Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
184 : Maaf Dan Terima Kasih


__ADS_3

“M-mah ...!” Dokter Andai meradang bersama napasnya yang memburu.


“Dikiranya kita panti sosial? Kalau dia memang mau sama kamu, sudah suruh tinggalin anak-anaknya!” Ibu Muji mantap dengan keputusannya.


“Mamah sudah berbaik hati, loh! Kamu mohon-mohon Mamah kasih! Dia punya anak tiga masih kecil-kecil! Suruh kasih ke bapaknya apa kasih ke neneknya. Apa susahnya?!”


“Coba sekarang aku kembalikan itu ke Mamah. Gimana kalau anak Mamah ada di posisi Widy!” tegas dokter Andri.


“Ya enggak mungkin. Kita bukan mereka, enggak ada garisnya kita begitu. Kita enggak ditakdirin buat bikin hidup orang lain susah, Ndri!”


“Aku akan tetap maju!” sergah dokter Andri memotong ucapan sang mamah.


“Ya enggak apa-apa. Anaknya suruh tinggal, dan kalau dia di sini pun wajib tetap kerja. Apa-apaan, gaya hidup kok sengaja memikat pria kaya mapan buat numpang hidup enak!”


Dokter Andri menghela napas lemas. Ia mengawasi sekitar. Di sebelah pintu ruang tamu bagian dalam kebersamaannya dan sang mamah, ia memergoki Nissa yang mengintip. Bocah itu menatap ngeri pada neneknya. Ketakutan dan kebencian tampak nyata dari cara Nissa menatap ibu Muji.


“Berani kamu macam-macam, langkahi dulu mayat Mamah! Awas saja kalau kamu nekat, pergi dari sini, tutup klinik kami, dan jangan mimpi buat tetap menjadi bagian dari keluarga ini. Termasuk Nissa, kamu juga enggak berhak memiliki Nissa. Mamah buang nanti dia kalau kamu macam-macam. Mamah enggak segan siksa Nissa kalau kamu berulah yah, Ndri!” Ibu Muji sungguh tidak main-main dengan ucapannya. Malahan ketika ia memergoki Nissa ternyata tengah mengintip, ia tak segan membentak bocah itu hingga menangis. Nissa memang tak sampai ketakutan, tapi bocah itu terlihat sangat nelangsa sekaligus tertekan.


Dokter Andri seolah dipaksa menelan buah simalakama. Kenyataan yang selama ini sudah biasa ia terima.


***

__ADS_1


“Enggak, Mbak. Aku sudah enggak sebucin dulu, kok. Sekarang, bucinku cuma buat pasangan yang bertanggung jawab. Dia tanggung jawab ke aku dan anak-anak maupun mamak, baru aku mau bucin dan kasih semuanya ke dia. Tapi kalau baru pendekatan sudah banyak tingkah, ... ya maaf-maaf saja, aku sudah lulus dari universitas buaya darat bahkan buaya darat yang ompong!” ucap Widy yang tengah telepon dengan Arum. Kakak perempuannya itu langsung khawatir saat ia cerita dan memberi dokter Andri kesempatan.


“Kan cuma kasih kesempatan, bukan berarti menerima. Karena walau dokter Andri baik, kalau mamahnya enggak suka dan enggak mau menerima, ya aku tetap enggak,” yakin Widy.


Namun walau hingga larut malam dan ia sampai beres membuat beberapa hampers pesanan, dokter Andri tak ada kabar.


“Ini sih udah positif memang enggak dapat izin. Ya sudahlah, aku sudah melakukan yang terbaik. Memang belum jodoh, sebaik apa pun orangnya ke aku dan anak-anak, kalau belum jodoh ya enggak bakalan bisa bareng-bareng.” pikir Widy. Ia memilih untuk istirahat. Sudah pukul setengah satu pagi. Masih ada waktu untuknya tidur sampai pukul tiga nanti, sebelum ia kembali disibukan dengan segudang pekerjaan hingga dini hari lagi.


Dokter Andri : Pagi, Dy. Sebelumnya maaf kalau saya mengganggu waktu kamu. Maksud saya mengirimkan pesan ini karena saya ingin meminta maaf sekaligus berterima kasih. Tolong maafkan sikap mamah saya, tolong maafkan sikap saya, saya mewakili keluarga besar saya, benar-benar meminta maaf, jika selama kita mengenal, kami sudah salah. Baik kesalahan yang disengaja, maupun tidak disengaja. Terima kasih banyak karena sudah sempat mengisi waktu saya maupun Nissa. Terima kasih banyak karena kamu sudah mau memberi saya kesempatan. Namun, saya gagal dan memang mundur karena jika niat baik saya kepadamu tetap dilanjutkan, yang ada kita hanya akan saling menyakiti. Doa terbaik saya selalu untuk kamu sekeluarga, Dy. Semoga kamu mendapatkan jodoh terbaik.


