Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
57 : Emosi Kalandra yang Meluap


__ADS_3

Kalandra tak lantas bertanya. Pria itu memilih mengamati dan terus begitu walau kedua tangannya sudah mengambil alih Aidan dari Arum. Teras di depan pintu ia dapati basah parah tak beda dengan Arum dan Aidan. Adanya ember di sana, Kalandra yakini merupakan wadah untuk mengangkut airnya. Yang mana Kalandra juga yakin, air sengaja disiramkan dari dalam karena tak mungkin juga Arum menyiram dirinya sendiri dan sampai mengenai Aidan.


“Ibu nyiram Arum bahkan Aidan?” tanya Kalandra, langsung kepada wanita tua yang wajahnya cukup mirip Arum. Ia menatap miris ibu Rusmini, sebelum fokusnya kembali kepada Aidan yang kesulitan bernapas.


Aidan sibuk nyaris bersin tapi kesulitan, hingga yang ada mendengar sekaligus menyaksikannya saja ikut sesak. Demi mengakhirinya, Kalandra nekat menyedot hidung Aidan hingga bayi itu makin meraung-raung kejer.


Kalandra meludahkan apa yang ia dapatkan dari hidung Aidan, dan itu berupa air yang terbilang banyak. Ulahnya membuat hidung bocah itu makin merah. Bisa ia pastikan, bocah itu merasa perih luar biasa lantaran hidungnya sempat penuh air. Sambil berusaha menenangkan Aidan, Kalandra kembali menatap ibu Rusmini, menggeleng tak habis pikir. Terus begitu dan sungguh berlangsung cukup lama sebelum akhirnya ia memberikan Aidan kepada Arum untuk diganti pakaiannya, apalagi angin di sana terbilang kencang ditambah lagi gerimis juga turut mengguyur. Kalandra tidak mau, niat baiknya datang ke sana untuk silaturahmi sekaligus meminta restu, malah membuat Aidan bahkan Arum sakit.


Kini, Kalandra menghela napas pelan. Ia berkecak pinggang sambil melepas kepergian Arum yang dipayungi oleh seorang ibu-ibu. Kemudian, ia sengaja bersikap setenang mungkin walau jujur saja, ia sudah sangat ingin menga-muk.


“Ini tadi ada apa, dan bagaimana?” Kalandra masih berucap sabar dan memang memilih tetap menggunakan bahasa Indonesia.


“Jadi kamu, calon suami baru Arum?!” bentak ibu Rusmini mendelik menatap Kalandra.


Kalandra yang awalnya sedang menatap pak RT langsung tercengang. Kalandra refleks menatap syok ibu Rusmini. Ada wanita sekasar itu mirip keluarga Angga sekaligus ibu Fatimah.


“Denger, ya. Kalau kamu mau menikah dengan Arum, itu memang urusan kalian. Namun tolong, enggak usah senggal-senggol masa lalu apalagi sampai nitipin Aidan di sini. Tolong urus Aidan sendiri karena tanpa anak itu saja, beban hidup kami sudah sangat berat!” lanjut ibu Rusmini masih emosional.


Kalandra mengerjap, menatap ngeri ibu Rusmini. “Istigfar, Bu! Jangankan nitipin, sekadar Ibu dekat-dekat Aidan saja saya tidak akan izinin apalagi kalau Ibu emosional begini!” tegas Kalandra. “Lagi pula buat apa saya menitipkan anak ke orang yang krisis kepedulian seperti Ibu? Bisa-bisanya bayi diguyur seperti itu? Terus, siapa juga yang bilang mau nitipin Aidan ke Ibu?”

__ADS_1


“Coba sekarang jelaskan, ini ada apa? Sekarang Ibu jelaskan pelan-pelan karena andai saya minta Arum buat cerita, yang ada Arum pasti makin sedih!” lanjut Kalandra mulai emosional.


Kemudian, pak RT yang ada di sana dan mewakili warga yang masih hadir menjadi saksi, walau jumlahnya tidak lebih dari lima, menjelaskan.


