang sendiri lagi karena sekarang, mamah sudah punya kehidupan sendiri. Senggaknya sekarang mamah bahagia dan masa depannya pun dijamin cerah,” pikir Septi yang mendadak ingin memben*tur*kan kepalanya ke tembok lantaran sadarnya ia dari lamunannya, malah mendapati lantai sudah dihiasi aneka mainan Sepri, gerabah termasuk itu wajan dan panci, dan sekarang ... isi lemari pakaian.


“Anakmu enggak mau diem banget, Sep! Kayak punya banyak stok nyawa cadangan! Rak gerabah dipanjat. Kulkas buat petak umpet. Lemari plastik saja ditarik sampai kebuka pintunya. Tenaganya mirip samson padahal badannya cungkring!” cibir pak Yusuf geleng-geleng melihat Sepri yang sangat aktif.


Kepala Septi mendadak terasa retak hanya karena menghadapi kenyataan hidupnya. Bahwa menjadi orang tua, menjadi seorang mamah, benar-benar sangat tidak mudah.


“Papah lihat bagaimana beratnya jadi seorang IRT, tapi Papah dengan sengaja nyakitin mamah!” kesal Septi. “Tapi makasih banget buat semua lukanya. Karena tanpa luka dari Papah, kami pasti masih jadi manusia egois yang beneran enggak guna. Kami pasti enggak akan sebahagia sekarang. Sekarang kami benar-benar memiliki segalanya. Pekerjaan, keluarga, harta, ... dan pastinya kebahagiaan.” Septi sungguh berkeluh kesal. Ingin rasanya ia me*m*aki sang papah jika ingat apa yang pria itu lakukan. Namun, Septi sadar itu tidak akan menghasilkan banyak perubahan selain dirinya yang terancam jadi anak durhaka.


“Cukup berkeluh kesah saja yah, Sep. Jangan nyeruduk apalagi ban-t*i*ng papah lagi,” ucap pak Yusuf yang memang masih trauma. Di sebelahnya, Septi langsung meliriknya dengan sinis. Septi tampak marah bahkan masih dendam kepadanya.


“Kalau Papah berulah lagi, ya alamatnya jurus seruduk ban*t*ingku refleks keluar, Pah!” balas Septi.


Pak Yusuf yang memang masih duduk di kursi roda, berangsur menghela napas dalam. “Sekarang kan mamah kamu sudah nikah lagi, otomatis kamu jadi hanya tinggal sendiri. Kamu enggak mau tinggal sama Papah saja?”


“Biar Papah ada yang urus, aku urus Papah biar aku enggak disebut anak durhakem. Begitu?” sergah Septi.


Karena pak Yusuf terlihat tidak bisa menjawab, Septi refleks menghela napas pelan. “Kalau sudah begini, baru bahas durhakem. Padahal pas aku mau lahiran saja, Papah malah ninggalin aku tanpa sepeser uang pun! Papah bahagia dengan kehidupan Papah, sedangkan aku harus jual ini itu hanya untuk bisa makan. Termasuk kemarin pas akhirnya papah kismin karena bangkrut ditipu biduan yang ternyata masih istri orang.”

__ADS_1


“Karena andai aku enggak diurus Pak Gede, terus aku enggak tegas ke Papah, pasti aku juga tetap enggak Papah kasih nafkah!”


“Sep ...,” lirih pak Yusuf memotong ucapan Septi dan benar-benar memohon.


“Walau mamah sudah menikah, mamah akan tetap bersamaku. Mamah akan tetap tinggal di sini meski di beberapa kesempatan, mamah harus tetap menjadi istri yang baik buat suaminya,” ucap Septi yang tiba-tiba merasa sangat nelangsa. Ia berangsur merapikan mainan Sepri.


“Besok pun aku harus tetap kerja, walau aku juga sambil bawa Sepri.” Dalam hatinya Septi berujar, “Aku sudah serepot ini, masa iya, Papah mau nambahin bebanku lagi?”


Kemudian Septi berdeham, “Mau dianggap durhakem atau malah lebih, jujur aku enggak bisa rawat Papah selama dua puluh empat jam. Karena kalau aku fokus urus Papah, anakku siapa yang kasih makan?”


Melihat Septi memunguti setiap mainan sambil berlinang air mata, pak Yusuf jadi tidak tega. Septi hanya sesekali menyeka asal air matanya.


“Mas Sepri, sudah malam. Tidur ke kamar. Tidurnya di kasur jangan di lantai,” seru Septi.


