Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
173 : Apa Salah Janda?


__ADS_3

Kalandra memergoki sang istri yang tengah berlinang air mata, memandangi Widy penuh sesal.


“Lumrah, Mbak. Semua orang tua, apalagi seorang ibu, pasti ingin yang terbaik buat anak-anaknya karena aku pun begitu. Walau di kita kesannya sangat menyakitkan bahkan jahat, beliau pasti merasa itu wajar,” ucap Widy yang kemudian meminta Arum untuk tidak menangis. “Sudah, Mbak jangan nangis lagi. Nanti dikira kenapa-kenapa, ih. Tuh mas Azzam malah sudah sampai ketiduran lagi!” Ia menjadi menertawakan Azzam yang hobi tidur sekaligus santuy, seolah bayi itu telanjur mager. Lain dengan Azzura yang memang tidak mau diam, bentar-bentar nangis dan terus minta *****.


Mendapati itu, Kalandra sengaja menunggu dan tak langsung bergabung. Kalandra yakin memang ada yang tidak beres.


Keluar dari kamar Arum, Widy langsung buru-buru ingin pulang lantaran di sana ada dokter Andri dan orang tuanya yang dilengkapi Nissa. Di titik tersebut, Widy langsung menatik masker warna putih yang dipakai, hingga menutup tuntas hidungnya. Tentunya, ia hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa sapaan berarti bahkan walau Nissa nyaris lari menghampiri sambil bersorak girang. Namun, Nissa sudah langsung ditahan oleh sang nenek.


“Dy, kamu ke sini kok kayak mau transmigrasi!” omel ibu Kalsum.


“Loh, memangnya kenapa, Bu?” Widy tersenyum kepada ibu Kalsum yang memang ada di sana, di ruang keluarga yang juga menjadi ruang keberadaan dokter Andri sekeluarga. Namun, Widy benar-benar sudah tidak peduli bahkan sekadar melirik dokter Andri sekeluarga lagi.


“Lah main ke sini sampai dibekal-bekal begitu!” protes ibu Kalsum yang kemudian juga pamit kepada dokter Andri sekeluarga.


“Ya enggak apa-apa, Bu. Biar terbiasa. Bu, ini sekalian mau pamit, sudah malam soalnya. Takut disusul juga sama pak Haji.” Widy pamit, tapi anak-anaknya sedang menghabiskan bekal di dapur didampingi oleh sang nenek yang meminta ketiganya agar makan lebih cepat.


“Oh iya mau hujan juga kayaknya,” ucap ibu Kalsum yang nyambung sekaligus nyaman saja layaknya berbicara dengan teman sendiri.

__ADS_1


“Nah, iya makanya, Bu.” Namun sebenarnya, alasan Widy mendadak membiasakan diri anak-anaknya membekal apalagi jika sampai main ke rumah Kalandra, tentu karena Widy takut, mereka yang tak terbiasa melihat apalagi sekelas mamahnya dokter Andri, makin anti atau malah benci.


“Kenapa nggak nginep saja? Besok libur kan?” ujar ibu Kalsum lagi ketika Widy benar-benar pamit memboyong anak-anaknya dan juga sang mamak.


“Besok pagi saya juga ada tatap muka buat les murid, Bu. Ini makasih banyak buat semuanya, maaf sudah ngerepotin.” Widy meminta ketiga anaknya termasuk yang masih sebaya Aidan untuk menyalami ibu Kalsum. Satu hal yang membuatnya merasa beruntung, pak Sana sampai menghampirinya, membuatnya tak harus pamit mendekat ke sofa yang ada di ruang keluarga dan masih menjadi tempat kebersamaan dokter Andri sekeluarga.


“Makasih banyak buat apa? Ngerepotin apaan lagi itu? Ih, lama-lama kamu mirip pak Haji, ya. Ngadi-ngadi. Sudah jangan makasih-makasih apalagi sampai minta maaf. Apaan sih, ke sini saja mbekel kayak mau transmigrasi padahal saya sudah masak banyak!” sebal ibu Kalsum.


“Ya ampun, tuh lihat anak-anaknya. Sebanyak itu mana masih kecil semua, mirip anak tikus! Sudah janda, banyak anak, hidupnya susah!” batin ibu Muji, mamahnya dokter Andri yang melirik sinis adegan pamit Widy berikut anak-anaknya. Di depan sana, ibu Kalsum tengah memberi anak-anak Widy uang semacam uang pesangon, tapi Widy sibuk menolak hingga ibu Kalsum berakhir menjewer wanita itu.


