Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
83 : Berkunjung ke Rumah Septi


__ADS_3

Bisa jadi, alasan Kalandra menjadi pribadi pemurung sebelum pria itu akhirnya menjalin hubungan dengan Arum juga masih karena kasus Bilqis dan juga keluarganya. Walau Kalandra tidak sampai cerita dan Arum juga tak berani bertanya, Arum yakin memang itu penyebabnya. Dengan kata lain, pertemuan hari ini dengan orang tua Bilqis dan sampai menghasilkan drama, juga telah mengorek luka lama seorang Kalandra.


Malamnya Arum benar-benar tidak bisa tidur. Arum khawatir, di kamarnya, Kalandra malah sedang berpikir macam-macam. Arum khawatir, Kalandra menghabiskan waktunya dengan kesedihan dan parahnya, kembali kehilangan kewarasan layaknya awal kematian Bilqis.


Setelah memastikan Aidan lelap dan waktu di beker yang ada di nakas pun menunjukkan pukul dua malam, Arum sengaja turun dari tempat tidur. Arum berniat memastikan keadaan Kalandra yang malah sudah ada di depan pintu kamarnya ketika ia membuka pintunya. Kalandra sungguh sudah akan meraih kaitan pintu kamar yang Arum tempati.


Tatapan mereka bertemu dan seperti yang Arum khawatirkan, Kalandra benar-benar menghabiskan waktunya dengan kesedihan. Mata Kalandra yang sudah kembali sembam menguatkan keyakinan. Bahkan sekadar menatapnya, Kalandra terlihat tidak mampu.


“Yang, ... aku mau peluk, dong,” ucap Kalandra.


Suara Kalandra terdengar lirih dan sangat sengau khas orang yang akan menangis. Hati Arum langsung menangis mendengarnya. Mengangguk-angguk tegar, Arum berangsur berjinjit kemudian mendekap tengkuk Kalandra menggunakan kedua tangannya. Detik itu juga Kalandra memeluknya sangat erat. Saking eratnya, Arum sampai merasa sakit dan refleks meringis, tapi Arum tetap bertahan. Sesekali, kedua tangannya akan mengusap kepala maupun punggung Kalandra.


Kalandra yang sudah terbiasa tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat hangat, tapi mengenal Bilqis membuat pria itu turut merasakan kekejaman yang harus Bilqis rasakan, ... iya, Arum paham apa yang sedang Kalandra rasakan. Pantas ada kalanya Kalandra bisa sangat meledak, meski tak jarang bahkan terbilang sering, Kalandra akan sangat manja layaknya sekarang.


“Yang, aku mau tidur sama Aidan,” ucap Kalandra sembari menyudahi pelukan mereka. Ia menggunakan kedua jemari tangannya untuk menyeka air matanya dengan cepat.


“Ya sudah, sana Mas tidur. Malam ini Aidan tidurnya pules banget. Mungkin efek kemarin sore, habis mamah urut, makanya dia ngerasa nyaman banget dan tidur pun jadi anteng,” balas Arum.


“Ya sama kamu juga, memangnya kamu mau ke mana, kalau enggak tidur?” balas Kalandra.


Arum langsung bingung. “Tapi jangan macam-macam, loh!” ucapnya yang menjadi tegang.

__ADS_1


“Macam-macam juga enggak apa-apa,” sergah Kalandra yang kemudian menuntun Arum, menutup sekaligus mengunci pintunya, dan terakhir tiduran di pangkuan Arum.


“Kalau begini sampai besok, bisa-bisa aku enggak bisa jalan, Mas. Ini saja sudah mulai kesemutan,” lirih Arum, tapi yang di ajak bicara sudah mendengkur, menegaskan Kalandra sudah tidur bahkan lelap.


“Ya sudahlah, aku juga tidur. Lihat Mas Kala sudah lelap gini, aku juga jadi ngantuk dan enggak khawatir lagi,” lirihnya yang juga mulai bersandar pada sandaran tempat tidur dan memang langsung tidur.


Walau ketika Arum bangun, posisi sudah tidak seperti terakhir kali wanita itu ingat. Karena ketika Arum terbangun, ia sudah ada di dalam dekapan Kalandra. Kenyataan itu juga yang membuatnya nyaris jantungan. Berdebar-debar Arum melongok selimut yang menutup tuntas tubuhnya maupun Kalandra. Baik dirinya maupun Kalandra, masih sama-sama masih berbusana lengkap. Namun ketika Arum mencuci wajah di wastafel, Arum menemukan dua tanda cinta yang Kalandra tinggalkan di rahang kanan sekaligus leher sebelah kiri.


