
“UWEEEEEK!”
Baru akan memasuki area dapur di rumahnya, Kalandra sudah langsung mabok. Bergegas pria itu mundur.
Arum yang ada di dapur bersama ketiga pekerjanya, langsung tercengang dan memang khawatir. “Mas, aku amis. Lagi urus lele sama perikanan juga di sini. Ini, teman papah kan pesan nasi kotak, tapi lauknya ikan.”
“Tapi aku mau pamit, Yang!” keluh Kalandra.
“Masalahnya aku amis, Masse. Mas enggak bisa ada aroma amis dikit, kan?” balas Arum lagi yang tak mau membuat ngidam suaminya makin parah.
“Ya wis, sekarang kamu mandi dulu. Pokoknya aku enggak mau pergi kerja kalau belum pamitan peluk sama cium kamu!” Kali ini Kalandra sengaja mengancam.
Ketiga karyawan di sana yang memang ibu-ibu dan rumahnya ada di belakang rumah orang tua Kalandra, kompak menggoda Arum.
“Ya sudah. Ambilin sabun sama pakaian ganti biar aku mandi di kamar mandi yang ada di dapur karena aku enggak mungkin ke kamar dalam keadaan amis gini. Nanti yang ada, Mas enggak bisa masuk kamar juga karena amisnya pasti ketinggalan.” Arum mencoba memberikan solusi terbaik, dan suami langsung menyanggupi.
“Mbak Arum yang hamil, tapi Masse yang jadi manja banget ya?” ucap salah satu ibu-ibu di sana.
Arum hanya tersenyum pasrah sambil mengangguk. “Bener Bu. Jadi berasa sudah punya dua bayi. Tapi memang Mas Kala juga yang ngidam sih. Kasihan, pagi sama menjelang petang, badannya meriang pegal-pelan.”
“Bagi-bagi rezeki, biar enggak istri saja yang ngerasain indahnya sensasi hamil, Mbak. Mumpung masih muda.”
“Tapi biasanya yang sampai bikin bapaknya ikut ngidam, anak cewek, ya?”
Menyikapi setiap tanggapan di sana, Arum langsung tersenyum hangat. “Perempuan laki-laki sama saja sih, Bu. Kami beneran enggak nargetin. Yang penting sehat.”
“Iya. Kalau Mbak Arum kelihatan banget sehatnya. Nah pas Mbak Bilqis kan enggak. Program hamil juga enggak jadi-jadi, kan? Eh pas sudah jadi, juga malah....”
__ADS_1
Yang Arum tahu, alasan Bilqis begitu karena fisik Bilqis tak sekuat Arum. Bilqis tak setahan bat-ting Arum.
“Omong-omong mbak Bilqis, sampai detik ini pihak keluarganya beneran enggak kasih kabar. Sekadar restu pas minta kemarin ya enggak kasih, pas pernikahan walau diundang secara khusus, juga enggak datang. Padahal Mas Kala sudah sopan banget ke mereka, dan saat mbak Bilqis masih ada pun, aku yakin Mas Kala kasih mereka banyak fasilitas,” batin Arum yang dikejutkan eh kedatangan Kalandra.
Kalandra membawa kantong berisi handuk dan pakaian ganti, selain satu kantong kresek berisi keperluan mandi. Pria itu mendekati Arum sambil memegang minyak telon yang didekatkan ke hidung. Aroma minyak telonnya sampai menguasai dapur yang memang ada aroma amisnya.
“Ini, yah, Yang!” ucap Kalandra yang berangsur mundur.
Arum menahan tawanya. Lain dengan ibu-ibu di sana dan memang sudah menyiapkan segala bumbu, bakal sayuran, maupun nasi. Mereka kompak menertawakan Kalandra. Merasa gemas dengan ulah pria itu.
Setelah Arum beres mandi, Kalandra buru-buru menghampiri dan sungguh langsung berpamitan. Di ruang keluarga, pria itu memeluk Arum. Mengabsen wajah Arum menggunakan ciumann gemas. Termasuk juga perut Arum yang masih rata dan sampai diajak mengobrol oleh Kalandra.
“Ini papah sudah berangkat juga, apa masih di rumah makan lihat renovasi bareng Aidan sama mamah, Mas?” tanya Arum sambil mengelus kepala Kalandra yang masih jongkok di hadapannya hanya untuk mengajak yang di perut berkomunikasi.