Nissa menatap sebal sang nenek yang masih saja mencekal sebelah tangannya kemudian menatapnya tajam di setiap tatapan mereka bertemu. Padahal, ia sudah sangat ingin menemui atau malah ikut ke Widy, tapi sang nenek memperlakukannya dengan sangat menakutkan.


“Alhamdullilah, akhirnya keluar rumah juga,” batin Widy yang sudah langsung duduk di motor dan bersiap pergi. Sesekali, ia menghela napas pelan demi mengakhiri rasa nyeri yang terus memilin hatinya.


Seperti rencana awal, ketiga anak Widy dan sang mamak, diantar langsung oleh sopir ibu Kalsum menggunakan mobil.


“Oh, iya, Dy. Kamu tahu tempat yang jual kelapanhijau asli? Di tempat kamu ada yang punya pohonnya, enggak?” segah ibu Kalsum yang memang masih ada di sana bersama sang suami.

__ADS_1


“Di belakang rumah ada, Bu, pohonnya dua dan kelapanya pun masih ada berapa tandan, gitu. Kalau Ibu mau, ih enggak bisa sekarang soalnya saya enggak bisa manjat pohon. Harus minta tetangga buat bantu, paling besok pagi, bagaimana? Apa, pak sopirnya bisa panjar pohon? Kalau bisa sih malah bagus. Ibu butuh berapa? Dua tandan cukup? Dua tandan itu biasanya ada tiga puluh karena buahnya memang banyak. Kecil tapi isi airnya banyak,” jelas Widy, tapi yang bersangkutan malah ngakak.


“Pah, maun dikasih tiga puluh, dikiranya mau buat mandi. Sayang itu loh, Dy. Langka!” ucap ibu Kalsum di tengah tawanya.


Dengan jail, Widy sengaja meledek ibu Kalsum, “Langka kan bagi Ibu, lah aku punya pohonnya dan buahnya banyak!”


Pak Sana langsung tertawa.


“Alhamdullilah sih, masih ada orang baik sebaik mereka bahkan mereka sangat peduli kepadaku sekeluarga, padahal sebelum ini mereka tahu, aku sudah sangat jahat ke Mbak Arum,” batin Widy yang kemudian kembali menghela napas pelan. “Ke depannya kayaknya lebih baik aku jangan sering-sering ke sini, apalagi sepertinya aku sama anak-anakku sudah langsung ditandain sama mamahnya dokter Andri. Dikiranya dari tadi aku enggak tahu, dia sampai ngelirik sinis anak-anakku! Ya Alloh, andai aku enggak ditabrak, aku juga enggak kenal dokter Andri, kok mendadak gini? Jadi janda punya banyak anak memang sesusah ini, dan mirisnya yang selalu mempermasalahkan masih kaum sendiri, padahal mereka enggak sampai nanggung beban hidup aku,” batin Widy.


“Makanya pas dulu disuruh cerai, yang aku khawatirkan ya kayak gini walau aku yakin, lepas dari Agus bakalan bikin keekonomianku membaik.” Widy sudah pergi lebih dulu, memimpin perjalanan melewati mobil dokter Andri yang terparkir tak jauh dari gerbang rumah yang baru saja ia tinggalkan. Lega, benar-benar itu yang ia rasakan setelah keluar dari sana.


Di dalam kamar, Arum baru saja kedatangan Kalandra. Ia mengulas senyum sambil memangku Azzura yang sudah sibuk ***** lagi padahal Azam sudah anteng tidur di ranjang bayi.


Kalandra duduk di kursi empuk bekas Widy dan masih ada di hadapan Arum. “Tadi kamu sama Widy ngobrol apa? Kelihatannya serius banget?”


Ditatap saksama oleh Kalandra layaknya sekarang, Arum tak bisa mengelak. Namun demi kebaikan bersama, ia sengaja bercerita. “Ya gitu saja, sih. Kita enggak usah jodohin mereka. Kalaupun dokter Andri mau, suruh usaha sendiri. Tapi kayaknya bakalan sulit kalau harus punya mertua begitu, mirip kasusku yang dulu,” ucap Arum yang sampai kembali menitikkan air mata. Ia berangsur menunduk dalam. “Dengar ceritanya saja senelangsa ini, apalagi kalau aku sendiri yang mengalami?”

__ADS_1


“Ya sudah jangan dilanjut. Sudah,” sergah Kalandra yang kemudian menyeka air mata Arum menggunakan kedua tangannya. “Tapi di depan ada Andri sama orang tuanya.”


Mendengar itu, Arum refleks menatap tidak suka suaminya. “Suguhi banyak jamuan khususnya mamahnya, Mas. Perlakukan mereka sebaik mungkin, agar mereka khususnya ibunya dokter Andri jauh lebih bisa menghargai yang bertamu ke rumahnya!”


__ADS_2