
Tak ada lagi cadar, hijab, maupun pakaian tertutup. Ibu Fatimah sungguh sudah tak lagi menjadikan semua itu sebagai atribut. Atribut wajib yang selama ini wanita itu pakai untuk tampil bersahaja agar semua orang segan, menganggapnya suci karena penampilannya khas untuk mereka yang paham agama. Septi yang menyaksikan perubahan drastis tersebut, langsung terbengong heran. Septi sungguh sulit untuk percaya sang mamah malah jadi begitu.
Bagi Septi, penampilan terbaru sang mamah mirip perawan yang sangat mengedepankan penampilan. Tentu Septi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penampilan mamahnya yang sekarang.
“Kamu kenapa?” tanya ibu Fatimah yang memakai celana jeans panjang, tapi bagian lututnya dihiasi banyak sayatan. Mirip biduan dangdut yang kerap Septi lihat dari panggung ke panggung hiburan.
“Mamah enggak salah, pakai begini?” tanya Septi yang memang masih berhijab.
Septi yang datang tanpa Sepri, dan hanya bersama pengacara sang papah, berkata, “Mirip biduan dangdut, tahu, Mah! Norak! Sudah punya cucu juga, malah penampilannya seperti itu! Bagusan juga yang kemarin, adem lihatnya.”
Ibu Fatimah yang memiliki tubuh langsing, menatap heran sang putri. “Ya kenapa? Wong kutis yang bapakmu nikahi saja awalnya biduan dangdut!”
“Kabarnya memang gitu,” batin Septi membenarkan, bahwa wanita yang telah mengalihkan kehidupan bapaknya, berprofesi sebagai biduan dangdut. “Namun bukan berarti, Mamah berpenampilan kayak kutis!” rengek Septi tak rela dengan penampilan terbaru sang mamah. “Takutnya malah mengundang yang tidak-tidak, Mah. Lagian, Mamah sendiri yang bilang, yang berpenampilan seperti itu, kutis. Dan yang mau sama kutis sudah otomatis bukan laki-laki baik. Termasuk Papah juga bukan laki-laki baik. Ya sudah sih, gontor saja laki-laki seperti papah di kloset. Mamah kan juga berhak bahagia. Kita berhak bahagia tanpa harus jadi murahann, Mah.”
Septi berbicara panjang lebar meyakinkan sang mamah yang ia pergoki menjadi kikuk cenderung malu.
“Malahan Mamah heran ke kamu. Kok kamu malah jadi kayak nenek-nenek begini? Badan kayak gajah, enggak terawat dan kulit pun kusam dekil begitu. Persis seperti istrinya si buntung Supri! Pantas Supri ngelirik kamu!” ucap ibu Fatimah.
Septi langsung mendengkus sebal. “Mamah ih!”
__ADS_1
Tak terima, ibu Fatimah langsung memelotot marah kepada Septi. “Itu fakta! Mamah yang perempuan saja enggak betah dan enggak ada tertarik-tertariknya ke kamu, apalagi laki-laki? Yang ada suami kamu juga bisa diambil wanita lain!”
“Kami sudah cerai, kok. Kemarin si Angga sudah cerein aku, tapi bukan karena penampilanku!” Septi yang memang jujur, sengaja meluruskan bahwa bisa dijamin, alasan Angga menceraikannya bukan karena fisik.
“Kalau bukan fisik, terus kenapa? Karena kamu sudah enggak punya harta. Begitu?” tanya ibu Fatimah mengomel.
Septi menggeleng. “Karena aku memang capek Mah, hidup susah. Sekarang kan si Angga jadi om-om tukang gorengan keliling. Soalnya kan setelah dipenjara, dia jadi susah cari kerja yang bener.”
Bu Fatimah langsung kicep. Begitulah putrinya, seberengsekk apa pun Septi, ada saat di mana putrinya itu akan jujur layaknya sekarang, apalagi usia Septi memang tergolong muda.
