
“Allohuma Janda, mending kita nikah saja ....”
Detik itu juga, semuanya kompak tak mengaminkan doa lanjutan dari pak Haji. Doa lanjutan yang dikata pria itu mampu membuat mereka menjadi pribadi lebih baik lagi, terlebih sebentar lagi mereka akan menghadapi bulan ramadan, bulan yang penuh berkah.
“Pak Gede, ih. Janda mulu.” Septi langsung menatap sebal pak Haji yang kemudian membalasnya. “Tumpengnya keburu basi kalau pak Haji bahas janda mulu!”
“Ini kan saya sedang usaha, Sep. Makin banyak yang aminin, makin banyak juga kemungkinan buat terkabulnya!” yakin pak Haji.
Septi yang masih menatap pak Haji berangsur memasang wajah flat.
“Doanya jangan cuma buat janda. Buat duda juga. Biar para duda juga cepat nikah lagi!” ucap Kalandra.
“Oh, oke siap Pak Pengacara!” sergah pak Haji langsung dengan doa terbaiknya. “Alohuma duda, ngalah lah sama yang tua. Biar saya saja yang dapat jandanya.” Tentu yang ia lirik dokter Andri, yang mana pria itu juga sudah langsung fokus menatapnya. “Dokter Andri duda juga, kan?”
Dokter Andri tidak menjawab dan hanya mesem. Membuat pak Haji yang masih menunggu malah tak sengaja menoleh ke arah pintu kedatangan. Di sana ada Angga yang berpenampilan rapi dan sampai memakai masker putih. Angga benar-benar baru datang.
“Wah! Itu dudamu loh, Sep! Jadi ganteng loh sekarang, apalagi usahanya maju! Ya tambah ganteng! Daripada si Fajar, cuma menang di gombalan pekoknya!” heboh pak Haji yang langsung berdiri hanya untuk memanggil Angga.
Angga menyalamkan kedua tangannya di depan wajah dan langsung berkomunikasi dengan Kalandra karena Kalandra sendiri langsung mengajaknya berkomunikasi. Kalandra takut, Angga ikut-ikutan terkena virus janda pak Haji.
“Mau ketemu mas Aidan,” ucap Angga.
“Oh, di dalam sama mamah Kalsum. Langsung masuk saja. Tadi sih lagi makan,” sergah Kalandra.
Angga tak datang dengan tangan kosong. Karena di kedua tangannya dihiasi kantong belanjaan semacam dari toko pakaian dan juga toko sepatu.
“Ya sudah, makasih banyak!” balas Angga yang langsung tersenyum semringah menatap wajah-wajah di sana, kecuali kepada Septi. Benar-benar hanya Septi yang tidak Angga lihat padahal dari semuanya, tubuh Septi yang paling besar.
“Mas Angga, ya. Mentang-mentang sudah sukses, jadi sombong ke aku!” Dalam diamnya, Septi mengakui, lepas darinya, Angga memang jadi jauh lebih keren dan tampaknya karena Angga juga sengaja merawat diri. “Sayang, sudah mustahil buat balikan. Andai kami bisa balikan, dia punya usaha bahan gorengan, aku punya usaha es. Ibaratnya, kami ini yin dan yang!” batin Septi.
Belum sempat pergi, Aidan sudah tertatih lari membuat ibu Kalsum kewalahan menyusul. Aidan mencari papahnya, tapi ketika Angga langsung menyapa dan berusaha menggendong, bocah itu tidak mau. Aidan langsung bablas lari menghampiri Kalandra. Membuat Kalandra yang awalnya duduk, bergegas berdiri dan langsung menyambut, mengemban bocah itu erat.
“Nah, sini-sini. Kita bagi-bagi tumpeng! Sekalian gabung sini, Ngga! Ini lagi syukuran Septi yang enggak jadi nikah sama Fajar. Alhamdullilah, ada yang enggak jadi nikah, kita dapat tumpeng berkahnya!” heboh pak Haji yang sampai meminta bantuan ibu DPR untuk memotong tumpengnya.
__ADS_1
“Yang motong tumpengnya ya harusnya yang enggak jadi nikah, Mbah.” Ibu Kalsum berusaha memberi pengertian.
“Oh, iya ... ya. Lupa. Nih, Sep.” Pak Haji memberikan pisaunya kepada Septi. Wanita itu sudah langsung berdiri dan siap menerima pisaunya, tapi ia urung melakukannya. “Enggak usah potong lah. Langsung diseruduk saja tumpengnya pasti langsung ancur walau cuman pakai tangan kamu!”
“Pak Gede ... lama-lama malah pak Gede yang aku seruduk!” kesal Septi.
Arum sudah tertawa lemas dan meminta Kalandra untuk mengantarnya ke toilet karena ia nyaris pipis. Membuat formasi di sana tak lengkap lagi apalagi Nissa juga sudah merengek kepada sang papah untuk segera memesan makanan.