“Ya sudah, ... panggil si Widy. Panggil juga suaminya. Biar saya yang didik kalau mereka memang enggak bisa didik diri sendiri. Widy itu yang disekolahin tinggi-tinggi, sampai jadi sarjana, dan sekarang jadi guru sama Arum, kan? Dia sekolah sampai sarjana, sampai jadi guru, bahkan nikahan pun masih Arum yang biayain, kan?” Mulut Kalandra tidak bisa berhenti bicara sebelum ia menemukan titik terang dari kasusnya.


Kalandra tahu, keluarga Arum tak hanya krisis kepedulian. Karena sebenarnya, keluarga Arum hanya sebelas dua belas dengan keluarga Angga.


Sambil terus berkecak pinggang, Kalandra yang sekadar menatap ibu Rusmini saja sudah sangat malas, berkata, “Widy, kalau kamu tetap enggak mau keluar dari rumah, saya akan cabut izin ngajar kamu ke dinas pendidikan! Dan kalau kamu terus sembunyi di rumah, saya robohin rumah ini. Hari ini juga saya panggilin petugas. Atau, bayar warga buat robohin!” lanjutnya sambil bersedakap.


Ibu Rusmini yang kesal bahkan gondok pada Kalandra buru-buru memungut embernya, kemudian nyaris meng-hantamkannya ke pelipis Kalandra. Namun, Kalandra menahan tangan kanan ibu Rusmini sekuat tenaga.


“Dy, kamu kalau memang enggak mau bikin aku marah, keluar! Jangan begini! Kurang aj-jar, kamu ya! Kamu pikir saya bercanda? Tega kamu sama Mbakmu yang sudah kerja siang malam di negara orang cuma buat memenuhi kebutuhan kamu? Berani kamu bilang kamu enggak pernah minta, Saya cabut izin ngajar kamu dan baru akan saya bolehkan kembali berlaku setelah kamu mengembalikan semua yang sudah Arum kasih ke kamu!” tegas Kalandra yang sampai menggedor setiap pintu tertutup sekaligus berderet di sana. Ada tiga pintu ruangan di ruang depan rumah ibu Rusmini dan Kalandra yakin, semuanya berhuni.


“Kalian enggak tahu saya siapa?” tegas Kalandra yang kemudian buru-buru mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia sungguh menelepon pihak pendidikan di kabupaten. Saking gampangnya ia mengobrak-abrik kehidupan orang apalagi kalau orang tersebut sudah tidak mau diajak toleransi.


Di tengah kesibukan Kalandra menjelaskan, akhirnya salah satu pintu dari ketiga pintu di sana terbuka. Pintu sebelah tengah dan itu Widy.


“Sombong banget, kamu pikir kamu siapa? Kalau bertamu, tolong sopan, ya!” tegas Widy.

__ADS_1


Di dalam kamar yang baru saja Widy tinggalkan ada tiga anak kecil dan juga seorang pria dewasa yang Kalandra yakini merupakan suami Widy.


Kalandra menyeringai, menertawakan hardikan Widy. “Tadi kamu bilang apa? Kalau bertamu sopan? Kamu enggak salah bilang kayak gitu ke saya? Harusnya saya yang bilang begitu ke kamu! Rumah ini Arum yang bangun, kan? Hidup kamu awalnya juga Arum yang nopang, kan? Nah makanya kalau bertamu kamu yang sopan! BERTAHUN-TAHUN DIKASIH KEHIDUPAN MALAH KURANG A-JAR!”


“MANA SUAMIMU? ISTRI SAMA MERTUA SEDANG DIKASUS MALAH NGUMPET! BEGITU LAKI-LAKI YANG HARUSNYA JADI KEPALA KELUARGA? SUNAT TUNTAS KALAU ENGGAK BECUS NGAPA-NGAPAIN!”


“KELUAR KALIAN SEMUA! ENGGAK TERIMA AKU, ADA BAYI DENGAN SENGAJA DIGUYUR, DIUSIR!” Kalandra masih meledak-ledak. Ia mengeluarkan kartu namanya, dua sekaligus dan ia han-tamkan ke wajah Widy yang kebetulan tidak memakai seragam khas guru karena kini memang hari libur.