“Tolong, Mah. Jangan berpakaian seperti itu. Aku lihatnya saja malu. Nanti yang ada, Papah makin merasa menang tahu! Terus, kalau Mamah malah dideketin sama preman atau malah semacam gerzmo, bagaimana? Iya kalau sampai dinikahi, kalau cuman dipake atau malah digilirr dan dijual cuma-cuma gimana? Ngeri ih, Mah.” Setelah berbicara begitu, Septi juga meyakinkan, “Mending sekarang kita contoh si jandes Arum saja. Elegan gitu. Kita juga bisa meroket tanpa harus jadi murahan, kok Mah!”
“Sudah mulai sekarang, kita move on saja, Mah. Kita mulai usaha baru buat balas Papah. Enak saja papah hidup enak kok kita dibuang. Aku sumpahin hidup papah maupun kutisnya, enggak akan pernah bahagia. Bangkrut penyakitan deh mereka!” Tentunya Septi juga tidak lupa, “Lagian Mamah sendiri kan yang bilang ke jandes Arum kalau poligami itu indah? Kalau wanita wajib menerima dipoligami. Mamah juga kan yang bercita-cita punya madu idaman? Tuh madu idamannya si kutis, dijabah lahir batin langsung cita-cita Mamah tahu!”
“Kalau aku sih ogah dimadu. Mending jadi janda elegan yang luar biasa!” lanjut Septi masih bertutur kelewat santai.
Ibu Fatimah yang diingatkan mengenai cita-cita sekaligus mimpi terbesarnya yaitu memiliki madu idaman, langsung kicep. Tentu ia juga tidak lupa bahwa di masa lalu, ia pernah memaksa Arum untuk mau dimadu. Di masa lalu, ia menceramahi Arum panjang lebar, yang mana ia juga tak segan ringan tangan, terlepas dari tutur katanya yang wajib dihaluskan karena terlalu kasar.
“Ini karma. Yakin ini karmaku yang dulu minta Arum maksa buat mau dimadu! Nadjiiss, nadjiss!” batin ibu Fatimah nangis batin. Malahan kini, ia sudah langsung berkaca-kaca. Sakit banget rasanya dibuang oleh suami yang selama ini ia urus, mengabdi tanpa kenal waktu. Malahan, selain menemani pak Yusuf dari nol, ibaratnya ibu Fatimah juga jadi otak bisnis pak Yusuf.
__ADS_1
“Kita lihat saja, bisa apa otak pas-pasan kamu tanpa aku, Suf!” batin ibu Fatimah bersumpah serapah. Ia sungguh dendam kepada mantan suami yang menceraikannya paksa tanpa pembagian gana-gini. Ia hanya diberi uang jaminan untuk kebebasannya dari penjara, selain uang sebesar satu juta. Benar-benar pembuangan yang sangat kejam sekaligus menyakitkan.
“Madu ... madu-madu, madu idaman.” Septi mendadak dangdutan.
Ibu Fatimah yang mendengarnya langsung syok. Sudah liriknya madu idaman, dengan irama dangdut pula. Ya tangan kanan ibu Fatimah refleks menoyor punggung kepala Septi.
Langit siang menuju sore hari ini benar-benar cerah, tak kalah cerah dari Septi yang begitu bersemangat ingin menjadi janda elegan layaknya Arum. Mengajak mamahnya yang serba bisa dan baru saja ia kenai jilbab syari yang sampai sengaja Septi beli di tokoh seberang, Septi mengajak sang mamah berbisnis.
“Bisnis apa?” tanya ibu Fatimah tak jadi mengikuti gaya pakaian kutis. Ia balas menggandeng tangan Septi menuju sedan hitam milik pak Haji yang putrinya itu sewa tanpa bayar.
“Ya pokoknya bisnis yang lagi rame, Mah. Kalau aku lihat, dagangan si Angga rame terus. Sering pulang cepet dan duitnya pun ada,” ucap Septi.
Ibu Fatimah menatap penasaran Angga. “Memangnya si Angga dagang gorengan apa, sih?” Terpikir olehnya untuk mengajak Angga bekerja sama.
“Terus, anak kamu gimana, Sep?” sergah ibu Fatimah yang berangsur duduk di tempat duduk penumpang menyusul Septi.
“Ya buntung, Mah. Mirip banget Supret!” balas Septi jujur.
Mendengar itu, kepala ibu Fatimah langsung puyeng. Wanita itu refleks menggunakan kedua tangannya untuk memijati kepala.
__ADS_1