“Eh, Dek. Kita makan tumpeng saja,” bujuk pak Haji tapi Nissa sudah langsung menggeleng.
“Ya sudah, kita ke sana.” Dokter Andri langsung pamit.
“Yuk, Bu. Ikut,” ajak Nissa yang sudah langsung menggandeng Widy.
“Loh, loh, ... enggak boleh gitu dong, Dek. Jangan bawa jandaku!” panik pak Haji sudah sampai berdiri. Namun, Widy memilih pergi menjadi bagian dari dokter Andri.
Acara syukuran untuk Septi mendadak kacau lantaran pesertanya termasuk pak Haji yang menyelenggarakan bubar. Pak Haji lebih memilih mengejar Widy yang dibawa pergi ke tempat duduk sebelah taman dan memang masih ada di lantai bawah bagian depan.
“Ini tempat favoritnya Nissa,” ucap dokter Andri yang langsung kehilangan senyumnya lantaran pak Haji datang.
“Mbah balik ke tumpeng dulu. Jangan rusuh di sini, kasihan ini anak kecil sudah kelaparan,” ucap Widy lagi.
Pak Haji tak memiliki keputusan lain, selain kembali. Di sana masih ada Angga dan juga ibu Kalsum yang akhirnya duduk menjadi bagian dari acara syukuran.
“Ibu kamu sehat, kan?” tanya ibu Kalsum kepada Angga yang duduk di sebelahnya karena pria itu sedang melakukan pendekatan kepada Aidan yang ia pangku.
“Alhamdullilah, Bu. Semuanya sehat termasuk ibu saya,” jawab Angga.
Jujur, ibu Kalsum ingin menanyakan kabar Anggun sekeluarga, tapi melihat Angga yang menjadi sangat santun dan tampak jelas tengah berusaha bangkit dari keterpurukan, ia menjadi tidak tega.
“Ngaa, ... gimana rasanya setelah cerai dari Septi?” sergah pak Haji yang baru datang.
Septi yang tengah memotong tumpeng menggunakan pisau langsung panik. Lain dengan Angga yang langsung tersenyum puas.
__ADS_1
“Alhamdullilah, lega!” jawab Angga yang akhirnya juga bisa tersenyum lepas lantaran Aidan mau ia pangku. “Mas Aidan ganteng banget, ya?” lirihnya sengaja memuji sang putra yang ia pandangi wajahnya penuh rasa kagum.
Aidan mengangguk-angguk. “Papah Ala!”
Ibu Kalsum tahu maksud dari ucapan Aidan barusan. Bahwa bocah itu merasa ganteng mirip papah Kalandra. Yang mana, ibu Kalsum juga yakin Angga paham juga maksud balasan tersebut.
Melupakan balasan barusan, Angga yang sampai membelai wajah sang putra kembali bertanya, “Mas Aidan sudah makan?”
Aidan langsung menggeleng. “Belum!”
Ibu Kalsum langsung melotot panik. “Loh, tadi yang habis satu piring siapa, Mbah Uti suapin. Tuh perut Mas saja sampai sebuncit itu!”
Aidan yang tertawa geli malah berkata, “Uti yang makan.”
Jawaban menyesatkan dari Aidan kompak membuat kebersamaan di sana kembali diwarnai tawa bahkan oleh ibu Kalsum sendiri yang difitnah oleh si bocah.
“Ketularan mbah haji pasti ini!” sindir ibu Kalsum sambil menerima pemberian piring berisi nasi tumpeng lengkap dari Septi.
“Wah, keren berarti kalau saya punya pengikut tetap!” balas pak Haji bangga dan mulai menikmati nasi tumpengnya.
“Ke depannya kamu harus jadi lebih baik lagi yah, Sep. Pemikirannya juga harus lebih dewasa apalagi kamu sudah punya anak. Contoh mamah kamu, mamah kamu beneran sudah patut diacungi jempol!” ucap ibu Kalsum sengaja memberi Septi saran.
“Iya, mamahnya janda istiqomah. Janda idaman, anaknya janda,” ucap pak Haji yang tak melanjutkan. Karena selain Septi sampai menjewernya, dari arah dalam, Kalandra menuntun Arum yang melangkahnya tertatih-tatih.
“Bu DPR, Dek Arum sudah HPL apa gimana? Kayaknya itu udah mau deh!” ucap pak Haji.
Ibu Kalsum langsung ketar-ketir. Ia pastikan sendiri dan tampaknya dugaan pak Haji memang benar.
“Itu kayaknya kontraksi dadakan gara-gara Pak Gede ngelawak janda mulu!” ucap Septi baru saja menyuguhkan sepiring nasi tumpengnya kepada Angga.
“Dimakan, Mas. Jangan cuma dilihatin!” sindir Septi kepada Angga.
“Iya, makasih,” balas Angga yang mengangguk-angguk.
__ADS_1
Namun, semua perhatian tanpa terkecuali Septi sendiri, sudah langsung tertuju kepada Arum. Benarkah wanita itu melahirkan lebih dini dari HPL?