“Kamu tahu perusahaan bulu mata palsu dan rambut palsu yang biasanya diborong warga buat dikerjakan kemudian disetorkan ke pabrik? Aku direktur di sana! Kamu tahu pengacara kerjaannya apa? Itu juga aku, urusan sama polisi bahkan penjahat sekalipun sudah jadi camilanku! Terus, kamu tahu, aku ini calon suami mbak kamu, dan dengan kata lain, Aidan siapa? Berarti Aidan anakku dan aku enggak terima anakku yang masih bayi diguyur seperti itu sampai enggak bisa napas! Aku enggak terima istri dan anakku diperlakukan seperti tadi!” Kalandra berbicara panjang lebar nyaris tak berjeda. “KELUAR KAMU! SUAMI KAMU JUGA DIAJAK! MINTA MAAF SEKARANG JUGA KE ARUM DAN AIDAN!”


Malas lama-lama berurusan dengan Widy, Kalandra memilih pergi. “Saya anaknya anggota dewan Bu atau yang Ibu tahu DPR. Namun karena kita tinggal di daerah, otomatis orang tua saya statusnya anggota dewan perwakilan rakyat daerah, Bu! Saya enggak berniat pamer, tapi orang seperti Ibu wajib dipamerin biar cepat ngerti!” Kali ini Kalandra sampai memben-tak ibu Rusmini. “Bapak saya sayang banget ke Arum apalagi ke Aidan. Yang Bapak saya tahu, Arum dan Aidan ke sini dalam keadaan baik-baik. Hati-hati saja kalau mereka sampai sakit gara-gara Ibu siram!”


“Jangan dibiasakan apalagi diterusin! Apa sih, yang bisa Ibu dan kalian banggakan dengan sikap kasar anarkis begini?” lanjut Kalandra. Ia belum jadi keluar dari rumah karena dihadang di depan pintu oleh ibu Rusmini. Hanya saja, wanita itu tak lagi meledak-ledak apalagi mengamuk kepadanya. Mungkin karena ia sudah membeberkan siapa dirinya yang sebenarnya.


Beberapa saat kemudian, setelah Kalandra kembali meminta bahkan mengamuk, Widy dan suaminya disidang. Begitupun dengan ibu Rusmini. Mereka disidang di teras basah yang sengaja tidak boleh Kalandra bersihkan agar Widy, sang suami, termasuk ibu Rusmini merasakan sedikit penderitaan Arum dan Aidan.


“Selama ini Arum diam karena Arum menghormati Ibu maupun saudaranya. Dan sekarang karena saya akan menikah dengan Arum, dengan kata lain semua yang berkaitan dengan Arum juga otomatis menjadi tanggung jawab saya. Namun tentu saja, karena adik dan kakak Arum sudah sama-sama dewasa sekaligus sama-sama berumah tangga, kalian bertugas untuk mengurus rumah tangga kalian sendiri! Nama kamu Agus? Kamu suaminya Widy, kamu punya anak dan istri, anak kamu tiga, dan kamu enggak kerja? Hebat kamu! Kerja kamu! Anak istri kamu mau kamu kasih makan apa? Pantas kelakuan istri kamu nol besar, kamu saja mlempem begitu! Ingat yah, Dy, ... Izin kerja kamu bakalan tetap aku permasalahkan sebelum kamu minta maaf ke Arum dan Aidan!” Kalandra yang berdiri di luar teras sambil mengamban Aidan yang sudah ganti pakaian, masih meledak-ledak. Di sebelahnya, Arum yang tidak membawa pakaian ganti dan hanya memakai jaketnya, ia pergoki tak kalah emosional darinya


Widy menatap kesal Kalandra maupun Arum yang berdiri bersebelahan. Tak ia sangka, ia mendadak disidang layaknya sekarang. Dipermalukan di depan semuanya hanya gara-gara Arum yang kini gayanya mirip nyonya.

__ADS_1


__ADS_2