
Septi mendadak minta makan di rumah makan milik Arum. Fajar tak bisa menolak walau pongah yang ia alami membuatnya tidak begitu percaya diri. Masker pun menjadi senjata terampuh pria itu tanpa mau membukanya terang-terangan karena sebisa mungkin, Fajar akan menyembunyikan pongahnya.
Di sore menuju petang, menggunakan motor gede, kedatangan Fajar dan Septi lebih mirip kera yang dipeluk gajah. Keduanya masuk lebih dulu walau tanpa keduanya sadari, mobil yang tengah mencoba menepi justru dikemudikan Arum dan dipandu khusus oleh Kalandra.
“Sayang, ... mobilnya kinclong banget! Kayaknya masih baru!” kepo Septi sambil melongok-longok di depan pintu masuk sedangkan sebelah tangannya mendekap erat sebelah tangan Fajar.
Fajar langsung keki. “Kalau si Septi sampai minta mobil juga, aku sewain mobil rental deh. Bahkan karena demi Septi, aku rela ganti motor gede biar pas bonceng dia, motornya enggak pesek apalagi remuk di tengah jalan!” batin Fajar yang kemudian berkata, “Ah, urusan mobil gampang! Karena kalau kita sukses, mau beli satu lusin saking gampangnya! Belinya pakai merem pokoknya!” yakinnya yang lagi-lagi sengaja merayu. Layaknya biasa, ia harus membuat Septi tersentuh agar wanita itu luluh.
Septi yang tetap berhijab kemudian menatap Fajar. “Kalau enggak sukses gimana?”
Pertanyaan dari Septi barusan langsung membuat Fajar kicep. Kadang Septi memang begitu, antara polos atau malah beggo, tapi ia telanjur sayang.
“Kamu punya aku, kita pasti akan sukses!” yakin Fajar makin bersikap manis. Tangan kanannya mengelus manja pipi kiri Septi yang langsung tersipu malu kepadanya.
“Jangan turun sendiri, biar aku bantu takut kamu kenapa-napa!”
Suara larangan barusan dan terdengar cukup lantang, mengusik kebersamaan Fajar dan Septi. Kebahagiaan kedua sejoli tersebut seolah terenggut hanya karena suara barusan. Dan ketika keduanya kompak memastikan, benar itu memang suara Kalandra.
Kalandra turun dari pintu penumpang sebelah setir. Dengan kata lain, bukan pria itu yang menyetir mobil putih kinclong yang sempat Septi kepoin.
“Jangan bilang kalau itu malah Mbak Arum!” batin Septi yang belum apa-apa sudah langsung merasa sangat kesal saking irinya.
Namun benar saja, sosok yang sampai Kalandra bukakan pintu, dan berakhir pria itu bopong sungguh Arum.
__ADS_1
“Sudah, belajar nyetirnya besok lagi. Besok belajarnya pakai mobil aku saja, jangan pakai mobil kamu kalau masih takut,” ucap Kalandra yang menurunkan Arum dengan sangat hati-hati.
“Kalau gitu, kita tukeran mobil saja, gimana, Mas?” usul Arum sambil bersiap menguncir rambutnya, tapi Kalandra menahannya tak mengizinkannya menguncir rambut.
“Tukeran gimana? Mobil kamu lebih bagus, lebih mahal juga loh, Yang. Aku sengaja beliin mobil itu buat kamu, jadi kamu juga yang harus pakai. Pelan-pelan pasti bisa. Alasan kamu masih gugup pasti kamu takut mobilnya lecet kan?” balas Kalandra sambil merangkul dan menuntun Arum masuk rumah makan.
“Demi apa, jiwa kisminku langsung meronta-ronta menyaksikan keromantisan mereka. Gilee saja, mbak Arum dibeliin mobil baru yang harganya lebih mahal dari punya Mas Kala. Lihat-lihat, tangan Mas Kala enggak mau diem. Satu gandeng, satunya lagi yang rangkul pinggang sibuk elus perut Mbak Arum,” batin Septi yang menjadi kerap menelan ludah saking irinya kepada Arum.
Fajar menghela napas pelan seiring pria itu yang mendadak merasa lemas. “Kalau saingan sama Kalandra mah wajib punya sepuluh tuyyul! Kalau modal tenagaku ya tetep aja kurang!” batinnya.