“Coba lihat bekalnya. Kalau bekalnya masih ada, berarti memang masih pantau renovasi. Namun kalau bekelnya sudah enggak ada, berarti sudah berangkat.” Kalandra berangsur berdiri. Mendapati sang istri yang langsung memastikan meja ruang kebersamaan mereka. Hanya tinggal bekal untuk Kalandra.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai teras depan.
“Bilangnya sih, kalau enggak keburu kebawa papah, nanti sana mau ambil sendiri pakai mobil, Mas.”
“Ya sudah gitu saja. Nanti kamu paling kalau memang ragu, WA papah apa mamah saja, ya. Mamah kalau Aidan tidur paling juga pulang. Tadi, mereka jalan-jalannya pakai troli, kan?” Bagi Kalandra, hadirnya Aidan dalam kehidupan sang mamah, membuat masa-masa tua mamahnya itu menjadi penuh warga. Momong cucu sambil gosip dengan tetangga, sementara kalau pulang sudah ada makanan enak, bukankah itu cita-cita mbah-mbah pada kebanyakan?
“Kamu jangan capek-capek, ya? Wajib istirahat. Bentar lagi sempetin jalan dua puluh menit sambil jemur. Di pinggir jalan depan.”
“Enggak ah, Mas. Takut diculik pak Haji. Masih gentayangan di depan kan tuh orang!” ucap Arum yang kemudian berkata, “Aku jemurnya di halaman belakang saja.”
Kalandra yang awalnya menahan tawanya, berangsur mengangguk-angguk. “Iya, di halaman belakang saja. Di sana juga ada panasnya. Tapi awas hati-hati, banyak lumut. Mamah saja bolak balik jatuh di sana, kan?”
__ADS_1
Arum mengangguk-angguk sambil tersenyum manis. Kalandra langsung memujinya, mengecup bibirnya dengan tak kalah manis.
“Kalau kayak gini, acara pamitannya kapan mau beres, Mas Bojo?” sindir Arum.
Kalandra langsung nyengir tak berdosa.
“Ini saja sudah telat, kan?” lanjut Arum. Suaminya langsung kikuk, mengangguk-angguk kemudian pamit. Iya, kali ini benar-benar pamit.
Kalandra memakai helm karena kali ini pria itu akan pergi menggunakan motor. “Pulang nanti, mau dibawain apa?” tanya Kalandra. “Mau buah buat rujak?”
Arum langsung menggeleng. “Enggak usah. Nanti Mas pulang, kita baru jalan-jalan terus cari yang unik-unik bareng!”
Kalandra mesem. “Oke. Nanti sore kita jalan-jalan!” Ia benar-benar bersemangat, bahkan meski ia sadar, ia sudah sangat telat.
Arum tak kalah bersemangat. “Hati-hati. Naik motornya jangan ugal-ugalan kayak pak Haji!”
“Eh, kami beda level. Dia naik matic saja masih renang di got. Apa kabar kalau naik motor gede gini?” Kalandra tertawa bangga.
Arum hanya menggeleng tak habis pikir. Tak lama kemudian setelah Arum masuk rumah, pak Haji datang.
“Kok sepi? Ini, aku telat apa gimana?” pikir pak Haji mengintai dari sela gerbang.
Di dalam rumah, Arum langsung masuk kamar dan memang sengaja mengambil waktu untuk istirahat. Arum meraih ponselnya yang ada di nakas sebelah ia biasa tidur. Dari semua pesan, pesan WA dari Widy menjadi pesan paling atas. Ada lima belas pesan yang belum dibaca. Pemandangan yang sebelumnya belum terjadi. Setelah dipastikan, kebanyakan pesan dari Widy merupakan foto.
Widy : Mbak, itu temannya Mbak, kan? Namanya Fajar. Katanya kerja di bank dan dulu deket banget sama Mbak.
Widy : Gini loh, Mbak. Dirasa-rasa, dia kok aneh, ya? Masa pinjem duit terus. Tuh kayak yang di ss. Pertama, lima ratus. Kedua, tiga ratus. Terakhir pagi ini izin pinjam tiga ratus lagi buat urus bapaknya yang lagi sakit katanya.
__ADS_1
Belum beres membaca pesan dari Widy, Arum sudah emosi. Terlebih, di benak Arum mendadak dihiasi kejadian kebersamaan Fajar dengan wanita saat di swalayan.
“Si Fajar beneran kutis lanang, Ya! Pekokk! Tunggu aku, Jar! Aku amukk kamu kalau kamu enggak balikin duit adikku!”