“Mungkin ini ujian buat aku naik derajat lagi. Tapi tetap, yang terpenting anak sama pekerjaan nomor satu. Hari ini saja, tutup warung sehari, hapeku sudah berisik banget,” batin Septi. “Gitu-gitu, sekarang dengan Papah yang harus setiap saat di kursi roda, sebenarnya juga sudah disiksa.” Setelah sibuk berbicara dalam hati, Septi yang masih membereskan lantai kontrakannya sengaja mengabarkan pada sang papah, bahwa ia akan segera masuk kamar untuk tidur. “Subuh biasanya shalat berjamaah di masjid, Pah. Habis subuhan, aku langsung siap-siap buat jualan. Papah butuh apa lagi, sebelum aku tinggal?”


Perhatian yang Septi lakukan malah membuat pak Yusuf sungkan. Lagi-lagi pria itu tidak menjawab, dan malah menunduk dalam.


Septi kasihan kepada papahnya. Septi masih sayang dan bahkan memiliki rasa hormat. Apalagi jika melihat pak Yusuf yang sekarang dan sangat tidak terawat. Masalahnya, Septi tidak mungkin hanya fokus merawat sang papah karena ia memiliki tanggung jawab wajib. Kalaupun ia harus merawat sang papah dengan terjaga selama dua puluh empat jam, siapa yang akan memberi mereka makan? Tentu tidak ada karena kini saja, papah Septi pengangguran. Papah Septi sudah tidak punya apa-apa apalagi usaha, selain rumah sederhana yang ditempati. Rumah yang dibeli dari hasil kemenangan Kalandra dalam mengurus kasus pak Yusuf me*la*wan kasus penipuan yang dilakukan oleh sang biduan.

__ADS_1


“Kalau Septi berhenti bekerja, kami juga otomatis enggak bisa makan. Karena semenjak aku kembali ke sini, masih Septi juga yang kasih aku makan. Dan andai aku semacam bantu jaga Sepri, mana bisa. Buat urus diri sendiri saja aku butuh bantuan. Apalagi kalau sampai urus Sepri yang aktifnya mirip bela**tung cabai!” batin pak Yusuf.


***


“Kamu kelihatan enggak bahagia?” tanya dokter Andri ketika mereka sampai di depan kontrakan. Mereka baru saja shalat subuh berjamaah di masjid.


Septi yang masih mengenakan mukena lengkap sambil mengemban Sepri di depan dada, langsung mengangguk-angguk lesu. “Iya, Mas. Pikiranku lagi rungkad!”


“Mamah kamu sudah bahagia. Pak Haji bucin akut ke mamah kamu. Pak Haji pasti akan melakukan segala cara untuk membahagiakan mamah kamu,” yakin dokter Andri lirih. Ia merasa lega lantaran pada akhirnya, Septi langsung tersenyum mendengarnya.


“Papah, aku mau nonton dulu!” pamit Nissa.


Sepri sudah langsung mencoba menyusul Nissa, tapi dengan cepat Septi mendekapnya erat.


“Ayo Dek Sepri,” ajak Nissa.


Septi langsung sibuk menggeleng. “Enggak usah, Mbak Nissa. Sepri enggak mau diem, enggak ada yang jagain juga. Bahaya, nanti yang ada semuanya berantakan.” Septi juga buru-buru pamit masuk ke dalam kontrakan, apalagi Anggun dan Supri yang baru pulang shalat subuh berjamaah juga, sudah langsung pamer kemesraan.


Anggun mendekap erat sebelah lengan Supri menggunakan kedua tangan, kemudian mendengkus, memalingkan wajah dari pandangan Septi.

__ADS_1


“Tuh orang kenapa? Pamer?” pikir dokter Andri merasa heran dengan tingkah Anggun dan Supri, yang baginya mirip sengaja pamer. Namun, ia sengaja menyusul keduanya. “Apa maksud kalian tadi seperti itu? Memangnya apa yang bisa kalian lakuin? Malahan, andai mau, Mas Supri ini harusnya dipenjara bila perlu dikebi*r*i karena sudah berulang kali melakukannya ke Septi, loh!”


Di sebelah Anggun dan Supri, dokter Andri menatap marah keduanya. Keduanya langsung diam, cuek, sebelum akhirnya kompak saling menoleh dan juga kompak pergi begitu saja dari sana tanpa ada yang memedulikan dokter Andri. Alasan yang juga membuat dokter Andri sangat kesal. Sebab seperti keyakinannya, adanya kedua sejoli kekurangan otak itu malah mengorbankan perasaan Septi.


__ADS_2