
Kalandra memasuki kamarnya dengan keletihan yang tak bisa ia singkirkan. Namun, melihat sang istri yang langsung tersenyum ceria bahkan sampai menghampirinya, rasa letih itu perlahan hilang.
“Pah!”
“Hemm ...?” Kalandra membiarkan tas kerjanya diambil Arum. Wanita itu berangsur pergi, dan Kalandra tahu Arum akan meletakan tas kerjanya di meja, tapi ia sengaja menahannya dan melah mendekap istrinya itu dari belakang. Tak hanya itu, karena ia juga sampai bersandar manja hingga Arum jadi agak sempoyongan karena keberatan.
“Pah, Pah ... sumpah, kalau terus dilanjut, ini bisa nyungseb bareng!” keluh Arum waswas.
“Duh, Yang ... dari habis ashar, punggungku berasa digelendoti tiga Septi!” rengek Kalandra benar-benar manja.
Mendengar itu, Arum langsung tertawa. “Gimana ceritanya? Satu saja aku enggak yakin Papah kuat. Lah ini tiga?” ujarnya yang lagi-lagi tertawa. Tawa yang tentu saja sengaja ditahan karena takut mengusik si kembar walau keduanya tidak sedang tidur. Karena kini, di tempat tidur, kedua bayi itu sedang santuy.
Arum berangsur balik badan kemudian membingkai wajah Kalandra menggunakan kedua tangan, setelah ia menyisihkan tas kerjanya, begitu saja. Ia menatap saksama sang suami. Namun karena Kalandra masih memakai masker, ia sengaja melepasnya. “Papah sakit?”
“Kayaknya. Bolak-balik ke Banyumas pakai motor, punggung berasa digelendoti tiga Septi!” balas Kalandra dan lagi-lagi membuat Arum menahan tawa.
“Septi lagi, Septi lagi yang disalahin. Lama-lama, Papah mirip Mbah Haji, yang apa-apa serba nyalahin Septi!” ucap Arum. “Ini faktor usia apa faktor puasa, sih? Mau aku panggilkan tukang urut? Urut saja yah, nanti habis buka puasa biar tetap bisa ikut tarawih? Apa mau habis tarawih saja?”
Ibu Kalsum yang baru datang langsung melirik geli kelakuan putranya. “Alah ... bayi tua. Masih saja kolokan! Manja! Lihat Mas Aidan!” lanjutnya pada Aidan yang tengah serius menarik mainan truk olengnya yang ditali menggunakan rapiah.
Kalandra langsung kikuk, tapi ia yang juga sampai ditertawakan oleh Arum, sengaja berkata, “Aku kan adiknya calon adiknya mas Azzam, Mah. Masa iya Mamah lupa?”
Apa yang Kalandra katakan dan itu lebih terdengar berkeluh kesah, kian membuat Arum terbahak. Wanita itu sampai membungkuk sembari mengeluhkan jahitannya. Sesekali, tangan kanannya akan menepuk gemas pinggang Kalandra.
“Berarti Mas anak piyiknya Mbak Arum?” ucap ibu Kalsum yang tentu saja menyindir.
__ADS_1
“Ya iya, ... anak paling muda pokoknya!” balas Kalandra. Kini, Arum yang masih sibuk menahan tawa, berangsur berjinjit kemudian memeluk tengkuknya menggunakan kedua tangan.
“Bentar lagi buka puasa, sekarang Papah mandi biar kita bisa buka bersama karena papah Sana pun sudah pulang. Tuh, pulang-pulang bawa truk oleng buat Mas Aidan,” ucap Arum seiring ia yang mengakhiri dekapannya terhadap Kalandra.
“Wah, itu truk oleng dari Mbah kakung (Kakek), Mas?” Kalandra buru-buru duduk, mengamati truk oleng berukuran besar dan sampai diberi nama Aidan secara khusus, dengan saksama.
Awalnya, Arum hanya berpikir Kalandra begitu lantaran suaminya itu sengaja ingin mengamati mainan truk olengnya dengan leluasa. Namun ternyata, ...
“Anak piyik (bayi) kamu iri ini, Mbak!” ucap ibu Kalsum yakin, walau setelah itu, ia menjadi menahan tawa.
“Namun faktanya memang begitu, Mah. Pas aku kecil, papah enggak pernah beliin aku beginian. Ini keren banget, loh!” yakin Kalandra.
