Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
245 : Jerat Hukum Untuk Supri


__ADS_3

“Aku mau, Supri dipenjara!” Dokter Andri menatap Kalandra dengan sangat emosional.


Arum yang baru datang sambil membawa dua gelas teh manis sampai tegang. Namun tadi Arum mendengar, dokter Andri ingin Supri dipenjara.


Tanpa berani bersuara, Arum menyuguhkan teh yang ia bawa masing-masing kepada dokter Andri maupun Kalandra. Ia berangsur duduk di sebelah Kalandra yang sudah berhadapan dengan dokter Andri.


“Dia sudah melakukannya berulang kali, kan? Supri sudah masuk ke penja*hat ke-la-min!” Walau berucap lirih, tapi dokter Andri benar-benar emosional.


Arum sampai menahan napas dan perlahan menunduk. Namun ia sadar, apa yang dokter Andri katakan memang benar. Sudah terlalu lama Supri berkeliaran bebas. Ditambah lagi, Supri juga tidak melakukan perubahan berarti dan malah makin menjadi, tidak ngotak bahasa kekiniannya.


“Harusnya masih bisa diproses walau kejadiannya sudah mau dua tahun? Itu Sepri kan bisa jadi bukti, mau tea DNA juga boleh, nanti aku yang tanggung biayanya!” lanjut dokter Andri. “Sekarang, aku serahin kasusnya ke kamu. Aku beneran ikut karena aku enggak paham.”


Kalandra mengangguk-angguk paham. Ia berangsur menghela napas, merasa prihatin atas apa yang menimpa Septi. Sebelumnya Kalandra bahkan orang-orang pikir, Septi dan Supri melakukannya karena suka sama suka. Namun setelah mengetahui fakta terbaru dari pengakuan Septi ditambah Supri yang tidak menyangkal, Kalandra juga menyesali kenyataannya yang tetap diam.


Setelah berdeham, Kalandra berkata, “Terkait dugaan tindak pidana perkosaan yang diatur dalam Pasal 285 KUHP, pelakunya diancam dengan hukuman penjara maksimal 12 tahun. Otomatis masa kadaluarsa kasus tersebut menurut Pasal 78 ayat (1) angka 3 KUHP adalah 12 tahun. Sehingga dugaan tindak pidana perkosaan yang 2 tahun lalu ke Septi, ... masih dapat dilakukan laporan ke polisi, Ndri!”


Mendengar penjelasan sang suami, dalam hatinya Arum berkata, “Dengan kata lain, mbak Anggun akan merasakan rasanya punya suami tapi berasa jadi janda. Selama ini kan dia hidup enak modal ngeramp0k mas Angga. Selama ini bahkan terakhir lebaran kemarin, mbak Anggun selalu minta tanggung jawab ke Angga padahal dia punya suami!” Arum jadi geregetan jika ingat Anggun dan segala kemalasannya, apalagi jika ditambah kelakuan Supri.


“Aku setuju dengan keputusan mas Andri. Penjarakan saja apalagi ternyata masih bisa! Toh sejauh ini, Supri juga enggak ada berubahnya. Dia malah makin menjadi. Diamankan polisi malah ayem efek ada tempat tinggal sama makan gratiiiiis! Coba kalau kasusnya berulang seperti yang dia lakukan ke Septi. Seenggaknya dia juga bisa dapat hukuman kebir1, kan?” Arum nyaris lupa mengenai pel3ceh4n yang ia dapatkan berulang kali dari Supri dan salah satunya membuatnya nekat menaburkan bubuk cabai dan juga bubuk lada ke mata Supri yang sampai sekarang berakhir buta. “Itu juga bisa jadi bukti, kan?” tanya Arum setelah menceritakan apa yang terjadi.

__ADS_1


Dokter Andri mengangguk-angguk. “Setuju! Itu sudah kuat banget jadi bukti dan memang betul, Supri penj4h4t kel4m1n!”


Kalandra menghela napas kemudian mengangguk-angguk paham. “Aku langsung urus. Aku langsung buatin berkasnya buat aku laporkan ke kantor kepolisian.


Kalandra langsung pergi ke dalam dan kembali membawa tas kerja maupun laptopnya.


“Jadi, apa yang membuat mas Andri, mendadak sangat peduli ke Septi?” tanya Arum bertepatan dengan sang suami yang baru saja berea duduk.


Detik itu juga Kalandra langsung tertarik dengan pertanyaan sang istri. Karena pada kenyataannya, Kalandra juga penasaran dengan alasan Andri.


