Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
103 : Kurang Gizi dan Lapar Malam-Malam


__ADS_3

Petangnya, Arum membawa segelas besar teh manis panas yang juga turut dicampur dengan herbal tolak angin. Harap-harap cemas ia membawanya, menghampiri Kalandra yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi.


“Mandi bahkan keramas pakai air hangat lebih segar, kan?” sapa Arum. Sebelum Kalandra pulang, ia yang sudah janjian sengaja menyiapkan air panasnya mengingat di rumah Kalandra memang tak sampai ada air panas otomatis. Baik itu air yang di kamar mandi, maupun yang di dapur.


Kalandra tersenyum hangat kemudian mengangguk-angguk. Ia segera duduk di pinggir tempat tidur dan membuat Arum menyusulnya ke sana. Arum memberikan gelas besar berisi tehnya, lengkap dengan lambarnya.


“Minum pelan-pelan, panas gini lebih berefek. Ke hidung pun dihirupnya langsung bikin seger, kan?” Arum masih berucap lirih, seolah tengah mengobrol dengan anak kecil dan itu memang bagian dari perhatiannya kepada Kalandra.


“Makasih banyak, Yang ....”


“Sama-sama, Mas. Sudah, habisin pelan-pelan, ya.”


Arum mengambil alih handuknya dari bahu Kalandra, membantu suaminya itu mengeringkan kepala lengkap dengan melakukan pijatan di sana.


“Mendadak aku mikir,” ucap Kalandra di tengah kesibukannya menyesap tehnya.


“Mikir gimana, Mas?” Arum tetap fokus mengeringkan kepala Kalandra. Namun kini, ia sampai memijat tengkuk kemudian pundak suaminya.


“Angga, ... habis dikasih yang kayak kamu, terus dapat yang kayak Septi. Rasanya kayak apa, ya?” ucap Kalandra serius dan memang langsung menerka-nerka.


“Pasti berulang kali pengin bunuhh diri, Mas,” balas Arum serius.


Kalandra langsung mesem dan perlahan menahan senyumnya. “Terus, ... Septi ada cerita ke kamu mengenai perkembangan terbaru pencarian bapaknya, yang aku bantu laporkan ke polisi?”


“Enggak, Mas. Sejak yang mau pinjam buat berobat itu, dia sepi. Berarti sudah mau satu bulan, ya? Aku pun enggak lihat-lihat update dia di WA. Padahal biasanya, dia paling gercep mirip satpam WA aku.”


“Tumben, ya? Tapi hari ini yah, Yang. Pencariannya sudah mendapatkan hasil, dan memang dia ada di rumah bersamanya dengan istri barunya. Mereka baru nikah siri, lagi hamil istrinya. Dan di sana pun usahanya lancar. Rumah ya lumayan. Setelah diselidiki, pak Yusuf ini pinter, Yang.”

__ADS_1


“Pinter gimana, Mas? Dakjjal iya otaknya!”


“Nah maksudnya itu. Dia diam-diam jual deler sama rumahnya yang di sini, buat bikin baru di sana.”


Mendengar itu, Arum langsung tercengang. Kedua tangannya tak lagi memijat pundak sang suami, tapi langsung berubah mendekap pundak Kalandra. Kemudian ia melongok wajah Kalandra dari atas pundak kanan. Ia menatap Kalandra penuh keseriusan karena memang sangat penasaran. “Berarti, Septi terancam kismin beneran, yah, Mas?”


“Terancam bagaimana? Memang sudah. Itu rumah sudah terjual, tapi yang beli memang tetangga di dekat rumah baru, jadi belum sempat cek gitu.”


Mendengarnya, Arum langsung bergidik, ngeri, ia sampai merinding. “Keluarga mereka kok gitu banget, yah, Mas. Katanya paham agama. Kayak pak Haji saja. Tapi yang ada mereka mengedepankan duniawi banget. Enggak hanya soal naffsu, tapi juga kekayaan kayak, wah penginnya diakui paling kaya dan paling berkuasa gitu.”


“Nah, biasanya orang-orang seperti mereka memang akan merasa paling paham, jadi mikirnya juga menggampangkan. Mereka susah diarahkan, dan baru akan sadar kalau semuanya sudah enggak tersisa,” balas Kalandra.