“Ya sudah Mas Aidan. Ini nanti adiknya dipinjemin, ya! Gantian, harus sayang adik!” ujar ibu Kalsum membujuk Aidan yang langsung mengangguk-angguk.
Arum sudah sampai tak karuan karena menahan tawa, tapi ia berangsur mengurus Azzura dan Azzam mengingat adzan magrib akan segera berkumandang.
“Mas Aidan sudah berapa kali buka puasa?” tanya pak Sana yang memang duduk bersebelahan dengan Aidan.
“Sudah enggak hitungan, yah, Mas? Sehat pokoknya!” ucap ibu Kalsum yang memangku Azzura.
Arum yang memangku Azam sambil sesekali menyuapi Kalandra langsung mesem.
“Oh iya, Mas. Rombongan dari Jakarta, gimana?” lanjut pak Sana.
“Oh, itu ...,” ucap Kalandra yang kemudian melirik Arum. Hingga Arum mengambil alih jawaban yang harus ia berikan.
__ADS_1
“Widy masih tunggu nemenin di klinik, Pah. Tapi nanti malam, orang tua Resty sudah boleh pulang. Jadi, ya Widy baru bisa pulang malam,” jelas Arum.
“Oh, berarti nanti habis buka puasa, kita ke sana bentar Mas, sebelum shalat tarawih,” ucap pak Sana.
“Terus itu, ... adiknya Tuan Maheza, jadi melamar Widy?” tanya ibu Kalsum penasaran.
Kalandra dan Arum kembali bertatapan di tengah rasa gelisah yang mendadak melanda.
“Widy mau enggak, Yang?” tanya Kalandra kepo.
“Dimauin saja lah, nanti dikasih syarat, kalau takut semacam poligami!” Kali ini, ibu Kalsum sengaja memaksa. “Ya, Mbak! Dipaksa saja si Widy, asal si Lim mau menerima anak-anak, sudah jalani saja. Masalah cinta pasti bakalan ada karena Widy pasti hidup enak bareng Lim. Yang penting buat Widy kan, Lim tanggung jawab ke anak-anak juga. Sudah, pokoknya iya saja!”
“Untuk itu sih, Tuan Maheza sama ibu Aleya, sudah wanti-wanti, pasti,” ucap Kalandra yang lagi-lagi melirik dan perlahan menatap sang istri. Ia terlalu takut membuat istrinya tersinggung.
“Aku juga oke, Sayang,” balas Arum meyakinkan sang suami. Kemudian, tatapannya mengabsen pak Sana maupun ibu Kalsum. “Kalaupun sampai diboyong ke Jakarta ya enggak apa-apa, kan masih bisa komunikasi. Zaman makin canggih dan kita pun bisa main. Daripada di sini, necis dikit pergi kerja digosipin enggak-enggak sama tetangga.”
“Nah, gitu! Berpikirnya buat ke depan juga. Widy hidup enak bahkan jadi jutawan pun, kita lihatnya juga senang, kan?” timpal ibu Kalsum dan walau tampak lemas, Arum mengangguk-angguk.
“Iya, Mah!” ucap Arum.
“Jadi sekarang, ... kita, apalagi kamu, Mbak. Kita pelan-pelan bujuk Widy. Tapi ya memang jangan spontan langsung besok. Maksudnya, kan di sini pun, orang tua Resty masih kita urus. Nanti pelan-pelan, sering komunikasi, dan pihak dari Jakarta juga rutin melakukan kunjungan, pasti kalau begitu jauh lebih enak. Nanti deh, Papah bilang, nawar ke mereka. Jangan langsung spontan harus mau, ... kesannya berasa disambar petir,” ujar pak Sana sangat sabar.
Senyum hangat terlahir dari bibir Arum. Ia menatap sang papah mertua penuh terima kasih. “Makasih banyak, Pah!” Jarang-jarang, mertua sampai mau urus keluarga menantu.
“Sama-sama, Mbak, ... sudah, ... sudah jadi kewajiban kita buat saling jaga. Kita sudah berkewajiban saling dukung apalagi ke keluarga sendiri. Harapan Papah sih, Lim sama Widy bener. Sama-sama saling mengisi, melengkapi seperti kalian!” Pak Sana menatap semringah Kalandra dan Arum yang langsung tersenyum hangat membalasnya dan juga kepada semuanya.
__ADS_1
Amin, batin mereka kompak dalam hati. Mengaminkan setiap harapan baik yang senantiasa senantiasa membersamai mereka.