Langkah Arum dan Kalandra sontak terhenti lantaran di hadapan mereka terhalang Septi dan Fajar. Awalnya Kalandra dan Arum kompak bersikap santun, tapi setelah mereka mengenali wajah Septi yang tak memakai masker, mereka langsung terkesiap. Apalagi kenyataan tangan Septi yang sampai mendekap sebelah tangan sosok di sebelahnya yaitu pria bermasker putih dan tampak gagah mengenakan kemeja lengan panjang warna hitam.
Berdeham semringah, Septi berkata, “Kenalin, ini calon suami aku. Dia kerja di bank! Kalian wajib kondangan karena kami juga bakalan gelar resepsi di hotel!”
“Ah wajib kondangan gimana? Pas kami nikah saja, kamu enggak datang!” balas Kalandra yang kemudian tertawa.
“Separah ini rasa takutku ke Arum. Apalagi andai ngelawan, prajurit Arum enggak kaleng-kaleng. Pengacara sana DPR, aku bisa apa kalau gini caranya,” batin Fajar yang sekadar menatap Arum maupun Kalandra saja, ia paksa untuk sesantai mungkin.
“Eh, pongah, kan?” tebak Arum langsung mengenali Fajar.
Jantung Fajar seolah loncat detik itu juga. “Ya Alloh, Gustiiiiiiii!” batinnya. Karena andai tidaj demi Septi tercinta, tentu ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di sana. Sebab apa yang ia lakukan saja dan itu mengunjungi rumah makan Arum, sama saja masuk ke kandang singa.
“Hah, pongah? Maksudnya Fajar? Bentar, gelap soalnya terus dia pakai masker sama kacamata juga, jadi ... oalah iya, ... pantes kalian cocok!” ucap Kalandra yang kemudian mengakhirinya dengan tertawa.
__ADS_1
“Eh, ternyata kalian kenal? Oh, apa gara-gara Mas Fajar ini temennya si Angga, ya?” ucap Septi dengan polosnya.
Kalandra makin terbahak. Tawa yang benar-benar renyah sekaligus menular hingga sang istri juga mengalaminya. “Eh, amit-amit!” ucap Kalandra tak lupa pada jabang bayi kembar di dalam perut Arum.
“Siapa sih yang enggak kenal Fajar pongah!” ucap Kalandra.
Dengan lugunya Septi yang merasa bangga sekaligus tersanjung berkata, “Wah ... Ayang ternyata pemes!”
Mendengarnya, Kalandra dan Arum makin terbahak.
Fajar hanya mesem sambil mengangguk-angguk menatap sang calon istri yang langsung menatapnya dengan senyum manis.
“Dia kan tokoh laki-laki di sinetron azab Indosiar, Sep!” ujar Kalandra.
Septi langsung kebingungan mendengarnya. “Loh masa sekeren itu? Mas enggak pernah cerita ih! Rendah hati banget!”
“Nah gitu Sep, begitulah calon suami kamu. Nama panggungnya kan Putra Malu Pongah, makanya dia pakai masker terus, kan?” lanjut Kalandra.
“Iya, suh, Mas ... bener!” balas Septi belum sadar juga jika Kalandra sedang berusaha menguliiti habis calon suaminya.
“Pokoknya, dia ini karakter suami yang di suara hati istri itu! Kamu nonton saja lah yah!” balas Kalandra.
“Iya, Mas Kala! Itu di Indosiar hampir tiap waktu ada, kan?” tanggap Septi makin bangga. Yakin, calon suaminya ternyata artis, padahal jelas-jelas Kalandra mengatakan Angga ini hanya karakter suami dakjalnya.
__ADS_1
Arum sudah sampai lemas dan memilih mendekap erat sang suami kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang itu. Benar kata dokter Andri, seorang Kalandra kalau sudah jail beneran enggak kaleng-kaleng.
“Wah, kalau gini caranya, saking gampangnya aku kayak Mbak Arum dan Mas Kala,” batin Septi telanjur mengidam-idamkan kehidupan layaknya Arum dan Kalandra. Karena sekadar melihat interaksi keduanya saja, rasanya tak hanya iri, tapi juga adem.