“Kalau aku jadi Septi, aku bakalan nuntut bapaknya, Mas!” sergah Arum terbawa emosi dengan kasus Septi. Tanpa melihat masa lalu mereka, Arum memang berempati. Namun jika menghubungkan itu dengan masa lalu mereka, Arum menjadi berpikir, apakah itu juga bagian dari karma Septi sekeluarga? Namun, kenapa bapak Septi enak banget? Dapat istri baru, istri barunya sudah hamil, usaha baru juga sukses?


“Mengenai itu aku sudah kasih arahan ke pengacaranya, tapi entahlah.” Kalandra memejamkan matanya, mendadak merasa sangat mengantuk tanpa bisa menahannya.


“Maghriban juga belum, apalagi isyaan. Ya sudah, kita wudu dulu, habis itu maghriban. Habis ini sih, aku masih harus racik bumbu buat besok,” ucap Arum mulai panik.


“Ya sudah, ayo, wudu dulu,” ucap Kalandra siap berdiri dari duduknya. Namun, Arum yang masih mendekap pundaknya dari belakang, tidak mau mengakhirinya. Malahan wanitanya itu minta gendong sampai kamar mandi untuk wudu.


“Ya Alloh, mamake Aidan.”


“Cepat, Mas!”


“Ini enggak bisa soalnya beneran ngantuk banget. Ini aku salah makan apa gimana, ya? Kok jadi letoy gini. Tifus pun, harusnya enggak gini.” Kalandra menurunkan Arum dari punggungnya dengan sangat hati-hati. Wanita itu langsung mengambil posisi berdiri di hadapannya.


“Besok sebelum kerja, kita cek ke klinik sakit apa bagaimana?” tawar Arum menjadi melow. Padahal saat digendong tadi, ia girang bukan main.

__ADS_1


“Kalau ke klinik, masih keburu, sih,” balas Kalandra yang sebelumnya sempat merenung.


“Apa sekarang saja, wong sekarang pun, rasanya sudah enggak jelas?” lanjut Arum lagi, berubah pemikiran.


“Kita lihat sampai besok coba. Kalau besok masih,” ucap Kalandra yang sudah langsung dipotong Arum.


“Enggak, ... enggak. Jangan tunggu besok. Sekarang saja habis maghriban. Mumpung Aidan juga jadi enggak lengket ke aku dan lebih milih jadi anak mbahnya,” ucap Arum. “Ya sudah, Mas dulu yang wudu, gantian.”


***


Setelah konsultasi dan menjalani pemeriksaan, semuanya normal. Kalandra hanya diduga kecapaian.


“Masa, sih?” pikir Arum yang jadi ragu. Apalagi ia yang menyaksikan sendiri keadaan suaminya. “Ini beneran enggak ada pemeriksaan lanjut, yah, Dok?” Arum memastikan untuk yang terakhir kalinya. Selain itu, ia juga bingung. Masa iya Kalandra yang selalu makan sehat sekaligus enak, malah kurang darah?


“Kalau besok masih gini, kita ke rumah sakit, Mas,” ucap Arum yang baru masuk mobil dibantu Kalandra. Pria itu tetap memuliakannya walau masih lemas bahkan ngantuk.


“Coba kita lihat besok deh,” balas Kalandra yang kemudian menutup pintu mobilnya.


Arum melepas kepergian Kalandra dengan murung.


“Aku enggak apa-apa, Yang. Kamu jangan khawatir. Paling memang efek kecapaian karena selama ini, aku kerja setengah modar,” ucap Kalandra sengaja meyakinkan istrinya, tak lama setelah ia masuk mobil dan siap menyetir.


“Iya lah, Mas sehat. Tiap hari makan terjamin. Ada suplemen juga. Masa iya, kekurangan gizi?” tanggap Arum sewot tapi sukses membuat Kalandra ngakak.


“Sumpah ih, malu-maluin. Aku malu banget dikatai kurang gizi, Yang!” Kali ini Kalandra menertawakan dirinya sendiri. Merasa miris dengan apa yang terjadi. Padahal malam ini saja, ia sampai kembali membangunkan Arum. Bukan untuk menjalani rutinitas malam sebagai pasangan suami istri. Melainkan untuk kepentingan perutnya yang sibuk keroncongan.


“Mas lapar, beneran lapar, apa mau itu lagi?” tanya Arum yang masih terkantuk-kantuk dan memang setengah sadar.

__ADS_1


“Laper beneran, Yang. Kayaknya makan bebek ungkep yang di goreng, terus cemplungin ke bumbu sambal, terus di bakar, enak banget,” lirih Kalandra merengek sedih kepada istrinya. Seolah dirinya manusia yang wajib sangat dikasihani karena rasa laparnya.


__ADS_2