Membaca pesan dari dokter Andri dan baru sebagian karena pesan WA yang pria itu kirimkan memang panjang, Widy sudah langsung berderai air mata. Ia yang awalnya tengah menutupi bekas luka di wajahnya menggunakan alas bedak, susah payah mengukir senyum indah.


Widy : Alhamdullilah. Amin. Doa terbaik juga buat Dokter sekeluarga. Maafkan juga kalau selama mengenal, saya sekeluarga banyak salah.


“Maaf, Dy. Kamu berhak dapat yang lebih baik. Buat apa kita bersama kalau ada mamahku yang berusaha terus menyakiti kamu?” pikir dokter Andri yang kemudian menyimpan ponselnya di laci.


Hidup harus terus berjalan walau rasanya memang berat dan di beberapa kesempatan ada titik lelah bahkan jenuh. Itulah yang Widy kabarkan kepada Arum, agar ke depannya mereka tak lagi salah langkah. Apalagi ketika bersama, takutnya mereka yang terbiasa bercanda malah kebablasan.


Mbak Arum : Nanti sore kamu ke sini, kan?


Ditanya begitu, Widy jadi ragu. Sebab pernyataan ibu Muji yang mengecapnya hobi menempel ke orang kaya dan itu termasuk ke keluarga Kalandra, membuatnya minder.

__ADS_1


Widy : Memangnya kenapa, Mba? Akikah si kembar, dua hari lagi, kan? Apa aku salah info? Maaf ini. Coba gimana, biar aku bisa atur jadwalku. Kalau memang iya, aku stop orderan dulu.


Mbak Arum : Iya, acara akikahnya memang dua hari lagi. Tapi besok, ada tamu dari Jakarta, takutnya di sini repot. Daripada panggil orang lain kan mending kamu.


Widy : Jam berapa, Mbak?


Mbak Arum : Belum tahu pasti, tapi paling sore mau buka puasa.


Widy : Oh, oke. Jadi aku cukup siapin makan buat anak-anak biar mereka enggak nunggu aku pulang kelamaan.


Mbak Arum : Lah, dibawa saja, kenapa? Nanti dijemput sopir mamah Kalsum ya. Jam lima sore sudah sampai sana.


Widy : Enggak usah, Mbak. Takut makin repot. Alasan Mbak minta bantuan aku saja karena Mbak takut repot, kan? Anak-anak biar si rumah saja sama Mamak.


Namun Widy mendadak berpikir, ia harus meluangkan waktu khusus untuk anak-anaknya. Apalagi setelah ditinggal minggat oleh Agus, dari dua puluh empat jam waktu yang ia miliki, ia hanya memiliki waktu tiga jam untuk istirahat. Semacam mengurus anak sungguh hanya jika sempat. Semuanya ia limpahkan kepada sang mamak agar mereka masih bisa bertahan menjalani kehidupan yang memang sangat keras ini.


Sementara itu di tempat berbeda, Kalandra yang siap berangkat kerja dan tengah memantau anak-anaknya yang tengah dijemur di depan rumah, langsung terdiam lemas membaca pesan Arum dan Widy, di ponsel istrinya itu.


“Ya sudah Pah, enggak apa-apa. Mereka sama-sama dewasa, kok. Malahan aku senang kalau mereka bisa bersikap seperti sekarang ini,” yakin Arum tengah memangku Aidan yang ia tengkurapkan. Bocah itu tak mau kalah dan ingin dijemur juga layaknya kedua adik kembarnya.


“Aku merasa bersalah!” sergah Kalandra yang berangsur jongkok kemudian mendekap perut istrinya menggunakan kedua tangan walau di tangan kanannya, ia masih menggenggam ponsel Arum. Beberapa kali, ia mencium pipi Arum. Hingga yang ada, istrinya itu protes, mengingatkannya bahwa kini ia tengah puasa.

__ADS_1


“Ya ampun iya, yah, Yang. Lagi puasa. Untung belum lebih!” ucap Kalandra yang kemudian terbahak.


__ADS_2