“Ya ampun, ini aku habis diapain sama mas Kala? Tuh orang mendadak jadi vampir, kah pas aku tidur pulas?” batin Arum panik.


Arum tak jadi membasuh wajahnya karena ia terlalu fokus memperhatikan tanda cinta yang menyegel bagian di sana. Bergegas ia mematikan air keran, kemudian memastikan bagian lain yang tampaknya harusnya masih aman.


***


Setelah menjadikan troli bayi sebagai hadiah untuk mereka bawa, mereka yang menggunakan mobil, langsung menuju rumah orang Septi. Di Jalan, Arum memergoki Dika yang sedang berjalan dengan ibu Sumini. Ibu Sumini mengemban Cantik, dan di pinggir jalan, tampaknya ketiganya baru belanja keperluan Cantik maupun dapur. Sebab dua kantong yang Dika bawa berisi popok dan susu bayi, sementara kantong yang satu lagi berisi sayuran.


“Semoga Dika beneran mikir,” ucap Kalandra masih menyetir.


Arum menoleh dan menatap Kalandra. “Amin,” ucapnya yang kemudian menunduk. “Mas, juga sudah baik-baik saja, kan?” Ia sengaja memastikan.


Mendengar itu, Kalandra refleks tersenyum kecut. Ia berangsur menoleh sekaligus menatap Arum. “Wajib!”

__ADS_1


“Jangan terlalu memaksakan diri. Itu bisa makin melukai Mas, kan?” balas Arum Khawatir.


“Aku punya kamu yang selalu membahagiakan aku, jadi aku beneran baik-baik saja dan akan selalu begini sampai nanti,” ucap Kalandra sambil tersenyum ceria. Tangan kirinya mengelus punggung kepala Arum. Hari ini ia kembali menggerai rambutnya dan menjepit poninya ke sebelah kanan, sesuai permintaan Kalandra.


“Semalam, Mas jadi vampir, ya?” tanya Arum sengaja mengalihkan suasana melow dari kasus Kalandra dan Bilqis.


Kalandra kebingungan menatap Arum. Namun, ia langsung salah tingkah bahkan sibuk menahan tawa ketika Arum menunjuk bagian yang masih dihiasi bekas samar selaku tanda cinta yang ia tinggalkan.


Arum mesem kemudian menghela napas pelan. “Kalau Widy sama Agus masih dan mereka terancam nge-pet, Mas malah jadi vampir, ya?” ia sengaja menyindir Kalandra yang malah langsung sibuk mengangguk.


“Bahkan kalau sudah nikah, bakalan lebih!” balas Kalandra di sela tawa yang masih pria itu tahan.


Arum juga langsung menahan tawanya. “Bahaya ini!”


“Makanya aku sengaja minta kamu cuti, biar kamu punya waktu khusus buat aku, kan?” ujar Kalandra.


Arum hanya mesem sambil mengangguk-angguk. “Bisa diatur, Mas!” Ia tak kuasa untuk tidak tertawa.


Kedatangan Arum dan Kalandra ternyata nyaris bersamaan dengan kepulangan Angga. Angga yang tampaknya benar-benar sudah bebas dan tak lagi harus menghabiskan waktunya di penjara. Angga yang lebih dulu tiba dan masih di teras rumah, menatap bingung, kikuk, cenderung cemburu pada kebersamaan keluarga bahagia di hadapannya.


“Kemarin enggak sampai dandan juga sudah cantik, ... sekarang sampai dandan rapih semanis itu. Cantik banget ...,” batin Angga.

__ADS_1


Seseorang membukakan pintu, dan itu Septi. Berbeda dari biasanya, kali ini Septi berpenampilan andalan ibu-ibu mager, jauh dari menjaga penampilan. Rambut awut-awutan, wajah kucel pucat karena tak dipoles make-up. Termasuk mengenai pakaian, Septi yang menjadi memiliki berat badan berlebihan sekaligus melar meski belum sampai seperti Anggun, malah hanya memakai daster lusuh. Tentu Angga jauh lebih betah melihat wanita yang sedang diurus oleh Kalandra. Karena kini di sebelahnya, Kalandra sampai jongkok hanya untuk membantu Arum yang mengemban Aidan, melepaskan sepatu flat-nya.


“Wuaniiirrr, si Jandes Arum, sengaja ke sini biar aku beneran kebakaran!” batin Septi benar-benar kesal.


__ADS_2