Dokter Andri menghela napas dalam kemudian menatap kedua wajah di hadapannya, silih berganti. “Nissa, ... aku khawatir banget ke Nissa. Dia sangat butuh figur seorang ibu. Awalnya Nissa sudah langsung cocok dengan Widy, kan? Namun mamahku merus4k semua itu. Dia sempat terpuruk, sering bengong, nangis ... aku beneran enggak bisa lihat keadaan seperti itu terus berlanjut. Nah, enggak nyangka kalau Septi yang rame lawak, ternyata sudah bikin dia nyaman. Apalagi akhir-akhir ini aku sering titipin dia ke Septi dan ibu Fatimah. Dan gara-gara lawakan dari mbah Haji yang sering jodoh-jodohin aku sama Septi, ... Nissa menganggap itu serius. Terakhir pas mbah Haji sama ibu Fatimah nikah, Nissa sampai menagih, kapan Papah nikah juga sama ibu Septi ... kaget sumpah. Aku pikir Nissa akan lupa, tapi ternyata dia memang nunggu.”


“Sekadar aku nunggu sekaligus bantu Septi jualan di warung saja, Nissa seneng banget. Nissa sudah posesif banget ke Septi, menganggap seolah Septi memang calonku. Jadi semacam siapa yang jah4t ke Septi, termasuk Tono apa siapa itu mantan wari4 yang sekarang p4ksa Septi buat terima cinta dia, ... Nissa juga sampai cerita detail ke aku.” Dokter Andri cerita menggebu-gebu.


“Aku nyaman-nyaman saja. Aku enggak melihat masa lalunya karena aku juga punya masa lalu. Termasuk mengenai fisik dan semacamnya, ... aku beneran enggak mikir ke situ. Sekarang yang terpenting beneran menyelamatkan mental Nissa. Asli, dia jadi makin pendiam. Sering bengong, sering nangis, murung, ... tapi pas sama Septi sekaligus keluarga Septi, dia enggak. Ke Sepri pun, Nissa ibaratnya mau jagain. Diajak jualan di warung pun Nissa nurut, seneng karena memang ada Septi,” cerita dokter Andri.


“Ya sudah dihalalin. Masa iya kalah sama Mbah Haji? Kamu juga bagian dari grup WA, kan?” balas Kalandra heran kepada sahabatnya.


Beda dari sebelumnya, kali ini dokter Andri tak langsung membalas apalagi melakukannya dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


“Katanya enggak memandang masa lalu termasuk enggak memandang fisik?” ujar Arum serius.


“Dia selalu menghindar ... jaga jarak dan andai ngobrol pun, ya langsung diganti topik sama dia.” Dokter Andri mengakhiri ucapannya dengan mendengkus pasrah.


“Oh ... dia trauma dan memang enggak mau membagi rasa sayangnya dari Sepri. Dia mau fokus urus Sepri karena enggak mau bikin Sepri makin down akibat kaki kanan Sepri.” Arum masih ingat mengenai keputusan Septi tak mau menikah lagi dan itu demi Sepri.


“Kan adanya denda wajib beliin satu ekor sapi dari pak Haji buat Septi karena Septi enggak mau nikah lagi. Demi fokus mengurus Sepri agar Sepri enggak kekurangan kasih sayang, Septi enggak mau nikah lagi. Karena Septi sadar, andai dia nikah lagi, perhatiannya akan terbagi. Apalagi kalau dia sampai punya anak lagi dari pernikahannya, takut Sepri minder,” ucap Arum panjang lebar.


“Bilang ke dia, nikah saja, enggak punya anak enggak apa-apa. Yang penting sekarang mental Nessa sama kepercayaan Septi ke kamu. Nanti lama-lama kalau sudah nyaman, pasti ada masanya buat mikirin nambah anak. Kalaupun enggak nambah anak pun ya bukan masalah karena kalian sudah sama-sama bawa anak,” sergah Kalandra sengaja memberi solusi.


Lagi-lagi dokter Andri tak langsung menanggapi walau tatapannya silih berganti mengawasi kedua mata Arum maupun Kalandra. Kalandra dan Arum sampai bingung sekaligus heran lantaran dokter Andri terkesan melempem, setelah sebelumnya pria itu begitu menggebu-gebu.


Setelah bertatapan dengan sang istri, Kalandra sengaja menegur dokter Andri. “Kamu ini kenapa jadi melempem gini?”


“Aku butuh dukungan. Bantulah aku biar Septi mau. Soalnya sekarang kalau dia lihat aku, kesannya dia malah lihat hantu. Langsung menghindar bahkan kabur gitu!” dokter Andri benar-benar pasrah bahkan walau pasutri di hadapannya malah menertawakannya.


“Sambil urus kasus Supri, sambil usaha yah, Mas. Nanti saya pasti bantu. Papahnya anak-anak pasti juga bantu, apalagi papahnya anak-anak kan paling ahli comblang-mencomblangi!” yakin Arum.


“Jangan lupa buat siap-siap satu ekor sapi!” ucap Kalandra di sela tawanya.

__ADS_1


Dokter Andri hanya tersipu kemudian mengangguk-angguk pasrah. “Lakukan yang terbaik sih!”


Balasan dokter Andri langsung didukung oleh Kalandra maupun Arum.


__ADS_2